Jeremy yang mendengar pertanyaan Bibi Liana, mengernyitkan alisnya. Sejenak ia terdiam, karena sebenarnya ia tidak ingin hubungannya dengan Clarissa diketahui oleh orang-orang termasuk mereka yang ada di kediamannya, akan rumit kalau Bibi Liana sampai memberi tahu ayahnya.
"Bibi, bukankah sejak awal, aku sudah aku sudah bilang kalau aku tidak bisa menerimanya sebagai istriku. Dan akan mnejadi hal yang mustahil jika kalian berharap aku untuk mencintainya. Mengapa aku harus bertahan dalam pernikahan ini?" tanyanya.
Jeremy memang menghormati Bibi Liana, namun bukan berarti wanita itu bisa mempertanyakan tentang keputusannya apalagi sampai mengatur hidupnya.
Mendengar perkataan Jeremy, seketika Bibi Liana kehilangan kata-katanya.
"Tuan, apa Nona pantas mendapatkan ini? Nona Muda sudah melakukan banyak hal untuk Tuan selama Tuan pergi. Tuan bisa bertanya pada semua orang di Mansion Utama tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh Nona untuk Tuan." Mansion Utama adalah rumah ayahnya Jeremy, Antonio Charlos.
"Tuan..."
"Cukup, Liana!" Suara Pak Wawan menginterupsi perkataan Bibi Liana.
Mereka menoleh dan melihat Pak Wawan datang bersama dengan Emily. Bibi Liana bergegas menghampiri Emily dengan wajah sedihnya.
'Bibi, kau tidak perlu bersedih untuk diriku.' ujar Emily lewat lambaian tangannya.
"Bagaimana aku tidak bersedih, Nona? Nona tidak boleh menyerahkan posisi Nona untuk gadis itu. Nona harus ingat, perjuangan apa saja yang sudah Nona berikan untuk Tuan." kata Bibi Liana.
Emily tahu, Bibi Liana sangat menyayanginya. Namun, saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan, karena itu ia hanya tersenyum tipis dan menggeleng.
"HAH!!!" Jeremy mendengus kesal, membuat semua orang melihat ke arahnya.
Sambil memeluk Clarissa, ia berkata :
"Memangnya apa yang harus aku dengarkan tentangnya hingga aku harus tetap mempertahankan dia sebagai istriku? Memangnya hal hebat apa yang sudah diperbuatnya selama aku tak di sini? Hah!! Aku yakin, wanita sepertinya hanya bisa menghambur-hamburkan uang, seperti parasit! Apa keuntungannya bagiku dengan menikah dengannya?"
Jeremy lalu menatap Emily dengan tajam.
"Apa kau mencoba menghasut semua orang di sini untuk mendukungmu? Apa kau pikir dengan mendapatkan dukungan dari mereka, bisa membuatku menerima dan mempertahankanmu sebagai istriku? Apa kau pikir...."
"Tuan Muda.." Pak Wawan berbicara memotong perkataan Jeremy. Ia mencoba menterjemahkan perkataan Emily. Jeremy memperhatikan Emily yang melambaikan tangannya. Jeremy sama sekali tidak mengerti bahasa isyarat. Karena itu, Pak Wawan yang menerjemahkan untuknya.
'Tuan Muda, aku menikah denganmu tanpa pernah bertemu denganmu sama sekali. Perlu kau ketahui, aku sendiri pun tidak pernah mengharapkan hatimu.'
Mendengar hal ini, Jeremy merasa jantungnya seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat.
'Aku benar-benar tidak pernah mengharapkan hatimu, perhatianmu ataupun simpatimu. Aku bahkan tidak pernah mau kamu yang menjadi suamiku. Namun, karena statusku sekarang adalah istrimu, maka aku melakukan semua hal itu semata-mata karena kewajiban sebagai seorang istri. Dan sekarang, Tuan sudah menemukan orang yang Tuan cintai. Karena itulah, aku mohon agar Tuan menyetujui permintaan ceraiku.'
"Nona Muda! Jangan lakukan ini. Ini sangat tidak adil untuk Nona!" seru Bibi Liana histeris, ia seperti seorang ibu kandung yang tidak terima anaknya di sakiti oleh mantunya.
Sedangkan Jeremy, walaupun hatinya sedikit bergetar mendengar perkataan Emily, ia tetap berdiri dengan tenang. Tak ada yang bisa menggoyahkan niat awalnya.
"Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan di mobil tadi? Bahwa pernikahan kita ini adalah..."
'Pernikahan seumur hidup.!' ucap Pak Wawan memotong perkataan Jeremy, dan Emily terus berbicara dengan bahasa tangannya.
'Aku tahu kita tidak akan pernah bisa berpisah sampai maut memisahkan kita, tapi...'
"Apa itu benar?" kali ini Clarissa yang sejak tadi diam, mengeluarkan suaranya untuk bertanya. Jeremy sama sekali tidak memberi tahukan padanya tentang hal ini.
Jeremy langsung merasa dirinya sial hari ini, bagaimana bisa ia kecolongan tentang hal tersebut. Ia tidak pernah berniat memberi tahu Clarissa tentang hal tersebut, takutnya gadis itu tak mau bersamanya lagi.
Melihat wajah bingung Clarissa dan ekspresi khawatir Jeremy, Emily menghela nafasnya lalu kembali menggerakkan tangannya dan Pak Wawan menerjemahkannya.
'Jangan khawatir tentang hal itu.'
Bibi Liana yang mendengar hal itu, langsung berpikiran jelek. Apakah Emily akan bunuh diri agar Tuan Mudanya bisa bersama gadis perebut itu? Tidak! Bibi Liana menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nona. Nona tidak boleh mengorbankan nyawa Nona hanya untuk mereka berdua!" ujar Bibi Liana gusar.
Jeremy membolakan matanya. Benarkah gadis tak berguna ini akan mengakhiri hidupnya sendiri?
'Tidak akan ada yang mati di sini.' Pak Wawan kembali berbicara untuk Emily. Sementara Emily menatap Jeremy dengan wajah yang tenang.
"Apa maksudmu?" tanya Jeremy.
'Aku akan berpura-pura mengalami kecelakaan dan meninggal, dengan begitu kalian bisa bersama.'
Semua orang terkejut, begitu juga dengan Pak Wawan yang terdiam sesaat sebelum menerjemahkannya. Ia bahkan ragu-ragu saat akan mengatakannya.
Semua terdiam karena terkejut, dan Bibi Liana yang pertama kali bereaksi.
"Nona tidak bisa melakukan ini. Bagaimana kalau ada yang tahu jika Nona memalsukan kematian Nona? Mereka akan menuntut Nona, dan Nona bisa di penjara." ujarnya panik.
Emily tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
'Tenang saja. Jika kita melakukan semuanya dengan hati-hati, tidak akan ada yang tahu. Aku juga akan menjalani operasi plastik untuk mengubah wajahku.'
Emily terdiam sesaat setelah mengatakan hal itu. Ia tahu ini salah, namun ia belum mau mati dan tak hidup dalam ketakutan ketika memikirkan rencana apa lagi yang akan digunakan Jeremy untuk membunuhnya.
Ia lalu menggerakkan tangannya lagi kemudian segera menarik Bibi Liana dari ruangan itu menuju kamarnya.
Jeremy menatap punggung mereka yang menjauh, kemudian bertanya pada Pak Wawan.
"Apa yang dia katakan?"
Pak Wawan menarik napasnya sebelum berkata,
"Nona Muda ingin Tuan mempertimbangkan lagi kata-katanya. Jika Tuan tidak keberatan dengan keinginannya, Tuan bisa menemui Nona untuk membahasnya lagi. Dan..."
"Dan apa?" tanya Jeremy tidak sabar saat Pak Wawan menggantungkan ucapannya.
"Dan Nona bilang, tidak perlu membunuhnya hanya untuk sekedar menciptakan perpisahan. Karena kehidupan semua orang itu sangat berharga."
DEG!!!
Jantung Jeremy seakan berhenti berdetak sesaat. Apa yang istri bisunya itu katakan? Apa ia sudah mengetahui bahwa suaminya sendiri merencanakan pembunuhannya?
Tidak! Itu tidak mungkin! Dari mana dia bisa tahu tentang hal itu! Apa para anak buahnya malam itu mengatakan sesuatu?
Sementara di kamarnya, Emily tersenyum lesu. Waktu itu ia tidak sengaja mendengar saat Jeremy memerintahkan orang untuk melenyapkannya. Apa yang pria itu pikirkan, apa menurutnya, Tuhan memberi kehidupan pada gadis bisu sepertinya supaya bisa di bunuh oleh suaminya? Tidak!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments