"Br.engse.k kalian berdua!" bentak Nando kala melihat pemandangan menjijikkan di depannya.
Kedua orang itu pun menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke arah seseorang yang memberikan umpatan pada mereka.
Sementara Alina berdiri menundukkan kepalanya di belakang Nando .
"Apa tidak ada tempat lain untuk berbuat hal menjijikkan seperti yang kalian lakukan, hah! Tidak cukup kalian menyakiti hati gadis sebaik Alina?! Dan Kau Steven! Bisa tidak Kau menghargai istrimu!" lanjut Nando yang benar-benar sangat marah saat ini.
Alina memegang tangan Nando pelan. "Sudahlah, Kak . Lebih baik Kak Nan...,"
"Untuk apa Kau datang malam-malam seperti ini ke rumah ku?!" Steven memotong ucapan Alina. Pria itu berjalan mendekat.
"Kau saja mengajak ja.lang mu ke rumah mu, kenapa Aku tidak boleh kesini?!" jelas Nando menatap tajam Steve.
Bugh!
Steve langsung memukul wajah Nando.
Alina yang panik langsung menarik Nando agar menjauh dari suaminya, padahal Nando sudah akan membalas Steve.
"Jangan pukul Kak Nando, Kak!" ucapnya pada sang suami.
"Jadi Kau lebih membelanya? Apa Kau suka padanya?! Ingat jika Kau sudah memiliki seorang suami! Dasar murahan!" bentak Steven.
Alina langsung menunduk. Nando begitu kesal dan langsung mencengkram kerah baju yang dikenakan Steve. "Dasar ba.ji.gan! Kau yang seharusnya berkaca!"
Nando dan Steven saling melempar tatapan tajam. Nando ingin sekali memukul wajah pria yang sudah menyakiti Alina. Namun dia menahannya karena tidak ingin membuat Alina sedih.
Steven hendak memukul Nando. Namun dengan cepat Alina memegang tangan Steve dan menatapnya dengan air mata yang mengalir.
"Kumohon jangan memukulnya, Kak. Dia adalah pria yang sudah ku anggap sebagai pengganti kakak ku. Lebih baik Kau fokus saja dengan kekasihmu itu. Aku tidak akan mengganggu kalian." Alina menatap mata suaminya. Gadis itu langsung melepaskan tangannya dan berjalan menghampiri Nando dan mengajaknya keluar.
Nando sudah seperti kakaknya sendiri, hanya pria itu yang dapat Alina percayai. Gadis itu ingin mempercayai sang suami, namun rasanya begitu sulit menurutnya. Sejak mereka menikah, Steve selalu memperlihatkan ketidaksukaannya pada dirinya.
Steven merasa begitu marah dengan ucapan Alina. Dia menarik tangan kekasihnya dan berjalan keluar mendahului Alina. Dengan teganya Steve menabrak tubuh Alina hingga Alina hampir terjatuh.
Nando mengepalkan tangannya geram dengan sikap Steve yang semena-mena terhadap istrinya. Pria itu langsung membantu Alina. "Kau tidak apa-apa?"
Alina menatap Nando dengan berkaca-kaca. Gadis itu tersenyum di atas kesediaannya. "Aku tidak apa-apa kok, Kak."
Aku temani Kamu ya," tawar Nando.
"Tidak usah Kak. Kakak pulang saja, ini sudah malam. Tidak enak jika ada tetangga yang tahu. Takutnya ada gosip yang tidak-tidak," jawab Alina.
"Baiklah, Aku akan pulang. Kalau ada apa-apa, hubungi Aku," lanjut Nando.
"Iya, Kak," balas Alina tersenyum.
Nando keluar dari rumah dan langsung memasuki mobilnya. Sementara Alina masuk kedalam rumah.
Ketika Alina hendak ke kamarnya, ia melihat ada sebuah cincin yang berada di bawah meja dekat sofa. Gadis itu langsung memungutnya. Terdapat tulisan keluarga suaminya di sana.
"Ini pasti milik kak Steven." Alina membawanya ke kamar dan menaruhnya kedalam laci lemari.
Tak sengaja tatapannya mengarah pada foto pernikahan mereka yang ada di dinding kamarnya.
"Apa Aku harus menyerah dengan pernikahan ini?" tanya Alina pada dirinya sendiri. Ia menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
"Tidak! Aku tidak boleh putus asa. Sebisa mungkin Aku akan membuat suamiku mencintaiku. Aku istrinya, dan Aku harus selalu ada saat susah dan senangnya." ucap Alina mantap. Dia sudah bertekad.
***
Steven merasa begitu kesal mengingat kejadian tadi. tak ubahnya dengan Sofi. Sejujurnya Sofia menyukai Nando. Namun sulit sekali untuknya menaklukkan hati pria itu. Alhasil dia memanfaatkan Steve untuk bisa lebih dekat dengan Nando. Dan sebagai bonusnya, Sofi memanfaatkan kekayaan Steve.
"Sudahlah, Sayang. Jangan di pikirkan terus. Pasti istrimu itu yang sudah menggoda Kak Nando, makanya malam-malam seperti ini Kak Nando datang. Aku yakin jika gadis murahan itu sudah merayunya. Kau tahu sendiri kan jika Kak Nando itu adalah pria yang sulit untuk di dekati wanita manapun?" Sofia berusaha mengompori Steve.
"Ya, Kau benar juga. Beberapa hari ini Nando juga lebih fokus pada ponselnya. Mungkinkah mereka selalu bertukar pesan? Jangan-jangan mereka sudah melakukan hal yang lebih. Tapi kenapa harus dengan sahabat ku?!" Steve menerka-nerka yang membuatnya menjadi semakin kesal.
"Karena istrimu itu terlalu murahan. Ya sudahlah, sekarang fokus saja menyetir."
"Iya, Sayang. Malam ini boleh tidak Aku menginap di apartemen mu? Aku malas jika harus pulang dan melihat gadis murahan itu," tanya Steven.
"Maaf ya, Sayang. Sepertinya kamu tidak bisa menginap di apartemen mu. Orang tuaku sedang ada di sana. Kamu menginap di rumah para sahabat mu yang lain saja."
Steve menunggu nafasnya. "Baiklah, Sayang." Pria itu tersenyum lembut menatap sang kekasih.
Setelah mengantarkan Sofia ke apartemennya, Steve memutuskan untuk mencari penginapan di hotel. Dia tidak ingin membangunkan kawan-kawannya di larut malam seperti ini.
Steve mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel yang begitu mewah yang sudah ia pesan. Ketika hendak mencuci wajahnya, dia terkejut saat melihat jari tangannya kosong.
"Kemana cincin ku?" Steve seketika panik. Cincin yang selama ini dia pakai hilang. Itu bukanlah cincin pernikahannya, melainkan cincin keluarga besarnya. Dan jika cincin itu hilang, maka Steve akan mendapatkan amukan dari kakeknya.
"Mati Aku! Kemana cincin ku? Bagaimana Aku menjelaskan ke kakek nanti jika dia tahu cincin milikku hilang?" Pria itu kebingungan.
Pria itu segera bergegas menuju mobilnya untuk mencari apakah cincinnya terjatuh di sana. Namun seberapa kali ia mencarinya, tetap saja ya tak menemukan cincinnya itu.
Steve mengeluarkan ponselnya dan menelepon kekasihnya. Barangkali kasihnya itu tahu tentang cincinnya yang hilang.
"Iya, ada apa lagi?" tanya mengangkat panggilan dari Steve.
"Maaf, sayang aku hanya ingin bertanya apakah kamu melihat cincin yang biasanya terpasang di jariku?"
"Cincin? Mana aku tahu? Mungkin saja istrimu itu yang mengambilnya. Kamu tanyakan saja padanya. Aku mengantuk." Sofia langsung mematikan panggilan tersebut.
Steven akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia lebih cemas dengan hilangnya cincinnya.
Tak berapa lama pun mobilnya pun sampai di rumahnya. Steven bergegas turun dan memasuki rumah dengan tergesa.
Pria itu membuka pintu kamarnya dan melihat Alina yang tengah terlelap. Dengan teganya ia langsung menarik Alina hingga gadis itu terjatuh dari tidurnya.
"Awww... Kak Steve...," ujar Elina terkejut yang melihat penampakan Steve.
"Di mana cincinku?!" Pria itu bertanya dengan marah-marah.
"Cincin?"
"Iya, Kau pasti yang mengambilnya kan?" tuduh Steve.
Alina mengingat-ingat tentang cincin yang suaminya maksudkan. "Aku tidak mengambilnya, Kak. Tapi tadi aku menemukannya di bawah meja, jadi aku menyimpannya," ucap Alina. Dia melangkahkan kakinya menuju laci lemari . Dia mengambil cincin itu dan segera memberikannya kepada Steve.
Sementara Steve, merasa sedikit menyesal karena telah menarik Alina dari tidurnya. Namun ia tak mengatakan kata maaf, karena dirinya yang terlalu gengsi untuk mengatakannya. Pria itu segera mengambil cincin miliknya dan memilih untuk tidur.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments