Tidak terasa sudah dua bulan berlalu sejak perjanjian mereka. Jeremy tidak pernah mencoba membunuh Emily lagi, meskipun Clarissa masih tidak menyukainya. Gadis itu masih tidak ingin belajar pada Emily. Ia justru meminta Pak Wawan yang mengajarinya.
Namun, Emily tidak terlalu ambil pusing. Ia membiarkan Clarissa melakukan apa yang gadis itu mau.
Hari ini, Jeremy mengajak Emily untuk mengikuti acara pembukaan salah satu cabang perusahaannya. Selama dua bulan ini, Jeremy benar-benar melakukan perannya dengan baik sebagai suami yang baik, sabar dan pengertian. Buktinya saja, saat ini, ia sengaja memesan dan memakai baju yang berpasangan dengan Emily.
Sejak kunjungan mereka ke Toko dan Butik yang di bangun oleh Emily, media memberitakan berita yang bagus tentangnya. Hal itu membuat Jeremy semakin di kagumi banyak orang. Di dalam mobil, Emily menghela nafas berkali-kali.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jeremy yang tidak tahan dengan sikap Emily, membuat gadis itu menatapnya.
'Aku hanya berpikir, apakah Clarissa akan suka jika kamu membawaku dan bukan dia?' isyarat Emily.
Selama dua bulan ini, Jeremy telah belajar bahasa isyarat dengan sungguh-sungguh, dan ternyata itu tidak terlalu sulit. Kini ia tak perlu orang lain untuk menerjemahkan isyarat yang di buat Emily.
"Kau tidak perlu memikirkan itu." ucap Jeremy acuh.
'Tidak usah di pikirkan katamu? Jeremy, kau tahu sendiri kalau Clarissa masih tidak mau dekat denganku. Ini akan menjadi masalah karena dia terus menganggap aku sebagai saingan, bukan saudara sepupunya. Aku hanya memperingatkanmu, orang lain akan mencurigai hubunganmu dengan Clarissa kalau dia tidak mau dekat denganku. Apa kau sudah mengatakan padanya kalau di antara kita tidak ada apa-apa jadi ia tidak perlu khawatir?' isyarat Emily panjang lebar, ia sampai terengah-engah mengisyaratkan perkataannya.
Jeremy terdiam sesaat memikirkan perkataan Emily, lalu berkata,
"Kamu terlalu banyak berpikir."
'Apa?'
"Ya, kamu terlalu banyak berpikir. Emily, kamu tidak lupa tentang posisimu saat ini bukan? Aku akui, menggunakanmu untuk menarik rasa suka dan simpati dari orang-orang di luar sana memang menguntungkan bagiku. Tapi itu bukan berarti kamu bisa mengatur Clarissa sesuka hatimu." kata Jeremy penuh penekanan.
"Tidak perlu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang aku dan Clarissa. Kita hanya perlu menunjukkan kalau hubungan kita baik-baik saja. Itu sudah cukup. Lagipula Clarissa juga akan ada di sana sebagai tamu."lanjutnya tegas.
Mendengar ini, Emily hanya bisa menghela nafas lagi.
'Baiklah. Aku paham.' isyaratnya.
******
Clarissa telah berangkat di antar oleh supir dan sampai lebih dulu di tempat yang akan di tuju oleh Jeremy dan Emily. Ia langsung di kenali sebagai sepupu dari Emily, dan di ajak bergabung dengan para wanita sosialita yang suka menjilat satu sama lain.
Di sana juga nampak saudari tiri Jeremy, si kembar Adriana dan Indriana. Meskipun tidak suka dengan Clarissa, mereka berusaha tidak menunjukkannya
"Clarissa, kau sangat beruntung menjadi sepupu Nona Emily. Dia sangat cantik dan pintar. Aku yakin, kalau dia tidak bisu, pasti dia akan menjadi wanita yang sangat hebat." ujar Bella, salah satu dari wanita-wanita itu.
"Ya sayang sekali. Tuan Jeremy sangat tampan dan hebat. Keduanya adalah pasangan yang sangat serasi." kata Cindy menimpali.
"Kau benar, Cindy. Tuan Jeremy adalah pria sejati yang sangat sayang dan perhatian pada istrinya. Dia selalu memperlakukan istrinya dengan sangat lembut. Aku tidak pernah mendengar gosip tentang Tuan Jeremy dengan wanita lain. Dia benar-benar pria yang setia. Nona Emily juga, walau pun dia bisu, dia adalah wanita yang sangat dermawan. Dia sangat suka menolong orang yang kesusahan. Aku benar-benar berharap mereka langgeng sampai selamanya." ujar Kayla, yang memakai gaun berwarna merah.
Mereka terus berbincang tentang kebaikan Jeremy dan Emily. Clarissa sangat tidak suka mendengar itu semua. Tetapi nampaknya wanita-wanita ini tidak mau memberikannya kesempatan untuk berbicara sama sekali. Mereka terus saja memuji Jeremy dan Emily sebagai pasangan yang serasi. Clarissa sangat tidak bahagia mendengarnya.
Adriana dan Indriana tersenyum puas melihat ekspresi Clarissa. Mereka masih curiga dengan hubungan antara Clarissa dan Jeremy, namun tak punya bukti untuk membongkarnya.
Tak lama, mobil yang di tumpangi Jeremy dan Emily tiba di sana. Semua orang berdiri menyambut kedatangan mereka, tak terkecuali Clarissa.
Diam-diam Clarissa mengepalkan tangannya saat melihat Jeremy menggandeng tangan Emily dan membawa wanita itu ke tempat duduk yang disiapkan khusus untuk mereka.
Clarissa sangat tidak rela melihat mereka berdua begitu dekat, namun ia mencoba sebaik mungkin untuk bersikap tenang.
Clarissa hampir menangis. Jeremy bahkan tidak menoleh untuk melihat dan menyapanya.
Apa pria itu sudah tak membutuhkan dirinya lagi? Apa pria itu sudah berubah pikiran dan menganggap Emily lebih baik darinya? Berpikir tentang hal ini di tambah bisik-bisik yang di dengarnya tentang hubungan harmonis suami istri itu, membuat Clarissa menjadi cemas dan wajahnya pucat serta berkeringat.
"Clarissa, ada apa?" tanya Bella yang berada tepat di sampingnya, saat ia melihat perubahan wajah Emily yang terlihat tidak baik.
Clarissa memegang kepalanya. Mendadak ia merasa pusing. Apa ini efek dari kecemasannya?
"Clarissa!" panggil Bella dan Cindy bersamaan sembari menahan tubuh Clarissa yang terhuyung.
Suara mereka menarik perhatian orang-orang, terutama Emily yang ada di depan. Clarissa benar-benar terlihat tidak sehat. Emily bergegas menghampirinya. Sementara Jeremy memasang wajah acuh.
'Ada apa?' isyarat Emily bertanya.
"Aku tidak tahu, aku tiba-tiba pusing." jawab Clarissa lemah, sesungguhnya ia berharap Jeremy yang menghampirinya, namun itu tidak mungkin. Karena pria itu sangat menjaga reputasinya. Apalagi di hadapan para saudara dan koleganya.
Emily menatap ke sekeliling. Clarissa pusing karena tidak nyaman berada di tempat yang ramai atau karena kedekatannya dengan Jeremy? Bukankah tadi ia baik-baik saja, lalu mengapa tiba-tiba seperti ini? Emily tahu, gadis ini adalah seorang yang sangat pencemburu.
'Apakah kau sakit?' isyarat Emily sambil memeriksa suhu Clarissa dengan menyentuh dahinya. Tidak panas, justru terasa sangat dingin.
'Aku akan membawanya untuk beristirahat di mobil. Kamu tetaplah di sini dan lanjutkan acaranya. Jangan kecewakan mereka yang sudah hadir di sini.' isyarat Emily pada Jeremy yang menghampiri mereka.
Jeremy mengangguk. Sudah dua bulan ini ia mengenali watak Emily. Dengan kepribadiannya yang lembut, Emily tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menyakiti Clarissa. Lagipula ia tidak bisa membiarkan Clarissa sendirian menunggu di mobil dengan keadaan seperti itu.
Jeremy memanggil dua orang pengawalnya untuk mengawasi dan menjaga Clarissa dan Emily.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments