"Kak Emily, bagaimana kabarmu? Mengapa sampai memanggil dokter Darren ke sini?" tanya Indriana penasaran.
Emily tersenyum lalu melambangkan tangannya.
'Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Cuma sedikit tidak enak badan.' isyaratnya.
Namun, Indriana tak langsung percaya begitu saja. Ia berbalik ke Dokter Darren.
"Dok, bagaimana kondisi kak Emily? Apa benar dia baik-baik saja?" tanyanya tidak puas.
Dokter Darren melirik Jeremy sebelum menjawab,
"Ya,, untuk saat ini, Nona Emily baik-baik saja. Dia hanya syok dengan kejadian tempo hari, dan itu sedikit mengganggu kesehatan mentalnya."
"Benar, Kak Emily sangat ketakutan saat itu. Brengsek! Kalau saja mereka yang merampok itu tidak semuanya mati, aku akan membuat mereka menderita terlebih dahulu. Kematian terlalu mudah untuk mereka karena sudah membuat kak Emily ketakutan seperti ini." geram Fernando.
Emily ingin sekali tertawa dan bertanya, Apa Fernando juga berani menyiksa Jeremy?
"Tapi sekarang kak Emily benar sudah baik-baik saja, bukan?" tanya Indriana memastikan.
"Ya, Nona Emily hanya butuh banyak istirahat dan kegiatan yang mampu mengalihkan perhatiannya dari kenangan malam itu." ucap Dokter Darren sambil mengangguk.
"Itu mudah! Kami akan menghiburnya setiap hari!" seru Adriana dan Indriana berbarengan dengan semangat.
Emily tertawa kecil melihat antusiasme mereka. Tak lama, Dokter Darren pun pamit pulang. Sesuai rencana, dia akan sering datang untuk memeriksa kondisi Emily.
"Kapan kalian pulang?" tanya Jeremy dingin.
"Astaga! Kakak! Kami baru saja sampai!" protes si kembar.
"Kalian hanya ingin menjenguk istriku, bukan? Nah, sekarang kalian sudah melihatnya. Sekarang apa lagi?" tanya Jeremy.
"Kami mau bertanya tentang gadis tadi. Siapa dia? Mengapa bisa bersama kak Jeremy?" tanya Fernando curiga.
Tadi saat mereka tiba, Jeremy dan Clarissa sedang berbincang di ruang tamu. Beruntung tadi Clarissa sedang duduk dan Jeremy berdiri tidak terlalu dekat dengannya, kalau tidak mereka pasti akan langsung mengetahui kalau gadis itu adalah selingkuhannya, karena saat mereka tiba, Jeremy buru-buru menyuruh Clarissa masuk ke kamarnya.
"Dia Clarissa, saudara sepupu Emily. Tadi aku hanya sedang bertanya-tanya sedikit." kata Jeremy.
Namun, jawabannya tidaklah membuat mereka percaya begitu saja kepadanya. Akhirnya Emily pun melambaikan tangannya.
'Gadis itu benar sepupu jauhku. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Aku kasihan padanya dan ingin menolongnya. Aku yang memintanya untuk sementara waktu tinggal bersama kami. Tadi karena aku ingin beristirahat, makanya aku meminta dia menunggu di sini. Dan tadi Jeremy berbincang dengannya karena aku juga yang memintanya.'
"Ooh.. jadi begitu. Kak Emily benar, sebagai keluarga, kita harus saling membantu." ujar Adriana dan mereka mengangguk secara bersamaan.
Jeremy mengangkat alisnya. Apa yang di katakan gadis bisu ini sehingga mereka yang awalnya tampak curiga dengan jawabannya, tiba-tiba saja langsung percaya padanya?
"Kalau begitu, boleh kami bertemu dengannya?" tanya Steven.
"Tidak!" jawab Jeremy cepat.
"Kenapa?" kali ini Fernando yanng bertanya.
"Karena dia masih dalam masa berkabung dan dia butuh istirahat."
Jawaban Jeremy membuat Emily merotasikan matanya dengan malas. Apanya yang masih dalam masa berkabung? Gadis itu justru berkeliaran dan bermanja-manja pada Jeremy setiap waktu. Emily heran, mengapa Jeremy tidak ingin saudara-saudaranya bertemu Clarissa. Apa ia takut mereka akan jatuh cinta padanya? Bagaimanapun, Clarissa sangatlah cantik dan masih sangat muda, sayangnya ia mencintai pria yang tidak tepat.
Untungnya mereka tidak kecewa dengan jawaban Jeremy. Mereka kemudian sibuk mengajak Emily bercerita dan bermain game.
Sebenarnya Jeremy sangat tidak suka dan ingin mereka segera pulang, namun ia tak punya alasan untuk mengusir mereka dan ia juga tidak mungkin pergi begitu saja.
Sementara itu, Clarissa yang mengintip dari balik pilar, menahan gejolak amarahnya. Ia merasa cemburu melihat Emily tertawa bahagia tanpa suara di samping Jeremy dan saudara-saudaranya.
"Kau yang bersumpah kalau akan menyerah dalam pernikahan ini. Sebaiknya kau benar menepatinya, Emily. Karena aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan." gumam Clarissa sebelum beranjak ke kamar tamu. Ia tak tahan melihat lebih lama lagi.
*****
Di ruang tengah, Jeremy menatap adik-adiknya yang asyik bercengkrama dengan Emily, hingga tak sadar sudah sore hari. Ia heran, apa yang membuat mereka begitu bersemangat bercerita dengan gadis bisu itu, padahal Emily hanya melambai-lambaikan tangannya saja.
Sejak kapan saudara-saudaranya belajar bahasa isyarat?
Emily melirik Jeremy yang sejak tadi hanya diam dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Emily sadar, pria itu pasti sangat bosan dan mungkin saja ia ingin menemui Clarissa. Emily mencari cara agar keempat bersaudara itu pulang, dan ia pun teringat akan janjinya untuk bertemu dengan Tante Agnes.
'Maafkan aku. Aku sangat senang dengan kehadiran kalian. Tapi, saat ini aku harus pergi.' isyarat Emily.
"Kakak mau pergi? Tapi kemana?" tanya Indriana.
'Aku ada janji dengan Tante Agnes.' jawab Emily.
"Tante Agnes? Istrinya almarhum Paman Dicky?" tanya Steven.
Emily mengangguk, dan Jeremy meliriknya sinis. Bagaimana bisa gadis bisu ini mengenal orang yang cukup hebat seperti Tante Agnes, sang Tuan Tanah itu? Atau mungkin gadis ini ingin menjadi istri dari anak tunggal Tante Agnes yang berprofesi sebagai artis terkenal saat ini, itulah sebabnya ia ingin bercerai dengannya? Sial!!
"Apa kakak berteman dengannya? Aku dengar, Tante Agnes cukup sombong, dan hanya sedikit orang yang mau menjadi temannya." ujar Adriana.
'Darimana kamu tahu kalau dia sombong?' tanya Emily.
"Hehehe.. Aku hanya mendengar gosip." ucap Adriana cengengesan.
Emily tersenyum dan menggeleng pelan. Tante Agnes memang mungkin terlihat sombong dan judes. Karena sejak suami tercintanya itu wafat dan meninggalkan harta yang berlimpah, di tambah karir putranya yang melejit, banyak orang yang berpura-pura ingin menjadi temannya padahal sebenarnya hanya ingin memanfaatkannya.
Hal itu membuat Tante Agnes sedikit menutup diri dan mengurangi jumlah pertemanannya.
Tapi bukan berarti, dia adalah seorang yang buruk, Tante Agnes adalah orang yang perhatian, bahkan sangat baik pada Emily yang di anggap tak berguna oleh beberapa orang.
'Tante Agnes bukan orang yang seperti itu. Jika kamu berbincang dengannya, kamu akan tahu kalau dia adalah wanita yang baik hati.' isyarat Emily.
"Kalau kakak bilang begitu, bolehkah aku ikut bertemu dengannya hari ini?" pinta Adriana dengan puppy eyes-nya, membuat Emily tak kuasa untuk menolak.
"Tapi, di mana kalian akan bertemu?" tanya Steven.
'Kami berjanji untuk bertemu di Metroxxxx xx1. F**ilm yang dibintangi oleh Gerald, anaknya Tante Agnes, akan tayang di sana. Kami berencana untuk menontonnya.' isyarat Emily.
'Tante Agnes mendapat dua tiket gratis dari anaknya. Kalau kalian bisa mendapatkan tiketnya, kalian bisa ikut. Aku yakin, Tante Agnes akan senang bertemu dengan kalian.' lanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments