Ayah dari Steve menatap sang istri. "Sebentar lagi Steve akan pulang."
Ibu dari Steve menganggukan kepala. Sementara Alina hanya diam dan merasa begitu cemas. Dia takut jika nanti Steve akan kembali marah.
Tak berapa lama kemudian. Akhirnya Steve sampai dan segera masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Mama Mahesh langsung menatap putranya dan dengan tatapan tajam.
Alina hanya bisa menundukkan kepala saja karena dia tak berani menatap mata suaminya.
"Kenapa lama sekali? Sudah hampir 30 menit kami menunggumu. Steve, sekarang hari Minggu. Seharusnya kau mengajak istrimu berlibur. Menghabiskan waktu dengan istrimu yang cantik ini, bukannya malah bekerja!"
Steven menatap mamanya dan memeluknya hangat. "Iya, Ma. Maaf, Steve tidak akan mengulanginya lagi."
Mama Mahesh menganggukan kepalanya dan mengusap lembut punggung tangan putranya.
"Mama tidak mau tahu, pokoknya mama dan papa harus segera mendapat cucu. Jangan ditunda lagi, Steve. Mama dan papamu ini sudah tua. Kami juga ingin segera memiliki cucu seperti teman-teman mama yang lainnya."
Steve langsung terdiam mendengar ucapan dari sang mama. Mana mungkin dia memiliki anak dengan Alina? Menyentuh wanita itu saja dia tidak pernah.
Steve juga tidak ingin memiliki anak dari istrinya tersebut. Dia tidak mencintai Alina. Papa Mahesh menatap putranya yang berada di pelukan istrinya.
"Steve, Papa tahu kamu bekerja keras untuk perusahaan agar menjadi semakin maju. Tapi papa mohon agar kamu bisa meluangkan waktu untuk menghabiskan waktu berdua bersama istrimu. Hari ini hari libur bekerja, jadi luangkan waktumu untuk Alina. Kasihan dia sendirian di rumah. Untung saja Mama dan Papa datang, jadi Alina tidak sendirian."
"Iya, Pa. Maaf, Steve berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Alina hanya terdiam. Sementara Steven langsung duduk di samping istrinya.
"Jangan sampai Mama dan Papa tahu kalau aku dan Sofia masih berhubungan," bisik Steve kepada istrinya.
Alina menatap sang suami dan menganggukan kepala. Steve tersenyum simpul dan mengusap lembut rambut Alina agar kedua orang tuanya tidak mencurigainya dengan rumah tangganya yang tidak baik-baik saja.
Papa dan Mama Mahesh pun tersenyum manis melihat putranya yang terlihat sangat menyayangi menantunya.
"Mama dan Papa sudah makan?" tanya Steve.
"Sudah. Tadi istrimu sudah memasak untuk kami. Kamu makan dulu sana. Kau sangat beruntung memiliki istri yang pandai memasak," puji sang mama.
Steve tersenyum. Mama mahes langsung menarik tangan putranya menuju ke ruang makan.
Steve kini sudah duduk di kursi makan. Mama mahes langsung mengambilkan makanan untuk sang putra.
" Makanlah, kalau mama tahu masakan istrimu enak pasti Mama akan sering datang kemari."
Steve menatap sang mama tersenyum. "Iya, Ma. Maaf Steve tidak memberitahu mama."
Steven terpaksa langsung memakan masakan Alina. Dia terdiam sejenak merasakan makanan yang baru saja ia suapkan ke dalam mulutnya itu, terasa benar-benar enak.
"Enak, kan?"
"Iya Ma. Masakan Alina memang sangat enak," puji Steve.
Alina yang mendengarnya pun marona karena pujian dari suaminya. Walaupun Steve seperti terpaksa mengatakannya karena ada sang mama, Alina tetap saja merasa bahagia.
"Mama dan papa akan menginap di sini malam ini."
Bak tersambar petir, Steve sangat terkejut mendengar penuturan sang mama. Dia hampir tersedak mendengarnya.
"Uhuk... uhuk...."
Alina segera mengambil air putih dan menyodorkannya kepada suaminya. Steve langsung menghabiskan air tersebut.
"Tidak apa-apa kan?"
"Ti-tidak apa, Ma."
***
Malam hari di dalam kamar Steve.
Steve tampak frustasi. Dia tidak menduga jika kedua orang tuanya akan menginap. Pria tampan itu langsung mengambil ponsel miliknya dan memberi kan pesan kepada para sahabatnya jika dia tidak bisa berlibur bersama mereka saat ini.
Steve takut jika dirinya nekat, bisa-bisa saja hubungannya dan juga Sofia akan terbongkar oleh kedua orang tuanya.
Alina masuk ke dalam kamar dan menatap sang suami yang terlihat begitu frustasi.
"Kak Steve pergi saja. Aku bisa memberikan alasan kepada mama dan papa kok," ucap Alina.
Steve langsung menatap sang istri yang kini sudah berada di depannya. "Apa kau gila? Aku sangat hafal dengan mama dan papa. Mereka tidak akan pernah membiarkan ku pergi."
Alina terdiam. Gadis itu kecewa mengingat Steve yang berbohong kepadanya tentang pekerjaannya padahal tengah berlibur bersama kekasih dan sahabatnya.
"Lalu liburan Kakak dan juga teman-teman Kak Steve bagaimana?"
"Tentu saja batal. Mau gimana lagi? Kau itu sebenarnya sok polos atau apa sih sebenarnya!" Suara nada Steve begitu jengkel kepada Alina.
Alina sontak langsung menundukkan kepalanya. Melihat hal itu semakin membuat Steven menjadi kesal.
"Bisa tidak, jangan selalu menunduk seperti itu! Aku tidak ingin orang tua ku curiga. Dan Aku tidak ingin kehilangan warisan orang tuaku!"
Steven langsung berdiri dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Pria itu memilih keluar dari dalam kamar dan menghampiri kedua orang tuanya yang ada di ruang keluarga.
Alina hanya menghembuskan nafasnya pelan dan langsung mengikuti langkah suaminya. Steve dan Alina gini berpura-pura menjadi pasangan yang sangat romantis dan saling mencintai dihadapan kedua orang tua Steve.
"Eh, kalian sini duduk kita nonton TV sama-sama," ajak mama ketika melihat kedua putra dan menantunya datang.
Keduanya pun duduk bergabung bersama dengan mama dan Papanya Steve.
"Steve. Besok Mama akan mengajak kalian jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Mama dan Papa sudah lama tidak jalan-jalan bersama. Apalagi denganmu. Kakakmu sudah mempunyai istri dan rumah sendiri di luar kota. Hanya kamu yang Mama dan Papa punya di sini."
"Iya, Ma. Besok kita ke pusat perbelanjaan bersama." Steven menyetujuinya.
Steve tersenyum manis ke arah sang mama. Dia benar-benar menyayangi kedua orang tuanya. Ketika mamanya menginginkan sesuatu, pasti Steve akan mengikutinya.
Alina tersenyum melihat kehangatan dari suami dan mertuanya. Baru kali ini dia melihat senyuman tulus dari bibir suaminya.
"Lihatlah istrimu. Dia sangat manis jika tersenyum seperti ini," ucap Papa.
Mama Mahesh dan Steve langsung menatap ke arah Alina.
Gadis itu langsung berubah ekspresi menjadi biasa saja. "Sepertinya Alina terlalu Mencintai Steve. Melihat setiap tersenyum saja Dia terlihat begitu bahagia. Bagaimana kalau Alina hamil anak Steve? Pasti Alina akan sangat bahagia."
Alina langsung terdiam. Ekor matanya melirik ke arah Steve dengan cemas. Sementara Steve mengkode agar Alina bersikap biasa saja.
Alina menghembuskan nafas pelan dan menatap Mama mertuanya. "Pasti bahagia, Ma. Apalagi memiliki putra dari pria yang Alina cintai."
Steve langsung terdiam mendengar ucapan Alina. Ada sedikit rasa bersalah pada istrinya itu. Namun apa boleh buat. Dia tak pernah mencintai istrinya. Steven dari dulu hanya mencintai Sofia. Seorang gadis yang menurutnya begitu baik.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Rosy
Sofia baik..?? kamu lihat pakai kaca buram ya Steve..wanita seperti Sofia kok di bilang baik..baik dari mananya coba..kamu kan juga pernah memergokinya berduaan dg laki2 lain berarti dia tidak setia gitu saja kok nggak ngerti sih Steve..
masih menunggu penyesalan Steve saat Ken tau apa yg sudah di lakukan kepada adiknya..Alina dan di tunggu kebucinan Steve kepada Alina..
2022-11-02
0
Vita Zhao
Dasar stav bo*doh.
aku tunggu penyesalan mu
2022-11-02
0
Mahfu Tien
kelamaan thor g kebongkar2
2022-11-02
1