Alina yang hendak melarang Sofia untuk masuk, langsung terdiam saat melihat suaminya yang terlihat sangat garang. Air mata pria itu tiba-tiba menetes.
"Kenapa kau bermain dengan pria lain?! Apa kurangnya aku, Sofia?! Apa kau tidak tahu di sini terasa begitu sakit?" Steve menujuk ke arah dadanya. "Melihat orang yang kita cintai bersama pria lain, berpelukan, berciuman, bermesraan! Kau begitu jahat padaku Sofia! Pergi sekarang dari rumahku!" Lanjutnya. Pria itu terlihat begitu kecewa dan marah.
Melihat sang kekasih terlihat begitu marah, Sofia langsung memegang tangan Steve. "Aku akan menjelaskan setelah kau sepenuhnya sadar dari mabuk mu. Sebaiknya sekarang aku pulang terlebih dahulu. Istirahatlah. Besok kita akan bertemu lagi. Bukankah kita sudah berjanji akan berlibur bersama seharian dengan sahabat-sahabatmu? Jadi lebih baik istirahat lah."
Steven menepis tangan Sofia dan langsung menutup pintu kamarnya dengan begitu kasar.
Sofia terkejut melihat Steve menutup pintu kamar dengan sangat kasar. Wanita itu menghela nafas dengan kasar dan memilih langsung pergi dari rumah kekasihnya.
Alina? Gadis itu hanya berdiri di depan pintu kamar. Dia memberikan waktu kepada suaminya. Pasti suaminya sedang ingin sendirian saat ini. Mengingat pertengkarannya yang terjadi baru saja.
Ketika Alina hendak membalikkan tubuhnya, tiba-tiba saja Steve memanggil namanya. "Al, mana minuman ku?!" seru Steve dari dalam kamar.
Gadis itu langsung berlari mengambilkan minum untuk suaminya. Setelah ia mengambil minuman yang ada di dapur, Alina langsung membawanya ke dalam kamar dan memberikan kepada suaminya.
"Ini Kak minumannya." kata Alina.
Tangan Steve mengulur untuk mengambil minuman yang ada di tangan Alina. Ia langsung meminumnya hingga air tersebut tandas dan segera meletakkan gelas itu di atas meja yang ada di samping ranjangnya.
"Apa kau bisa memijat?" tanya Steve menatap Alina.
Alina menganggukkan kepalanya.
"Tolong pijat kepalaku. Rasanya kepalaku ini mau pecah," ucap pria tersebut.
Alina langsung berjalan mendekat kearah suaminya. Ia duduk di tepi ranjang dan langsung memijat pelan kepala Steve yang ia taruh di bahannya.
"Sebaiknya Kak Steve jangan terlalu banyak minum. Minuman keras sangat tidak baik untuk kesehatan." ucap Alina.
Steven hanya diam. Pria itu memejamkan kedua matanya karena pijatan dari istrinya yang terasa enak.
***
Di sisi lain, Sofia menghentikan mobilnya di depan rumah yang terlihat sangat mewah. Gadis itu keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki halaman rumah yang ia tuju.
"Maaf, siapa anda?" Security yang bekerja di rumah Mewah tersebut bingung melihat keberadaan gadis asing di depannya yang nyelonong masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Panggilkan anak dari pemilik rumah mewah ini. Aku ingin bertemu dengannya," titah Sofia kepada security tersebut. Gadis itu nampak sombong dengan melipat kedua tangannya.
Security tersebut langsung menekan tombol untuk menanyakan kepada anak majikannya. Setelah bertanya, security segera menatap ke arah Sofia.
"Maaf, tuan muda sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. Dia ingin menikmati waktu liburnya dengan menghabiskan waktu di kamarnya," tutur security tersebut. Membuat Sofia membola.
"Itu pasti hanya alasanmu saja kan?! Buka saja gerbangnya Aku mau bertemu dengan anak majikanmu." Sofia terus saja memaksa.
Sofia langsung berteriak memanggil anak pemilik rumah mewah tersebut. Membuat orang-orang yang ada di kompleks tersebut langsung menatap ke arahnya.
Security itu panik, karena ia tidak enak sudah mengganggu kenyamanan warga komplek tempat dirinya bekerja.
"Maaf, Nona. Sebaiknya anda segera pergi dari rumah ini. Tuan muda sedang tidak ingin bertemu dengan anda."
"Tidak! Aku pokoknya harus bertemu dengan anak majikanmu," ucap Sofia memaksa.
Terpaksa security tersebut mengusir Sofia dengan cara yang tidak sopan.
"Biarkan saja dia masuk rumah Pak. "
Terdengar suara seorang pria yang ingin dijumpai oleh Sofia. Pria itu berdiri dari balkon kamarnya menatap ke arah security dan juga Sofia yang ada di bawah. Pria itu mengenakan pakaian rumahannya.
***
"Untuk apa kau datang Kau rumahku? "
"Tolong buka pagar di rumah mu dulu, kita bicarakan semuanya di dalam saja ya, Kak? Aku mau membicarakan hal serius denganmu. Aku ingin menanyakan tentang apa yang harus dibawa ketika kita liburan nanti."
"Sebaiknya kau pulang. Kenapa tidak kau tanyakan saja kepada kekasih mu itu? Aku tidak mengetahui tentang liburan tersebut. Bukankah itu hanya untukmu , Raja, Alfian dan Alka saja Yang akan pergi? Jadi kau tidak perlu repot-repot bertanya kepadaku, karena aku tidak akan ikut berlibur dengan kalian semua."
Nando langsung masuk ke dalam kamar dan menutup jendela yang menembus balkon. Sementara Sofia mengepalkan kedua tangannya dan memilih masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal.
"Apapun yang terjadi, aku akan mendapatkan hatimu, Nando. Tunggu saja, aku tidak akan menyerah. Aku akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan cintamu."
Nando membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pria itu terbilang pria yang menyendiri. Ketika libur, ia akan berada di rumah seharian di dalam kamarnya. Baginya berkumpul bersama teman-temannya adalah hal yang begitu melelahkan.
Apalagi jika harus bertemu dengan Sofia. Wanita yang dari awal tidak dia sukai.
"Dasar wanita gila! Dia selalu saja mengganggu hidupku. Berlibur? Biarkan saja mereka yang pergi. Aku malas ikut dengan mereka." Nando kemudian memejamkan kedua matanya. Dia memilih untuk tidur Dan mengisi tenaganya daripada membuang waktunya.
Namun baru saja ia memejamkan matanya, ponsel miliknya berbunyi dan ketika dirinya melihat layar ponsel tersebut ternyata itu pesan dari Alfian.
"Besok kita akan berlibur sama teman-teman lainnya di sebuah villa yang sudah disiapkan oleh Alka. Kau harus mengambil jatah liburanmu dan menyegarkan otakmu. Jangan terus-terusan berdiam diri di kamar saja. Sebaiknya kita jalan-jalan sekalian biar kamu bisa mendapatkan seorang kekasih." Tulis pesan dari Alfian.
Nando yang membaca isi pesan dari Alfian, menghembuskan nafasnya kasar. "Hidup itu butuh uang bukan cinta. Karena cintaku sudah diambil orang lain. Apalagi orang itu telah menyakiti orang yang kucintai. Malas jika harus ikut mereka berlibur."
Nando memutuskan untuk mematikan ponsel miliknya dan memilih untuk memejamkan matanya. Pria itu benar-benar lelah dengan semuanya. Lelah dengan keadaannya, pekerjaannya, bahkan lelah dengan percintaannya yang tidak mulus.
Pria itu berharap ketika dirinya terbangun nanti semua rasa lelah dan penatnya menghilang.
***
Keesokan harinya
Raja dan Alfian menjemput Nando untuk ikut berlibur bersama mereka. Sementara Alka sudah lebih dulu berada di villa yang sudah ia persiapkan untuk acara menginap mereka.
"Ayolah, kawan. Kapan lagi kita berlibur bersama. Kita harus menyegarkan otak setelah sekian lama kita terus bekerja. Otak kita butuh refreshing atau paling tidak healing biar tidak terlalu penat. Apa kau tidak sumpek berada di dalam kamar seharian?"
Nando menatap jengah ke arah kedua sahabatnya itu yang tidak henti-hentinya membujuknya untuk ikut bersama mereka.
"Aku malas untuk pergi. Kalian saja yang pergi. Aku mau diam di kamar. Aku malas melihat muka Sofia dan juga Steve. Mereka berdua selalu saja membuat ku emosi." jawab Nando.
"Ayolah. Kau tidak perlu marah-marah seperti itu. Sejenak lupakan dulu perseteruanmu itu dengan Steven. Sekarang saatnya kita untuk berlibur," timpal Raja.
Setelah bujukan yang terus saja dilontarkan oleh Raja dan juga Alfian, akhirnya Nando menyetujui untuk ikut bersama mereka berlibur ke villa yang sudah disiapkan oleh Alka.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Mahfu Tien
tulisannya thor,pdhl bgus lo,maaf ya protes
2022-10-27
0