Melihat Jeremy hanya diam saja mendengar perkataannya, membuat Clarissa menjadi berani. Ia mencoba naik ke pangkuan Jeremy dan ingin menciumnya, namun pria itu mendorongnya perlahan membuatnya kecewa.
"Jeremy, apa kau tidak mau melakukannya?" tanyanya sedih.
Jeremy mengernyit. Melakukan apa? Pertanyaan gadis ini terdengar ambigu.
"Jangan melewati batas." ujar Jeremy dingin.
"Tapi kita sudah biasa melakukannya." ucap Clarissa sedih. Emily dan sang supir sontak melirik mereka dari kaca mobil, kemudian kembali menatap jalanan.
"Melakukan apa?" tanya Jeremy tidak senang. "Kau sudah lama tidak menciumiku. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Kita tinggal di bawah atap yang sama tapi tidak sebebas saat kita berada di rumahku dulu." kata Clarissa merajuk.
Jeremy menarik nafas dan menghembuskan dengan pelan. Harus ia akui, di usianya yang beranjak dewasa, Clarissa cukup agresif.
"Setidaknya kita melakukannya saat tidak ada orang lain yang melihat." ujarnya.
"Itulah sebabnya aku terus bertanya-tanya, kapan orang ini pergi? Keberadaan orang ini membuatku seperti wanita simpanan padahal bagimu dia bukanlah siapa-siapa." kata Clarissa yang sontak membuat Emily menatap mereka berdua dengan sinis.
'Bukankah sejak awal kau memang hanya simpanannya? Sebutan apa lagi untuk seorang wanita yang menjalin hubungan dengan pria yang sudah menikah? Apa kau berharap orang menyebutmu kekasih yang setia?' isyarat Emily sarkas.
"Apa kau bilang?!" Clarissa meradang.
'Aku bilang kau adalah simpanannya!' isyarat Emily tegas dengan tatapan tajam. Namun, ia kemudian menyadari kalau saat ini ia terlihat seperti seorang istri yang cemburu pada kekasih suaminya. Jadi ia menghela napas kemudian melambaikan tangannya lagi.
'Maaf, jika aku hanya menjadi pengganggu dalam hubungan kalian saat ini. Kalau kalian ingin melanjutkan apa yang ingin kalian lakukan, maka lakukan saja. Aku sama sekali tidak keberatan. Atau perlu kita berhenti sebentar dan aku turun dari mobil?' Emily menjeda sejenak, lalu melanjutkan,,
'Tapi, apa Nona Clarissa sudah tidak memiliki harga diri dan martabat sehingga membiarkan aku dan pak supir yang bukan siapa-siapa bagi Tuan Jeremy melihat apa yang kalian lakukan? Bahkan terkadang binatang pun punya rasa malu.'
Mendengar itu, Clarissa hampir tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya terlihat memerah. Sedangkan Jeremy hanya diam. Tapi, Emily terlihat tak peduli. Ia juga tak mau tahu, setelah ini Jeremy akan marah atau tidak.
Ia kemudian menyuruh supir untuk menepi, kemudian kembali menatap dua orang di bangku penumpang.
'Tolong berhati-hatilah dan jika kalian ingin bermesraan, kontrol suara kalian agar tidak ada yang mendengar.' isyaratnya lalu hendak beranjak keluar.
"Berhenti!" suara Jeremy tegas ketika melihat Emily hendak membuka pintu mobil.
"Jalankan mobilnya!" perintahnya lagi.
"Baik, Tuan." jawab sang supir lalu kembali melajukan mobil.
Emily menghela nafas kemudian memperbaiki posisi duduknya. Ia meraih novel yang tadi di bawanya lalu sibuk membaca.
Clarissa mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin sekali memaki-maki wanita yang ada di depannya tapi ia tahu ia tak bisa melakukannya. Sementara Jeremy menatap Emily dengan perasaan kesal.
Apa istri bisunya ini benar-benar tidak peduli sama sekali jika suaminya bermesraan dengan wanita lain di depan matanya?
Pertanyaan ini muncul dalam kepala Jeremy, dan membuat dirinya ingin mencari jawabannya. Ia menarik Clarissa ke dalam pelukannya lalu mencium bibirnya dengan tiba-tiba, membuat gadis muda itu terkejut. Cukup lama Jeremy menciumnya sambil melirik Emily, namun istrinya itu hanya menampakkan wajah tenang sambil terus membaca novelnya, seolah-olah tidak ada hal apapun yang terjadi di sekitarnya.
Jeremy kemudian melepaskan ciuman dan pelukannya membuat Clarissa bertanya dengan terengah-engah,
"Jeremy, mengapa kamu begitu kasar?"
Akan tetapi, Jeremy hanya diam dan menatap Emily dengan tatapan tajam dan kekesalan yang memuncak. Clarissa pun tak berani bertanya lagi.
Mereka semua kemudian sama-sama terdiam selama sisa perjalanan itu.
*****
Mereka tiba di Villa Rosewood saat hari sudah petang. Ini pertama kalinya Emily dan Clarissa menginjakkan kaki di sini. Emily melihat ke sekeliling, dan langsung merekamnya dalam memori kepalanya. Gerbang depannya sangat tinggi dan besar, memisahkan jalanan umum dengan pekarangan bagian depan Villa.
Halamannya sangat luas, dengan rumput hijau yang mendominasi. Beberapa pohon besar tumbuh rindang di sekeliling bangunan Villa.
Villa itu memiliki dua lantai dengan model bangunan yang klasik, membuatnya terlihat seperti Villa tua, tapi terawat dan bersih. Villa itu langsung berhadapan dengan puncak pegunungan yang sangat indah.
Di sebelah kanan Villa ada bangunan seperti bungalow, yang bentuknya memanjang. Itu pasti di persiapkan untuk kegiatan di luar ruangan.
Saat mata Emily sedang asyik menjelajah sekeliling, seorang pria paruh baya keluar dan menyapa mereka.
" Selamat datang, Tuan dan Nona Muda." sambutnya ramah. Beliau adalah Pak Beni, pengurus Villa tersebut.
Emily membungkuk dan tersenyum sopan. Jeremy hanya mengangguk.
"Ini adalah Nona Clarissa. Dia adik sepupu Emily. Dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya, itu sebabnya kami mengajaknya berlibur agar dia melupakan kesedihannya." kata Jeremy menjelaskan ketika melihat Pak Beni menatap Clarissa dengan bingung.
Pak Beni pun mengangguk mengerti.
"Selamat datang, Nona Clarissa. Saya turut berdukacita atas apa yang di alami Nona." ujar Pak Beni sopan. Clarissa hanya mengangguk.
Mereka semua kemudian masuk dan hendak beristirahat. Hanya ada dua kamar di Villa itu, mau tak mau, Jeremy harus sekamar dengan Emily, dan Clarissa di kamar satunya lagi. Hal itu sukses membuat Clarissa bertambah kekesalannya.
Emily memutuskan untuk berkeliling di luar Villa. Ia tidak merasa nyaman berada satu kamar dengan Jeremy, walaupun pria itu adalah suaminya. Pak Beni susah menawarkan untuk mengantarnya berkeliling, namun Emily menolak dengan sopan.
Emily berbelok ke samping kiri, setelah berjalan agak jauh sedikit, ia menemukan sebuah danau. Benar yang dikatakan oleh Jeremy pada Clarissa, danau alami itu sangat indah, dengan airnya yang jernih dan di dukung oleh pemandangan hijau di sekitarnya, membuat danau itu sangat menarik di pandang mata. Ada sebuah perahu kecil yang hanya muat untuk dua orang dewasa. Emily tak berniat menaikinya.
Emily berpikir, bagaimana kalau ia melarikan diri dan kabur dari tempat ini? Ia ingin memutuskan hubungan ini lebih awal.
Emily kemudian berjalan menyusuri pinggiran tepi danau, dan menemukan sesuatu seperti sebuah jalan tikus yang masuk ke dalam pepohonan yang rindang. Emily berbelok ke sana, namun ia kemudian menyesalinya karena ternyata jalan itu menuju tebing yang curam, di bawahnya terdapat sungai yang aliran airnya sangat deras.
Emily berbalik hendak kembali dan sangat terkejut dan gugup melihat Jeremy di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jeremy dengan wajah dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments