Bab 10

Nando berdiri dan berjalan menuju ruang UGD untuk melihat bagaimana kondisi Alina saat ini. Dia berjalan ketika Steve juga hendak berbelok untuk mengangkat panggilan yang ada di ponselnya.

Nando merasa begitu muak melihat Steve. Sementara Alfian yang melihatnya, hanya bisa menepuk pelan bahu Nando.

"Jangan hiraukan dia, sebaiknya kita masuk dan melihat keadaan Alina," ucap Alfian dan diangguki oleh Raja.

Raja hanya diam dan masuk ke dalam ruangan. Dia kecewa dengan sahabatnya tersebut.

Steve tak memperdulikan para sahabatnya yang menatapnya tak suka. Dia pun langsung mengangkat panggilan dari sang kekasih.

"Baiklah, aku akan segera ke sana. Oke oke, nanti kita akan membelinya."

Steve langsung pergi meninggalkan para sahabatnya. Bahkan dia tak memperdulikan istrinya yang tergolek lemah tak berdaya di dalam ruang UGD.

***

Di dalam ruangan UGD.

Nando duduk di samping brangkar, tepat di samping Alina.

"Sebaiknya kamu Jangan kasar seperti tadi kepada Steve, Nan. Kau tahu sendiri Steve emosian. Tolong kamu lebih bisa menahan emosimu itu." Alfian menasehati.

"Tidak bisa. Aku tidak bisa menahan lagi emosiku terhadap Steve. Dia sudah sangat keterlaluan sekali."

Sementara Raja hanya diam dan menatap Alina. Perlahan kelopak mata Gadis itu mulai terbuka. Alina langsung menatap Nando yang ada di sampingnya.

"Aku di mana, Kak?" tanya Alina ketika membuka matanya.

Nando segera menoleh ke arah Alina. Tatapan matanya lembut menatap gadis itu.

"Kamu ada di rumah sakit. Sebaiknya kamu sekarang istirahat dulu," jawab Nando menatap sendu ke arah Alina.

"Kak Steve di mana? "

Seketika Nando langsung terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Alina.

"Jangan lagi kau hiraukan dia. Dia tidak ada di sini," jawab Nando begitu dingin.

Raja dan Alfian, kedua benda itu saling menatap seolah berkata melalui tatapan mata mereka. Mereka pun pamit keluar dari ruangan UGD tersebut dan meninggalkan Alina bersama dengan Nando agar dapat berbicara berdua.

"Kita tunggu di luar, Nan." Kedua pria itu menepuk pundak Nando dan segera keluar dari sana.

***

Keesokan harinya.

Alina sudah diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter. Nando mengantar Gadis itu pulang ke rumah sahabatnya. Setelah sampai di rumah Steve, Nando menekan bel rumah milik sahabatnya tersebut.

Cukup lama mereka menunggu. Pintu terbuka dan terlihat Steve dengan baju berantakan dan rambut yang juga ikut berantakan tengah berdiri di depan pintu.

"Kau antar Alina ke kamarnya," perintah Steve.

Nando menyipitkan matanya menatap sahabatnya yang terlihat begitu berantakan. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa rumah terlihat begitu berantakan? Kamu mabuk lagi? Dasar pria tidak tahu malu! Istrimu sedang berada di rumah sakit, tapi kamu malah mabuk-mabukan di rumah!" umpat Nando menatap tajam ke arah sahabatnya.

Nando hendak kembali mengumpat sahabatnya itu, namun tangan Alina memegang lengannya agar Nando menghentikan umpatannya.

"Sudah Kak. Aku sudah sampai di rumah. Jadi lebih baik Kakak pulang saja ya? Semalaman Kakak tidak tidur karena menjagaku. Jadi lebih baik Kakak istirahat saja. Terima kasih karena kakak sudah menjagaku semalaman. Sampaikan juga terima kasihku kepada Kak Raja dan Kak Alfian karena mereka juga ikut menjagaku semalaman," ucap Alina kepada Nando.

"Kakak antar ke dalam ya?"

"Tidak usah, Kak. Alina bisa sendiri kok."

Nando menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya menatap Steve yang masih belum sepenuhnya sadar.

Steve merasa kepalanya begitu sakit. Dia terlalu banyak minum alkohol semalaman. Pria itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.

Alina mendekati sang suami dan memegang tangan suaminya.

"Ku antar ke kamar ya, Kak? Sepertinya Kakak belum sadar sepenuhnya."

Steve hanya menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan istrinya. Suami istri tersebut langsung berjalan ke arah kamar mereka. Mungkin Steve tak menyadari apa yang dia lakukan itu karena saat ini kondisinya tengah mabuk.

Sementara Nando yang melihatnya hanya bisa diam. Pria itu memilih untuk pergi dari rumah tersebut. Dadanya bergemuruh hebat saat melihat gadis yang ia cintai menggenggam erat tangan suaminya.

Alina adalah cinta pertamanya. Namun pria itu memendam semua perasaannya. Ia tidak ingin gadis yang ia cintai menjauh darinya hanya karena ungkapan cinta yang belum tentu Gadis itu juga rasakan kepadanya.

"Dasar pria bodoh! Kau hanya dimanfaatkan oleh Sofia. Dasar Steve bodoh! Kau sudah menyia-nyiakan gadis sebaik Alina." gumam Nando ketika berjalan memasuki mobilnya.

Nando masuk ke dalam mobil dan menjauh dari halaman rumah Steve.

***

Di dalam kamar.

Alina membantu suaminya untuk berbaring di tempat tidur. Walaupun tubuhnya masih sedikit lemah, Alina berusaha membantu sang suami agar tidak terluka.

Steve tertidur di kasur dan langsung memeluk bantal dan guling yang ada di sampingnya. Sementara Alina membuka kaos kaki sang suami dan meletakkannya di keranjang kain kotor. Kemudian Gadis itu memasuki kamar mandi untuk membasuh tangan dan kakinya.

"Sial!" Steve mengumpat dalam kondisi tertidur. Membuat Alina melongokkan kepalanya menatap ke arah Steve dari arah kamar mandi.

Dilihatnya Steve yang tertidur dengan masih mengumpat kata-kata kasar. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.

Perlahan Alina melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian bersih untuk suaminya.

"Kak, ganti baju sebentar ya? Baju kakak sangat bau alkohol," ucap Alina.

Steve masih dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Dia langsung duduk dan membuka bajunya sendiri. Kemudian Alina langsung mengambil baju kotor suaminya dan membantu Steve memakaikan pakaian bersih.

"Kakak pakai celana sendiri ya?"

Steve menganggukkan kepalanya. "Ambilkan aku minum, aku haus," perintah Steve.

"Baiklah." Alina bergegas keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil air minum untuk suaminya.

Namun ketika berjalan ke arah dapur, Sofia tiba-tiba masuk ke dalam rumah tanpa izin. Wanita itu langsung berjalan ke arah kamar Steve.

Alina yang melihatnya pun langsung menghentikan Gadis itu karena sudah lancang masuk ke dalam kamar suaminya.

"Mau apa kau datang kemari?! Kau sangat tidak sopan masuk rumah orang tanpa izin. Apa kamu tak pernah diajarkan sopan santun masuk ke dalam rumah orang lain, hah?!"

Sofia menatap Alina dengan tatapan tajam. Wanita itu menepis tangan Alina.

"Ini rumah kekasihku, jadi terserah aku mau masuk dengan izin atau tidak! Ingat Kau dan kekasihku itu menikah di atas kertas, jadi jangan pernah ikut campur dengan urusanku dan kekasihku. Kau hanyalah beban yang harus ditanggung oleh kekasihku! "

Mendengar ucapan keras dari Sofia membuat Alina mengepalkan kedua tangannya.

Sementara Sofia tersenyum miring menatap Alina yang terlihat begitu marah.

Sofia langsung membuka pintu kamar Steve. Namun sebelum wanita itu membukanya, Steve sudah lebih dulu membuka pintu kamar tersebut dari dalam.

"Untuk apa lagi kau datang kemari! Apakah tidak cukup Kau sudah membuatku sakit?! Kenapa kau juga bersama pria lain semalam, hah! Kenapa?!"

***

Terpopuler

Comments

Rosy

Rosy

kirain Steve mabuk bersama Sofia semalam..ternyata karena Steve melihat Sofia dg pria lain ya..kalau Steve masih mau memaafkan Sofia berarti Steve memang sudah gila karena lebih memilih wanita j*l*ng dari pada wanita baik2

2022-10-27

0

Mahfu Tien

Mahfu Tien

🤔

2022-10-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!