Keesokan harinya, Arvian terbangun dalam keadaan bingung. Bagaimana tidak, ia telentang dengan kaki dan tangan terikat di sudut ranjang. Tubuhnya hanya dibalut celana pendek, sedangkan baju yang menutupi separuh badan entah ke mana. Ketika berteriak meminta tolong, istrinya muncul sambil membawa kapak dan pisau. Kedua benda itu diletakkan di atas dada bidangnya.
"Sayang, semua ini untuk apa?" tanya Arvian dengan jantung yang berdetak cepat. Dia mulai panik karena ikatan di tangan dan kaki cukup erat, rasanya mustahil untuk ia lepaskan.
"Membunuhmu," jawab Athana dengan santainya.
Arvian kesulitan menelan ludah. Bukan Melati lagi yang ada di hadapannya kini, melainkan sosok lain yang memiliki aura pembunuh yang sangat kuat. Meskipun bibirnya mengulas senyum lebar, tetapi tatapannya mematikan. Arvian gemetaran dan ingin kabur dari sana, tetapi ikatan yang erat memaksanya tetap bertahan.
"Kenapa kamu mendadak pucat, Mas?" Athana membungkuk dan bicara tepat di depan wajah Arvian. Tangannya pula bergerak anggun dan meraih pisau yang tadi ia bawa.
"Kamu bukan Melati! Istriku adalah wanita baik, bukan iblis sepertimu!" bentak Arvian. Keringat dinginnya mengucur saat Athana menempelkan ujung pisau di pipinya.
"Tapi jangan lupa, terkadang wanita jahat terlahir dari wanita baik yang tersakiti. Selama ini sikapmu bagaimana, menyayangiku atau menyakitiku?" Athana memainkan pisaunya di atas wajah Arvian. Namun, belum menorehkan luka sedikit pun.
"Sudah kukatakan bahwa itu keinginan Ibu, aku terpaksa melakukannya. Aku___"
"Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain! Kamu laki-laki, jangan jadi pengecut yang hanya berani berbuat tanpa berani bertanggung jawab. Kamu sendiri yang bersedia menikahi Laura, memperhatikan dia dan mengabaikan aku yang dijadikan budak oleh keluargamu. Apa menurutmu aku robot, Mas, yang tidak punya perasaan dan terus menuruti keinginan kalian, hah?" pungkas Melati dengan nada tinggi.
"Aku ... aku memang bersalah. Tapi, semua ini bukan hanya salahku, peran Ibu yang paling banyak." Arvian tetap berkilah.
"Begitukah?" Athana tersenyum miring. "Tapi sayangnya, kamu tidak bisa lagi melimpahkan kesalahan kepada Ibu atau Kak Anjani, karena mereka ... sudah mati," sambungnya.
Arvian tertegun. Pengakuan istrinya sama persis dengan dugaan semalam. Hanya saja Arvian masih tak percaya. Rasanya mustahil jika Melati sanggup melakukan semua itu.
"Aku membuat mereka bersimbah darah dan akhirnya kehilangan nyawa. Tapi, aku tidak lama bermain-main dengan mereka. Berbeda dengan sekarang, yang akan kumulai dengan pemanasan. Jadi bersyukurlah, Mas, karena aku memperlakukanmu dengan istimewa. Oh ... satu lagi. Kecelakaan yang menimpa Laura kemarin, juga terjadi karena campur tanganku," sambung Athana.
"Apa maksudmu?" Arvian meronta, tetapi ikatannya terlalu kuat sehingga usahanya sia-sia.
Athana tak langsung menjawab. Dia hanya menatap Arvian dengan lekat sambil menggoreskan ujung pisau ke pipinya. Berlanjut ke pelipis, pangkal hidung, sudut bibir, dan kemudian turun ke leher. Berkali-kali Arvian mengerang, tetapi Athana tak peduli. Pikirnya, semua itu sebanding dengan luka batin yang dirasakan Melati.
"Ini adalah luka demi luka yang kurasakan selama menikah denganmu. Perlakuan ibumu, kakakmu, istri mudamu, dan juga dirimu sendiri. Kalian tidak punya hati dan menindasku dengan keji. Sudah bertahun-tahun aku bertahan, tapi kalian semakin menjadi. Jika aku tidak begini, lama-lama nyawaku yang kalian habisi. Jadi sebelum itu terjadi, aku yang akan bertindak lebih dulu," kata Athana sambil tetap menggoreskan pisaunya. Wajah dan leher Arvian sudah berdarah, kini Athana mulai bermain-main di atas dada.
"Sayang, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Kamu jangan gegabah menilai, aku sangat mencintaimu." Arvian bicara cepat sembari menahan rasa perih dari luka-luka yang dibuat Athana.
"Benarkah? Tapi ... aku tidak merasa begitu." Athana menjawab santai.
"Aku serius, Sayang. Aku benar-benar mencintai kamu. Aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Ke depannya, aku akan memperlakukanmu seperti ratu," sahut Arvian.
Athana tak jua menjawab, hanya menatap lekat sepasang mata Arvian yang penuh kemelut.
"Aku tidak akan mempermasalahkan kematian Ibu, Kak Anjani, atau juga Laura. Tapi, tolong lepaskan aku, Sayang. Kita bicarakan ini baik-baik, kamu jangan gegabah," sambung Arvian karena Athana masih diam.
"Kalau aku tidak mau?"
Athana menegakkan tubuhnya dan melempar pisau ke sembarang tempat. Arvian sedikit lega saat melihat hal itu. Walaupun jawaban sang istri tidak sesuai harapan, tetapi setidaknya benda tajam itu sudah dibuang.
"Tolong ingat kembali kenangan-kenangan manis kita. Aku dan kamu adalah dua insan yang saling mencinta. Kamu pasti tidak rela, kan, kisah kita kandas begitu saja?"
Athana melipat tangan di dada, "Kisah kita sudah kandas sejak kamu menikahi Laura."
"Sayang___"
"Ssstt." Athana menempelkan telunjuknya di bibir Arvian, lalu dia tersenyum puas saat melihat setetes darah menempel di jarinya.
"Entah benar atau salah pengakuanmu, tapi sekarang sudah terlambat. Sebesar apa pun rasa sesal dan keinginan untuk memperbaiki hubungan, bagiku sudah tak ada artinya. Saat ini, yang paling kuharapkan darimu hanyalah ... kematian," sambung Athana.
"Tapi, Sayang___"
Ucapan Arvian menggantung begitu saja. Napasnya mendadak tersengal ketika kapak tajam sudah berpindah dalam genggaman Athana dan melayang ke arahnya.
"Bawa pergi cinta palsumu, Arvian!"
Bersamaan dengan teriakan itu, darah segar mengucur dari leher Arvian. Satu kali tebas telah membuatnya terluka parah, darah bersimbah dan menggenang di ranjang tempat ia terbaring.
Dalam keadaan yang hampir sekarat, Arvian menatap lawannya dengan sorot mata yang tanpa dibuat-buat. Selain itu, dia juga mengungkapkan satu rasa yang sejak semalam mulai mengganjal. Arvian tak lagi menutupi jati diri karena kematian sudah di ambang mata.
"Kau ... mirip seperti Athana-ku," ucap Arvian dengan pelan dan terbata-bata.
Athana tersentak seketika. Athana-ku, sebuah sebutan yang mengingatkannya pada Alex. Lantas, Athana kembali membungkuk dan menatap mata hitam yang mulai menutup. Di sana, Athana menemukan sebuah binar yang familiar, yang lagi-lagi mengingatkannya pada Alex.
"Katakan sekali lagi apa yang kamu ucapkan barusan! Benarkah kamu menyebut Athana?" teriak Athana.
Akan tetapi, tidak ada respon dari Arvian. Mata lelaki itu makin menutup seiring darah yang makin banyak keluar. Athana panik dan berusaha membangunkannya. Namun, lelaki itu sudah tidak bernyawa.
"Tidak mungkin! Alex ada di dunia nyata, dia tidak ikut masuk ke dunia ini!"
Athana melangkah mundur sambil menutup mulut. Dia masih tak percaya jika Alex adalah sosok yang mengendalikan Arvian. Namun, ucapan barusan membuatnya kacau dan tidak bisa berhenti berpikir. Bagaimana jika Alex benar-benar datang ke dunia novel?
Apa yang terjadi jika tubuh yang dikendalikan mati? Apakah sesuatu yang buruk juga akan terjadi pada Alex?
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Athana berteriak histeris, sampai akhirnya dunia menjadi gelap dan ia tak tahu lagi apa yang terjadi.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
YNa Msa
udah Keluar dr dunia Novel
2024-01-26
0
Rhina sri
lho kok arfian kenal athana apa dia alex kekasih nya athana
2022-12-07
1
Kendarsih Keken
wehhh aq beberan mumet ora mudheng 🤭🤭🤭
2022-11-09
0