Salah Paham

Setelah menghabiskan satu batang rokok, perasaan Arvian makin tak karuan. Dia tak bisa menahan lagi dan akhirnya mendekati sang istri. Awalnya sekadar berbasa-basi, tetapi Athana memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadu.

"Mas, bagaimana ya caranya agar Ibu dan Kak Anjani nggak benci lagi sama aku? Selama ini, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan, aku ikhlas dan nggak pernah memperhitungkan hal itu. Harapanku, sikap Ibu dan Kak Anjani nggak sinis lagi. Tapi ... mereka tetap begitu. Bahkan ... nggak jarang bicara yang aneh-aneh ke kamu. Aku nggak ingin kamu salah paham, Mas," keluh Athana, lagi-lagi dengan ekspresi murung.

Arvian menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak kaget karena selama ini juga tahu, bahkan dirinya juga ikut menindas. Namun, malam ini dia dihampiri rasa bersalah yang amat besar. Dia menyesal dan ingin mengubah sikap buruknya di kemudian hari.

"Mas, kamu ... masih nggak percaya ya sama aku?" Athana menatap Arvian dengan lekat. Tanpa dia tahu bahwa lelaki itu sangat terpikat dengan tatapannya. Sayu, menyedihkan, tetapi juga penuh percaya diri. Sebuah tatapan yang menenangkan dan mengandung rindu.

"Aku percaya sama kamu. Nanti ... aku akan bicara dengan mereka," ucap Arvian sambil mengusap lembut puncak kepala Athana.

"Terima kasih ya, Mas. Kamu memang suami yang terbaik. Nggak sia-sia aku berkorban banyak hal demi kamu." Athana menjawab sembari mengulas senyum manis. Lantas, merebahkan kepalanya di bahu Arvian. Ternyata, lelaki itu menyambutnya dengan baik. Kini, tubuh Athana dirangkul dan diusap mesra.

Dalam posisi yang cukup intim, Arvian makin kehilangan kendali. Dia sangat menginginkan Melati, yang sudah sekian lama tidak pernah disentuh.

"Entah apa yang membuatnya berbeda. Tapi, malam ini dia terlihat cantik dan penuh percaya diri, sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Jika begini, aku sangat ingin menghabiskan malam bersamanya," batin Arvian.

"Melati!" panggil Arvian beberapa saat kemudian.

"Iya, Mas."

"Malam ini ... aku menginginkanmu. Kamu nggak lagi tanggal merah, kan?" tanya Arvian.

Athana mengangkat kepalanya sambil menggeleng, "Nggak, Mas. Tapi ... aku masih lapar."

"Ah iya maaf, aku lupa kamu tadi belum makan. Ya udah, aku pesan makanan dulu ya." Arvian menepuk keningnya, lalu bangkit dan mengambil ponsel untuk memesan makanan via online.

"Sambil menunggu makanannya datang, aku buatkan teh dulu ya, Mas," ucap Athana.

Setelah mendapat persetujuan dari Arvian, Athana beranjak dan berjalan keluar kamar. Kemudian, dia menyeduh teh yang sangat spesial untuk sang suami.

"Dengan begini ... kamu bisa semalaman menghabiskan waktu bersamaku," gumam Athana. Dia tidak hanya mencampurkan gula ke dalam teh, tetapi juga obat tidur yang masih tersedia di laci.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mirna dengan sinis. Entah sejak kapan dia datang, tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Athana.

Athana menoleh sekilas, "Menyeduh teh untuk Mas Arvian. Ibu sendiri ... ngapain ke sini? Sayur yang tadi masih kurang ya?"

"Kamu!" Mirna mencengkeram tangan Athana dengan kasar. "Awas saja ya, aku akan membalas perbuatanmu tadi!" sambungnya.

Athana tersenyum licik, "Silakan, Bu. Kalau bisa secepatnya ya, takutnya kalau kelamaan ... malah aku yang kembali mengerjaimu, kan nggak lucu."

Usai berucap demikian, Athana melayangkan tatapan tajam khas pembun*h. Mirna sempat bergidik ngeri saat melihatnya. Namun, dengan cepat dia menepis rasa itu dan meyakinkan diri bahwa barusan hanyalah kebetulan saja. Demi melupakan masalah itu, Mirna menyibukkan diri dengan membuat mie instan. Dia sudah cukup kesal dan malu untuk meminta tolong kepada pelayan.

Sementara itu, Athana membawa secangkir teh ke dalam kamar. Lantas, memberikannya kepada Arvian dengan sikap yang manis dan setengah menggoda.

Arvian tidak tahan dibuatnya. Tanpa curiga, dia langsung meneguk teh itu sampai habis tak tersisa. Athana tersenyum puas saat melihatnya, terlebih lagi saat menatap mata Arvian yang makin sayu dan akhirnya terpejam.

"Sebenarnya ... mudah saja membunuhmu sekarang, tapi tidak. Di antara semua yang ada, kamulah yang paling kejam. Jadi ... kamu akan mendapat giliran paling akhir dan paling menyiksa," batin Athana sambil menyeret tubuh Arvian dan membaringkannya di atas ranjang.

Keesokan harinya, Arvian terbangun dan mendapati dirinya sedang berbaring sambil bertelanjang dada. Arvian kebingungan karena tidak ingat sedikit pun dengan kejadian semalam. Lantas, Arvian bertanya pada istrinya.

"Mas, semalam kita melakukannya sampai dini hari. Masa kamu lupa?" Melati balik bertanya sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah.

"Jadi ... kita benar-benar melakukannya?"

"Tentu saja. Bahkan ... kamu juga mengeluarkannya di dalam. Ada kemungkinan aku akan hamil, Mas," jawab Athana. Dia mengusap-usap perutnya sambil tersenyum lebar.

Selama ini, Arvian sangat jarang menyentuh Melati dan itu pun tidak pernah mengeluarkannya di dalam. Bahkan, sejak menikah dengan Laura, Arvian sudan melupakan kewajibannya. Baru semalam, Arvian punya keinginan lagi untuk menyentuh Melati.

"Iya, semoga kamu hamil," ucap Arvian, tanpa sadar dia pun ikut tersenyum.

Mengingat Laura yang masih terus berusaha, diam-diam Arvian juga berharap benihnya akan tumbuh di rahim Melati. Baginya, siapapun yang mengandung sama saja, sama-sama darah dagingnya dan sama-sama istri sah.

"Meskipun aku lupa seperti apa pergulatan kita semalam, tapi aku percaya kamu lebih subur dari Laura. Aku harap, benih itu benar-benar tumbuh, Melati," batin Arvian.

Bersambung...

 

Terpopuler

Comments

YNa Msa

YNa Msa

hahaha

2024-01-26

0

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

ide cemerlang, semalaman. bubuk nyenyak😁

2024-01-15

1

Abizar zayra aLkiaana

Abizar zayra aLkiaana

menang banyak bgtt tu arvian😞😞
nyobak kk dan adik nya, gk sekalian parbrik nya aja bang😅😅

2023-04-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!