Tak Bisa Bercerai

Emily akhirnya menemukan cara untuk memberi tahu Jeremy tentang keinginannya. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Jeremy, karena tak berani menyentuhnya lagi.

Saat Jeremy menatapnya, Emily menunjuknya dengan jari manisnya yang memakai cincin pernikahan mereka, mengisyaratkan kalau Jeremy adalah jari tersebut, lalu ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari manis yang satunya lagi, mengisyaratkan dirinya.

Kemudian ia menautkan kedua jari manisnya, mengisyaratkan hubungan mereka yang terikat pernikahan, lalu kembali memisahkan jarinya, mengisyaratkan perpisahan. Ia melakukan semua itu sambil melihat ke arah Jeremy, berharap ia paham.

Jeremy menautkan kedua alisnya, kali ini tampaknya ia sedikit mengerti apa yang di sampaikan oleh gadis itu, walaupun sedikit ragu.

"Kau ingin kita berpisah?" tanyanya ragu-ragu.

Seketika wajah Emily berbinar cerah. Ia tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.

Jeremy tertegun. Emily ingin berpisah dengannya? Apa gadis ini tahu kalau ia hendak membunuhnya?

"Mengapa kamu ingin berpisah denganku?" tanya Jeremy curiga sambil memicingkan matanya.

Emily ingin menyampaikan alasannya, namun ia kebingungan memikirkan caranya, membuat Jeremy tidak sabar.

"Tulis apa yang ingin kamu katakan di sini!!" ujarnya sambil menyodorkan telepon genggamnya.

Emily menatap Jeremy sebentar sebelum mengulurkan tangannya untuk mengambil handphone suaminya itu.

'Kita menikah karena perjodohan. Sampai saat ini, kita sama sekali tidak bisa saling mencintai. Tidak ada gunanya kita melanjutkan hubungan ini. Jadi, bagaimana kalau kita berpisah dan hidup masing-masing?'

Itulah yang di ketik Emily di handphonenya.

"Jadi ini alasanmu ingin berpisah denganku?" tanya Jeremy.

Emily mengangguk membuat Jeremy mendengus.

"Bagus kalau kau sadar diri. Tapi kau tetap gadis lemah bodoh yang tidak berguna sama sekali." ucapnya kasar.

Emily menahan amarahnya. Tidak bisakah pria ini tidak merendahkannya dengan kata-kata yang begitu buruk? Siapa yang bodoh dan tidak berguna? Emily sering juara umum di sekolahnya. Ia bahkan menyelesaikan kuliah tata boganya lebih cepat dari yang lain. Ucapan Jeremy benar-benar hinaan untuknya.

"Memangnya kau tidak membaca surat wasiat Kakek dengan baik?" tanya Jeremy mengejek.

Emily terdiam dan berpikir. Memangnya apa isi wasiat itu? Ia tak pernah tahu.

Melihat ekspresi kebingungan di wajah Emily, membuat kebencian Jeremy meningkat. Ia pikir, gadis itu pura-pura bodoh untuk mendapatkan perhatiannya.

Emily yang melihat Jeremy diam, melambaikan tangan untuk bertanya apa isi wasiat itu.

Jeremy justru merasa jijik melihat perlakuan Emily. Ia pikir Emily sedang berpura-pura tidak tahu untuk menggodanya.

Jeremy menepikan mobilnya. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya mendekati Emily.

"Apa yang coba kau rencanakan?" tanyanya.

Emily mencoba mendorong Jeremy sambil menggelengkan kepalanya. Namum Jeremy sama sekali tidak bergerak.

Ia memperhatikan wajah Emily sejenak. Ia tidak bisa membaca pikiran Emily. Jika gadis itu ingin menggodanya, seharusnya saat ia berada sedekat itu, gadis itu akan menarik dan menciumnya.

Akan tetapi, Emily justru menunjukkan wajah tidak nyaman dan panik saat berdekatan dengannya.

Jeremy kembali duduk tegak kemudian perlahan melajukan mobilnya.

"Pernikahan kita adalah pernikahan hidup dan mati. Kita tidak boleh berpisah kecuali salah satu dari kita ada yang mati. Atau semua harta akan jatuh ke panti asuhan dan panti jompo." kata Jeremy dengan dingin.

Mata Emily membelalak saat mendengar hal ini. Ia seolah merasa Jeremy berkata, 'Jadi, matilah, Emily!'

Tubuh Emily bergetar. Jadi ini alasannya? Pantas saja Jeremy terus berusaha membunuhnya, karena tidak ada yang bisa memutuskan pernikahan mereka kecuali kematian.

Mengapa semuanya sangat sulit? Sekarang apa yang harus ia perbuat untuk menyelamatkan nyawanya?

Emily diam-diam menangis dalam hatinya, dan wajahnya tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia menyandarkan kepalanya di pintu mobil, membuat Jeremy berpikir, apa gadis ini benar-benar ingin berpisah dengannya?

Keduanya tidak lagi berbicara sampai mereka tiba di Mansion milik Jeremy. Saat mereka sampai di depan gerbang, Emily melihat beberapa pelayan berdiri menyambut kedatangan mereka, termasuk seorang gadis yang di bawa Jeremy tempo hari.

Clarissa Eden, gadis berusia 18 tahun itu baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan ia yang ingin di jadikan istri oleh Jeremy.

Clarissa tampak sangat cantik dengan dress hijaunya, Emily yakin, ada banyak pria yang sangat mendambakannya. Tapu, mengapa ia harus menginginkan pria yang sudah beristri?

Meskipun sang pria tidak mencintai istrinya, tak bisakah gadis muda itu menghargai perasaan istrinya sebagai sesama wanita?

Emily beralih menatap Jeremy yang ternyata juga sedang menatapnya dengan tajam.

"Kenapa?" tanya Jeremy, dan Emily hanya menggeleng.

Setelah menghentikan mobilnya, Jeremy langsung keluar tanpa mempedulikan Emily. Pria itu langsung menghampiri dan memeluk Clarissa, tak peduli pandangan orang-orang di sekitarnya.

"Bagaimana kabarmu? Apakah para pelayan memperlakukanmu dengan baik?" tanya Jeremy lembut sambil mengusap kepala Clarissa.

Gadis itu meraih tangan Jeremy. Ia sangat suka dengan perlakuan lembut Jeremy. Clarissa sangat mencintai Jeremy, ia jatuh cinta saat pertama kali bertemu Jeremy saat pria itu bertamu ke rumahnya, sebelum kedua orangtuanya meninggal.

Sayangnya pria itu sudah memiliki istri. Namun, saat Jeremy berkata ia akan menyingkirkan istrinya demi menikahi dirinya, Clarissa sangat bahagia sekalipun ia tahu alasan pria itu menikahinya hanya agar mendapat banyak pendukung. Bukan karena mencintainya, namun ia tak peduli asalkan ia selalu bisa berada di samping Jeremy.

"Mm.. Mereka memperlakukanku dengan baik. Tapi, tanpa dirimu di sini, aku merasa sangat bosan. Mengapa kau tak membawa diriku bersamamu?" tanya Clarissa sambil menundukkan wajahnya, menunjukkan kesedihannya.

Para pelayan yang mendengar suara manja gadis itu merasa jijik.

Jeremy kembali mengusap kepala gadis itu.

"Jangan sedih. Aku tidak membawa dirimu karena aku..." Jeremy tidak mungkin membawa Clarissa bersamanya ke hadapan saudara-saudaranya, mereka pasti akan bertanya-tanya, dan curiga kalau gadis itu adalah selingkuhannya, bahkan mereka pasti akan cepat mengetahui siapa pelaku penyerangan terhadap Emily. Tidak, ia belum boleh ketahuan sekarang, atau semua rencana sempurnanya akan gagal total.

Melihat Jeremy menggantungkan kalimatnya, Clarissa kembali tertunduk sedih,, "Tidak apa-apa, aku mengerti."

Melihat hal itu, Jeremy mencoba menenangkannya sambil berbisik ke telinganya, "Bersabarlah, suatu saat, aku akan membawamu kemanapun aku pergi."

Suara lembut itu menggelitik telinganya, membuat wajah Clarissa memerah dan saat ia mengangkat wajahnya, ia melihat Jeremy tersenyum. Ia tahu, bahwa Jeremy ingin ia bersabar menunggu sampai posisi itu menjadi miliknya.

Meskipun ia tahu kalau pria itu tak mencintainya, namun dengan semua perhatian dan sikap lemah lembut serta janji-janji manis yang diberikan Jeremy padanya, membuat Clarissa semakin terjatuh dalam pesona pria itu, dan tak ingin menggunakan akal sehatnya untuk berpikir tentang perasaan orang lain.

Episodes
1 Malam yang Mencekam
2 Sedikit Kisah Jeremy
3 Rencana Bercerai
4 Tak Bisa Bercerai
5 Bibi Liana Marah
6 Rencana Gila Emily
7 Jeremy setuju
8 Bersumpah
9 Bersama Para Sepupu
10 Bertemu Tante Agnes
11 Curiga
12 Ingin Mati Saja
13 Kejutan dari Emily
14 Little Patisserie
15 Acara
16 Kebakaran
17 Membawa pulang Orang Asing
18 Perjalanan ke Puncak
19 Villa Rosewood
20 Melompat ke Tebing
21 Di Obati Petani
22 Daging Kelinci
23 Kisah sang Petani
24 Kisah sang Petani 2
25 Luka dan Kenangan
26 Awal Bertemu
27 Tak Ingin Pulang
28 Kehilangan Ingatan
29 Kembali ke Mansion
30 Clarissa tidak Sabar
31 Emily Menangis
32 Menolak Berdansa
33 Meminta Keponakan
34 Tetap Ingin Pergi
35 Kedatangan Alexander Charlos
36 Alergi Kacang
37 Berita Kematian
38 Lily Florist
39 Jeremy Frustasi
40 Karyawan yang Beruntung
41 Tak Sabar untuk Bertemu
42 Kehilangannya Lagi
43 Tangkap Dia!
44 Aku bukan Bonekamu Lagi
45 Akhirnya Bertemu
46 Bertamu
47 Emily Pergi Lagi
48 Bertahan Hidup di Alam Liar
49 Surat Keputusan Presiden
50 Alvin Diserang
51 Mencoba Membujuk
52 Aku akan Tetap Terluka
53 Mungkinkah Ini Karma?
54 Istana Kristal
55 Menolaknya
56 Haruskah Aku Membunuhnya?
57 Terkadang, Dunia Terlalu Jahat
58 Bunda
59 Hanya Butuh Satu Alasan
60 Memberitahu Della
61 Selamat Hari Natal..
62 Lepas Kendali
63 Ditampar Emily
64 Dia Tidak Mencintaimu
65 Cintailah Dirimu Sendiri
66 Keempat Bersaudara
67 Aku Menyerah
68 Kebenaran yang Diputarbalikkan
69 Itu Tidak Lebih dari Kecelakaan
70 Selamat Tinggal, My Love
71 Aku tak Ingin Mencobanya
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Malam yang Mencekam
2
Sedikit Kisah Jeremy
3
Rencana Bercerai
4
Tak Bisa Bercerai
5
Bibi Liana Marah
6
Rencana Gila Emily
7
Jeremy setuju
8
Bersumpah
9
Bersama Para Sepupu
10
Bertemu Tante Agnes
11
Curiga
12
Ingin Mati Saja
13
Kejutan dari Emily
14
Little Patisserie
15
Acara
16
Kebakaran
17
Membawa pulang Orang Asing
18
Perjalanan ke Puncak
19
Villa Rosewood
20
Melompat ke Tebing
21
Di Obati Petani
22
Daging Kelinci
23
Kisah sang Petani
24
Kisah sang Petani 2
25
Luka dan Kenangan
26
Awal Bertemu
27
Tak Ingin Pulang
28
Kehilangan Ingatan
29
Kembali ke Mansion
30
Clarissa tidak Sabar
31
Emily Menangis
32
Menolak Berdansa
33
Meminta Keponakan
34
Tetap Ingin Pergi
35
Kedatangan Alexander Charlos
36
Alergi Kacang
37
Berita Kematian
38
Lily Florist
39
Jeremy Frustasi
40
Karyawan yang Beruntung
41
Tak Sabar untuk Bertemu
42
Kehilangannya Lagi
43
Tangkap Dia!
44
Aku bukan Bonekamu Lagi
45
Akhirnya Bertemu
46
Bertamu
47
Emily Pergi Lagi
48
Bertahan Hidup di Alam Liar
49
Surat Keputusan Presiden
50
Alvin Diserang
51
Mencoba Membujuk
52
Aku akan Tetap Terluka
53
Mungkinkah Ini Karma?
54
Istana Kristal
55
Menolaknya
56
Haruskah Aku Membunuhnya?
57
Terkadang, Dunia Terlalu Jahat
58
Bunda
59
Hanya Butuh Satu Alasan
60
Memberitahu Della
61
Selamat Hari Natal..
62
Lepas Kendali
63
Ditampar Emily
64
Dia Tidak Mencintaimu
65
Cintailah Dirimu Sendiri
66
Keempat Bersaudara
67
Aku Menyerah
68
Kebenaran yang Diputarbalikkan
69
Itu Tidak Lebih dari Kecelakaan
70
Selamat Tinggal, My Love
71
Aku tak Ingin Mencobanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!