Bab 4

Alina POV

Ku tatap suamiku yang saat ini begitu lahapnya memakan sarapan yang telah ku buatkan. Aku senang melihatnya menyukai masakanku. Sungguh tak terkira rasa kebahagiaan hatiku ini. Aku jadi berpikir untuk mengambil kartu ATM yang dipegang oleh ayahku. Aku ingin menggunakannya untuk kebutuhanku sehari-hari.

"Besok aku akan pulang ke rumah ayah sebentar, aku akan mengambil kartu ATM yang ayah pegang. Lalu setelahnya aku akan ke pasar membeli bahan makanan," ucapku hati-hati.

Kulihat suamiku langsung menghentikan makannya dan menatapku. Aku menunduk takut jika dia tiba-tiba menjadi marah kembali. Suamiku langsung beranjak pergi dari ruang makan.

Aku menghela nafas pelan dan membereskan piring serta gelas kotor bekas makan suamiku. Setelah itu aku mengelap meja makan, tiba-tiba saja suamiku datang sambil memberikan sesuatu kepadaku.

Dia memberikan sebuah black card hitam kepadaku. Aku terperangah tak percaya.

"Gunakan saja kartu ini untuk keperluan rumah tangga dan untuk keperluan mu," ucap suamiku. Kemudian dia pergi menuju ke kamar.

Aku tersenyum dan mengambil black card tersebut yang terletak di atas meja. Ternyata sejahat-jahatnya suamiku, dia masih ada niatan baik untuk keluarganya. Ini adalah awal yang baik menurutku.

***

Author POV

Di dalam kamarnya Steven merasa begitu gelisah. Pria itu memikirkan Alina yang tadi sempat terkena pecahan gelas.

"Apa dia sudah mengobati lukanya?" gumam Steven yang gelisah di kamarnya.

Pria itu terus saja berperang dengan egonya. Haruskah dirinya mengobati tangan Alina yang terluka karena ulahnya tadi? Steven menatap kotak P3K yang ada di kamarnya. Tangannya mengepal dengan dirinya yang menghembuskan napas kasar.

"Sial!" umpatnya dengan berjalan keluar menghampiri sang istri.

Pria itu melihat sang istri sedang membersihkan rumahnya yang begitu besar. Steven langsung menarik tangan Alina agar duduk di sofa. Membuat sang gadis terkejut dan hanya mengikuti Steven. Pria itu langsung mengobati tangan Alina yang tadi hanya sempat Alina cuci saja.

"Kenapa kau tidak mengobati lukanya? Padahal ini cukup parah," ucap Steven yang langsung mengobati luka istrinya.

"Aku tadi sudah mencucinya dan memberikan salep antibiotik. Tapi terima kasih karena Kak Steve sudah mau mengobati lukaku," balas Alina.

Namun ketika Steven tengah mengobati luka Alina, tanpa sengaja pria itu melihat ada sebuah bekas luka di tangan kiri istrinya. Pria itu teringat akan sebuah kenangan dirinya di masa lalu.

Flashback on

Ada seorang anak gadis kecil tengah terjatuh dari sebuah sepeda. Steven kecil yang melihatnya pun bergegas menolong gadis kecil tersebut.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Steven kecil menolong teman kecilnya.

"Tanganku sakit sekali Kak Steve," jawab gadis kecil tersebut seraya merintih kesakitan.

Steven segera mengayuh sepedanya menuju ke apotek untuk membeli obat luka. Tak berapa lama ia kembali dan mengobati luka teman kecilnya itu.

"Sepertinya luka ini akan menimbulkan bekas," ucap Steven yang begitu panik.

"Tidak sakit lagi karena kakak yang mengobatinya hehehe," jawab gadis kecil itu berusaha membuat tenang Steven yang panik.

"Kau itu pintar sekali menggombal ya," Steven tersenyum menatap teman kecilnya itu.

Flashback off

Alina memegang bahu suaminya kala melihatnya tengah melamun. "Kak Steven kenapa?"

Steven sadar dari lamunannya dan langsung berdiri membawa kotak P3K tersebut tanpa menjawab pertanyaan dari Alina. Pria itu memilih masuk kamar dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Alina hanya menatap kepergian suaminya itu.

Sungguh Alina merasa beruntung hari ini karena mendapatkan perhatian dari sang suami. Ini adalah permulaan yang baik menurut Alina. Tak ingin terlarut, akhirnya Alina melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang istri.

***

Sedangkan di kamarnya, Steven yang kini tengah berbaring masih saja memikirkan bekas luka yang terdapat di tangan kiri Alina. Dia berpikir keras dengan bekas luka yang menurutnya terasa tak asing lagi.

