Bab 17

Kini Steve dan keluarga sudah berada di pusat perbelanjaan. Tangannya menggenggam tangan Alina dengan terpaksa. Dia tidak ingin Mama dan Papanya tahu tentang perjanjian pranikah antara kedua pasangan suami istri tersebut.

Mama menginginkan mereka semua membeli baju yang senada untuk mereka pakai hari ini.

Namun Alina sejak tadi hanya terdiam. Dia masih merasa sakit hati dengan sikap suaminya. Dia tahu jika suaminya menggandeng tangannya karena terpaksa.

Tak lama pun Mama sudah mendapatkan pakaian yang akan mereka kenakan untuk liburan mereka hari ini.

"Kalian cepat ganti pakaian Kalian ya, nanti Mama mau ambil foto keluarga kita menggunakan pakaian couple. Mama mau pamerin ke teman-teman Mama jika Mama juga punya menantu yang sangat cantik," ucap Mama.

Mereka semua hanya bisa menuruti kemauan Mama yang sudah mutlak dan tak bisa di ganggu gugat.

Mereka kini sudah memakai pakaian yang sudah Mama pilih tadi. Alina terlihat begitu manis, sementara Steve dan Papa terlihat begitu malu-malu, sebab mereka menggunakan pakaian warna pink.

"Ma, bisa tidak jika pakaiannya di ganti? Steve tidak suka dengan warnanya." Steve memprotes.

"Kau dan Papa mu terlihat sangat imut Steve. Jangan di ganti, Mama suka," ucap Mama terkekeh. "Sini menantu cantik Mama, Kau terlihat sangat cantik dan manis."

Alina mendekati Mama. Dia tersenyum kecil. Menanggapi perkataan sang Mama mertuanya.

Setelah mereka berfoto, Mama mengajak mereka ke villa miliknya yang ada di kota M.

Sejujurnya Mama sengaja mengajak putra dan menantunya ke sana. Mama ingin putra dan menantunya bisa menghabiskan waktu bersama.

"Steve, Alina. Mama dan Papa harus pulang. Banyak urusan yang harus kami urus. Kalian harus memanfaatkan waktu bersama kalian. Dan asal kalian tahu, Mama sudah menyuruh mata-mata untuk mengintai kalian. Dan Steve, jangan tinggalkan Alina! Jika sampai Kau meninggalkan istrimu di sini, Mama tidak akan segan untuk mencabut semua fasilitas yang sudah Mama dan Papa berikan kepadamu!" ancam Mama. Dia tahu dengan sifat putranya yang sering meninggalkan Alina. Dan Mama tidak mau itu terjadi.

Steve yang mendengarnya pun menarik nafas panjang. "Iya Ma, terserah Mama dan Papa saja. Lagipula jika Steve menolak, Mama dan Papa pasti juga akan marah sama Steve."

Sementara Alina tersenyum getir. Steve melakukannya hanya karena terpaksa. Alina hanya bisa terdiam di samping Mama mertuanya itu.

"Yasudah, Mama dan Papa pulang dulu ya? Bersenang-senanglah kalian berdua." Mama mencium pipi Alina bergantian. Kemudian dia dan suaminya pulang meninggalkan Alina dan Steve sendiri di villa.

Tersisa Steve dan Alina yang tengah duduk di depan villa dalam diam. Steve berdiri dan langsung menatap istrinya yang sedari tadi hanya diam saja.

"Apa Kau tidak mendengar ucapan Mama tadi? Ada seseorang yang memata-matai kita. Jika Kau hanya diam saja, nanti mata-mata Mama akan menceritakan semuanya, dan Mama akan tahu tentang pernikahan kita yang sebenarnya."

"Kau ingin Mama dan Papa tahu tentang perjanjian kontrak pernikahan kita? Ya walaupun mereka tidak tahu jika sebenarnya Kau bukan gadis baik-baik, tapi setidaknya Aku senang melihat mama tersenyum bahagia."

Ucapan Steve sungguh membuat hati Alina semakin hancur.

"Ayolah, Kau bisa memanfaatkan waktumu untuk bersamaku. Bukankah ini keinginan mu? Manfaatkan semuanya untuk kesenangan mu, gadis murahan." Steve berkata dengan sinisnya.

Sementara Alina menatap Steve dengan kecewa. Suaminya terus saja menghina dirinya. Memangnya apa salahnya? Apa salah jika dia mencintai suaminya?

Semua yang Alina lakukan selalu saja salah di depan mata Steve.

"Kau tidak berhak menyebut ku wanita murahan! Karena Aku bukan wanita murahan!"

Steve tersenyum miring. "Sungguh? Kalau Aku mencium mu, Kau pasti tidak akan menolaknya. Bukankah dari awal Kau ingin ku sentuh? Tidak usah mengelak bahwa Kau itu benar-benar mura--"

Plakk!!

Perkataan Steve terhenti ketika Alina menampar wajahnya. Steve menatap tajam Alina. Sedangkan Alina merasa sangat marah saat ini. "Beraninya Kau!"

Alina tak menjawab apapun. Gadis itu langsung masuk kedalam villa dengan perasaan hancur.

Bagaimanapun hatinya benar-benar sakit mendengar perkataan dari sang suami. Namun tetap saja dirinya merasa begitu bersalah karena sudah menampar pipi suaminya.

Walau begitu, dia tetap tak bisa menahan amarahnya ketika selalu di hina oleh sang suami. Alina sangat marah kali ini. Hingga di kepalanya hanya ada kemarahan yang membakar hatinya.

Sore hari.

Kemarahan Alina sudah mereda. Gadis itu duduk di depan jendela kamarnya. Dia menatap suaminya yang tertidur di kasur.

Alina hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Dia memutuskan untuk diam. Dia tidak ingin mendengar Steve terus menghinanya lagi.

Steve mulai terbangun dari tidurnya. Pria itu melihat siluet istrinya yang berdiri hendak beranjak dari kamar.

"Siapkan pakaian ku!" seru Steve. Alina menatapnya sejenak. Kemudian dia melakukan tugasnya tanpa mengatakan sepatah katapun.

Sementara Steve langsung memasuki bathroom untuk membersihkan tubuhnya.

Setelah menyiapkan pakaian untuk Steve, Alina segera keluar dari kamarnya. Steve yang sudah selesai mandi pun langsung mengenakan pakaian yang sudah Alina siapkan. Namun dahinya mengernyit kala tak melihat Alina di sana.

"Kemana gadis itu?" gumamnya.

Setelah selesai memakai pakaiannya, Steve langsung keluar dari kamarnya. Di lihatnya Alina yang sedang duduk di pinggir pantai. Kebetulan belakang villa itu ada pantai yang sangat indah. Steve melangkahkan kakinya menuju ke tempat Alina saat ini.

"Ngapain di sini?" tanya Steve.

"Hanya melihat pantai." jawab Alina sekenanya. Dia merasa malas menanggapi ucapan Steve yang mungkin nantinya akan menambah sakit hati.

"Apa Kau mau minum?"

"Aku tidak haus."

Steve merasa heran dengan Alina. Gadis itu menjadi lebih diam. Dia tidak ingin jika orang tuanya sampai tahu tentang kondisi rumah tangganya yang sesungguhnya.

"Jangan seperti ini dong. Aku tidak ingin Mama dan Papa sampai kenapa-kenapa hanya karena memikirkan rumah tangga kita. Kau tahu kan jika ada mata-mata yang mengawasi kita?"

"Atur saja semua sesukamu."

Steve terdiam. Sejak tadi Alina tidak memanggilnya dengan sebutan kakak seperti biasanya. Steve memilih untuk membeli beberapa minuman dan juga makanan. Setelah mendapatkannya, Steve langsung duduk di samping Alina.

"Ini untukmu. Maaf jika perkataan ku membuatmu sakit hati. Kalau sedang marah, Aku memang sulit untuk mengontrol ucapan ku." ucap Steve. Entah kerasukan setan apa sehingga Steve meminta maaf kepada Alina.

Alina tersenyum kecil. Dia menerima minuman yang di berikan Steve untuknya. "Tidak apa-apa. Kau memang pantas memarahiku. Aku memang sudah keterlaluan membangkang mu. Maaf jika menikah dengan ku membuatmu menderita. Jika Kau mau pergi menyusul teman-teman mu dan juga kekasihmu, Kau pergi saja. Aku akan mencari alasan agar Mama dan Papa tak marah padamu."

Setelah mengucapkan hal itu, Alina beranjak berdiri dan berjalan memasuki villa. Steve yang melihatnya begitu terkejut dengan sikap Alina yang berbeda.

***

Terpopuler

Comments

Vita Zhao

Vita Zhao

bagus Al, aku mendukung mu, aku suka gayamu yang sekarang.

2022-11-10

0

Rosy

Rosy

nah..gitu dong Al..selama ini kamu sudah cukup sabar menghadapi Steve yg seenaknya saja kepada kamu..apalagi sampai menampar ..laki2 apaan yg cuma berani sama wanita lemah..dan kamu Steve..jangan sampai kamu menyesal saat kamu terlambat menyadari bahwa Alina adalah teman masa kecil kamu

2022-11-10

1

ossy Novica

ossy Novica

Allina mesti cuek atau kurangi bicara biar dia introspeksi diri

2022-11-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!