Mengejutkan

Karena gagal bertemu dengan Arvian, pagi itu Laura lekas pulang dengan bibir yang mengerucut. Hatinya luar biasa dongkol karena secara tidak langsung Melati sudah mempermalukannya.

Dengan mengendarai mobil pemberian Arvian, Laura pulang ke rumah mewah yang juga merupakan hadiah dari Arvian. Selama ini, lelaki itu sangat mencintainya dan memberikan apa pun yang dimintanya. Arvian tidak pernah peduli dengan Melati dan hanya memperhatikannya. Tak heran jika sekarang Laura sangat angkuh dan merasa paling istimewa.

"Sialan! Berani-beraninya dia mempermalukan aku, sampai-sampai melarangku bertemu dengan Mas Arvian. Awas aja ya, aku akan membuat perhitungan denganmu! Kupastikan kamu akan menyesal, Melati!" umpat Laura ketika tiba di dalam kamarnya.

Wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang itu melempar tasnya ke sembarang tempat. Lantas, duduk dengan kasar di tepi ranjang sambil melipat tangan di dada. Matanya memicing saat mengingat kejadian tadi, sungguh menyebalkan. Seumur-umur Laura tidak pernah membayangkan jika Melati akan berbuat selancang itu padanya.

Sementara itu, di rumah Mirna Arvian mulai terbangun dari tidurnya. Dia menatap sekeliling dengan bingung, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Namun, hal pertama yang didapatinya adalah senyuman Melati.

"Kamu sudah bangun, Mas?" sambut Athana dengan wajah sumringah.

"Kamu? Apa yang kamu lakukan?" Arvian bangkit dan memandangi Melati dengan lekat, seakan-akan takut jika semalam istrinya itu telah menyentuhnya.

"Aku menyiapkan sarapan untuk kamu, Mas. Kamu tidur nyenyak. Aku khawatir kamu akan lapar karena terlambat bangun," jawab Athana masih dengan nada tenang.

"Sekarang jam berapa? Mana ponselku?" tanya Arvian dengan cepat. Dia sedikit panik karena sudah ada janji dengan Laura sejak semalam.

"Ini ponselmu, sekarang sudah pukul sembilan, Mas," ucap Athana sambil menyodorkan ponsel milik Arvian.

"Kenapa ponselku ada di sana?" Arvian melirik meja kecil tempat ponselnya tergeletak.

Athana menarik napas panjang, "Semalam kamu sendiri yang naruh sana, Mas. Lupa?"

Arvian memijit pelipisnya. Seperti ada yang aneh dengan dirinya. Memori semalam seakan hilang sebagian. Entah karena terlalu lama tidur atau karena ada alasan lain. Yang jelas, saat ini Arvian sangat tidak nyaman.

"Kenapa tidak membangunkanku sejak tadi?" protes Arvian sambil turun dari ranjang.

"Sudah berulang kali, tapi kamu tetap tidur. Kupikir ... mungkin karena terlalu lelah," jawab Athana.

Arvian tidak lagi menyahut. Dia bergegas menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Sudah sangat terlambat untuk menemui Laura. Itu sebabnya Arvian tidak bisa bersantai, apalagi menyantap makanan yang disediakan istrinya. Sudah tidak ada waktu.

"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Athana ketika Arvian sudah kembali ke kamar dan langsung mengganti baju dengan setelan rapi.

"Kerja," jawab Arvian dengan singkat.

"Nggak sarapan dulu?"

"Sudah tidak ada waktu," jawab Arvian tanpa nada ramah.

Kemudian, lelaki itu bergegas pergi meninggalkan Athana seorang diri. Alih-alih kerja seperti yang diucapkannya, dia malah tancap gas menuju rumah Laura.

Sesuai janjinya kemarin, hari ini dia dan Laura akan pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter. Kebetulan Laura sedang menjalani program kehamilan karena kandungannya kurang subur. Akan tetapi, Arvian justru terlambat dan tanpa memberinya kabar.

"Mudah-mudahan aja Laura mau ngerti. Lagian bodoh banget sih aku, bisa-bisanya semalam ketiduran dan bangun sesiang ini," gerutu Arvian sambil fokus dengan kemudi.

Sekitar setengah jam kemudian, Arvian tiba di kediaman Laura. Istri mudanya itu sudah uring-uringan dan menyambut kedatangan Arvian dengan pelototan tajam.

"Semalam ngapain aja, sampai lupa sama aku. Pagi-pagi juga disamperin malah diam di kamar. Habis enak-enakan ya sama Melati?" tuduh Laura. Dia sangat kesal dan cemburu karena kejadian tadi pagi.

"Sayang, maaf ya semalam aku ketiduran. Aku nggak ngapa-ngapain sama Melati. Aku cuma capek aja karena Ibu dan Kak Anjani kemarin diare. Aku ikut ngerawat mereka," terang Arvian.

"Kelihatan banget bohongnya." Laura membuang muka sambil melipat tangan di dada.

"Sayang, aku nggak bohong. Aku memang ketiduran." Arvian mendekati Laura dan menggenggam tangannya. "Kamu tahu sendiri kan, hanya kamu istri yang aku cintai. Hanya kamu istri yang layak aku sentuh. Aku masih mempertahankan Melati karena dia mau jadi pelayan gratis, juga untuk menunggu warisan rahasia yang masih disimpan pengacara sialan itu. Kalau nanti warisannya udah ada di tanganku, kami pasti pisah. Lalu, ganti kita yang hidup bahagia," sambungnya.

"Beneran ya nggak ada cinta untuk Melati?" tanya Laura mulai luluh.

"Beneran, Sayang. Lagipula ada istri secantik ini, bodoh banget kalau masih cinta sama yang kumal gitu," ucap Arvian sambil mencubit mesra pipi Laura, membuat wanita itu tersenyum dan tersipu.

"Ya udah berangkat sekarang yuk, nanti keburu siang antre lagi," ajak Arvian beberapa saat kemudian.

"Aku belum selesai ngomong." Laura berucap manja.

"Ya udah ngomong sekarang aja, ada apa, hmm?"

"Aku masih kesel sama Melati, masa tadi dia mempermalukan aku. Aku nggak mau tahu ya, pokoknya Mas Arvian harus marahin dia demi aku. Kalau nggak mau, aku ngambek lagi," jawab Laura.

"Itu masalah sepele, Sayang. Janji, nanti aku akan kasih pelajaran ke dia." Arvian tersenyum dan Laura pun ikut tersenyum.

Selama ini, Arvian adalah suami yang keras. Bukan sekali atau dua kali dia melayangkan tamparan, melainkan berulang kali. Setiap kali ada masalah, seringkali Arvian kesal dan main tangan. Melati tidak pernah melawan, hanya menangis dan meratapi nasibnya seorang diri.

"Mas Arvian memang suami terbaik deh," ucap Laura.

Hari itu pun mereka menghabiskan waktu bersama. Pagi ke rumah sakit, siang sampai sorenya jalan-jalan dan belanja banyak barang. Ketika malam, Arvian pulang dan siap memarahi Melati karena sudah lancang mempermalukan Laura.

"Lihat saja bagaimana aku akan menyelesaikanmu, Melati!" gumam Arvian saat tiba di halaman rumahnya.

Dengan langkah cepat Arvian berjalan masuk sembari meneriakkan nama Melati. Arvian langsung menuju meja makan karena sekarang sudah masuk jam makan malam.

"Melati! Melati!" Arvian terus berteriak.

Tak lama kemudian, Arvian tercengang. Apa yang menyambutnya di ruang makan benar-benar mengejutkan. Ibu dan kakaknya berdiri dalam keadaan basah kuyup, sedangkan di lantai sudah berserakan banyak sayur yang sudah matang.

"Apa yang terjadi?" tanya Arvian.

"Ini semua karena istrimu! Aku dan kakakmu sudah capek masak, tapi malah disiramkan ke tubuh kami karena rasanya kurang enak. Istrimu sangat keterlaluan, Vian!" teriak Mirna dengan penuh emosi.

"Benar. Dia sangat kurang ajar," imbuh Anjani.

Arvian makin tercengang. Menurutnya itu seperti lelucon karena selama ini Melati sangat lemah. Di rumah itu dia seperti pembantu dan tidak pernah melawan, jadi mana mungkin berani menyiram tubuh ibu dan kakaknya dengan kuah sayur.

Bersambung...

 

Terpopuler

Comments

YNa Msa

YNa Msa

Hebat Melati Atw Athana 🤣🤣🤣

2024-01-26

0

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

blm benakku di atas kepala ibu mertua, dan ipar, bergelantungan sayur mayur.😂

2024-01-15

1

Rhina sri

Rhina sri

duh ngakak banget mirna sm anjani di suruh masak🤣🤣🤣

2022-12-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!