Shena POV
aku hanya sibuk dengan Fatih sejak masuk ke dalam kamar. Sedangkan Azzam nampak sibuk dengan ponselnya.
Sejak tadi bahkan Azzam tidak melihat keberadaan ku anakku. Dia tampak enggan mengendong atau mengajak Fatih bermain.
Aku tidak masalah jika dia mengabaikanku. Tapi hatiku begitu sedih ketika ayah dari anakku mengabaikannya.
Fatih tidak salah apa - apa. Dia hanya Korban dari lelaki yang ceroboh dan egois. Lelaki yang tidak menerima takdir atau jalan hidupnya sehingga meminum yang berlebihan sehingga menyebabkan hidupku hancur.
Aku merasakan perutku agak lapar saat ini. Aku melihat jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Sejak tadi siang kami hanya berdiam diri di kamar hotel tanpa keluar dari kamar. Begitu juga dengan Azzam.
Aku mencoba menyusui Fatih terlebih dahulu. Aku bingung karena posisi Azzam di dalam kamar. Fatih sampai saat ini masih menyusui badan. Umurnya masih kurang dari dua tahun.
Aku terpaksa membawa Fatih ke balkon agar aku nyaman memberikan ASI kepada anakku.
Tidak lama setelah aku keluar dari kamar, aku melihat Azzam keluar dari kamar hotel. Aku merasa lega akhirnya dia keluar juga.
Aku kembali membawa anakku kedalam kamar. Aku membaringkan tubuhnya di atas kasur. Agar Fatih lebih nyaman saat meminum ASI.
Jika kalian tanya apakah aku suka seperti ini? tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki yang tergila-gila dengan sahabat sejak dulu kala.
Mana mungkin aku bisa bahagia dengan lelaki yang tidak bisa move on dari sahabat ku. Bahkan aku sadar diri bahwa aku bukanlah tipe wanita yang dia sukai.
Jika Aya berkulit putih maka aku tidak. Aku tidak mempunyai kulit seputih susu. Memang cantik harus mempunyai kulit susu? memang cantik hanya milik orang putih?
Kulitku sawo matang. Aku sering di bilang manis oleh sekelilingku. Sedangkan Aya sering di bilang cantik. Ada yang tau Fara quin atau chef Rena. Nah mungkin definisi aku seperti itu. Mereka cantik kan walau tidak seputih susu.
Setelah selesai memberikan ASI, aku bersiap untuk mencari makan malam. Awalnya ragu untuk turun, akan tetapi juga malas memesan. Karena sudah mulai suntuk di kamar.
Aku membawa Fatih keluar bersama untuk mencari makan. Kami berjalan menelusuri lorong-lorong kamar. Aku mengendong anakku dengan semangat menuju restoran hotel.
Sesampai di restoran aku memilih duduk di meja nomor 6. Ketika menyantap makan malam, aku melihat Azzam sedang makan bersama seorang wanita.
Mereka nampak sangat bahagia. Senyum keduanya sangat merekah. Wanita itu nampak putih bersih dan tinggi. Dia sangat cantik sekali. Yah dia sangat cantik.
Kalian tau wanita seperti itu adalah tipe yang di sukai oleh Azzam. Bukan seperti aku yang mempunyai kulit sawo matang.
Aku dengan malas menatap kemesraan mereka. Apakah aku cemburu? boleh nggak sebagai istri sah aku cemburu? entahlah rasa apa yang ada di dalam hatiku.
Dadaku begitu bergemuruh melihat keduanya. Mungkin bukan cemburu karena cinta.Aku rasa ini hanya karena tidak di anggap ada. Di nikahi tapi tidak di pedulikan.
Setelah menyuapi Fatih makan, aku beranjak berpindah tempat. Sebenarnya malas untuk kembali ke kamar. Tapi aku merasa nggak punya tempat tujuan lagi.
Akhirnya aku memilih kembali kekamar untuk menidurkan Fatih. Aku tau sebentar lagi Fatih akan mengantuk.
Azzam sempat melihat ke arahku. Namun dia nampak biasa saja. Aku hanya melangkahkan kaki tanpa peduli dengan apa yang mereka lakukan.
