Azzura hanya terdiam di saat Ken berada di ruangannya. Azzura hanya menatap lelaki itu dengan tajam. Namun ia tidak punya tenaga lagi untuk melawan lelaki itu saat ini.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang jika kamu sedang hamil?" tanya Ken juga menatap wanita itu dengan tajam.
Ken juga kaget saat melihat Reno membawa istrinya ke rumah sakit. Dan Ken bertanya kepada Reni, namun lelaki itu enggan menjawab saat itu.
Setelah diperiksa dokter, kondisi wanita itu baik - baik saja, dan dokter mengatakan tidak masalah dengan bayi dalam kandungan wanita itu.
Ken kaget karena tidak pernah mengetahui bahwa istrinya sedang hamil.
Bahkan sampai saat ini Reno juga masih tidak mau memberi tau Ken tentang apa yang terjadi. Dan lelaki itu tidak mempan dengan ancaman Ken.
Makanya Ken bertanya kepada Azzura lansung setelah wanita itu agak baikan. Dia ingin memastikan apa yang terjadi.
Namun saat ia bertanya, wanita itu malah menatapinya dengan tajam. Seolah Ken punya salah dengan dirinya.
"Jawab Azzura, jangan diam aja." ucap Ken geram.
"Apakah harus aku menjawab?" tanya Azzura.
"Jika kamu tidak menjawab, darimana aku tau, aku bukan cenayang, itu Reno juga diam."
"Hahahaha, coba tanya anak buahmu yang lain."
"Jika kamu bisa menjawab, kenapa aku harus menyelidiki."
"Sudahlah, aku capek dan aku akan minta papa atau Azzam buat jemput." jawab Azzura dengan malas.
"Kamu mau kemana lagi? kamu sedang hamil anakku."
"Lalu bagaimana dengan anak yang ada di kandungan wanita yang paling kamu peduliin? mau tinggalin dia demi aku?" tanya Azzura mengejek Ken.
"Aku akan menikahi dia tanpa ada yang pergi."
"Aku tidak mau, dan aku di besarkan bukan untuk di madu, apalagi dengan lelaki seperti kamu."
"Emang kenapa dengan aku?"
"Lelaki bajingan yang tidak layak aku perjuangkan, yang tidak layak aku pertahankan, aku ini keturunan Adha dan Kusuma, lelaki mana yang nggak mau sama aku setelah ini." ucap Azzura tertawa lagi.
"Jika banyak yang mau sama kamu, kenapa kamu malah menunggu aku selama itu?" tanya Ken.
"Dulu aku bodoh sangat mencintai kamu, namun sekarang mata kamu telah terbuka, maka tidak ada alasan untuk mempertahankan kamu, dan kamu jangan harap bisa mendapatkan anak ini."
Ken tidak terima dengan jawaban Azzura. Dia juga emosi mendengar Azzura ingin berhenti mencintainya.
"Kamu nggak bisa begitu, bagaimanapun dia anakku."
"Anakmu? kamu lupa bahwa apa yang kamu lakukan bisa melenyapkan dia?"
"Melenyapkan dia bagaimana? kamu jangan cari alasan deh."
"Udahlah, kamu jangan banyak akting." ucap Azzura semakin kesal.
"Akting apa sih? aku nggak ngerti apa-apa." jawab Ken juga nampak kesal.
"Sudahlah, aku mohon Ken, jangan ganggu aku lagi, aku sudah tidak ingin bersama kamu lagi." ucap Azzura hampir menangis.
"Carilah kebahagiaan kamu Ken, tapi tolong jangan rusak kebahagiaan aku." ucap Azzura hampir putus asa.
Melihat wanita yang sedang mengandung anaknya itu memohon kepada dirinya membuat Ken tidak tega. Dia merasa hatinya sakit melihat wanita itu seperti itu.
"Baiklah, maaf atas segala kesalahanku." ucap Ken akhirnya pasrah. Dia memang tidak punya pilihan lagi selain membiarkan wanita itu bersama dengan keluarganya saat ini.
"Aku akan menelpon Azzam, agar menjemput kamu." ucap Ken.
Ken mencoba menghubungi ponsel Azzam sahabatnya. Namun sayang nomor ponsel lelaki itu tidak aktif.
"Biar kamu aku antar saja ke rumah orang tua mu." ucap Ken.
"Aku nggak mau, biar aku pulang sendiri." jawab Azzura kekeh menolak.
"Baik, berati harus ada yang menjemput, jika tidak maka aku tidak akan membiarkan kamu pergi."
"Baik, biar aku telpon sepupuku." ucap Azzura.
Ken senyum mempersilahkan Azzura menelpon sepupunya. Karena Gala atau Zahran tidak akan mungkin bisa menjemputnya karena Ken tau mereka sedang ke luar negeri.
Ken hanya melihat Azzura menelpon di ranjang rumah sakit. Ken hanya memperhatikan gerak gerik mimik wajah wanita itu.
Ken tersenyum sendiri melihat berbagai mimik wajah wanita tersebut. Dia nampak manja sekali dengan saudaranya. Bahkan terkadang dia memonyongkan bibirnya. Terkadang dia menyerngitkan dahinya karena nampak sedang berpikir.
"Ternyata dia cantik juga." ucap Ken dalam hati sambil tersenyum.
Azzura telah selesai menelpon, dia bingung melihat Ken tersenyum melihatnya dari tempat duduknya di sofa yang ada di ruangannya.
"Apain kamu senyum - senyum di sana?" tanya Azzura kepala sendiri.
Ken kaget saat mendengar suara wanita itu.
"Nggak ada urusannya dengan kamu, gimana? nggak ada yang bisa jemputkan?" tanya Ken tersenyum.
"Siang ini bang Zayyan datang bersama istrinya."
"Siapa Zayyan?" tanya Ken bingung lagi.
"Sepupuku, dan kamu nggak perlu tau."
Ken agak kecewa mendengar Azzura akan di jemput oleh keluarganya. Dia merasa ada yang salah dengan hatinya.
"Apa aku sudah tidak bisa di maafkan?" tanya Ken.
"Nggak bisa, kesalahan kamu banyak sama aku." jawab Azzura.
"Pergilah Ken, aku mau istirahat, lagian jangan seolah-olah kamu menginginkan aku, faktanya kamu sendiri yang ingin....."
Ucapan Azzura terputus karena ponselnya Ken berbunyi. Awalnya Ken ragu untuk mengangkatnya. Azzura tau bahwa orang yang menelpon itu adalah wanita itu.
"Angkat saja, mana tau penting." ucap Azzura mulai memejamkan matanya.
Ken mengangkat telepon dari Claudia.
"Hallo."
"Sayang, kamu di mana? anak kita kayaknya kangen kamu deh, soalnya aku pusing banget nggak ada kamu." ucap Claudia dengan manja.
"Kamu tunggu ya, aku soalnya sedang nungguin papa." jawab Ken dengan agak berbisik.
"Kamu nggak bohongkan?" tanya Claudia.
"Nggak, kamu tunggu ya."
"Jika kamu tidak kembali dalam waktu 30 menit ini, maka jangan harap bisa ketemu aku dan anak kamu sayang." ucap Claudia.
Claudia mematikan sambungan teleponnya. Ken semakin panik mendengarkannya.
Awalnya Ken ragu meninggalkan Azzura, namun ia tidak punya pilihan lain.
Azzura tersenyum ketika melihat Ken pergi meninggalkannya. Baru saja lelaki itu memohon untuk tinggal dengannya, namun ketika wanitanya merengek, dia tidak punya pilihan untuk menolak.
"Lelaki bajingan kamu Ken." ucap Azzura sambil menangis.
Ken yang ternyata belum pergi sepenuhnya. Dia masih berdiri di balik pintu. Dia melihat istrinya menangis di dalam sana karena ulahnya.
"Kenapa hatiku sakit ya Allah." ucap Ken dalam hati.
Mulutnya berkata bahwa dia peduli kepada Claudia, akan tetapi hatinya tidak mau beranjak dari sana.
Reno melihat semua yang terjadi hanya diam saja. Dia menyalahkan tuannya yang begitu tega menyakiti nyonya Azzura.
"Maaf tuan, nona Claudia menelpon saya, untuk menyuruh tuan ketempatnya." ucap Reno.
"Tolong kamu urus dia, aku nggak bisa meninggalkan Azzura."
"Nona Claudia mengancam menggugurkan bayinya jika tuan nggak ke sana." ucap Reno.
"Bisa nggak sih dia tanpa mengancam?" tanya Ken kesal.
"Saya rasa tuan lebih mengenal nona Claudia luar dalam, jadi tidak perlu lagi saya menjawab pertanyaan tersebut." jawab Reno.
"Kamu juga Sama mengesalkan, apa yang terjadi dengan Azzura tadi malam?" tanya Ken gigih mengorek informasi.
"Nggak mungkin tuan tidak tau jika tuan sudah menyewa orangnya Roki."
"Emang apa yang di lakukan anak buah Roki?" tanya Ken menyelidik.
"Sudahlah Tuan, sama saya nggak usah main umpet - umpetan."
"Kamu jangan sama mengesalkan kayak Azzura, saya pecat kamu nanti."
"Nggak apa-apa tuan, saya bisa bekerja dengan nyonya." jawab Reno membuat Ken semakin marah.
"Cuma segitu kesetiaan kamu sama aku?"
"Buat apa setia sama bos yang mau menghabisi nyawa anak dan istrinya."
"Menghabisi nyawa anak dan istri? kamu menuduh aku?" tanya Ken tidak percaya.
"Gini ya Tuan, saya berhasil menangkap salah satu orang yang hendak mencelakai nyonya, dan orang itu anak buahnya Roki, dia bilang bos yang suruh mereka."
Ken begitu kaget mendengar cerita dari Reno. Dia emosi karena di tuduh ingin menghabisi nyawa Azzura dan anaknya.
"Seharusnya itu tugas kamu sebelum aku suruh asisten bodoh, malah ngambek nggak jelas di sini, cepat cari anak buahnya Roki itu." ucap Ken.
Reno merasakan hal yang sama. Dia merasa bodoh saja sudah menolong tapi dia mau kroscek terlebih dahulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments