Athana duduk menunduk di ruang pribadi Alex. Tak ada aktivitas yang ia lakukan selain menangis dan meratapi kematian Alex. Rasanya ia masih tak percaya bahwa sang kekasih pergi secepat ini. Belum puas ia memadu kasih dengan lelaki itu, tetapi sekarang sudah dipaksa pisah oleh takdir. Ah, kisah cinta yang berakhir tragis, sangat menyedihkan.
"Alex, jangan pergi! Aku masih butuh kamu di sini. Kamu sudah janji akan merayakan anniversary kedua kita, tapi kenapa malah seperti ini?" batin Athana dengan air mata yang kembali menetes. Sakit rasanya setiap kali mengingat Alex dan semua hal tentangnya.
Saking sakitnya perasaan Athana, sampai-sampai ia tak sanggup menyaksikan acara pemakaman Alex. Dalam aturan Red, anggota yang mati dalam tugas akan dimakamkan di kawasan markas. Kematiannya akan terus dikenang oleh generasi-generasi selanjutnya. Tak terkecuali Alex, dia juga diperlakukan demikian.
"Bagaimana hidupku setelah ini, Lex?" gumam Athana di sela-sela isakan.
Setelah beberapa saat menumpahkan banyak air mata, Athana beranjak dan berjalan menuju pintu. Ia singkap tirai yang menutupinya, lantas disambut dengan hamparan tanah luas tempat pemakaman para anggota Red. Ruang pribadi Alex memang terletak di belakang, jendelanya berhadapan langsung dengan lahan kosong dan area pemakaman.
Athana menggigit bibir saat mendapati Dove, Mike, dan beberapa rekan yang lain berdiri di dekat gundukan tanah basah, yang ia yakini adalah makam Alex.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Athana berteriak seorang diri.
Tubuhnya lemas dan merosot hingga merapat dengan lantai. Di sela-sela tangis yang tak kunjung reda, Athana menunduk dan menyembunyikan wajah di antara dua lutut. Lantas, kembali menangis sejadi-jadinya.
Hampir setengah jam Athana terhanyut dalam rasa kalut. Setelah rasa lelah melanda, perlahan ia mengangkat wajah dan mengusap air mata dengan lengan baju. Dengan pikiran yang masih tak karuan, Athana menatap setiap jengkal ruangan. Sisa-sisa keberadaan Alex masih jelas terasa. Mulai dari aroma tubuh, sampai alunan suara merdu, bagi Athana masih terasa nyata. Namun jika teringat dengan kematiannya, luka yang menyayat hati rasanya makin sakit dan perih.
"Aku sangat mencintaimu, Lex," bisik Athana sambil memejam.
Sesaat kemudian, Athana kembali membuka mata dan tak sengaja melihat abu di kolong ranjang. Athana mengernyit heran, pasalnya Alex tidak pernah membakar sesuatu di dalam kamar, dan jumlah abu itu cukup banyak, jadi mustahil jika hanya bekas rokok. Lantas, apa gerangan?
"Apa itu?" batin Athana.
Karena tak ingin tersiksa rasa penasaran, Athana bangkit dan mendekati abu tersebut. Athana mencoba menyentuhnya dan tak sengaja mendapati sisa kertas yang belum terbakar.
"Tulisan ini___" Athana membelalak saat membaca sebaris tulisan yang tertera di sana. Meski hanya satu kalimat, tetapi Athana sangat kenal dengan asal muasal tulisan itu—novel Wanita yang Tersakiti.
"Setelah membakar novel ini, aku transmigrasi menjadi Melati. Dan Alex ... dia juga membakar buku ini. Artinya ... Arvian memanglah dia. Tidak! Kenapa harus begini?" Athana makin kalut setelah menyadari kenyataan itu. Sekarang dia mengerti bahwa kematian Alex secara tidak langsung terjadi karenanya.
"Aku sendiri yang membunuh dia! Tidak! Ini pasti hanya mimpi!" Athana frustrasi dan menjambaki rambutnya sendiri. Kemudian, berlari pergi dan meninggalkan ruangan Alex.
Athana tak menghiraukan sapaan rekan-rekannya. Dia terus berlari dan memasuki mobil. Lantas, ia kemudikan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Selama mengemudi, pikiran Athana kosong. Bahkan, pandangan pun sering tidak fokus karena ingatan tentang kematian Arvian kerap muncul di ingatan, hingga membuatnya lupa dengan posisinya saat ini—berkendara di jalanan. Alhasil, pengendara lain sering kelabakan karena mobilnya kerap memotong jalur.
Lima belas menit kemudian, Athana tersentak karena menabrak pengendara motor. Karena terlalu banyak melamun, ia tak sadar dengan keberadaan motor yang baru saja keluar dari halaman restoran. Tanpa sengaja Athana menabraknya dan membuatnya terjatuh. Mau tidak mau Athana turun dan menolong pengendara tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Athana.
"Hanya lecet sedikit, tidak apa-apa. Nanti kuobati kalau sudah sampai rumah," jawab sang pengendara, yang ternyata seorang lelaki muda dengan rambut kecokelatan.
"Maaf," ucap Athana.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok." Lelaki itu tersenyum lebar.
Karena tidak ada masalah serius, Athana kembali ke mobil dan bersiap pulang. Lelaki yang barusan ditabrak juga tak menahan. Dia malah membantu Athana menutup pintunya.
Setelah mobil Athana mulai melaju, lelaki itu menatapnya sambil tersenyum penuh arti. Apa yang ia pikirkan, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Pun dengan sesuatu yang telah ia lakukan terhadap mobil Athana, sekadar dirinya dan Tuhan yang tahu.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Hamimah Jamal
masih misteri. keren othor 👍
2024-01-17
1
Kendarsih Keken
siapa kah dia ??
apa ada hubungan nya dngn tokoh di bab terdahulu
2022-11-09
0
Kiki Sulandari
Siapa pria yg baru saja bertemu Athana ?.& Apa yg telah pria itu lakukan pada mobil Athana?
2022-11-07
1