Emily menarik nafas lega. Akhirnya mereka semua berangkat bersama juga menggunakan satu mobil. Jeremy yang awalnya ingin tinggal di Mansion sehingga di protes Fernando, akhirnya memilih ikut. Dan Emily juga tidak mungkin meninggalkan Clarissa sendiri bersama para pelayan, jadi dia mengajaknya.
Bagaimanapun, status Clarissa di depan saudara iparnya adalah sebagai tamu dan sepupunya, jadi ia tidak mungkin abai begitu saja sementara mereka pergi bersenang-senang.
Kini Jeremy yang duduk di balik kemudi sementara Clarissa duduk di sampingnya.
Hal itu sempat membuat mereka berdebat. Karena menurut mereka, seharusnya Emily yang duduk di situ, karena ia adalah istri Jeremy.
Setelah Emily menerangkan bahwa ia ingin duduk dengan si kembar karena masih mau bercerita dengan mereka, barulah mereka berhenti berdebat.
Saat mereka tiba di tujuan, Jeremy turun dan membuka pintu untuk Emily, lalu menggandengnya. Melihat hal itu, Clarissa bergegas keluar dan menghampiri mereka.
"Jeremy..." panggil Clarissa pelan.
"Clarissa, saat kita di luar rumah, kau jangan memanggilku namaku langsung seperti itu." kata Jeremy dengan pelan hingga cuma bisa di dengar oleh Clarissa dan Emily.
Clarissa terkejut. Ia menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku." katanya lirih.
Melihat kesedihan Clarissa, Jeremy sedikit membungkukkan badannya dan berbisik,
"Tenanglah. Tidak lama lagi kamu akan menjadi istriku. Saat itu, kamu bisa sesuka hatimu, bahkan kamu bisa memanggilku 'sayang'."
Kata-kata yang memikat itu membuat rona merah di wajah Clarissa. Melihat hal itu, Jeremy menegakkan kembali tubuhnya dan tersenyum puas. Dalam hati ia bersyukur karena berhasil mendapatkan gadis naif itu.
"Di mana Tante Agnes? Apa dia sudah datang?" tanya Fernando sambil menatapnya Jeremy dan Clarissa bergantian. Ia sedikit curiga melihat kedekatan keduanya tapi, namun melihat wajah dingin Jeremy, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih banyak.
Emily tersenyum dan menunjuk ke antrian di depan sana.
'Itu dia.' isyarat Emily.
Wanita itu berdiri di barisan paling belakang, begitu melihat Emily dan keluarganya, ia melambaikan tangannya ke atas dengan antusias.
"Emily, Tante pikir kamu tidak akan datang." katanya girang saat Emily mendekat ke arahnya. Ia sangat lega melihat Emily. Ia memanggil nama Emily langsung tanpa embel-embel 'nona', karena Emily sendiri yang meminta.
"Filmnya sudah mau mulai." lanjutnya.
Emily tersenyum manis, dan menggeleng pelan.
'Akh sudah berjanji, bagaimana mungkin aku tidak menepatinya?' isyaratnya.
Ia kemudian melambai mengenalkan saudara iparnya dan juga Clarissa sebagai sepupunya.
"Senang berkenalan dengan dengan Tuan semua." ucap Tante Agnes ramah.
Jeremy tersenyum sinis. Tentu saja, semua orang pasti akan senang dan merasa terhormat bisa berkenalan langsung dengan keluarga Charlos, keluarga terpandang di negara itu.
Sementara Fernando tersenyum senang.
"Aku juga senang bisa bertemu dengan Tante Agnes. Aku sudah mendengar tentangmu dari kak Emily. Ternyata kak Emily benar, Tante tidak seperti gosip yang beredar." katanya.
Tante Agnes sedikit mendekat ke arah Emily dan berbisik padanya,
"Gosip apa? Apa saja yang sudah kamu katakan padanya?"
Emily kembali tersenyum dan menggeleng. Percuma saja Tante Emily bertanya padanya, Ia hanya bisa melambaikan tangannya dan Fernando pasti bisa melihat dan mengartikan maksudnya.
Mereka kemudian masuk bersama setelah menunjukkan tiket. Saat mereka sudah duduk, Tante Agnes mengerutkan alisnya melihat Clarissa.
"Maaf, Emily. Tadi kau bilang, siapa gadis ini?" tanyanya sambil menunjuk Clarissa.
"Dia sepupu kak Emily, Tante." Adriana yang menjawab. Sebenarnya ia juga merasa terganggu dengan sikap Clarissa yang dari tadi seakan ingin terus dekat dengan Jeremy, sedangkan dengan Emily, ia seperti terlihat menjaga jarak.
"Tapi kenapa dia duduk di samping Tuan Jeremy? Bukankah tempat itu seharusnya di duduki oleh Emily?" protes Tante Agnes.
Sebelumnya, keempat saudara Jeremy tidak memperhatikan hal itu. Setelah Tante Agnes mengatakannya, barulah mereka menyadari kalau gadis itu duduk di tengah-tengah Jeremy dan Emily.
Emily yang merasakan ketegangan itu, bergegas melambaikan tangannya.
'Dia masih baru dan merasa asing di sini. Tidak apa-apa kalau dia duduk di tengah-tengah kami. Lagipula kita mengajaknya agar perasaannya menjadi lebih baik. Jadi, aku mohon, tolong jangan katakan sesuatu yang bisa menyakiti perasaannya. Filmnya sudah mau di putar. Ayo kita menonton saja.'
Mereka kemudian menurut pada perkataan Emily dan mulai menikmati film yang di putar. Jeremy sendiri tidak mengatakan apapun, sementara Clarissa diam-diam menggenggam tangan Jeremy tanpa sepengetahuan orang lain. Clarissa merasa sangat kesal ketika mereka semua menatapnya dengan tatapan menyalahkan, tapi Jeremy hanya diam saja.
Clarissa melirik Jeremy, namun pria itu hanya memasang wajah dingin dan tenang, seolah-olah apa yang barusan terjadi sama sekali tidak menggangu pikirannya.
Padahal, dalam hatinya, Jeremy bertanya-tanya, apa yang di katakan istri bisunya itu dengan bahasa isyarat. Mengapa setiap kali dia melambaikan tangannya, semua orang akan diam dan mendengarkan, lalu menurutinya. Jeremy memutuskan kalau sepulang dari sini, ia akan mulai belajar bahasa isyarat.
Agar ia tak seperti orang bodoh saat bersama istrinya di luar seperti ini, lagi pula, mereka sudah sepakat untuk menjadikan imagenya sebagai suami yang baik. Seorang suami yang baik harus paham apa yang di katakan istrinya bukan?
*****
"Waaaahh... Filmnya sangat menarik. Ceritanya sangat bagus!!" kata Indriana saat film sudah selesai di putar, dan Adriana mengacungkan jempolnya menandakan ia setuju dengan saudari kembarnya.
"Kau benar! Sekarang aku mengerti, mengapa anaknya Tante Agnes mendapat predikat aktor terbaik. Dia benar-benar menjiwai perannya. Wajar kalau dia memiliki buaaanyak fans!!" ujar Steven menimpali.
"Kalau ceritanya sebagus ini, aku mau datang ke sini setiap hari untuk menonton." kata Adriana.
"Aku juga!! Dengan begitu, aku bisa bersama kak Emily setiap hari!" kata Fernando dengan penuh semangat.
Steven menatapnya.
"Maksudmu, menonton film hanya alasan, kau datang hanya supaya bisa bersama kak Emily?" tanyanya.
"Tentu saja." jawab Fernando tak mengelak.
"Astaga! Tuan Fernando jujur sekali." kata Tante Agnes sambil tertawa.
Emily pun ikut tertawa kecil. Ia senang melihat antusiasme ipar-iparnya. Sementara si kembar dan Steven tidak tahan untuk memukul kepala Fernando.
"Kak Emily, apa kakak menonton film ini karena kakak suka dengan cerita-ceritanya atau karena kakak adalah salah satu fans Gerald?" tanya Fernando penasaran.
Sebelum Emily melambaikan tangan, Tante Agnes sudah menjawab,
"Tentu saja karena ceritanya yang menarik. Kata Emily, ceritanya seperti kehidupan nyata yang di alami sebagian orang."
Mereka berempat mengangguk-angguk tanda mengerti. Benar, kadang dunia ini seperti film, kalau kata Nike Ardilla sih, dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah-ubah, tergantung sikap dan keputusan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments