"Ku mohon Kak, jangan beritahu kakak ku tentang semua ini, jika Kau masih menganggap ku sebagai adikmu sendiri," ucap Alina sekali.
Nando merasa iba pada gadis yang sudah seperti adiknya sendiri itu. Akhirnya pria itu memilih diam dan tak melanjutkan percakapan tersebut dengan Alina.
Taksi yang di tumpangi keduanya pun akhirnya sampai di rumah milik Steven. Alina segera membawa barang-barangnya masuk kedalam rumah. Sementara Nando hanya menatap gadis yang kini tengah memasuki rumah dengan sendu.
"Saat ini Aku akan diam. Tapi jika dia menyakitimu semakin dalam lagi, Aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan memberitahu Kakak mu tentang masalah ini, Alina."
***
Alina duduk di meja dapur dengan begitu cemas. Gadis itu benar-benar takut jika Nando benar-benar akan mengatakan kepada kakaknya tentang semua masalah ini.
"Ku harap kak Nando tidak memberitahu kaka ku tentang suamiku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada suamiku, Tuhan." ucap Alina cemas.
Ponsel Alina berdering. Gadis itu segera mengambil ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Ia terlonjak kaget saat melihat kakaknya menelponnya. Alina menghela nafas sejenak. Dia benar-benar gugup saat ini.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk menerima telepon dari Kenzo, kakak kandungnya.
"Hai Kak, ada apa? Tumben sekali menelponku." Gadis itu masih berusaha tenang.
"Tidak apa-apa. Kakak hanya sedang merindukanmu. Mentang-mentang sudah menikah, sekarang jarang menghubungi kakak mu ini," Ken pura-pura marah.
"Maaf kak, Aku sungguh lupa. Bagaimana kabar kakak? Aku juga sangat merindukanmu, Kak."
"Kau itu kesayangan kakak. Apa Kau baik-baik saja di sana?"
"Aku baik kok Kak. Bagaimana dengan kakak?" tanya Alina balik.
"Syukurlah, kakak juga baik. Kakak hanya mau mengabarkan jika sebentar lagi kakak akan pulang. Aku akan membelikan hadiah pernikahan mu yang belum sempat kakak beli."
"Astaga, ternyata kakak masih mengingatnya. Aku saja sudah lupa," Alina terkekeh dengan ketajaman ingatan kakaknya itu.
"Tentu saja, karena Aku pernah berjanji padamu. Dan janji harus di tepati. Yasudah, kakak mau lanjut kerja dulu. Ingat, jika ada yang menyakitimu, beritahu kakak," pesan Kenzo.
Alina menelan ludahnya sendiri dengan begitu susah mendengar kalimat terakhir yang Ken ucapkan. Gadis itu menjadi gugup dan terdiam beberapa detik. "Ba-baik, Kak. Kak Ken semangat kerjanya ya?" Alina menjawab dengan sikap yang berusaha tenang.
Ken langsung mematikan panggilan tersebut. Pria itu menatap keluar jendela kantornya. Baru saja dia menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku yakin jika Kau menyembunyikan sesuatu dari kakak, Alina. Tapi Kakak akan menunggu sampai Kau menceritakannya kepada kakak. Jika Kau tetap saja diam dan tak mau memberitahukan kepada ku. Maka Aku akan mencari tahu sendiri. Dan jika ada seseorang yang menyakitimu, maka orang itu harus bersiap-siap untuk menangis darah, tak terkecuali suamimu sendiri." Kenzo mencoba untuk menenangkan diri.
***
Jam menunjukkan pukul 10.00 malam.
Alena menunggu suaminya kembali ke rumah. Baru saja ia akan mendudukkan tubuhnya di sofa, Alina mendengar suara ketukan pintu dari depan rumah. Iya emang sudah mengira jika itu adalah suaminya.
Gadis cantik itu sangat segera mungkin membuka pintu rumahnya dengan senyuman. Namun senyuman itu seketika luntur saat melihat Sofia tengah memeluk lengan suaminya.
Alina membuka pintu dengan lebar agar kedua orang itu segera masuk. Dia ingin marah, namun Alina tidak ingin Steve semakin marah kepadanya.
Dengan tak tahu malunya Sofia masih berkelayut di lengan Steve yang saat ini sedang mendudukkan tubuhnya di atas sofa diikuti oleh Sofia.
"Cepat buatkan saya minum, saya sudah sangat haus," titah Sofia.
Alina menatap Sofia sejenak kemudian langsung berjalan ke arah dapur dengan wajah yang begitu sendu.
Sementara Steve hanya terdiam dan terus saja mengecup punggung tangan kekasihnya. Rasanya hati Alina begitu sakit saat melihat suaminya tengah bermanja-manja dengan gadis lain.
Setelah membuatkan minum Alina berjalan ke arah ruang tamu. Dia pun meletakkan minuman tersebut di atas meja tanpa melihat suaminya yang tengah bersama gadis lain.
Sofia menatap remeh ke arah gadis yang baru saja meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Gadis seperti ini menikah dengan kekasihku. Mungkin mata keluarga kekasihku sudah salah. Gadis jelek seperti kamu di bilang cantik. Penampilan kamu sungguh sangat kampungan...," ujar Sofia.
Alina hanya menatap Sofia tanpa berniat menjawab gadis tersebut. Alina tipikal seseorang yang membenci perdebatan. Gadis itu lebih memilih untuk pergi ke kamar. Namun baru saja dirinya hendak melangkah, suara bel pintu berbunyi. Alina berjalan menuju pintu dan membukanya.
Gadis itu terkejut manakala melihat siapa yang bertamu ke rumah.
"Kak Nando, ada apa kemari?" tanya Alina.
"Tadi Aku membeli nasi goreng di ujung sana dan Aku ingat jika Kau juga menyukai nasi goreng. Jadi Aku memutuskan untuk membelikan mu juga. Makanlah selagi masih hangat," jawab Nando.
Alina tersenyum dan menerima nasi goreng tersebut. "Silahkan ma...," Belum sempat Alina mempersilahkan, Nando sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.
Pria itu merasa geram melihat pemandangan di depannya. Tangannya mengepal kuat kala melihat Steve yang tengah berciuman dengan Sofia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Rosy
bersenang senanglah kalian Steven dan Sofia tapi sebentar lagi kalau Kakak Alina tau tentang perbuatan kalian yg menyakiti Alina maka di saat itulah hidup kalian akan hancur..dan kamu Steven jangan harap kamu bisa menemui sahabat kecilmu lagi setelah itu karena Ken tidak akan membiarkan adik kesayangannya di sakiti oleh pria br*ngs*k seperti kamu 😤😤
2022-10-20
0
Zana aripin
Semoga cepat terbongkar semuanya, tak sanggup tengok alina diseksa begitu... Insyaallah kebahagian menantimu alina tggu dan lihat, bersabar
2022-10-20
1
Vita Zhao
Ayo Nando bawa kabur ajah Alina
2022-10-20
0