Benar dugaan ku, setelah sampai di kamar Fatih lansung mengantuk. Aku sebenarnya bingung mau di mana menidurkan Fatih. Nggak mungkin di sofa kan?.
Semenjak tinggal dengan lili dan ibunya, aku memang sudah terbiasa hidup susah. Aku sengaja melepaskan kemewahan yang masih mampu di berikan oleh orang tuaku.
"Ah biar aja di sini, jika dia marah biar aja, toh ini anakku juga." ucap Shena.
Saat Fatih sudah tertidur, aku mendengar pintu terbuka. Aku melihat Azzam kembali masuk.
Dia seperti bingung ketika menemukan kami berbaring di ranjang miliknya.
"Jika kamu keberatan, aku bisa pindah ke bawa atau ke sofa, kamu nggak masalahkan Fatih tidur di ranjang?" tanyaku kepadanya.
"Kenapa dia harus tidur bersamaku?" tanyanya membuat aku tidak habis pikir sendiri.
"Kan kamu bapaknya, apa salahnya mas." jawabku.
"Kamu yakin aku bapaknya? bisa jadi sebelum tidur dengan aku kamu sudah tidur dengan lelaki lain, atau sudah hamil duluan makanya kamu sengaja menghampiri aku malam itu." ucapannya begitu membuat aku sakit hati.
Segitu rendahnya aku di matanya. Tangan aku refleks menampar pipinya dengan kencang.
Plakkk
" Katerlaluan kamu zam, kamu laki - laki yang mulutnya kayak perempuan, kamu kira aku wanita seperti apa ha?" tanyaku dengan marah.
"Kamu bisa menjawab sendri, tidak ada perempuan baik - baik hamil duluan sebelum menikah, emang ada seperti itu?" ucapan Azzam semakin kasar.
"Benar kata Aya, nama aja Azzam tapi kelakuan tidak mencerminkan nama sendiri." ucapku emosi.
"Jangan kamu bawa - bawa Aya, karena antara kamu dan Aya kayak langit dan bumi, dia bisa menjaga dirinya sampai menikah, sementara kamu sudah gede duluan anak." ujar Azzam menyakitkan hatiku.
"Terima kasih atas penghinaan ini, nanti akan aku ingat kata-kata kamu." ucap ku tiba - tiba hati merasa sakit yang amat sakit.
"Jika kamu tidak mau mengakui Fatih sebagai anak kamu tidak apa - apa, toh Fatih juga tidak akan membutuhkan kamu di masa depan." ucap ku.
"Semoga keluargamu baik - baik saja semua, apalagi saudara wanita kamu." ucap ku menghapus air matanya yang sudah meleleh sejak tadi. Aku tidak ingin menangisi lelaki kejam ini.
"Tunggu sebentar, saya akan bersihkan kasur kamu yang kami kotori." ucap ku lansung memindahkan Fatih ke sofa.
Aku langsung membersihkan kasur yang di pakai tidur oleh Fatih. Setelah itu dia memainkan ponselnya sambil mengusap Fatih.
Lalu setelah itu aku mengambil tas yang berisi baju ku dan Fatih. Aku memilih pindah dari kamar ini.
Aku mengendong Fatih keluar dari kamar ini. Aku tidak Sudi sekamar dengan dirinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Lelaki itu.
Lucu sekali kan? setelah dia tidak mengakui anakku dan tidak Sudi tidur bersama Fatih. Lalu dia bertanya kemana?.
Kau tidak menghiraukan ucapannya dengan pura - pura tidak mendengarnya.
"Berhenti di situ." ucapnya dengan nada tinggi.
"Apa lagi tuan Azzam?" tanyaku dengan senyum mengejek. Dia pikir apakah dengan nada tinggi lalu aku takut kepadanya?.
"Kamu tetap di sini, jika tidak pegawai hotel akan melaporkan ke mama atau papa." ucap lelaki itu.
"Hahahaha anda lucu sekali tuan, secara tidak langsung anda mengusir kami, lalu Sekarang anda menahan kami."
"Karena aku yang akan pergi, kamu tetap di sini." ucap Azzam keluar berjalan melewati diriku dan Fatih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments