Emily menunggu hingga Jeremy dan Clarissa benar-benar pergi, barulah ia beranjak keluar dari mobil.
"Nona Muda, sini, biar bibi bantu." ujar Bibi Liana sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Emily turun.
'Terima kasih, Bibi..' ucap Emily dengan bahasa isyarat.
'Apakah Bibi baik-baik saja?' tanyanya lagi, karena sejak malam penyerangan itu, ia belum bertemu dengan Bibi Liana lagi.
"Bibi baik-baik saja, Nona. Tidak usah khawatir." jawab Bibi Liana.
"Pak Doni dan Bu Mila juga baik-baik saja." lanjutnya ketika ia melihat Emily hendak bertanya lagi, membuat Emily tersenyum.
"Selamat datang kembali, Nona Muda." ucap Pak Wawan, sang kepala pelayan di Mansion itu, sambil sedikit membungkukkan badannya.
Emily tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Sementara Bibi Liana masih menunjukkan wajah khawatirnya.
"Oh, Tuhan.. Syukurlah Nona sudah baik-baik saja. Bibi benar-benar khawatir saat kita di serang para perampok malam itu." ujarnya.
Emily mengusap bahu Bibi Liana, mencoba menenangkan wanita paruh baya itu. Sejujurnya, ia merasa bersalah untuk kematian orang-orang pada insiden itu.
Jeremy benar-benar keterlaluan. Demi menyingkirkannya, pria itu rela membunuh orang-orangnya sendiri.
"Nona, mengapa nona diam saja saat melihat Tuan Muda bersama gadis lain? Apa Nona akan membiarkan mereka begitu saja?" Bibi Liana yang dari tadi merasa jijik melihat interaksi Jeremy dan Clarissa, tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya.
Emily tersenyum sedih dan menggeleng pelan. Ia menggerakkan tangannya untuk menyelesaikan kata-katanya.
'Memangnya apa yang harus aku lakukan? Bibi bisa lihat sendiri bukan,, mereka berdua saling mencintai..'
Bibi Liana tertegun, ia tak menyangka kalau Nona Muda-nya akan berpikir seperti itu.
"T-tapi, Nona adalah istri sahnya Tuan Jeremy. Gadis itu seharusnya tidak boleh ada dalam hubungan kalian. Dia adalah wanita penggoda yang mencoba merebut posisi anda."protes Bibi Liana tak senang.
'Sejak awal, Jeremy tidak pernah mencintaiku. Sekarang, ia sudah menemukan orang yang dia cintai. Bukankah posisi aku saat ini adalah pengganggu dalam hubungan antara dua orang yang saling mencintai?' tanya Emily.
Jawaban Emily membuat Bibi Liana takjub. Bagaimana Nona Mudanya bisa berpikir seperti itu?
"Tapi, Nona tetaplah istrinya." ujarnya bersikeras.
'Dan aku tetap bukan gadis yang dicintai dan diinginkannya.' isyarat Emily sambil menepuk bahu wanita paruh baya itu.
Emily kemudian mengisyaratkan agar Bibi Liana jangan terlalu memikirkan hal itu. Lalu ia beranjak menuju kamarnya. Emily merasa beruntung, karena para pelayan di Mansion itu memahami tentang kondisinya dan mau belajar bahasa isyarat, sehingga ia tidak kesulitan saat berinteraksi dengan mereka.
"Mengapa Nona Muda begitu tegar menghadapi hal ini? Seharusnya dia tidak membiarkan wanita penggoda itu begitu saja. Aku sangat tidak menyukai sikap pelakor itu." bisik Bibi Liana pada Pak Wawan.
"Sebaiknya kamu tidak terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga Tuan dan Nona. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan. Sebagai pelayan, kita hanya bisa menjalankan tugas kita dengan baik." nasehat Pak Wawan.
"Memang susah ya, kalo ngomong wama laki-laki. Pasti kamu mau membela Tuan bukan? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Nona Muda? Hatinya pasti terluka. Meskipun dia bisu, tapi dia sangat baik dan punya kualitas seorang Nona Muda. Apa menurutmu, gadis manja tadi akan bisa melakukan hal yang sama jika ia yang menjadi pasangan Tuan?" cecar Bibi Liana.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Liana. Kau tahu, Tuan sangat tidak suka jika ada yang menghina tamunya." ucap Pak Wawan tak peduli.
Bibi Liana hanya berdecak kesal lalu pergi meninggalkan Pak Wawan sendirian.
*****
Emily mengucek matanya sambil menoleh ke sekitar. Astaga!! Sudah berapa lama ia tertidur? Tadi mereka sampai masih sore, dan sekarang sudah gelap. Perlahan, ia mengulurkan tangannya menyentuh lampu tidur di nakas yang ada di samping tempat tidurnya, dan melihat jam weker di atasnya, pukul delapan lewat lima puluh menit. Artinya ia sudah melewatkan jam makan malam.
Emily bersyukur, setidaknya ia tak perlu merasa canggung berada satu meja dengan selingkuhan suaminya. Ia pun yakin, Jeremy tak ingin dia ada di sana, buktinya ia tak di bangunkan untuk makan malam.
Perlahan Emily turun dan menyalakan lampu, lalu ia keluar menuju dapur. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Ia berniat melihat apa yang bisa ia makan untuk menuntaskan rasa laparnya.
"Nona Muda." sapa seorang pelayan yang terkejut melihat Emily di dapur.
Emily menaruh telunjuknya di depan bibirnya, meminta ia diam. Lalu ia membuka kulkas, mengambil beberapa buah dan biskuit.
"Nona Muda, biar saya yang melakukannya. Nona tidak perlu repot-repot..." belum sempat pelayan itu menyelesaikan perkataannya, Emily melambaikan tangannya.
Ia sudah sangat lapar, dan akan memakan waktu jika harus meminta pelayan yang menyiapkan. Sesudah merasa cukup dengan yang di ambilnya, Emily kembali ke kamarnya, berniat makan di sana saja.
Tiba di kamarnya, Emily membuka jendela balkonnya, lalu ia duduk menyantap makanannya dengan perlahan sambil memandangi langit yang penug bintang.
Akibat lidahnya yang terpotong, bukan hanya membuatnya kesulitan berbicara, tapi juga membuatnya kesulitan mengunyah makanannya.
Sementara itu, Jeremy dan Clarissa yang telah selesai makan malam dari tadi, saat ini sedang duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Dengan posisi Clarissa memeluk Jeremy dan bersandar di dadanya.
"Aku sangat bersyukur karena kau ada untukku. Aku tidak yakin bagaimana nasibku jika tidak ada dirimu. Aku mungkin tidak akan bertahan." ucap Clarissa pelan.
Jeremy mengusap kepala Clarissa.
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Tentu saja aku akan selalu ada untukmu." sahut Jeremy.
Tentu saja ia harus selalu ada untuk Clarissa. Karena gadis itu adalah kunci untuk memperbesar kekuatannya nanti. Meskipun kedua orang tua gadis itu telah tiada, namun keluarga besar dan pendukung setia keluarga Eden sangatlah banyak. Demi mendapatkan pendukung dari keluarga Eden, maka Jeremy harus mendapatkan hati Clarissa dulu.
Beruntung baginya karena sejak awal, Clarissa sudah jatuh hati padanya. Bahkan meskipun gadis itu tahu kalau ia adalah pria beristri, Clarissa tidak menyerah.
Ketenangan mereka terganggu dengan suara pecahan guci yang tidak sengaja tersenggol oleh Bibi Liana.
Wanita itu hendak keluar memeriksa apakah semua jendela sudah terkunci dengan baik, siapa sangka justru melihat pemandangan yang membuatnya sangat marah.
"Ada apa, Bibi Liana?" tanya Jeremy. Ia tidak bisa bersikap tidak sopan pada Bibi Liana, karena pelayan itu di kirim oleh ayahnya, Antonio Charlos, khusus untuk mengurusi Emily.
Bibi Liana tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Tuan, saat anda membawa gadis ini ke sini, saya tidak mengatakan apa-apa. Saat Tuan menyuruh memperlakukannya dengan baik, saya melakukannya. Tapi, mengapa Tuan bisa melakukan hal ini pada Nona Muda??" tanyanya sedih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments