Bab 20

Steve baru saja membersihkan dirinya. Di tatapnya Alina yang tengah duduk di balkon seraya memeluk boneka pemberian darinya.

Pria itu pun berjalan menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.

"Malam ini sangat indah bukan?" tanyanya membuat Alina terlonjak terkejut karena Steve tiba-tiba berada di sampingnya. Gadis itu tak menyadarinya ketika sang suami duduk di sampingnya.

Alina menatap Steve yang kini fokus menatap langit malam. "Aku sangat jarang menatap langit penuh bintang di malam hari. Ternyata ini benar-benar sangat indah. Biasanya Aku bekerja lembur atau pergi dengan Sofia."

"Dia mana mau duduk bersantai dan menatap bintang di langit malam. Sofia lebih memilih menghabiskan waktu dengan berbelanja barang-barang mewah. Aku jadi salut denganmu. Kau gadis yang begitu sederhana. Aku hanya memberimu boneka seperti itu saja, Kau sudah sangat senang."

Alina tersenyum kecil mendengar penuturan sang suami. "Aku tidak pernah memandang barang dari harganya Kak. Boneka ini adalah hasil perjuangan Kak Steve, jadi sampai kapanpun Aku akan menyimpan boneka ini."

Steve tersentuh mendengarnya. Pria itu jadi membayangkan jika sifat Sofia bisa seperti Alina. Pasti dia akan sangat bahagia. Tapi semua itu sepertinya tidak akan pernah menjadi mungkin.

Sifat sang kekasih berbanding terbalik dengan sikap sang istri.

"Kak Steve mau makan? Biar Aku lihat di dapur ada apa," ucap Alina hendak beranjak. Namun Steve menahan tangannya dan menariknya hingga terduduk kembali di sampingnya.

"Tidak usah. Malam ini Aku akan memesan makanan saja. Sebaiknya Kau temani saja Aku duduk di sini," pinta Steve.

Alina tersenyum mengangguk. Gadis itu merasa bahagia melihat kelembutan sikap sang suami padanya.

Steve menatap Alina dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dia menatap Alina dengan tatapan yang sangat tulus.

Tiba-tiba saja tanpa Alina duga, Steve semakin mendekat dan cup...

Steve mencium bibir Alina sekilas, membuat sang empunya memundurkan tubuhnya dan merasa begitu terkejut.

Melihat perubahan sikap Alina membuat Steve mengerutkan keningnya. "Jangan katakan jika Kau belum pernah berciuman?"

Alina menganggukkan kepalanya kemudian menunduk.

Steve terkekeh mengetahui hal tersebut. "Kau sungguh gadis yang masih begitu polos sekali. Kenapa Kau bisa menerima tawaran mamaku untuk menikah dengan ku?"

"Mungkin karena ini sudah takdirnya," jawab Alina tanpa sadar.

Steve tersenyum. "Ya, mungkin saja. Dan Sofia adalah takdir hidup ku."

Deg...

Mendengar ucapan Steve membuat dada Alina terasa begitu sesak. Selalu saja Sofia yang selalu Steve bandingkan dengannya.

Alina sadar jika Sofia menang sangat cantik. Tapi bukankah dirinya juga berhak mendapatkan cinta dari sang suami? Alina pun menjadi terdiam.

Melihat sang istri yang tiba-tiba saja diam, Steve merasa tak enak. Dia mengulurkan tangannya kepada Alina.

"Mau makan malam di tepi pantai?" tanya Steve.

Alina mendongak menatap suaminya. Dia mengangguk menerima uluran tangan sang suami. Setidaknya malam ini dia harus bahagia.

***

"Bagaimana, Apa mereka sudah berbaikan?" tanya Mama pada orang suruhannya.

"Sepertinya begitu, Nyonya. Tadi dari pengamatan Saya. Mereka sedang makan malam romantis di tepi pantai. Sangat romantis sekali Nyonya. Saya jadi kepingin makan malam romantis seperti itu juga," ucap mang Asep. Sopir Mama yang di tugaskan untuk memata-matai putranya.

"Makanya menikah. Sudah sana cari calon istri. Kamu awasi lagi mereka. Jangan lengah pokoknya, nanti laporkan lagi padaku."

"Baiklah Nyonya, siap laksanakan."

Mang Asep pun segera kembali menjalankan tugasnya. Mama hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mang Asep.

"Akhirnya mereka tidak bertengkar lagi, Pa. Mama benar-benar bahagia. Putra Mama benar-benar mirip sama Papa. Dia itu terlalu gengsi. Tapi Mama yakin jika sebenarnya Steve begitu penyayang dan juga romantis seperti Papa."

Papa tersenyum melihat sang istri tersenyum bahagia. Dia meraih pundak Mama dan mengajaknya masuk untuk istirahat.

"Iya Ma, sekarang Mama lebih baik istirahat ya. Papa tidak mau Mama sakit."

Mama mengangguk dan menuruti perintah sang Suami.

***

"Bukankah malam ini sangat indah, Alina? Sungguh sangat tenang dan suasananya sangat cocok untuk mendinginkan otak dari pekerjaan kantor yang begitu menumpuk."

Alina menatap Steve. "Kapanpun Kak Steve bisa datang kesini. Kak Steve juga bisa mengajak teman dan kekasih kakak untuk datang. Aku yakin mereka pasti akan suka, terutama Sof...."

"Aku tidak akan pernah mengajak siapapun untuk datang ke villa ini. Jika Aku ingin pergi lagi ke sini, pasti yang akan Aku ajak ada kamu."

Ucapan Steve membuat pipi Alina bersemu merah. Suaminya hari ini benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Steve menatap Alina dan mengusap lembut rambut panjang sang istri.

"Apa Aku boleh mencium mu lagi?"

Alina terkejut. Belum sempat dia menjawabnya, bibir Steve sudah menempel pada bibirnya. Alina hanya pasrah dengan ciuman yang suaminya berikan.

Menurut Steve, bibir Alina benar-benar begitu manis dan juga lembut. Rasanya dia tak ingin berhenti untuk menikmati bibir Cherry milik sang istri. Dia menginginkannya lagi dan lagi.

"Bibirmu sangat manis, rasanya Aku ingin terus menikmatinya," ucap Steve.

Alina semakin merona. Saat ini dia menjadi begitu salah tingkah karena ucapan suaminya itu.

Steve hanya bisa terkekeh melihat tingkah menggemaskan dari sang istri. Dia benar-benar merasa bahagia malam ini. Baru kali ini Steve merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa menurutnya.

"Sudah malam. Kita tidur yuk?" ajak Steve.

"I-iya Kak...."

Merekapun segera memasuki villa.

Keduanya membaringkan tubuhnya di atas ran.jang. Alina tidur membelakangi Steve. Gadis itu masih memikirkan tentang ciuman yang terjadi di antara mereka beberapa saat tadi.

Tubuh Alina memegang saat merasakan sebuah pelukan dari belakang tubuhnya.

"Aku akan mengizinkan mu untuk memelukku malam ini," bisik Steve.

Alina membalikkan badannya menghadap ke arah Steve. Kedua iris mata mereka saling beradu. Steve semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alina. Jantung Alina semakin tak karuan di buatnya.

Gadis itu akhirnya menduselkan kepalanya kedalam dada bidang sang suami dan memeluknya begitu erat.

Steve tersenyum. Istrinya sangat menggemaskan. Hampir saja dirinya akan mencium bibir sang istri kembali.

"Bagaimana jika nanti Aku akan terbiasa dengan pelukan ini sebelum tidur, Alina?"

"Tidak apa-apa Kak. Aku kan istri Kak Steve, jadi Kak Steve bisa memintanya padaku jika Kak Steve ingin Alina peluk."

Tak ada sahutan lagi dari Steve. Ternyata pria itu sudah terlelap dalam tidurnya. Alina hanya bisa tersenyum menatap sang suami.

"Good night, Kak," ucap Alina mempererat pelukannya.

***

Terpopuler

Comments

Vita Zhao

Vita Zhao

Makanya jangan buta karena cinta stave

2022-11-14

1

Rosy

Rosy

Steve belum tau saja kalau teman masa kecilnya adalah Alina bukan Sofia..jangan sampai kamu terlambat menyadarinya Steve..karena waktu tidak bisa di putar kembali

2022-11-13

1

ossy Novica

ossy Novica

awalyg bagus

2022-11-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!