Sudah empat hari Emily menginap di rumah sakit, dan ia mulai merasa jenuh. Untungnya hari ini dokter sudah mengijinkannya untuk pulang.
Selama di Rumah Sakit, Emily sudah memikirkan baik-baik tentang rencananya untuk bercerai dari Jeremy. Menurut Emily, jika mereka tidak bercerai, suaminya itu pasti akan mencari cara untuk membunuhnya lagi.
Emily tidak menginginkan hal itu. Ia masih ingin hidup lebih bahagia dan tenang. Keasyikan berpikir membuat Emily tak sengaja tertidur.
Jeremy masuk bersama dengan sepupunya, Fernando. Mereka mendapati Emily sedang tertidur.
"Kakak,, ayo bangunkan kak Emily." ujar Fernando.
Jeremy mendelik tak suka.
"Kenapa harus aku?" tanyanya kesal.
"Kakak kan suaminya, kakak seharusnya lebih perhatian padanya." sahut Fernando santai.
Jeremy meliriknya, lalu menghela nafas,
"Kau sudah dewasa. Kau pasti tahu betul mengapa aku tidak bisa bersikap terlalu baik padanya." ujarnya.
"Apa karena Kakak tidak mencintainya?" terka Fernando.
"Jika kau sudah paham, mengapa kau bertanya lagi?" tanya Jeremy ketus.
"Mengapa kakak tidak bisa mencintainya? Kak Emily tidak menarik? Krena kalian di jodohkan? Atau karena kak Emily bisu?" cecar Fernando.
Jeremy memandang sesaat ke sepupunya, kemudian membuang wajahnya ke arah lain.
"Aku hanya tidak menyukainya." ucapnya.
"Tapi dia sekarang adalah istrimu, Kak. Kakak harus memperhatikan dan memperlakukannya dengan baik. Lagipula, banyak pernikahan yang awalnya dijodohkan, tapi akhirnya mereka bahagia dan bisa membina keluarga yang harmonis, bahkan memiliki anak." jelas Fernando.
Jeremy tersenyum masam mendengar hal itu. Memiliki anak dengan si gadis bisu itu? Mustahil.. Melihatnya saja, Jeremy sudah merasa jijik, apalagi menyentuhnya.
Tempo hari saja ia harus mandi berkali-kali karena menggendong Emily.
Melihat kakak sepupunya hanya diam dan tidak menanggapi perkataannya, Fernando menghela nafas lalu berkata,
"Setidaknya, cobalah untuk menerimanya. Sejak kalian menikah, kalian tidak pernah bersama. Kakak hanya belum mengenal kak Emily dengan baik. Kalau kakak sudah mengenalnya, mungkin kakak akan menyukai bahkan jatuh cinta padanya."
Jeremy mengernyit, ia tidak akan menyukai orang yang hanya menjadi beban baginya. Menurutnya, orang yang tidak berguna seperti Emily harus disingkirkan dari hidupnya. Lagipula, ia mempunyai rencana sendiri. Ia harus menikahi Clarissa agar kekuatan pendukungnya bertambah.
Fernando yang melihat Jeremy hanya diam, akhirnya memilih menghampiri brankas tempat Emily berbaring. Belum sempat ia membangunkan Emily, si kembar Adriana dan Indriana, beserta Steven masuk ke dalam ruangan.
*******
Emily terdiam di antara para iparnya yang datang untuk menjemputnya.
"Syukurlah keadaan kak Emily sudah membaik." ujar Adriana.
"Orang-orang yang melakukan penyerangan itu, apakah tidak ada informasi apapun untuk mengungkap motif mereka?" tanyanya.
Fernando menggeleng.
"Semua mati terbunuh. Tidak ada satupun petunjuk yang bisa kami temukan pada tubuh mereka." ujarnya.
Mereka menghela nafas, kecuali Jeremy yang wajahnya tetap dingin dan tenang. Sementara Emily merasa tidak nyaman.
Ia berharap mereka berhenti membicarakan hal ini. Karena ia tahu, pelaku dari penyerangan itu ada di depan mata mereka. Ia khawatir, jika mereka terus membahas hal itu, bisa saja sang pelaku langsung membunuhnya di tempat.
"Kak Emily, apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat." tanya Indriana yang melihat perubahan ekspresi Emily.
Emily tersenyum, ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
"Kakak terlihat tidak baik. Maafkan aku, seharusnya aku tidak menanyakan hal ini. Kak Emily pasti masih merasa takut mengingat apa yang terjadi malam itu." ujar Adriana sambil meraih tangan Emily.
"Iya, benar, maafkan kami. Seharusnya kami tidak membicarakan hal ini di depan kak Emily." kata Fernando menyesal.
Emily hanya menggelengkan kepalanya untuk membuat mereka berhenti.
Jeremy merasa terganggu melihat saudara-saudaranya terlihat akrab dengan gadis bisu itu.
'Apa baiknya gadis ini? Kenapa mereka begitu perhatian padanya?' tanya Jeremy dalam hatinya.
'Bahkan Fernando sampai berani menasehatiku. Apakah gadis ini diam-diam merayu sepupuku? Dasar gadis sialan! Tak tahu diri!' marah Jeremy dalam hatinya.
Dengan kemarahan karena pikiran yang di buatnya sendiri, Jeremy maju dan meraih tangan Emily. Membuat para saudaranya terkejut.
"Ayo pulang." ucapnya dingin.
Begitu kaki Emily menginjak lantai, Jeremy langsung menariknya keluar, tanpa mempedulikan yang lain.
"Ada apa dengannya?" tanya Steven heran sambil menatap kepergian Jeremy yang menyeret Emily bersamanya.
"Mungkin dia cemburu karena kita terlalu dekat dengan kak Emily." ucap Fernando dengan tersenyum.
"Cemburu? Apa Kak Jeremy akhirnya menyukai kak Emily?" kali ini Adriana yang bertanya.
"Mungkin.."
*****
Sebenarnya hari ini sangat cerah dan indah, langit berwarna biru tanpa ada satupun awan yang menghalanginya. Namun, wajah suram Jeremy membuat suasana hati Emily menjadi mendung.
Pria yang duduk di depan kemudi itu sedang kesal dan masih sibuk memikirkan cara untuk membunuh Emily.
Tuk!Tuk!
Emily mengetuk bahu Jeremy, membuat pria itu menoleh dan menatapnya dengan ekspresi kesal.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara yang dingin dan menusuk. Hanya sekejap ia menoleh, lalu ia kembali memalingkan wajahnya untuk fokus ke jalanan.
Tepat saat itu, mereka tiba di persimpangan dan lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, membuat Jeremy menghentikan laju mobilnya. Ia pun kembali menengok ke arah Emily.
"Cepat katakan ada apa!" bentaknya.
Emily menggerakkan tangannya untuk memberitahu kalau ia ingin mereka bercerai.
Sayangnya Jeremy sama sekali tidak mengerti bahasa isyarat. Ia mengangkat sebelah alisnya, membuat Emily menghela nafas gusar.
Emily melihat-lihat namun ia tidak menemukan sesuatu yang bisa dipakainya untuk menulis. Akhirnya ia mencoba meraih tangan Jeremy, hendak menulis kata-katanya dengan jari di telapak tangan pria itu.
Akan tetapi, belum sempat ia menyentuhnya, Jeremy langsung menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan coba-coba menyentuhku dengan tangan kotormu itu!! Jangan berani berpikir kamu dapat menyentuhku hanya karena statusmu adalah istriku!!" bentaknya dengan penuh penekanan.
Emily terkejut dengan perbuatan kasarnya, tapi Jeremy tak peduli. Ia justru berkata lagi, "Status kita memang suami istri. Tapi asal kau tahu saja, aku tidak pernah sudi menjadi suamimu!! Hubungan kita hanya sekedar coretan di atas kertas!! Kalau kamu berani menyentuhku, aku tidak akan segan untuk melukaimu!! Camkan itu!!"
Emily menghembuskan nafasnya. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya serta melambaikan tangannya, bermaksud memberi tahu kalau ia tak berniat membuat Jeremy marah.
Lampu berubah hijau dan Jeremy kembali melakukan kendaraanya, sedangkan Emily berpikir cara yang gampang di mengerti oleh Jeremy.
Ia menyesal karena lidahnya terpotong, membuat ia sulit berbicara dengan jelas, sehingga mengharuskan ia memakai bahasa isyarat dalam berinteraksi, sedangkan tak semua orang paham bahasa isyarat.
Ya,, lidah Emily memang terpotong. Ia juga tak tahu apa penyebabnya. Entah dari lahir atau bukan, Emily tak pernah mencari tahu penyebabnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Enawan Prizat
Ah.. makasih koreksinya..😘😘😘🙏🙏🙏 baru nyadar..🤭🤭🙏🙏🙏
2022-11-30
1
Maliqa Effendy
Gisel?.. Emily mungkin..
2022-11-29
2