"Jadi itu salah satu alasannya. Karena Lawrence menolakku, begitu?"
Jessie yang sedang berganti pakaian di ruang ganti sontak berbalik sambil menutup tubuh atasnya dengan handuk kala Xavier seperti biasa masuk tanpa izin.
"Apa tidak bisa menunggu sebentar? Setidaknya ketuk pintu dulu!"
"Jawab pertanyaanku." Xavier tidak peduli. Pria itu malah mendekat hingga Jessie terhimpit oleh meja aksesoris di tengah ruangan.
"Jika seandainya Lawrence menginginkanku, kau akan melanggar sumpahmu?" Mengurung Jessie dengan tangannya.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Jessie bingung sambil menahan dada Xavier agar tidak semakin mendekat. Hembusan nafasnya bahkan sudah dirasakan oleh Jessie.
Ada apa dengan pria ini? Wajahnya sangat dingin seperti ingin memakannya hidup-hidup. Kedua tangannya mengepal mencengkeram sisi meja.
"KATAKAN!" bentaknya, membuat Jessie tersentak kaget hingga tubuhnya membeku tidak bergerak. Wah, belum pernah ada yang berani membentaknya. Pria ini berani melakukannya!
"Kau berani membentakku?"
"Aku bahkan sanggup memukulmu," balasnya. Jawaban itu membuat hati Jessie berdenyut. Kenapa rasanya sakit? Cih! Laki-laki seperti apa yang ia nikahi?
"Katakan, kau akan melepasku jika nona mu itu menginginkanku?" Rahangnya mengeras. "Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Austin."
Xavier sendiri tidak mengerti sikapnya sekarang. Ia marah saat mengetahui kenyataan itu, seolah Jessie bisa memiliki dan melepasnya sesuka hati selama tuannya memerintah. Dirinya seperti barang yang mudah diberikan pada orang lain.
"Meski dia mau aku tidak akan memberikannya. Kau puas?" jawab Jessie tak kalah tajam.
Xavier menatap dalam mata wanita itu. Tidak ada kebohongan disana. Tapi bukan Xavier jika melepas begitu saja.
"Haruskah aku percaya?"
"Kenapa tidak?" tantang Jessie.
"Kau sengaja mengatakan ini hanya di depanku, kan?" Hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Kau mau tahu sebuah rahasia?" Jessie memberanikan diri menyentuh rahang tegas itu.
"Lawrence telah menikah," bisiknya, membuat tatapan tajam Xavier semakin menyorotnya.
"Lalu mengapa dia bersembunyi?"
"Dia tidak pernah bersembunyi."
"Kau mencoba menipuku?" Menyeringai, Xavier menyapu bibirnya di atas bibir Jessie.
"No—" Belum sempat menjawab, pria itu sudah menekan bibirnya. Membukanya dengan jari dan melum*atnya. Tubuhnya sudah diangkat hingga duduk di atas meja. Ciumannya semakin liar. Bibir Xavier bergerak menuruni lehernya.
"Aku akan membunuhnya jika kau meninggalkanku," ancam Xavier kemudian, kembali memberi ciuman di leher dan bibir.
Jessie tersenyum menang. Tidak butuh waktu lama mengetahui perasaan Xavier. Tindakannya sudah menjelaskan semuanya. Xavier dengan harga dirinya tidak akan mau menyentuh wanita yang tidak dicintainya.
"Sentuh aku sesukamu, tapi setelah itu kau hanya boleh menjadi milikku."
Xavier tidak menjawab, namun mengangkat Jessie menuju tempat tidur.
Mungkin pria itu akan menyesal besok. Jangan lupa Xavier mencoba menunjukkan sifat aslinya yang Jessie sendiri tidak tahu seperti apa. Jangan khawatir, hal itu tidak akan memprovokasinya.
Kita nikmati saja malam ini dengan semua kegilaannya. Jessie tidak akan menolak, toh mereka sudah menikah. Jessie sudah bersumpah akan menyerahkan hidupnya pada suaminya, dengan cinta maupun tidak.
*
*
*
"Sejak kapan ada banyak bunga di rumah ini?" tanya Argus heran saat melihat sekelilingnya. Belum lagi semuanya adalah jenis bunga yang sama.
Rachel yang sedang menyemprot tanaman bunga itu tersenyum pada suaminya.
"Kau lupa? Bunga ini adalah kesukaan Sophia. Aku tidak sengaja melihatnya, jadi membelinya."
Argus terdiam mengamati bunga berwarna putih itu. Bunga yang dimaksud merupakan bunga Baby's Breath.
Sebagian besar orang tahu bunga Baby’s Breath merupakan simbol cinta sejati dan abadi yang tulus dan murni. Bunga putih mungil ini mewakili kemurnian emosi yang dimiliki dua orang untuk satu sama lain dalam pernikahan.
Selain itu, bunga Baby’s Breath juga biasanya diberikan kepada seorang perempuan yang baru melahirkan seorang anak. Disiplin diri dan kesetiaan adalah makna modern untuk bunga klasik ini.
"Kau pasti merindukannya." Merengkuh istrinya, Rachel menyandarkan kepalanya.
"Aku selalu merasa bersalah padanya, Ar."
"Itu bukan kesalahanmu." Argus menenangkan.
"Jelas-jelas itu kesalahanku." Rachel tidak setuju, "aku juga merindukannya," lanjut Rachel.
Dunia begitu sempit saat mereka pertama kali bertemu.
"Apa Jessie tahu kau mantan kekasih ibunya?" tanya Rachel tiba-tiba.
"Kau bicara apa!" Argus melepas rengkuhannya. "Itu hanya masa lalu."
"Tapi kau masih mencintainya saat menikah denganku dulu."
"Rachel, sudah cukup."
"Lihat, kau mengelak! Kau masih mencintainya, kan?!"
Apa wanita selalu begitu? Suka sekali membahas masalah yang telah berlalu.
"Kita tidak akan memiliki Xavier jika aku masih mencintainya," jawab Argus cepat, kemudian pergi ke kamarnya sebelum pertanyaan aneh lainnya keluar.
"Ck! Kenapa Sophia bisa mencintainya."
Rachel berdecak melihat suaminya yang terburu-buru. Pikirannya kemudian berlari pada Jessie.
"Jessie juga menyukai bunga ini, kan. Akan ku letakkan satu di kamar mereka." Senangnya.
Rachel mengambil satu vas bunga tersebut dan membawanya ke kamar Xavier dan Jessie, namun baru akan mengetuk, Rachel tak sengaja mendengar suara aneh dari dalam yang membuatnya menutup mulut kaget.
"Secepat itu?!" Berteriak tanpa suara. Merasa tak percaya dengan pendengarannya, Rachel menempelkan telinganya di pintu.
"Ini sungguhan! Oh God ... bunga ini memang membawa keberuntungan." Memeluk vas berisi bunga itu.
"Lebih baik lagi jika diletakkan di kamar mereka." Rachel kembali dengan senyum lebarnya. Besok ia akan kembali meletakkan bunga itu. Sekarang dirinya harus menyampaikan berita besar ini pada suaminya.
"Aku akan punya cucu," soraknya gembira.
-
-
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
dewi
masih proses mom🤭
2023-12-04
0
dewi
😅😅🤭
2023-12-04
0
Alexandra Juliana
Jgn kepo Mom..tunggu saja hasilnya nanti, paling bentar lg ada kabar kau akan jadi Grandma..😁😁
2023-11-27
0