Jeremy benar terkejut dengan mengetahui fakta bahwa Emily memiliki toko dan butik yang ia bangun sendiri, meskipun modalnya dari uang bulanan yang di beri oleh Jeremy. Tapi itu haknya sebagai istri sah. Sebelumnya Jeremy sudah percaya kalau Emily tidak seperti para istri orang kaya lainnya yang hanya sibuk berbelanja dan mengikuti arisan elite yang banyak menghabiskan uang suami.
Saat ini, ketika mengetahui kalau istrinya yang bisu itu juga menghasilkan uang yang banyak untuknya, bukankah itu termasuk luar biasa?
Ia tidak menyangka, istrinya benar-benar cerdas.
"Jika ia ingin mengajariku, kenapa dia tidak mengajariku di sini saja? Aku lebih nyaman berada di sini." kata Clarissa menolak dengan tegas.
"Nona Muda bukan hanya ingin mengajari Nona Clarissa cara menjalankan bisnis, tapi juga ingin mengenalkan Nona Clarissa sebagai adiknya kepada para pegawai di sana. Dan juga ini bisa menunjukkan kalau Nona Muda dan Nona Clarissa benar-benar dekat. Jadi tidak ada yang akan curiga kalau tiba-tiba Nona Muda menulis wasiat agar Nona Clarissa menggantikan tempatnya. Ini juga bagian dari perjanjian itu bukan? Kalau bukan sekarang, kapan lagi rencana itu di lakukan?" Bibi Liana bertanya dengan gemas.
Clarissa terdiam sesaat. Ia menatap Jeremy yang hanya diam, sepertinya tidak ingin mengatakan sesuatu untuk membelanya.
Ia tahu hal ini penting untuk melancarkan rencana mereka, tapi sejak awal ia tidak menyukai Emily, dan ia sulit berkomunikasi dengannya karena Emily bisu. Ahh.. Clarissa memiliki ide.
"Aku tetap tidak bisa pergi." katanya dengan lirih sambil menunduk.
"Aku tidak mengerti bahasa isyarat. Menurutku, aku harus menguasai bahasa isyarat dulu agar terlihat dekat dengannya. Jadi, lebih baik aku di sini dulu dan belajar bahasa isyarat dengan pelayan." lanjutnya.
"Nona...." belum sempat Bibi Liana memprotes, sebuah tepukan mendarat di bahunya, mengalihkan atensi mereka.
Terlihat Emily berdiri di samping Bibi Liana sambil tersenyum lembut. Tadi Emily sudah selesai bersiap lalu mencari Bibi Liana karena lama tak kembali ke kamarnya.
Kemudian ia melihat Bibi Liana berdiri di depan kamar Jeremy, jadi ia menyusul ke sana. Dan tidak sengaja mendengar alasan Clarissa yang tak ingin pergi dengannya.
Emily menatap dengan tatapan sedikit iba pada Clarissa yang sedang menunduk. Apa gadis muda ini punya masalah sosialisasi? Ia betah sekali berada di Mansion ini.
'Maafkan aku. Aku tidak sengaja mendengar tadi. Aku rasa Clarissa benar. Sebaiknya dia belajar bahasa isyarat dulu.' isyarat Emily yang langsung di terjemahkan oleh Bini Liana.
"Oh, benarkah?" tanya Clarissa dengan wajah berbinar. Ia terlihat sangat gembira.
Jeremy mengangguk dan mengusap kepalanya.
"Hm.. Biar aku yang pergi untuk melihat-lihat." kata Jeremy.
Mereka terkejut mendengarnya, terlebih Clarissa yang wajahnya langsung berubah pias.
"Apa?? Kau akan ikut dengan mereka? Kamu tidak jadi ke perusahaan?"
Jeremy kembali mengangguk dengan mantap.
"Ya, aku akan ikut dengan mereka. Soal perusahaan, aku yakin asistenku yang handal itu sanggup mengurusnya. Aku akan memintanya mengirim padaku berkas yang penting untuk kuperiksa di rumah. Lagipula, aku harus tahu tempat itu seperti apa." ujarnya.
Clarissa terlihat gelisah.
"Kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu." katanya.
Seketika Emily ingin tertawa, namun tak mau menunjukkannya di depan Clarissa, jadi dia hanya bisa menahan tawanya sampai wajahnya memerah. Sementara Bibi Liana menahan rasa jengkelnya. Apa gadis manja ini hanya ingin pergi bersama Jeremy ataukah hanya ingin pergi karena khawatir Jeremy keluar bersama istrinya?
"Tidak. Kau tetap tinggal dan belajar bersama pelayan. Jangan cemas. Aku akan segera kembali." ucap Jeremy tegas, tanda tak ingin di bantah.
'Rasakan itu!' Bibi Liana tersenyum puas.
Sejujurnya, semalam setelah berbincang dengan Emily, Jeremy sudah menyelesaikan pekerjaannya dan tadi pagi-pagi sekali asistennya yang setia sudah datang mengambil berkasnya.
Untuk masalah klien yang ingin bertemu, asistennya saja sudah cukup. Alasan Jeremy ke perusahaan itu hanyalah untuk menghindari Clarissa yang terus menempel padanya. Sehingga ketika mendengar kalau Emily membuka toko dan butik, itu menarik perhatiannya. Dan sangat kebetulan Clarissa menolak ikut.
******
Little Patisserie, nama toko kue yang di bangun Emily, terlihat ramai di kunjungi orang. Toko kue itu juga menyediakan tempat duduk bagi pengunjung yang ingin menikmati kuenya di tempat.
Di seberangnya, Sunny Boutique berdiri dengan megah. Menampilkan gaun dan baju-baju yang terlihat mewah dari luar. Memanjakan mata orang yang melihatnya.
Kedua bangunan itu berdiri di tempat strategis. Jeremy memandang sesaat kedua tempat yang di bangun oleh oleh istrinya itu. Sebelum turun dan membukakan pintu untuk Emily.
Di depan umum, dia harus menunjukkan citranya sebagai seorang suami yang baik dan mencintai istrinya. Jeremy menggandeng tangan Emily, membuat istrinya itu terkejut.
"Bukankah kita harus seperti ini di depan umum?" bisik Jeremy.
Emily melebarkan matanya. Pria ini hanya memikirkan reputasinya saja. Emily menajamkan pendengarannya,, dan benar saja, beberapa orang berbisik memuji Jeremy.
Emily memilih tidak mengatakan apapun dan berjalan memasuki toko kuenya.
"Nona Emily!" seru para pelayan di dalam toko menyambut kedatangan Emily dengan senang hati.
Seorang pemuda yang mewarnai rambutnya dengan warna keemasan, mendekati Emily dengan penuh semangat.
"Selamat siang, Nona Emily, Tuan, dan Bibi Liana." sapanya ramah.
"Apa Nona ingin ke ruangan Nona?" tanya pemuda itu.
Emily menggeleng.
'Tidak, kami akan duduk di sana.' isyarat Emily sambil menunjuk salah satu kursi yang kosong.
Jeremi begitu terusik dengan pemuda yang terlihat begitu akrab dengan Emily.
"Siapa pemuda itu?" tanya Jeremy saat mereka duduk.
"Namanya Harris. Dia di tolong oleh Nona Muda saat hampir mati kelaparan di jalan." jawab Bibi Liana tanpa menunggu Emily melambaikan tangannya.
"Mereka semua yang bekerja di sini dahulu adalah gelandangan, pengemis dan orang-orang yang sangat kekurangan." lanjutnya.
Jeremy mengerutkan alisnya. Ia tidak menyangka kalau Emily adalah gadis yang murah hati.
'Apa yang ingin kamu makan? Di sini juga tersedia minuman panas kalau kau mau.' tanya Emily lewat ketikan di handphonenya.
Jeremy menatap ke jajaran kue dan roti yang di pajang di etalase. Bau kue yang di panggang membuatnya lapar. Apalagi tadi pagi ia tidak menyantap sarapannya.
"Mm.. Apa yang paling enak di sini?" tanya Jeremy.
'Semuanya enak. Kamu bisa memilih sendiri mana yang kau suka. Mau pergi ke sana denganku?" ketik Emily.
"Baiklah." ucap Jeremy sambil mengangguk. Emily menatap Bibi Liana.
'Bibi, apa yang bibi mau?' isyarat Emily.
"Tidak usah repot, Nona Muda. Biar bibi yang ambil sendiri saja." kata Bibi Liana menolak dengan halus. Emily mengangguk. Mereka kemudian bersama-sama bangun menuju etalase.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments