Sejak malam itu, Arvian tidak pernah lagi menginap di rumah Laura karena Melati rutin memberikan obat tidur untuknya. Sama seperti pagi sebelumnya, Melati juga menjelaskan bahwa mereka baru saja melakukan hal intim.
Antara bodoh dan kasmaran, Arvian selalu percaya dengan ucapan Melati. Bahkan, hal itu sudah berjalan selama lima hari, tetapi Arvian tidak curiga sedikit pun, padahal sudah diingatkan oleh Mirna dan Anjani.
"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan dengan Melati." Jawaban Arvian ketika Mirna bertanya tentang sikapnya yang berubah total.
"Kenapa begitu? Dia bukan istri yang baik, Vian. Lihat saja wajahnya, dekil dan kumal. Selain warisan, apa lagi yang bisa kamu harapkan? Jangan sampai sikapmu ini malah merenggangkan hubunganmu dengan Laura. Dia istri yang lebih pantas kamu pertahankan!"
"Bu, sudah. Jangan memperpanjang masalah ini, aku sedang capek!" Setelah itu, Arvian pergi dan tak lagi menghiraukan ucapan ibunya.
Mirna hanya memendam kesal atas perubahan sikap Arvian. Namun selain Mirna, ada seseorang lagi yang jauh lebih kesal, bahkan amarahnya membuncah dan nyaris tak bisa dikendalikan. Dia adalah Laura, selama lima hari tidak dikunjungi Arvian, dia sangat marah dan akhirnya mendatangi Arvian ke rumahnya.
Akan tetapi, Laura kurang beruntung. Arvian sudah berangkat ke kantor. Hanya ada Mirna dan Melati di rumah itu, karena Anjani pula sudah berangkat kerja.
"Aku ingin bicara dengan Ibu," ucap Laura dengan setengah berbisik, takut jika Melati mendengarnya.
"Ada apa, Nak? Ayo bicara di sana!" kata Mirna. Dia melangkah menuju ruang tengah dan mengajak Laura bicara di sana.
"Sudah lima hari Mas Arvian nggak ke rumah. Ditelpon nggak diangkat, di-chat juga nggak dibalas. Kenapa, Bu? Ada apa dengan Mas Arvian? Apa Melati membuat ulah? Atau mungkin ... Mas Arvian ada main di luar sana?" Laura memberondong Mirna dengan bermacam pertanyaan. Dalam hal etika, dia memang kalah dengan Melati. Namun karena cantik dan pandai berkarier, Mirna menutup mata atas kekurangan itu.
"Nggak lah, Nak, mana mungkin Arvian ada main. Kamu adalah satu-satunya wanita yang dia cintai. Beberapa hari ini, di kantor ada sedikit masalah, jadi Arvian sangat sibuk. Dia pulang sore dan langsung tidur, lelah karena bekerja ekstra sehari penuh. Jadi, tolong maafkan dia ya, nggak sempat datangi kamu atau kirim kabar ke kamu," jawab Mirna dengan sedikit berdusta.
"Beneran, Bu? Bukan karena Melati? Soalnya, terakhir kali aku ke sini Mas Arvian malah enak-enakan tidur sama Melati, sampai nggak tahu kalau aku datang." Laura masih merajuk.
"Nggak, Laura, Ibu berani jamin. Kalau malam loh Arvian nggak tidur di kamar, tapi di sofa ini." Mirna sengaja berdusta agar Laura percaya dengan penjelasannya.
Laura menarik napas panjang, "Baiklah. Karena Ibu yang bicara, aku percaya. Tapi, aku nggak mau hal ini terus berlanjut, Bu. Aku juga kangen dengan Mas Arvian, aku ingin dia ada waktu denganku."
"Soal itu kamu tenang saja, nanti biar Ibu yang ngomong," jawab Mirna.
Karena sudah mendapat jawaban yang memuaskan, tak lama kemudian Laura pamit pulang. Kini, tinggal Mirna yang dibuat pening dengan sikap anaknya. Dia duduk sambil memijit pelipis, memikirkan cara untuk membujuk Arvian agar kembali bersikap seperti semula.
"Aku harus bicara serius dengan Arvian," batin Mirna dengan berapi-api.
______________
Sebelum senja padam, Arvian sudah tiba dari kantor. Hari ini dia pulang lebih awal dibanding kemarin. Athana sedikit terkejut karena saat itu Mirna masih memasak di dapur. Gadis itu khawatir jika Arvian kembali membencinya.
"Sial, kenapa aku tidak tahu kalau dia pulang awal." Athana menggerutu sambil mengintip dari balik dinding. Arvian sedang ada di dapur, menyusul ibunya yang tadi memang memanggil.
"Kamu lihat sendiri kan, Ibu yang masak, bukan istri kamu!" kata Mirna dengan sinis.
"Mungkin Melati sedang capek, Bu. Sudah lah, jangan dibikin masalah, toh selama ini juga dia yang masak untuk kita," jawab Arvian dengan nada santai.
"Kamu belain dia lagi?" Mirna memelotot tajam ke arah anaknya.
"Bukan gitu, Bu, aku hanya bicara sesuai kenyataan," jawab Arvian tanpa menunjukkan sedikit pun simpati untuk ibunya.
Kala itu, Anjani juga ada di sana, dan dia marah melihat sikap Arvian yang makin hari makin kurang ajar. Sekarang nyaris tak ada lagi Arvian yang dulu, yang selalu menurut dan sangat mencintai Laura. Arvian saat ini selalu seenaknya sendiri dan sangat peduli dengan Melati.
"Otakmu semakin geser ya, jelas-jelas sekarang tahu kalau yang masak itu aku dan Ibu, tapi kamu masih aja nggak mau percaya. Dikasih apa kamu sama istri kumalmu itu, bisa-bisanya sekarang belain dia terus," omel Anjani dengan penuh emosi. Namun, Arvian tak menanggapi. Dia malah berbalik dan siap meninggalkan mereka.
"Arvian, tunggu!" teriak Mirna.
Arvian menoleh dan menatap ibunya tanpa mengucap kata. Dia sekadar diam saat ibunya datang mendekat.
"Tadi Laura ke sini, dia nyari kamu. Apa yang kamu pikirkan, Arvian? Kenapa mengabaikan dia, bahkan chat saja tidak kamu balas? Ada apa denganmu, hah?" Mirna menatap Arvian dengan pelototan tajam.
"Dia memang berlebihan," jawab Arvian sekenanya.
Mirna menganga sambil memandangi wajah Arvian. Dia terkejut dan bertanya-tanya, benarkah itu putranya? Dalam hatinya Mirna membatin, Arvian berubah total, nyaris tidak seperti dirinya lagi.
"Entah apa yang ada dalam pikiranmu sekarang, tapi yang jelas Ibu tidak suka. Masa depanmu adalah Laura, bukan Melati. Jadi, berhenti membelanya apalagi peduli dengannya. Melati tidak layak mendapatkan semua itu, mengerti!"
Mirna terus memarahi Arvian dan Anjani pun ikut mendukung ibunya. Namun, Arvian hanya menganggap omongan mereka seperti angin lalu. Lelaki itu tetap membela Melati dan tidak ada niat untuk mengacuhkan Laura.
Tanpa mereka sadari, Athana menguping pembicaraan dari awal sampai akhir. Lantas, dia tersenyum licik dan merencanakan sesuatu yang mengerikan.
"Awalnya, aku senang bisa menindas kalian. Tapi rupanya ... semua ini harus dipercepat," batin Athana.
Malam itu, dia kembali memberi obat tidur untuk Arvian, tetapi dosisnya lebih sedikit sehingga keesokan paginya tidak telat bangun dan bisa berangkat ke kantor tepat waktu.
Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, tinggal Mirna dan Athana saja yang berada di rumah, karena Anjani pun sudah berangkat.
Athana mulai melancarkan aksinya. Dia mengambil bunga hias kesayangan Mirna dan membawanya ke halaman belakang. Tanpa ragu, Athana langsung merusak dan membuangnya di sana. Kemudian kembali ke rumah dan menemui Mirna.
"Bunga jeleknya sudah kubuang," ucap Athana.
"Bunga apa yang kamu maksud?" Mirna terkejut.
"Bunga di sudut ruangan itu. Menghalangi pandangan, jadi kubuang ke belakang," jawab Athana sambil menunjuk tempat yang dimaksud.
"Hah, itu bunga kesayanganku! Kamu gila, ya!" Usai berteriak, Mirna beranjak dan cepat-cepat pergi menuju halaman belakang.
Athana tersenyum miring. Beberapa saat kemudian dia membalikkan badan dan menyusul Mirna yang sedang mengomel di halaman belakang.
Setibanya di ambang pintu, Athana mengeluarkan kapak yang tadi disembunyikan di balik baju tidur. Lalu, mulai mendekati Mirna yang masih menggerutu karena bunganya rusak dan berserak.
"Ibu!" panggil Mirna.
"Apa? Kamu masih___" Ucapan Mirna terhenti seketika. Wajahnya yang semula garang mendadak pucat saat menoleh ke belakang. Tepat di dekatnya, Athana sudah melayangkan kapak tajam ke arahnya.
"Melati, apa yang kamu lakukan?" Mirna melangkah mundur dengan gemetaran.
Bukannya menjawab, Athana hanya tersenyum lebar. Kemudian, tangan kirinya mencengkeram kasar baju Mirna. Dia tidak peduli meski wanita paruh baya itu menangis dan memohon ampun.
"Selamat tinggal, Ibu Mertua," ucap Athana bersamaan dengan gerakan tangannya. Kapak yang sudah diasah, benar-benar mendarat di leher Mirna. Darah mengucur dengan deras, bersimbah dan menggenangi tubuh Mirna yang sudah menggelepar. Dalam hitungan detik, wanita itu mengembuskan napas terakhirnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
YNa Msa
Awas ketahuan sidik Jari
2024-01-26
1
Hamimah Jamal
waah melati yg lemah, berubah jadi ahana berdarah dingin
2024-01-15
1
Abizar zayra aLkiaana
sadiiiss garess😅😅😅
tapi aku suka👍👍👍
2023-04-06
0