"Jeremy.." suara lembut Clarissa menyadarkan Jeremy, membuatnya menoleh.
"Ada apa?" tanyanya sambil mengusap pelan kepala Clarissa.
"Apa itu artinya kita bisa menikah?" tanyanya dengan wajah berbinar.
"Hmm.." gumam Jeremy, pikirannya masih terganggu dengan sikap Emily yang ingin bercerai darinya.
Di kamar, Emily menghela nafasnya. Ia menatap Bibi Liana yang masih menangis sambil memeluknya. Ia menepuk-nepuk punggung Bibi Liana agar wanita itu bisa tenang, setelah itu barulah ia melepaskan pelukannya.
'Jangan terlalu bersedih, Bibi.' isyaratnya.
"Bagaimana bibi bisa..." Emily buru-buru memotong perkataan Bibi Liana.
'Aku bersungguh-sungguh. Aku sama sekali tidak pernah mencintainya, jadi aku sama sekali tidak merasakan apapun saat melihat mereka berduaan, juga saat aku berkata ingin berpisah dengannya.' isyaratnya lagi.
Bibi Liana tertegun. Apa itu benar?
"Bohong! Kalau benar Nona tidak mencintai Tuan, mengapa Nona selalu berdoa untuknya?" tanyanya.
Emily melambaikan tangannya.
'Sudah kewajiban seorang istri untuk senantiasa mendoakan keselamatan suaminya. Tapi bukan berarti aku mencintainya. Aku hanya menghormatinya sebagai karena statusnya sebagai suamiku. Sekarang dia sudah menemukan cintanya, bukankah aku juga harus mencari kebahagiaanku sendiri? Setelah berpisah dengannya, aku akan bebas. Dan mungkin aku akan menemukan pria yang tulus mencintaiku.'
Melihat apa yang dikatakan Emily, membuat Bibi Liana terdiam beberapa saat. Kemudian menangis lagi.
"Tapi, Nona. Kemana Nona akan pergi?" tanyanya terisak.
'Aku belum tahu. Tapi, Bibi. Ingatlah, jangan sampai berita ini terdengar keluar.' kata Emily memperingati.
******
Jeremy meremas tangannya dengan kuat. Ia memikirkan perkataan Bibi Liana barusan. Tadi, ia memanggil wanita itu begitu dia keluar dari kamar Emily, dan bertanya apa saja yang mereka perbincangkan di dalam sana.
"Nona Muda ingin mengakui Nona Clarissa sebagai saudara sepupunya, agar tidak ada yang mencurigainya sebagai selingkuhan Tuan. Nona Muda sangat memikirkan perasaan kalian. Dia tidak ingin Tuan di anggap sebagai laki-laki biadab dan perempuan murahan. Itu sebabnya dia merencanakan ini semua. Tuan, maaf, jika Nona Muda benar-benar pergi, aku akan berhenti dari sini, dan mengikuti ke manapun ia pergi." Begitulah perkataan Bibi Liana tadi.
Jeremy bingung, memangnya apa yang sudah di lakukan Emily hingga Bibi Liana sangat mendukungnya?
*****
Hari ini, Jeremy dan Pak Wawan beserta Emily, duduk di ruang tengah untuk membahas permintaan Emily semalam. Keberadaan Pak Wawan di situ adalah sebagai penerjemah. Jeremy sendiri bingung, mengapa semua pelayan di Mansionnya bisa mengerti apa yang di katakan Emily lwat lambaian tangannya.
Ia menatap Emily dengan tajam.
"Aku tidak ingin waktuku terbuang lama di sini. Aku sudah mendengar semuanya dari Bibi Liana. Berpura-pura meninggal,, aku sama sekali tidak memikirkan hal ini karena aku..." Jeremy berhenti ketika melihat Emily melambaikan tangannya. Ia menoleh ke Pak Wawan.
'Mengira aku tidak mau berpisah darimu?' kata Pak Wawan mengartikan.
Jeremy menghela napas. Tebakan Emily memang benar.
"Idemu semalam patut di coba? Tapi, apa kau yakin? Jika kau meninggal, maka warisan keluargamu akan sepenuhnya menjadi milikku. Dan aku tidak mungkin memberikannya padamu, karena keluarga besar kita akan curiga. Kau juga tidak bisa memakai identitasmu yang sekarang." jelas Jeremy.
'Buakankah akan sama saja jika aku benar-benar mati? Pura-pura atau tidak, aku akan tetap kehilangan semuanya. Tenang saja aku tidak akan menyesalinya. Aku hanya masih ingin hidup dan bernapas lebih lama lagi di dunia ini, melanjutkan hal-hal yang ingin aku lakukan di masa depan.'
Meskipun banyak pertanyaan dalam benaknya, Jeremy tetap menahan ekspresi tenangnya.
"Jadi, apa rencanamu?" tanyanya.
Emily kemudian mengatakan semua rencananya, dan di bantu oleh Pak Wawan, Jeremy menyimak dengan tenang. Ia akui, rencana istrinya itu sangat teliti, ia bahkan memikirkan reputasi dirinya dan Clarissa.
Setelah mengatakan semuanya, Emily pamit dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan Pak Wawan dan Jeremy yang sejak tadi tidak berhenti mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
Daripada merencanakan kecelakaan, Emily lebih memilih berpura-pura sakit leukimia, penyakit yang sangat sulit di sembuhkan. Awalnya ia sangat memilih menjadi duda daripada menikah dengan seorang yang membawa beban baginya, namun saat mendengar keinginan Emily, entah kenapa, Jeremy tidak yakin lagi dengan niatnya.
"Tuan Muda.." suara Pak Wawan menyadarkan lamunan Jeremy.
Jeremy menoleh. "Telpon Dokter Darren. Minta dia mengosongkan jadwalnya malam ini, dan minta dia ke sini."
"Baik, Tuan." Pak Wawan mengangguk mengerti.
Jetemy kemudian masuk menemui Clarissa di kamar tamu. Ia ada janji makan siang bersama Clarissa hari ini. Dia harus melakukan harta karunnya itu dengan baik.
******
Di kamarnya, Emily menarik nafas lega. Dia tidak menyangka akan memikirkan ide secepat itu.
"Nona terlihat bahagia sekali." ujar Bibi Liana yang tiba-tiba sudah berada di kamarnya.
Ah, sebenarnya bukan tiba-tiba, Bibi Liana sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi karena tak ada jawaban dari Emily, ia terpaksa masuk untuk memeriksa sang majikan, yang ternyata sedang melamun sambil tersenyum.
Emily menoleh dan perlahan menggerakkan tangannya.
'Tentu saja. Sebentar lagi aku akan terbebas dari tempat ini.'
Bibi Liana terdiam. "Apa Nona tidak suka berada di sini?"
Sekarang Emily yang terdiam, ia sadar telah mengeluarkan kata-kata yang salah.
'Bukan begitu. Tentu saja aku sangat suka di sini, karena ada Bibi dan yang lainnya yang mau menjadi temanku. Tapi, aku juga ingin menjelajahi dunia. Dan inilah kesempatanku.' isyarat Emily.
"Nona.. Sejujurnya saya masih berharap agar kalian berdua bisa bersama. Saat ini mungkin belum ada cinta di antara kalian, tapi bukankah itu adalah hal yang wajar? Mengingat kalian baru bersama selama dua bulan. Jika kalian bersama lebih lama lagi, pasti kalian akan menjadi keluarga yang paling bahagia." ucap Bibi Liana panjang lebar.
Emily menggenggam tangan Bibi Liana sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
'Maafkan aku, Bibi..'
Meskipun kecewa, namun Bibi Liana mencoba menerimanya.
"Baiklah, aku mengerti, Nona. Lalu, kemana Nona akan pergi setelah berpisah?"
Emily tidak segera menjawab. Sebenarnya ia juga bingung. Dia sebenarnya tidak ingin melakukan operasi plastik pada wajahnya, lagipula tadi ia sudah menolak mentah-mentah tawaran uang dari Jeremy. Sepertinya dia akan pergi jauh ke desa yang sepi, yang sangat sulit di akses oleh penduduk luar. Ia teringat Desa W, di kota N, yang letaknya di tengah lembah. Akan sulit menemukannya jika ia berada di sana. Sepertinya hanya itu tempat yang akan di tujunya. Ia yakin bisa menemukan pekerjaan yang layak di sana.
Melihatnya hanya diam, Bibi Liana yakin, Nona-nya belum mempunyai rencana apa pun. Karena itu, ia menyodorkan makanan yang di bawanya tadi agar di makan Emily.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments