Jeremy menatap Emily yang wajahnya terlihat sangat pucat pasi dengan rasa kecewa yang amat sangat besar.
Jeremy sangat berharap, istri yang sama sekali tak diinginkannya itu, lebih baik tidak usah bangun lagi untuk selamanya.
Namun, meskipun ia tidak menyukai istrinya, di depan orang lain terutama keluarganya, ia harus menjaga martabatnya sebagai seorang suami yang baik.
Rencananya kali ini gagal lagi dan sekarang ia harus memikirkan rencana baru untuk menyingkirkan wanita yang kini terbaring di brankas rumah sakit itu. Ia bahkan heran, istrinya itu seperti mempunyai banyak nyawa, sehingga selalu selamat dalam setiap rencana pembunuhannya.
*****
Emily terbangun dan menemukan dirinya berada dalam sebuah ruangan serba putih, tak ada seorangpun di sampingnya.
Saat mengingat kejadian berdarah semalam, ia mendadak ingin memuntahkan isi perutnya.
Bergegas ia bangun ingin berlari ke kamar mandi, namun karena gerakannya yang mendadak membuat tiang infus terjatuh, dan bunyinya menarik perhatian orang-orang yang berada di luar ruangan.
Mereka yang di luar segera masuk, dan melihat Emily menutup mulutnya menggunakan tangannya.
Steven berlari mengangkat tiang infus yang terjatuh. Sedangkan Indriana langsung paham keinginan Emily, refleks ia mengambil baskom yang ada di nakas di samping brankas, lalu memberikannya pada Emily yang segera memuntahkan isi perutnya. Setelah selesai, Indriana dan Fernando, sepupu Jeremy yang lain, membantu Emily berbaring.
Jeremy mengerutkan keningnya menatap Emily yang baru selesai muntah, ia menatap tidak senang karena menurutnya gadis lemah itu hanya ingin mencari perhatian orang lain saja.
Gadis... Ya, walaupun sudah setahun lebih mereka menikah, Emily masih tetap gadis perawan, karena Jeremy sama sekali tak ingin menyentuhnya.
"Kak Emily, apa kau baik-baik saja?" tanya Adriana, saudara kembar Indriana.
Sementara itu, Indriana mengelus punggung Emily, ia tak merasa jijik dengan muntahan Emily di depannya.
Meskipun kepalanya berdenyut karena rasa sakit, Emily berusaha mengendalikan dirinya, dan karena ia bisu, ia melambaikan tangannya, menyampaikan bahwa ia baik-baik saja.
"Lebih baik Kakak Emily makan lalu beristirahat, agar Kakak Ipar lekas sembuh dan cepat kembali ke rumah." ujar Steven.
Emily mengembangkan senyum tipisnya, memberi isyarat bahwa ia berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh pria muda itu.
Tidak seperti Kakak Sepupunya yang gila harta dan tahta, Steven lebih senang bersenang-senang dengan dunia lukis. Ia juga memiliki kepribadian yang baik dan hati yang lembut.
Emily diam-diam melirik ke arah Jeremy. Pria itu berdiri agak sedikit menjauh, enggan berdekatan dengan mereka, dan sepertinya ia sekali tidak memiliki minat untuk membantu istrinya yang sedang sakit.
Emily menghela nafasnya. Memangnya apa yang ia harapkan dari orang yang bahkan menganggapnya musuh? Emily akhirnya menyandarkan tubuhnya di bantal yang sudah di susun Fernando, kemudian perlahan menerima makanan yang di berikan Indriana.
"Habiskan makananmu agar kau cepat pulih." akhirnya pria dingin itu bersuara juga, suaranya berat dan rendah. Sesuai dengan perawakannya yang gagah.
Emily hanya menganggukkan kepalanya, tanpa ingin mengucapkan terima kasih, karena ia tahu, pria itu hanya sekedar basa-basi. Bahkan Emily yakin, pria itu justru senang kalau Emily kelaparan.
Jeremy berkata demikian hanya karena ada saudara-saudaranya. Benar saja! Selesai berkata, ia langsung pergi dengan dingin.
Ingin sekali Emily melemparnya dengan mangkuk bubur yang ia pegang, mengingat semua perilaku kejam Jeremy yang berusaha menghilangkan nyawanya.
Namun, Emily menahan amarahnya. Ia tahu penyebab Jeremy memiliki sifat dingin itu. Emily mendengar semua kisah Jeremy, selama sepuluh bulan ia tinggal di rumah mertuanya, karena setelah menikah, Jeremy ke luar kota, sehingga mertuanya meminta Emily untuk tinggal di Mansion utama Charlos.
Kisahnya, Jeremy adalah anak dari seorang pelayan bernama Margaretha yang berambisi menjadi istri dari Antonio Charlos, ayah kandung Jeremy, lalu ia melakukan berbagai cara, sampai ia bisa hamil anaknya Antonio.
Ketika hamil, ia meminta pertanggungjawaban, namun Antonio hanya mau menikahinya secara siri, lalu mengirimkannya ke desa di pinggiran kota, agar tidak menggangu hubungan Antonio dan istri sahnya, Rose Esmeralda.
Antonio dan Rose sendiri saat itu sudah memiliki seorang putra berusia dua tahun, Richay Charlos. Waktu itu, Alex Charlos, adik kandung Antonio, menawarkan diri untuk mengawasi Margaretha di desa tersebut, dan Antonio langsung mengiyakan tanpa bertanya dan tanpa mencari tahu,apa tujuan sebenarnya dari Alex.
Ternyata setelah anak Margaretha dan Antonio lahir, yang di beri nama Jeremy Charlos, Alex langsung membawanya pergi, membiarkan Margaretha stress dan akhirnya gila.
Rupanya Alex yang iri karena merasa ia lebih bisa menjadi pemimpin Klan Charlos dan juga merasa bahwa warisan yang di dapat oleh kakaknya lebih banyak, membawa Jeremy dan mendidiknya secara keras, menjadikannya seorang mafia yang berhati dingin dan kejam. Ia juga menanamkan kebencian di hati Jeremy terhadap ayah kandungnya dan keluarganya yang lain, dengan cerita-cerita bohongan yang di karang Alex.
Lalu, saat Richard berumur 14 tahun, ia terbunuh secara tragis bersama dengan kakek neneknya, Marco Charlos dan Chaterine, dan Rose dinyatakan tak bisa hamil lagi, Antonio pun pergi menjemput Jeremy dan membawanya ke Mansion keluarga Charlos.
Karena didikan dari Alex, menyebabkan Jeremy tumbuh menjadi anak yang pembangkang dan biang onar, akhirnya Antonio memasukkan Jeremy ke sekolah asrama. Setelah lulus, tanpa bertanya apa keinginan Jeremy, Antonio memasukkannya ke akademi militer.
Ketika pendidikan militernya selesai, begitu Jeremy pulang ke rumah, ia langsung di hadapkan pada kenyataan bahwa ia telah di jodohkan dengan gadis dari keluarga Hopkins. Dan siapa yang menduga kalau gadis itu ternyata bisu? Walaupun ia sangat cantik, tetap tidak menutupi kekurangan-kekurangannya.
Jeremy marah! Di tambah hasutan dari Pamanya, Alex, yang berbohong kalau semua itu adalah rencana dari istri sah Antonio agar Jeremy tidak mendapat posisi ketua Klan, membuat Jeremy semakin meradang.
Jeremy bersumpah akan membunuh Antonio dan Rose dengan tangannya sendiri. Apalagi selama ini, ia dan Alex diam-diam sudah bekerja sama dengan para pengkhianat Klan Charlos yang tidak menyukai posisi Antonio sebagai ketua.
Dengan terpaksa dan berat hati, Jeremy menyetujui perjodohan tersebut. Namun, saat malamnya, Jeremy tidak hadir saat resepsi yang megah itu, membuat Emily dan Antonio serta keluarganya sama-sama malu.
Kembali ke rumah sakit, Emily sedang memikirkan cara untuk meminta cerai dari Jeremy. Benar!! Kalau ia tidak menginginkannya sebagai istri, mengapa tidak menceraikannya saja? Kecuali kalau ia memiliki tujuan lain.
'Apa ia psikopat yang senang melihat penderitaan orang lain?' pikir Emily.
Apapun alasannya itu, menurut Emily, ia harus mencoba mengutarakan niatnya. Ia tak ingin mati dengan mudah di tangan pria itu. Ia hanya ingin hidup dengan damai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Gadis pemimpi
hai kak aku mampir, makasih udah mmpir ke ceritaku ya😇
2022-12-03
2