"Kalian ini sudah dewasa. Kenapa kalian selalu berkelahi terus? Kita itu kemari untuk berlibur, bukan untuk berkelahi!"
Alka bener-bener sudah muak dengan kedua sahabatnya itu.
"Nando sudah keterlaluan! Dia mengajak kekasihku masuk ke dalam kamarnya!"
Nando yang sejak tadi ditahan oleh Raja. Pria itu menyunggingkan senyum miring menatap Steve. "Mana sudi Aku membawa gadis murahan seperti dia ke dalam kamarku. Lebih baik aku mengajak gadis yang kucintai, dan sudah jelas dia masih suci. Tidak seperti dia!" Nando menunjuk ke arah Sofia. Kemudian pria itu menepis tangan Raja dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Kurang ajar kau Nando! Aku akan memberimu pelajaran!"
Steven benar-benar murka. Alfian pun memijit pelipisnya merasa kepalanya sakit melihat perkelahian antara kedua sahabatnya itu. Dia mencengkram kerah baju Steve.
"Sudah, berhenti! Aku pusing melihat kalian selalu bertengkar seperti ini!"
Steve menepis tangan Alfian dan menatap Sofia sekilas. "Ayo ikut aku dan jelaskan semuanya kepadaku."
***
Di rumah Steven.
Satu jam setelah Steve meninggalkan rumah, tiba-tiba saja terdengar bel pintu berbunyi. Alina yang mendengarnya langsung bergegas keluar melihat siapa yang datang.
Gadis itu membuka pintu depan. Alina terkejut tatkala melihat siapa yang datang bertamu. Mereka adalah keluarga dari Steve yang berdiri di depan pintu dengan menatap Alina penuh senyuman.
"Alina Sayang, bagaimana kabarmu, Nak?"
Ibu dari Steve tersenyum hangat dan mengusap lembut rambut Alina, menantunya.
Alina pun tersenyum membalas senyuman hangat dari ibu mertuanya itu. Gadis itu mengecup punggung tangan kedua mertuanya dengan begitu sopan.
"Ayo masuk, Ma, Pa." Alina mempersilahkan masuk.
Gadis itu membuka pintu rumah dengan lebar agar kedua mertuanya itu masuk.
Mama dan Papa mertua Alina menatap takjub kondisi rumah putranya yang terlihat begitu rapi dan juga bersih.
"Ternyata kita memang tidak salah memilih istri untuk Steve, Pa. Lihatlah, rumah terlihat begitu rapi dan bersih."
Papa terlihat manggut-manggut membenarkan ucapan istrinya. "Ya, Mama memang benar. Papa tidak bisa membayangkan jika Steve menikahi wanita yang sering bersamanya itu. Dari penampilannya saja sangat urakan. Apalagi jika harus mengurus rumah. Untungnya Mama menjodohkan Steve dengan menantu kita ini. Jadi anak kita terawat dengan baik."
Mama dari Steve pun merasa bahagia karena putranya mendapatkan gadis yang sangat baik dan juga sesuai dengan yang kedua pria dan wanita paruh baya tersebut inginkan.
Sementara Alina hanya tersenyum kecil. Gadis itu tak ingin terlalu banyak bicara. Pipinya memerah mendapatkan pujian dari mertuanya.
"Silahkan duduk, Ma, Pa. Alina akan membuatkan minum dulu."
Kedua orang tua Steven pun menganggukkan kepala.
Alina langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk mertuanya. Sementara ibu mertuanya melihat-lihat beberapa foto yang terpajang di ruang tamu.
Wanita paruh baya tersebut benar-benar bahagia melihat foto pernikahan putranya. Namun Nyonya Mahesh terkejut tatkala suaminya memegang bahunya.
"Sudah, Ma. Lebih baik kita duduk," ajak Tuan Mahesh.
Ibu Steven menganggukan kepalanya. Mereka kemudian duduk sambil menunggu menantunya datang.
Tak berapa lama pun Alina datang dengan membawakan minuman dan juga beberapa camilan untuk mertuanya itu.
"Ayo Ma, Pa. Diminum tehnya. Maaf hanya seadanya saja," ucap Alina begitu sungkan.
Ibu mertua Alina pun langsung mengusap rambut menantunya itu. "Di mana suamimu?"
Pertanyaan dari sang ibu mertua membuat Alina terdiam. Tadi ketika dirinya berada di dapur membuatkan teh untuk mertuanya itu, Nando mengirim foto Steve yang tengah bersama dengan Sofia di sebuah villa. Nando juga mengatakan jika dirinya dan kawan-kawannya termasuk Steve sedang berlibur di sana.
Alina mencoba menguatkan hatinya dan bersikap seperti biasanya. Dia tidak ingin mertuanya itu sedih karena kelakuan putranya.
Dan ketika mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya Alina bingung harus menjawab apa. Apakah dia harus mengucapkan bahwa sang suami tengah berlibur bersama dengan kekasihnya?
Tidak mungkin dia menjawab pertanyaan mertuanya seperti itu. Bisa saja kedua mertuanya itu marah pada suaminya. Ibu dari Steve masih menunggu jawaban dari menantunya.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Di detik ke empat, Alina pun baru menjawab pertanyaan dari mertuanya.
"Kak Steve sedang bekerja keluar kota, Ma. Tadi dia mengatakan ada urusan mendadak di luar kota," jawab Alina sekenanya.
"Astaga, Steven. Sekarang kan hari libur. Seharusnya dia berada di rumah dan menemani istrinya. Ini malah keluar sendirian. Lihat anak mu, Pa. Cepat hubungi dia dan suruh dia pulang."
Ibu Steven benar-benar kesal dengan tingkah putranya. Dia tahu jika putranya itu sedang membohongi istrinya. Mana ada bekerja di hari libur seperti ini?
Itu pasti hanya akal-akalan putranya saja.
Sementara Alina langsung panik saat mendengar ibu mertuanya menyuruh ayah mertuanya untuk menghubungi suaminya.
"Tidak perlu menghubungi kak Steve, Ma. Kak Steve pasti pulang kok."
"Tidak, Nak. Anak itu pasti tidak akan pulang kalau tidak di telepon. Sudah Kamu diam di samping Mama saja. Biar Papa menghubungi suamimu."
Mama Steve kekeh ingin menghubungi putranya. Papa akhirnya menghubungi Steve untuk segera pulang.
***
Di sisi lainnya.
Steve duduk di sebuah taman dekat villa bersama dengan Sofia. Pria itu masih menunggu penjelasan dari sang kekasih dengan yang terjadi.
"Sekarang jelaskan. Kenapa bisa sampai Nando mendorongmu dari kamarnya? Benarkah jika Kau telah lancang masuk kedalam kamarnya?"
Sofia menatap sang kekasih dan menghela nafasnya sejenak.
"Jangan percaya. Aku tidak melakukan hal itu. Kak Nando yang menarikku masuk kedalam kamarnya. Dia tadi mengatakan jika dia ingin berbicara hal yang penting. Makanya, Aku langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia menyuruhku untuk memutuskan mu, dia juga mengatakan ingin jadi kekasihku. Tapi Kau tenang saja. Karena Aku menolaknya. Tapi dia malah marah dan langsung mendorong ku keluar dari kamarnya." jelas Sofia.
Wanita itu membela dirinya dengan memfitnah Nando.
Steve mengepalkan kedua tangannya. Dengan bodohnya pria itu mempercayai setiap ucapan berbisa kekasihnya. Steve ingin memberikan pelajaran kepada sahabatnya.
Steve berdiri dan langsung melangkah menuju ke dalam villa. Namun ponselnya berdering, membuat pria itu menghentikan langkah kakinya dan mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.
Pria itu terkejut ketika melihat siapa seseorang yang telah menelponnya saat ini.
"Halo, Pa."
'Pulang sekarang Steve. Papa dan Mama mu sedang ada di rumahmu sekarang. Sudah, jangan terlalu sibuk bekerja. Ini kan hari libur. Lebih baik sekarang Kau pulang saja. Dan Papa tahu jika sebenarnya Kau tidak bekerja hari ini.'
Steve menelan ludahnya kasar. Dia terkejut mendengar jika kedua orang tuanya berada di rumahnya.
Steve mau tak mau menyetujui keinginan Papanya. Ia segera bergegas mengambil kunci mobilnya. Sofia yang melihat kekasihnya terburu-buru pun menghampirinya.
"Kau mau kemana, Steve?"
"Aku harus pulang. Mama dan Papa sedang berada di rumah saat ini. Katakan pada yang lainnya Aku akan kembali ke sini lagi jika kedua orang tuaku pulang nanti."
Secepat mungkin Steve langsung keluar dari villa tersebut. Sofia hanya diam menatap kepergian Steve yang mobilnya mulai menjauh dari halaman villa.
Dalam hati, Sofia bersorak girang. Sekarang dia lebih leluasa lagi untuk mendekati Nando tanpa adanya Steve, kekasihnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Vita Zhao
Stav kau terlalu bod*h
2022-11-02
0
Zana aripin
semoga kau menyesal steven menmbiarkan isteri mu. Dan mempercayai sofia. kelak kawan pun tidak sudi lg berteman dgn mu... percayalah... Alina akan memdapat org yg lagi layak dr dirimu...
2022-10-29
0
Mahfu Tien
tumbu ketemu tutop,cocoooook
2022-10-29
0