Belakangan ini Azzam sangat protektif terhadap istrinya. Kemana - mana suka di ikuti. Meskipun hanya dirumah. apalagi jika ada pertemuan keluarga Kusuma. Dia sangat takut Shena bertemu dengan duo sepupunya.
Shena terkadang geram sendiri melihat sikap suaminya yang terkadang berlebihan. Dia juga tidak tau kenapa Azzam berubah tiba-tiba.
"Akhirnya Azzam cemburu kan? sukses kami nggak Tan?"tanya Gala kepada tante Bella Mama Azzam.
"Tapi kenapa kayak gitu kali, kemana-mana di pretililin." jawab Shena.
"Kemaren dia nggak menyadari aja, gengsi aja." jawab Zahran.
"Baguslah jika Azzam berubah, Azzura apa kabar ya? Tante kangen."
"Iya, sayang banget dia beda kota, apa Tante mau kita jemput dia?" tanya Zahran.
"Nggak usah, biar aja dia pulang dengan sendirinya, Ken anak yang baik, pasti akan membawa Azzura pulang ketika lebaran nanti." ucap mama Azzam.
Ternyata Azzam mendengar ucapan mereka di balik pintu. Azzam sangat marah mengetahui bahwa mama, istri dan yang lainnya bekerja sama mengerjainya.
Azzam mengepalkan tinjunya berjalan meninggalkan kamar tamu di rumah om Galuh. Malam ini mereka pertemuan keluarga di rumah kakak pertama mamanya.
Ketika pulang dari makan malam bersama, Azzam hanya diam di sepanjang jalan. Dia tidak tau kenapa dia begitu marah ketika tau sedang di kerjain.
Shena melihat ada perbedaan Azzam ketika pergi dan pulang. Lelaki itu yang akhir-akhir bawel kepadanya , tapi malam ini hanya diam membisu.
"Kamu kenapa diam aja? ada masalah?" tanya Shena kepada suaminya.
"Nggak ada apa-apa, biasa aku jadi ga diam." jawab Azzam.
"Ohw jadi yang kemaren- kemaren beberapa hari itu hanya akting? buat apa akting segala? demi siapa coba." ucap Shena membuat Azzam semakin emosi.
"Bukankah kamu yang akting? kenapa melakukan tapi malah menuduh." ucap Azzam.
"Aku akting apa? kamu ngelawak ya." ucap Shena tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Azzam.
"Sudahlah jangan berpura - pura lagi, aku sudah tau semua sandiwara kalian, kamu pikir aku cemburu kepada sepupuku Karena cinta sama kamu? jika kamu beranggapan seperti itu kamu salah besar." Ucapan Azzam sangat menyakitkan bagi Shena kali ini.
Shena sudah tidak tahan dengan mulut tajam lelaki itu. Dia lelah harus bertahan hidup dengan lelaki seperti Azzam.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu."
"Tidak pernah? tapi sebahagia itu tadi bicara di kamar sama mereka, dengarkan aku baik - baik, aku tidak cemburu kepada kamu, tapi aku hanya tidak mau mantan istri ku menjadi istri dari keluarga besarku lagi, kamu kira enak ketemu mantan istri tiap bulan di acara pertemuan keluarga besar." ucap Azzam lagi.
"Tidak ada juga yang ingin menjadi keluarga besarmu lagi, songong banget."
"Baguslah jika kamu sadar diri, jauhi bang Gala atau bang Zahran."
"Aku tidak perlu izin kamu untuk dekat dengan siapapun, tapi akan aku pastikan ketika perceraian kita terjadi,aku juga tidak mau bergabung dengan keluarga besar Kusuma ataupun Adha."
"Bagus."
"Jadi kapan kamu ceraikan aku?" tanya Shena membuat Azzam kaget dan mengerem mendadak.
"Jangan harap, sampai kapanpun kamu akan tetap jadi ibu dari anakku, aku tidak ingin Fatih merasakan orang tua yang tidak sempurna."
"Plin - plan, baik biar aku yang akan menggugat kamu, kamu tunggu saja surat dari pengadilan."
"Kamu nggak sayang dengan Fatih? bagaimana dengan perasaannya di masa depan."
"Justru karena aku sayang, aku tidak tau jika aku bertahan dengan kamu, bisa - bisa aku tidak waras, aku harus nada kewarasan aku agar aku bisa membahagiakan anak aku." ucap Shena.
"Biarkan aku turun di sini, aku masih ingin jalan sendirian." ucap Shena lalu membuka pintu mobilnya.
"Shena Fatih menunggu kamu, bagaimana yang lain tanya kamu." ucap Azzam.
"Kamu hanya peduli keluarga kamu, jawab aja apa adanya." jawab Shena berlalu.
"Hey jangan pergi." ucap Azzam membuka pintu sambil mengejar Shena.
Namun sayang wanita itu telah berlalu menaiki sebuah angkutan umum yang berhenti tidak jauh dari wanita itu.
Azzam kembali mengendarai mobilnya. Dia berpikir Shena juga butuh waktu memikirkan semuanya.
Sesampai di rumah, Azzam lansung di cecar oleh mamanya karena tidak menemukan menantunya.
"Bisa - bisanya mama nungguin kami di sini." bathin Azzam.
"Kenapa kamu diam aja Azzam? di mana istri kamu?" tanya mamanya.
"Shena sedang cari angin ma."
"Cari angin? kenapa tidak kamu temani? kalian berantem?" selidik mamanya.
"Yah namanya juga rumah tangga ma, pasti ada berantem ma."
"Jika seorang istri pergi, artinya itu bukan bertengkar biasa, ini masalah besar."
"Menantu mama yang baperan."
"Bukan menantu mama yang baperan, tapi anak mama, jika terjadi sesuatu sama Shena, mama tidak akan maafkan kamu Zam." ucap mamanya meninggalkan Azzam di ruang tamu.
"Haduw, kenapa sih wanita bikin pusing aja, ini belum selesai, udah ada aja ancaman dari mama lagi." ucap Azzam mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
Azzam masuk ke kamarnya dan lansung memainkan ponselnya. Dia nampak memainkan game sambil menunggu Shena.
"Kemana dia? udah dua jam belum juga sampai." ucap Azzam mulai merasa kuatir.
"Tok tok."
"Azzam, Azzam." terdengar suara mamanya memanggil namanya.
"Ya ma." jawab Azzam berjalan menuju pintu kamarnya.
"Kenapa ma?" tanya Azzam setelah pintu di buka.
"Kamu ini ya, nggak ada kuatir-kwatirnya sama istri, itu istri kamu belum pulang juga, cari sana." ucap mamanya.
"Iya ma." ucap Azzam kembali kedalam kamar guna mengambil kunci mobil.
Azzam melewati ruang tengah, dia melihat papanya sedang menonton sekilas info.
"Ada angkutan umum tabrakan, banyak yang meninggal kabarnya." ucap sang papa.
Mendengar angkutan umum membuat Azzam teringat Shena ketika naik angkut umum.
"Warna apa angkotnya pa?" tanya Azzam.
"Kenapa kamu tanya segala?"
"Shena tadi naik angkot juga pa, warna kuning."
"Iya tadi juga angkotnya warna kuning." jawab papanya.
"Kerumah sakit mana di bawa pa?"
"Kerumah sakit terdekat, emang benar Shena naik angkot itu?" tanya Papanya.
"Nggak tau juga pa, tapi angkotnya warna kuning."
"Coba kamu telpon dulu Shenanya, angkot warna kuning kan banyak." ucap mamanya.
Azzam mencoba menelpon Shena, namun nomor wanita itu tidak aktif.
"Nomornya nggak aktif pa,aku cari Shena dulu pa, ma." ucap Azzam berlari dengan kuatir.
Entah kenapa rasanya ia begitu kuatir banget. Dia sangat tidak ingin wanita itu kenapa - Napa.
"Ya Allah, lindungi istri ku ya Allah, semoga dia nggak apa-apa." ucapnya.
"Ya Allah apa ini tandanya aku mencintainya, aku begitu takut jika dia kenapa-kenapa." ucap Azzam sambil menyetir agak ngebut.
Tiba - Toba ketika di perempatan perumahannya, ada seseorang yang menyebrang tiba - tiba.
Cittttttttttt
Terdengar bunyi rem mobil mendecit. Azzam segera keluar memeriksa kondisi orang tersebut.
"Kamu nyebrang hati - hati dong." ucap Azzam lansung emosi karena orang tersebut dia hampir saja celaka.
Ketika melihat sosok orang yang duduk di aspal di depan mobilnya membuat Azzam kaget. Wanita yang menangis itu adalah istrinya sendiri.
"Shena." ucap Azzam berjalan mendekati wanita itu lalu membantunya berdiri.
"Kamu kemana aja, aku kuatir sekali sama kamu, kamu nggak apa-apa? apanya yang sakit?" tanya Azzam dengan beruntun.
"Tas aku di culik." ucapnya sambil menangis.
Azzam agak kesal karena tidak ada satupun pertanyaannya yang di jawab oleh wanita itu. Tapi ia mencoba menahannya.
"Tapi kamu nggak apa-apa? kenapa ponsel kamu nggak aktif?"
"Tas aku di culik, kamu nggak dengar aku bilang tas aku di culik." ucap wanita itu malah marah balik sambil menangis.
"Kok malah marah sama aku?"
"Kamu jahat, kamu nggak peka." ucap Shena memukul dada Azzam.
Azzam segera menahan tangan Shena lalu membawanya ke pelukannya.
"Hussss, justru aku peduli sama kamu, makanya aku tanya kamu bukan tas kamu." ucap Azzam.
"Tapi kamu tanya kenapa HP aku nggak aktif? udah tau tas aku hilang, malah tanya HP." jawab Shena nggak mau kalah.
Azzam tersenyum menyadari kebodohannya. Dia begitu panik saat berita yang di dengar oleh papanya.
"Udah, Hp dan yang lainnya masih bisa di beli."
"KTP aku dan lainnya." ucap Shena dengan manja.
Azzam tersenyum mendengar suara wanita itu dengan manja pertama kalinya.
"Lucu." lirih Azzam.
"Apa yang lucu?" tanya Shena yang mendengar ucapan Azzam.
Azzam baru menyadari bahwa wanitanya tengah di peluknya.
"Nggak ada."
"Kamu bohong, apa?" tanya Shena melepaskan diri dari pelukan Azzam.
Azzam tersenyum saat melihat wajah manyun wanita itu. Azzam memandangnya dari dekat.
"Ternyata manis juga." ucapnya sambil tersenyum.
"Apa?"
"Kamu." ucap Azzam memeluk wanitanya lagi.
"Jangan buat kuatir lagi ya, aku kuatir banget sama kamu." ucap Azzam lagi.
Shena hanya mengangguk bingung dengan apa yang terjadi. Dia bingung kenapa lelaki itu memeluknya erat sekali seperti orang takut kehilangan miliknya.
"Kamu takut kehilangan aku? atau hanya akting? ada mama kali di sekitar sini?" tanya Shena memandang sekelilingnya.
Pletak. Azzam menyentil kening Shena.
"Sakit tau."
"Biar bangun dari mimpi, aku udah kuatir begini di bilang akting." ucap Azzam.
"Jadi beneran?" tanya Shena menatap manik mata Azzam.
"Kenapa nyebalin sekali sih,manja kayak tadi lebih lucu." ucap Azzam memencet hidung wanita itu.
"Ini KDRT Zam."
"Kecintaan dalam rumah tangga."
"Kamu suka aku manja karena Aya manja kan?" tanya Shena membuat Azzam kesal sendiri.
"Kenapa jadi ke sana sih, kok malah bawa - bawa Aya segala, nggak boleh bawa orang lain dalam hubungan kita."
"Sok sok lah."
"Udah, yuk pulang, ngapain di jalan gini kita, nanti malah viral."
"Makan bakso dulu yuk."
"Tadi udah makan, masa mau makan lagi."
"Mau nggak? aku nggak ada uang lagi." ucap Shena jujur.
"Ya sudah, nanti gendut loh."
"Biarin aja." jawab Shena masuk kedalam mobil Azzam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments