Masih Gagal

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, tetapi Jessy belum sedetik pun menutup mata. Ia sengaja menunggu malam larut untuk menuntaskan rencana liciknya, yakni membunuh Athana. Berbekal senjata api terbaik serta racun yang bisa melumpuhkan persendian, Jessy nekat menghabisi nyawa Athana yang notabennya seorang pembunuh.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, tetapi Jessy belum sedetik pun menutup mata. Ia sengaja menunggu malam larut untuk menuntaskan rencana liciknya, yakni membunuh Athana. Berbekal senjata api teRbaik serta racun yang bisa melumpuhkan persendian, Jessy nekat menghabisi nyawa Athana yang notabennya seorang pembunuh.

Berhati-hatilah! Tunggu dia terlelap dan tembak tepat di jantungnya. Jika dia melawan, pukul atau tembak lengan kirinya. Itu adalah bagian tubuh yang menjadi kelemahannya karena dulu pernah terluka parah.

Jessy mengingat jelas pesan dari ayahnya. Kelemahan Athana ada pada lengan kiri, Jessy akan memanfaatkan kelemahan itu untuk menghabisinya.

"Masa hidupmu sudah berakhir, Athana. Sebentar lagi kamu akan mempertanggung jawabkan perbuatanmu," ujar Jessy sambil menyembunyikan pistol di balik kemeja panjangnya.

Lantas, dengan langkah pasti ia melangkah keluar kamar. Dalam genggamannya terdapat kunci duplikat yang ia ambil sejak tadi siang.

Setibanya di depan pintu kamar Athana, Jessy melepas alas kaki agar langkahnya tidak terdengar. Kemudian, ia membuka pintu dengan sangat pelan.

"Jika begini, harusnya rencanaku berjalan lancar," batin Jessy ketika melihat Athana terlelap di bawah selimut tebal.

Jessy merasa puas karena wanita yang diincarnya dalam keadaan lemah. Dengan begitu, ia memiliki peluang besar untuk berhasil. Karena jika dalam keadaan normal, dirinya tak mungkin sanggup melakukan itu.

Dengan langkah yang lebih pelan, Jessy mendekati ranjang Athana dan mencoba menyentuh lengannya. Tidak ada respon, bahkan sampai Jessy melakukannya berulang kali.

"Rupanya racun yang kucampurkan dalam minuman tadi cukup efektif. Jika begini, mau dia bangun pun tidak akan berpengaruh apa-apa. Tubuhnya sudah pasti lelah dan persendiannya lumpuh. Dengan begitu, bagaimana caranya melawanku? Heh, tidak akan bisa. Takdirmu sudah ditulis mati malam ini," batin Jessy.

Dia sengaja mengacuhkan pesan Johan yang melarangnya bermain racun. Kata Johan, itu sangat berbahaya. Namun, sekarang Jessy meragukan pesan itu, karena buktinya Athana langsung terlelap setelah meminum racun. Menurutnya, cara itu malah lebih efektif.

"Tidak usah basa-basi lagi. Aku harus bergerak cepat agar dia lekas mati." Jessy membatin sambil merogoh pistolnya.

Kemudian, ia arahkan pistol tersebut tepat di jantung Athana, yang kebetulan sedang telentang. Dalam jarak yang cukup dekat, Jessy yakin Athana akan mati dalam tembakan pertama.

"Selamat tinggal, Athana," batin Jessy.

Namun, satu detik sebelum ia berhasil menarik pelatuk pistol, tiba-tiba Athana mengangkat kaki dan menendang tangannya. Pistol yang ia bawa pun terlempar jauh dan tak bisa digapai.

Sementara itu, Athana langsung bangkit dan mendorong kasar tubuh Jessy, hingga dia tersungkur di lantai.

"Aku adalah pembunuh, berani sekali kamu mengusikku, Nona," ucap Athana dengan nada dingin.

Jessy tak langsung menjawab, hanya beringsut dan berusaha menjauhi Athana yang makin mendekat. Jessy ketakutan dibuatnya, terlebih saat Athana mengambil pistol yang tadi sempat terlempar.

"Berhenti si sana, Brengsek!" umpat Jessy ketika tubuhnya sudah merapat di sofa, dan tak ada lagi ruang untuk mundur.

"Bukannya sejak tadi kamu berusaha mendekatiku ya? Lalu ... kenapa sekarang takut?" Athana duduk di depan Jessy sambil tersenyum miring.

Lagi-lagi Jessy terdiam.

"Aku sudah lama menjadi pembunuh. Keahlianku bukan hanya tembak-menembak, melainkan juga membuat racun. Tadi siang, kamu sengaja mencampur racun dalam minumanku. Racun yang bisa melumpuhkan persendian lawan, wow sangat mengerikan. Cukup efektif untuk menghabisi lawan. Akan tetapi, kamu melupakan satu hal. Kamu lupa bahwa aku adalah ahli racun yang tentu saja punya banyak penawar. Trikmu yang murahan itu, hanya membantuku menguak sifat aslimu," sambung Athana karena Jessy terus diam.

Jessy kesulitan menelan ludah. Sekarang ia paham mengapa Johan melarangnya menggunakan racun. Ternyata karena Athana sangat ahli dalam bidang ini, selain itu dia juga punya banyak penawar. Athana lebih cerdik dari yang ia bayangkan.

Namun, sehebat apa pun seorang Athana, Jessy tidak bisa mundur karena semua sudah telanjur. Athana sudah tahu tentang sisi buruk yang selama ini ia sembunyikan. Jadi sekarang, sebisa mungkin dia harus melawan, karena itulah satu-satunya cara untuk kabur dari sana.

"Jangan coba-coba menyakitiku jika tidak ingin berurusan dengan Papa. Kau pikir dia benar-benar menyukaimu? Tidak! Dia sangat mengharapkan kematianmu!"

Karena terlalu panik, Jessy mengumpat dengan kasar, tanpa sadar jika di sela-sela kalimatnya terselip hal penting yang seharusnya tidak diumbar.

"Mengharapkan kematianku? Apa maksudnya ini?" batin Athana.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

dari part ketika jessy histeris dg kematian Alex, aku dah feeling kalo ada apa" dg mereka .othor 👍👍👍

2024-01-17

1

Stevani febri

Stevani febri

woah baguslah ketahuan..
ikuti aja permainan mereka ana 😍
novel yg bagus ngk bertele² sgtt best 👍

2022-11-12

0

Kiki Sulandari

Kiki Sulandari

Mengapa papanya Jessi yg sangat juga atasan Athana,justru menginginkan kematianAthana?

2022-11-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!