Emily menatap Jeremy dan Clarissa yang sejak tadi hanya diam. Ia tahu apa yang pria itu rasakan. Jeremy tidak senang berada di tempat ini bersama-sama dengan orang-orang yang tidak ia sukai.
Emily kemudian mengambil handphone dari dalam tasnya. Kemudian mengetik sesuatu di sana.
'Clarissa, apa kau menyukai pertunjukannya?' tanya Emily
Clarissa membaca sekilas kemudian mendelik.
"Apa ma..." Clarissa berhenti berbicara saat dia sadar sudah melakukan kesalahan. Meskipun tidak ingin, ia harus bersikap sopan pada Emily sebagai saudarinya yang sudah menolongnya di depan orang-orang ini.
"Apa maksudmu, kakak? Tentu saja aku suka. Filmnya bagus." ucapnya lembut.
'Jadi, apa kamu sudah mau pulang atau masih ingin berjalan-jalan di sekitar sini?' Emily kembali menyodorkan telepon genggamnya setelah mengetik.
"Ingin pulang atau berjalan-jalan?" ulang Clarissa sambil berpikir.
"Pulang? Kenapa harus pulang?" Tante Agnes bertanya.
"Ini masih belum terlalu larut. Lagi pula kita belum makan malam, bukan? Bagaimana kalau aku mentraktir kalian semua makan malam?" lanjutnya.
Itu benar! Mereka bahkan belum makan malam, jadi mengapa Emily mengajaknya pulang? Apa Emily sengaja mengusirnya agar ia tidak bisa bergaul dengan saudara-saudara Jeremy dan Tante Agnes yang terkenal ini? Memikirkan hal itu, membuat Clarissa menatap curiga ke arah Emily.
Emily yang di tatap seperti itu hanya bisa menggeleng dan menghembuskan nafasnya.
Sejak awal bertemu, ia sudah paham kalau Clarissa adalah gadis yang pencemburu. Pasti gadis ini sudah berpikir kalau Emily ingin mengusirnya. Padahal Emily cuma bertanya.
"Kak Jeremy, aku sudah lapar. Bolehkah kita makan di sekitar sini?" tanya Clarissa sambil memegang lengan Jeremy.
Jeremy yang sejak tadi diam dan merasa terjebak dengan orang-orang di depannya, tidak bisa mengabaikan Clarissa begitu saja, karena gadis itu adalah kuncinya untuk meraih mimpinya.
"Baiklah, kita makan di luar malam ini." ucapnya.
Wajah Clarissa seketika menjadi cerah, dan ia refleks menggenggam tangan Jeremy, membuat semua orang sontak memperhatikannya. Namun, Clarissa tak peduli. Ia ingin menunjukkan pada mereka, kalau di bandingkan dengan Emily, ia adalah orang yang paling dekat dengan Jeremy.
"Jadi, di mana kita akan makan?" tanyanya ceria.
"Ikut saja. Aku tahu restoran yang enak." jawab Jeremy sambil berjalan lebih dulu, tanpa menoleh ke arah Emily, dan langsung diikuti oleh Clarissa.
Emily menahan nafas lalu menghembuskan dengan pelan. Kedua orang itu benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama, apa mereka tidak lupa kalau mereka belum boleh menunjukkan kemesraan di depan umum? Ataukah mereka pura-pura tidak ingat?
Lihatlah, kelima orang ini langsung melayangkan tatapan kasihan sekaligus curiga padanya.
"Aku tidak tahu perasaanku ini benar atau tidak. Tapi, menurutku, gadis itu sepertinya menyukai kak Jeremy." ucap Fernando sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Bukankah sejak tadi sudah kelihatan?" kata Tante Agnes sembari menatap Emily.
"Emily, aku tahu ini sedikit tidak sopan. Tapi,, apakah kamu membutuhkan bantuanku untuk mengurusnya?" tanyanya.
Emily tersenyum grogi dan buru-buru melambaikan tangan. Astaga! Jangan mengurusinya, atau Jeremy akan menyingkirkan mereka.
'Itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Tolong, jangan berpikiran buruk pada Clarissa. Dia baru saja kehilangan ayahnya yang menjadi kekuatannya. Jadi wajar kalau dia ingin dekat dengan Jeremy. Mungkin karena ia merasa menemukan perlindungan dari kakak iparnya.' isyaratnya.
"Wajar?" Tante Agnes mengangkat sebelah alisnya.
"Ya ampun, Emily... Kau sedang mencoba menipu siapa? Wanita yang ada di depanmu ini sudah sangat berpengalaman untuk menilai gelagat para gadis yang suka merebut milik wanita lain. Tante bisa membedakan mana sikap manja seorang gadis pada kakak laki-lakinya dan sikap manjanya pada laki-laki yang di sukainya. Mata Tante ini tidak pernah salah." ujar Tante Agnes sambil menunjuk dirinya.
Seketika Emily menggigit pipi bagian dalamnya dan merutuk sikap Jeremy serta Clarissa yang di nilainya ceroboh.
Aarrghh.. Rasanya ia ingin menangis. Tante Agnes adalah seorang yang sangat teliti. Bukan soal hartanya saja, tapi juga untuk hal semacam ini. Bahkan gosipnya, saat mendiang Paman Dicky masih hidup dulu, tidak ada seorang wanita pun yang berani menggoda suaminya karena Tante Agnes sangat tegas.
"Kak Emily, apakah itu benar?" kini si kembar yang bertanya.
"Apa mereka memiliki hubungan khusus?" tanya Steven.
"Apa gadis itu sebenarnya bukan sepupu kak Emily, tapi pacar gelap kak Jeremy? Atau semuanya benar, dia sepupu kak Emily sekaligus selingkuhan kak Jeremy?" cecar Fernando sambil menatap Emily dengan serius.
'Oh, Bagus sekali!' keluh Emily dalam hatinya.
Mereka sepertinya ingin sekali menyudutkannya, dan apalagi para saudara Jeremy yang tahu dengan jelas bagaimana sikap Jeremy pada Emily.
"Sejak awal, aku sudah merasakan ada yang salah dengan hubungan mereka. Clarissa selalu terlihat ingin menempel pada kak Jeremy seperti lem, bahkan tadi, kalian semua lihat bukan, kak Jeremy bahkan tidak keberatan saat gadis itu memegang tangannya. Sikap kak Jeremy padanya juga nampak lemah lembut. Kakak juga pergi tanpa mengajak kak Emily. Pasti ada sesuatu di antara mereka, bukan?" lanjut Fernando ketika Emily hanya diam saja.
Perkataannya memperkuat dugaan mereka tentang hubungan khusus antara dua orang yang sudah berjalan menjauh.
Mereka semua mengepalkan tangannya, bagaimana bisa Jeremy memiliki hubungan dengan wanita lain dan mengabaikan istrinya hanya karena tidak menyukai istrinya yang bisu?
Emily yang melihat wajah serius mereka berlima, segera memikirkan alasan yang tepat kemudian melambaikan tangannya.
'Apa yang kalian katakan dan pikirkan? Lihatlah, Jeremy dan Clarissa memiliki perbedaan umur yang sangat jauh. Clarissa masih muda dan sangat cantik. Aku yakin, dia tidak berselera pada pria tua seperti suamiku. Percayalah, hubungan mereka hanya sekedar kakak adik yang saling menyayangi.' isyarat Emily.
"Selisih umur bukan penghalang dua orang yang saling mencintai, Emily.. Mengapa kamu sangat naif?" tanya Tante Agnes dengan gemas.
"Itu benar. Kenapa kak Emily begitu naif?" tanya Adriana membenarkan perkataan Tante Agnes.
"Kak Jeremy tidak pernah bersikap seperti itu pada kami, padahal kami adalah adik satu ayah dengannya. Benar kan, Indriana?" imbuhnya sambil menatap saudari kembarnya meminta dukungan.
Indriana mengangguk, dan berkata dengan sendu.
"Hmm... Itu benar. Dia bahkan pernah menendangku keluar dari kamarnya saat aku ingin mengajaknya pergi ke pantai. Dia juga selalu menolak jika kami mengajaknya untuk makan di bersama. Dia hanya mau bergabung kalau ada Mommy dan Daddy. Aku sendiri heran dengan diriku. Sebenarnya aku sudah di tolak berkali-kali olehnya, tapi kenapa aku selalu datang padanya dan ingin dia mengakuiku dengan tulus sebagai saudarinya?" Mata Indriana berkaca-kaca saat mengatakan hal ini.
Emily bingung, ia sendiri pun tidak tahu, mengapa adik iparnya ini bertanya padanya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments