Azzam berjalan dengan terburu-buru. Dia terburu buru karena ada meeting. Azzam berjalan sambil memegang ponselnya.
"Haduwwww."
Azzam tidak sengaja menabrak seseorang.
"Jalan pakai mata mas, jangan .aib ponsel lagi Jalan." ucap cewek putih cantik yang terjatuh sambil berdiri.
"Lah mbak sendiri pakai mata nggak? jika mbak liat kenapa bisa kena tabrak, kan bisa menghindar." jawab Azzam.
"Banyak alasan mas, udah salah masih aja ngotot." ucap wanita itu berlalu meninggalkan Azzam.
Azzam agak terkesima dengan wanita itu. Bagi Azzam dia begitu cantik, apalagi saat pergi sambil ngedumel.
Azzam melanjutkan langkahnya karena klient sudah menunggu di dalam restoran.
"Mohon maaf pak Arga, saya agak terlambat." ucap Azzam menyalami kliennya.
"Tidak apa-apa pak Azzam, ini saya juga baru datang."
"Baik pak, kita bahas saja masalah kerja sama kita ya pak." ucap Azzam memulai pembahasan.
Saat membahas pekerjaan, pelayan mengantarkan beberapa menu yang di pesan.
Setelah selesai makan siang dan bahas pekerjaan, saatnya mereka mengakhiri pertemuan.
"Sopir bapak udah sampai?" tanya Azzam.
"Saya dijemput oleh anak saya, bapak jika mau duluan silahkan." ucap pak Arga.
"Saya tunggu aja sampai Bapak dijemput oleh anak bapak." ucap Azzam sambil mengecek ponselnya.
Dia melihat mamanya sedang mengirimkan foto Shena dengan anaknya Fatih saat bermain bersama.
Azzam tersenyum melihat keduanya. Shena memang ibu yang baik bagi Fatih. Namun entah kenapa Azzam masih tidak merasakan cinta kepada Shena.
Namun Azzam kesal saat Shena di ganggu oleh duo sepupunya. Azzam juga bingung dengan perasaannya terhadap Shena.
"Papa udah selesai." terdengar suara wanita yang tidak asing bagi Azzam.
Azzam melihat ke arah wanita yang baru saja sampai. Tiba - tiba dia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kamu." ucap keduanya berbarengan.
"Kalian kenal?" tanya pak Arga.
"Nggak." jawab keduanya berbarengan lagi.
"Hahaha kalian ini lucu sekali, bisa - bisanya kompak seperti itu." ucap pak Arga merasa lucu melihat mereka berdua.
"Dia adalah anak saya pak Azzam, namanya Jelita." ucap Pak Arga memperkenalkan anaknya.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." ucap Azzam tanpa sadar melontarkan pujian.
Pak Arga merasa senang ketika mendengar Azzam memuji anaknya. Dia belum mendengar pernikahan Azzam.
"Kalian boleh saling kenal, mana tau nanti jodoh." ucap pak Arga.
Azzam terdiam mendengar ucapan pak Arga. Dia lansung merasa dicambuk saat mendengar kata-kata tersebut.
Sedangkan Jelita hanya biasa saja. Dia paham akan papanya yang tidak sabar ingin punya menantu, makanya papanya sering mengenalkan dia dengan anak rekan kerjanya.
" Ya sudah saya pulang dulu ya pak." ucap Azzam ingin berlalu dari tempat itu.
Dia tidak ingin terlalu jauh menanggapi ucapan pak Arga. Dia memang merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Akan tetapi membayangkan Shena bersedih karena dia tinggalkan m membuatnya tidak tega.
"Aku memang tidak pernah bergetar saat bersama dia, tapi aku tidak akan melukai hatinya dengan menceraikannya." ucap Azzam dalam hati sambil berjalan menuju mobilnya.
Setelah kejadian itu, pak Arga sering bertemu dengan Azzam karena pekerjaan. Dan di sana juga Azzam bertemu dengan Jelita. Jelita yang riang, manja, berkulit putih persis seperti Aya Arkarna.
"Ah mana mungkin persis, dimana-mana orang akan mengakui jauh cantikan Aya Arkarna kemana - mana, dia karena Menang putih aja." ucap Azzam tertawa sendiri dengan pemikirannya.
"Ngomong apa?" tanya Jelita duduk di hadapan Azzam.Sedangkan pak Arga baru saja numpang ke toilet.
"Nggak ada apa-apa."
"Kamu nggak usah dengerin papa, papa memang seperti itu jika bertemu lelaki lajang, beliau sangat ingin punya menantu."
"Lalu kenapa kamu tidak menikah saja?"
"Aku tidak punya pacar."
"Hahahaha, wanita secantik kamu nggak punya pacar?" ucap Azzam sambil menertawakan Jelita.
"Kamu emang udah punya pacar?" tanya Jelita bertanya balik.
Azzam terdiam mendengar pertanyaan Jelita. Lidahnya terasa kaku untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Hahaha diamkan, makanya nggak usah ngeledek." ucap Jelita.
Azzam hanya mencoba tersenyum secara paksa. Tiba - tiba Jelita mengambil ponsel Azzam yang ada di meja.
"Coba aku liat, mana tau ada foto wanita di dalam sini." ucap Jelita berdiri dari kursinya.
Azzam kaget saat Jelita mengambil ponselnya. Dia berdiri mendekati Jelita untuk mengambil ponselnya. Azzam pikir dia akan mendapatkan ponselnya, namun Jelita mengelak dan akhirnya dia memeluk Jelita dari samping.
Trakkkk
Pintu ruangan terbuka menampakkan Shena berdiri di sana sambil membawa rantang makanan.
Wanita itu awalnya terkejut melihat Azzam memeluk wanita putih dan cantik. Namun ia sungguh pandai menyembunyikan kekagetannya.
Azzam segera melepaskan Jelita saat melihat Shena di ambang pintu. Wanita itu hanya menatapnya dengan datar. Tanpa memakai dirinya seperti dalam film-film.
Jelita juga kaget saat melihat ada wanita masuk kedalam ruangan Azzam. Dia takut jika wanita itu pacar Azzam, lalu dijambaknya. Wanita itu sangat cantik bagi Jelita dengan kulit sawo matangnya. Dia benar-benar menarik. Bahkan Jelita sangat ingin menghitamkan kulitnya namun sangat susah.
"Maaf mengganggu, hanya di suruh mama antar makan siang." ucap Shena dengan tenang.
"Makasih." jawab Azzam mengambil rantang itu dari tangan Shena.
Saat Azzam mendekat,wanita itu masih tersenyum.
"Dia siapa zam?" tanya Jelita dengan lembut.
"Dia... dia..."
"Saya sepupunya, baik saya permisi dulu." jawab Shena memotong pembicaraan Azzam karena lelaki itu ragu mau menjawab apa.
"Aku pulang." ucap Shena berlalu tanpa drama.
Azzam geram melihat wajah Shena yang biasa aja saat melihat dia memeluk wanita lain. Walaupun itu ketidaksengajaan.
"Apa yang ada di otaknya? kenapa dia nggak marah? apa aku juga bukan lelaki yang dia inginkan?" tanya Azzam kesal sendiri.
Sedangkan Shena berjalan dengan agak terburu-buru. Dia rasanya ingin menumpahkan tangisnya yang hampir pecah. Dia tidak akan mau melakukan tindakan bodoh, menangis sambil berlari-lari.
Saat masuk kedalam mobil, air matanya lansung tumpah. Dia duduk terdiam di dalam mobil.
"Kamu jahat Zam, jika kamu tidak bisa menerima aku, harusnya lepaskan aku dulu, setelah itu terserah kamu cari wanita seperti apa." ucapnya sambil menangis.
Dia melihat wanita itu putih seperti Aya Arkarna. Dia sadar bahwa wanita seperti itulah kriteria Azzam.
Azzam pulang setelah Jelita di an pak Arga keluar dari kantornya. Dia sangat ingin menemui Shena. Dia ingin bertanya kepada wanita itu tentang wanita itu yang biasa saja.
Azzam tidak terima jika wanita itu bersikap biasa aja. Dan ingin wanita itu cemburu kepadanya.
Saat sampai di rumah, dia masuk ke kamar. Namun dia melihat Shena seolah-olah tidak menyadari kedatangannya. Wanita itu seolah tidak peduli dengan kedatangan lelaki itu, sehingga dia hanya diam tanpa menyambut Azzam seperti biasa.
"Kamu kenapa sih?" tanya Azzam kesal sendiri.
"Aku nggak apa-apa." jawab Shena santai.
"Kamu nggak marah sama aku?"
"Marah atas apa ya?" tanya Shena tidak menatap Azzam sama sekali. Wanita itu nampak sibuk dengan ponselnya.
Azzam kesal karena wanita itu lebih peduli kepada ponselnya daripada dirinya.
"Bisa nggak berbicara tanpa melihat ponsel?" tanya Azzam berjalan mengambil ponsel Shena.
Shena kaget saat Azzam mengambil ponselnya. Dia berjalan ingin meminta ponselnya.
"Balikin ponselku Zam, aku mau balas pesan kak Gala." ucap Shena.
Azzam semakin emosi ketika mendengar nama Gala.
"Ohw jadi kak Gala lebih penting dari aku?"
"Kamu ngomong apa sih?"
"Kenapa kamu tadi menjawab aku sepupu kamu?"
"Jadi aku harus jawab apa? istri yang tidak di inginkan" tanya Shena menatap Azzam dengan mata menantang.
Mendengar ucapan Shena membuat hati Azzam sangat sakit. Dia memang terlalu banyak salah kepada wanita itu.
"Aku dan wanita tadi tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya klien."
"Aku tidak bertanya"
"Kamu harus bertanya." ucap Azzam emosi.
"Kenapa aku harus bertanya? apa manfaatnya buat aku?" ucap Shena membuang muka dari Azzam.
"Karena kamu istri aku, ibu dari anak aku."
"Istri? hahahah lucu sekali kamu Zam, sejak kapan kamu menganggap aku sebagai istri? adakah kamu peduli dengan aku?"
"Mulai saat ini aku peduli, dan kamu tidak boleh melayani bang Gala atau bang Zahran."ucap Azzam.
"Aku nggak bisa."
"Kamu telah jatuh cinta dengan salah satu dari mereka?" tanya Azzam semakin emosi.
"Pertanyaan tidak penting, perbaiki diri kamu sebelum menegur orang lain, istri itu gambaran suami, Jika suami masih melayani wanita lain, lalu apa salahnya dengan aku, jika lelaki itu bisa membuat aku bahagia nanti setelah bercerai dari kamu."
"Jangan harap akan ada perceraian." ucap Azzam semakin kesal.
Azzam lansung menelpon Gala dari ponsel milik Shena.
"Hallo Shen, ada apa?"
"Mulai detik ini jangan pernah ganggu istri aku, jika Abang masih mengganggu jangan harap aku tinggal diam." ucap Azzam memutuskan sambungan teleponnya.
Sedangkan Shena hanya diam melihat suaminya yang bertindak sesukanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments