Masuk Dunia Novel

"Semalam aku lagi di kamar mandi, terus semuanya gelap dan setelah itu aku tidak ingat apa pun. Kenapa aku bisa sampai di tempat ini?"

Athana masih kebingungan meski sudah cukup lama mengingat-ingat tentang semalam. Lebih membingungkan lagi, ketika dia mendapati baju tidur kumal melekat di tubuhnya. Seumur-umur, dia tidak pernah mengenakan baju tidur, apalagi yang seburuk itu.

Tak ingin berlama-lama dalam kebingungannya, Athana lekas turun dan mendekati meja yang ada di sudut ruangan. Di sana ada sebingkai foto pernikahan yang cukup besar.

"Siapa mereka?" gumam Athana.

Laki-laki dan perempuan yang ada di foto itu sangat asing. Jangankan teman lama atau saudara jauh, berpapasan sekilas di jalan pun rasanya tidak pernah.

Ketika Athana masih memandangi foto itu, tiba-tiba rambutnya menjuntai ke bawah. Sontak Athana memelotot tajam. Rambutnya berubah menjadi hitam legam, padahal biasanya cokelat terang.

"Ini tidak masuk akal! Sebenarnya apa yang terjadi?" Athana menggeram kesal dan memukuli barang-barang yang ada di sekitarnya.

Aksi Athana baru berhenti setelah melihat cermin yang ada di dekat ranjang. Tanpa pikir panjang, dia langsung ke sana dan melihat rupa dirinya.

"What?" teriak Athana dengan mulut yang menganga lebar.

Tidak ada lagi wajah cantik dan tubuh kuat khas Athana Morgant, yang ada hanyalah wajah kusam dekil dan tubuh yang tampak lemah.

"Apa ini mimpi? Tapi, aku bisa merasakan sakit." Athana mencoba mencubit lengannya dan rasanya sakit. Itu artinya, kejadian ini bukan mimpi.

Ketika Athana masih kebingungan dengan apa yang terjadi, tiba-tiba pintu kamarnya digedor kasar dari luar, diiringi teriakan melengking yang menusuk telinga.

"Cepat bangun! Kamu ingin membuat kami kelaparan, iya!" teriak suara dari luar, yang entah siapa itu.

"Mungkin dengan menemui dia, aku akan tahu ini di mana." Athana bergumam sambil melangkah menuju pintu.

Pertama kali membukanya, Athana langsung disambut dengan wajah garang dari seorang wanita paruh baya. Tatapan wanita itu tajam dan tidak bersahabat, pun dengan nada bicara, sama sekali tidak ada sopan santunnya.

"Apa maksudmu bangun sesiang ini, hah? Aku dan anakku sudah kelaparan, tapi kamu masih enak-enakan tidur. Ingat ya, tanpa menikah dengan anakku, kamu hanya akan jadi gelandangan di luar sana! Tahu diri dong, sudah mendapat untung, tapi malah ngelunjak!" hardik wanita itu.

"Oh ternyata dia mertuanya pemilik tubuh ini," batin Athana.

"Kenapa masih diam? Cepat sana masak!" sambung wanita itu sambil mendorong tubuh Athana.

Athana tersenyum miring, "Aku sedang tidak enak badan. Boleh tidak, sehari saja kamu yang masak?"

Bukannya langsung menjawab, wanita itu justru memberikan tamparan keras. Beruntung Athana sudah kerap bertaruh dengan maut, jadi tamparan itu bukan apa-apa baginya. Hanya saja, emosinya yang tidak bisa dibendung.

"Siapa pun kamu dan apa pun hubunganmu dengan pemilik tubuh ini, yang jelas aku akan membuat perhitungan. Memangnya kamu siapa, berani sekali tangan kotormu menyentuhku," batin Athana.

"Kamu lupa dengan aturan di rumah ini? Hanya aku dan putra putriku yang boleh sakit. Sementara kamu, harus selalu sehat. Di sini hanya kamu yang layak mengerjakan tugas rumah, paham!" Wanita itu memelotot makin tajam, membuat Athana makin muak dan ingin sekali menghabisinya.

"Sudah ya, Melati, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan alasanmu yang tidak penting. Sekarang, cepat masak dan cuci baju kami!" Wanita itu berbalik dan kemudian melangkah pergi. Namun, dengan cepat Athana mencekal lengannya.

"Tunggu!"

"Lepaskan tanganmu! Aku tidak sudi kamu sentuh!" bentaknya.

"Kamu memanggilku siapa tadi, Melati?" tanya Athana tanpa basa-basi.

Wanita itu tertawa, "Apa sekarang kamu pura-pura amnesia? Bahkan dengan identitasmu saja kamu lupa, begitu?"

Athana tidak menyahut lagi. Dia termenung sesaat karena merasa familier dengan nama Melati.

"Dewi Melati, novel yang kubaca semalam. Tapi, apa iya bisa masuk ke dunia novel?" batin Athana dengan jantung yang berdetak cepat.

"Kamu benar-benar menantang ya, bukannya memasak, tapi malah ngelamun. Ingat, sebentar lagi Anjani berangkat kerja, dia harus sarapan. Dan Arvian sebentar lagi juga pulang. Dia sudah lembur semalaman. Istri macam apa kamu, tidak bisa melayani suami dengan baik."

Hardikan dari wanita yang berstatus mertua itu makin menguatkan fakta bahwa dirinya sudah masuk ke dunia novel. Dalam buku Wanita yang Tersakiti, nama suami Melati adalah Arvian dan nama kakak iparnya adalah Anjani. Namun, Athana belum percaya begitu saja. Selama ini, dia memikirkan sesuatu berdasarkan teori dan logika. Sedangkan transmigrasi ke dunia novel sangat jauh dari kata itu.

"Cepat!"

Demi mencari kebenaran, Athana tak membuang waktu lagi. Dia langsung berjalan menuju dapur dan mengakhiri pertikaian dengan ibu mertuanya.

Sesampainya di dapur, Athana dikejutkan dengan keberadaan kursi plastik di sudut ruangan. Dalam novel yang dia baca, diceritakan bahwa Melati sering menangis di sana saat menyantap makanan sisa. Selama tinggal di rumah mertua, Melati memang tidak pernah diperlakukan dengan layak. Selain dianggap pembantu, makanan dan perawatannya pun tidak terjamin. Melati tidak diizinkan memegang uang, jadi tidak pernah menggunakan skin care. Baju pun hanya bekas Anjani yang dia punya dan makanan pula hanya menunggu sisa mertua serta iparnya.

Sebelum menikah dengan Arvian, Melati hanya anak yatim piatu. Sebelum meninggal, ayahnya sempat menikah lagi. Kendati warisan yang ditinggalkan cukup banyak, tetapi sudah dikuasai oleh ibu tiri dan adik tirinya. Bahkan, sekarang pun adik tiri Melati sudah menikah dengan Arvian.

"Apa benar aku masuk ke dunia novel? Ini sungguh sulit dimengerti." Athana menggeleng-geleng sambil menggigit jarinya.

Setelah cukup lama memasak, Athana mencoba membuka laci yang ada di bawah kompor. Di sana, ada kotak obat milik ibu mertua yang selama ini tidak boleh disentuh.

"Dalam novel, di sini juga tersimpan obat pencuci perut dan obat tidur. Coba lihat dulu." Athana membuka pelan kotak itu dan benar saja, sangat sesuai dengan deskripsi dalam novel.

"Benar-benar ada," gumam Athana dengan perasaan yang makin tak nyaman.

"Sudahlah, benar-benar masuk dunia novel atau tidak, yang penting aku akan membalas mereka." Athana tersenyum miring saat menaburkan obat pencuci perut ke dalam masakan, yang sebelumnya sudah disisa sedikit untuk dirinya sendiri.

Setelah selesai, Athana menghidangkannya di atas meja makan. Kemudian, memasukkan masakan miliknya ke dalam kotak makan, lalu menyelipkannya di balik baju tidur dan membawanya ke kamar.

"Bu, sarapannya sudah siap," kata Athana kepada ibu mertua.

"Kamu mau ke mana? Biasanya kan menunggu di dapur?"

"Saya mau membersihkan kamar dulu, sebelum Mas Arvian pulang," jawab Athana dengan senyuman lebar.

"Bagus. Tahu diri juga kamu."

Athana tersenyum saat mertuanya bicara sinis. Dia sudah tidak sabar menunggu orang-orang brengsek itu sakit perut dan diare.

Ketika mertuanya sudah pergi, Athana tidak sengaja melihat paket yang ada ada di atas sofa. Athana membacanya sekilas, dan nama yang tertera di sana membuatnya memijit pelipis.

"Mirna Iswara. Itu adalah nama mertua Melati, jadi benar aku telah masuk ke dunia novel," batin Athana.

 Bersambung...

 

Terpopuler

Comments

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

masih abu".

2024-01-15

1

Abizar zayra aLkiaana

Abizar zayra aLkiaana

ini mahh mertua durhake nama nya😅

2023-04-06

0

Rhina sri

Rhina sri

seru banget ihh.. Athana udah masuk dunia novel bikin penasaran😅

2022-12-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!