"Kenapa aku seperti pernah melihat bekas luka itu? Tapi di mana ya? Aduh... Kenapa aku sekarang jadi pelupa?" gumamnya.

Ponsel Steven bergetar tanda sebuah panggilan masuk.

Steven segera meraih ponselnya yang ada di atas nakas, kemudian ia tersenyum saat melihat nama Sofia yang tertera di layar ponselnya.

"Halo sayang, ada apa? Apa kau merindukanku?" Steven bertanya dengan begitu bersemangat menunggu jawaban dari sang kekasih.

"Kenapa kau bertanya ada apa? Apa aku salah jika aku menelpon kekasihku sendiri? Kamu membuatku kesal saja! Kau pikir aku merindukanmu?" Suara Sofia terdengar begitu kesal.

"Bukan seperti itu maksudku, sayang. Karena tumben sekali kamu menghubungiku sepagi ini. Aku pikir karena kamu merindukanku."

"Jangan beralasan deh, bilang saja jika kau tidak suka kalau aku menelpon. Kamu jangan lupa ya Steve, kamu sudah berjanji mau membelikan ku sebuah mobil kemarin!"

"Iya, nanti kita beli, sayang."

"Aku tidak mau nanti, aku maunya sekarang!"

"Tapi saat ini aku sedang tidak enak badan karena mabuk semalam, Sayang," jelas Steven.

"Kamu itu lama banget sih! Baru minum alkohol beberapa teguk saja sudah sakit." Sofia mencibir membuat Steven sedikit kesal.

Sofia langsung menutup panggilan secara sepihak. Steven hanya bisa pasrah dengan itu semua. Pria itu lalu mencari kontak toko mobil langganannya untuk membeli mobil dan menyuruhnya mengirim ke alamat rumah milik sang kekasih. Kemudian dia mengambil jaketnya dan bergegas pergi menuju apartemen Sofia.

"Kakak mau ke mana?" tanya Alina yang melihat suaminya memakai jaket.

"Aku mau pergi," jawab Steven dengan singkat.

"Tapi Kakak sedang tidak enak badan, lebih baik istirahat saja di rumah," ucap Alina yang khawatir dengan suaminya.

Namun suaminya memilih diam dan langsung meninggalkan kamar tanpa sepatah kata pun.

Sebelum Steven keluar dari kamar tersebut, Alina memanggilnya.

"Kak Aku mau pergi ke pusat perbelanjaan, apa boleh?"

"Terserah. Kau bisa menggunakan kartu yang Aku berikan padamu," balas Steven sebelum akhirnya tubuhnya menghilang dari balik pintu.

Steven bergegas memasuki mobilnya dan meninggalkan rumah nya dengan terburu-buru. Alina menghela nafasnya.

"Sepertinya Aku tahu ke mana tujuanmu saat ini, Kak Steve." Alina berkata dengan begitu sendu.

***

"Dasar pria lemah. Baru begitu saja langsung sakit. Itu baru alkohol yang ku berikan kepadamu, belum juga racun!" cibir Sofia dan langsung melemparkan ponselnya ke atas kasur.

Gadis itu mengambil sebuah map coklat yang ada di atas meja kamarnya. Sofia tersenyum penuh kemenangan melihat map coklat yang kini tengah ia pegang.

"Dasar pria bodoh! Apa Kau tahu kenapa Aku membuat mu semabuk itu semalam? Semua itu karena Aku butuh tandatangan mu. Dan sekarang Aku sudah mendapatkannya. Sebentar lagi pasti Aku akan menjadi orang kaya." Sofia tertawa penuh seringai.

***

Stefan menyetir dengan hati-hati sampai di apartemen kekasihnya. Pria itu langsung turun dari mobil dan langsung menuju apartemen kekasihnya.

Steven langsung masuk ke dalam apartemen Sofia karena dia juga memiliki kunci apartemen tersebut. Pria itu langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa.

Sementara Sofia yang mengetahui jika Steven berada di apartemennya, dia langsung menyembunyikan map coklat yang ia pegang tadi.

Terpopuler

Comments

Vita Zhao

Vita Zhao

lihatlah stev, pacar kesayanganmu si sofia itu adalah wanita ular

2022-10-19

0

Rosy

Rosy

Steven memang bodoh makanya dia seperti kerbau yg di cucuk hidungnya sama Sofia..dan mungkin dg kebodohannya kali ini akan membuat Steven sadar kalau selama ini wanita yg dia puja tidak lebih dari seorang penipu dan j*l*ng

2022-10-19

0

Zana aripin

Zana aripin

Aduh steven semoga cepat sadar akan kebusukan kekasihmu itu...

2022-10-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!