Kematian Anjani

Tanpa Athana duga, Arvian merosot dari tepi ranjang dan bersimpuh di dekat kakinya. Belum sempat Athana melayangkan pertanyaan, tiba-tiba Arvian sudah menundukkan kepala di pangkuannya. Entah sudah berapa kali kata maaf yang ia lontarkan, sikap Arvian seolah-olah sangat menyesali perbuatannya.

"Kenapa harus Laura?" bisik Athana. Dia akan mencoba masuk dalam adegan yang dibuat Arvian. Sebagai Melati yang sangat mencintai suami, dia wajib sedih, menangis, dan terlihat terpuruk. Karena pengkhianatan adalah luka tertinggi dalam cinta.

"Awalnya aku hanya mengikuti desakan Ibu. Dia yang memaksaku menikahi Laura, aslinya aku sangat berat, Sayang. Karena hanya kamu, wanita yang benar-benar kucintai dengan tulus."

Jawaban Arvian membuat Athana mencebik. Dalam novel yang dia baca, bukan hanya Mirna yang menginginkan Laura, melainkan juga Arvian. Terbukti dari sikapnya yang sangat mengabaikan Melati, bahkan selalu menyudutkan istrinya itu dalam hal apa pun.

"Marahi dan maki aku, kalau perlu tampar sekalian. Aku layak mendapatkan itu, Sayang. Tapi, satu hal yang kupinta. Tolong, tetaplah di sisiku! Aku ingin menjadi suamimu sampai akhir hayatku." Arvian kembali bicara. Suaranya makin tertahan, seakan-akan ada sesak yang benar-benar melanda jiwanya.

Athana melepaskan genggaman Arvian dan kemudian membuang muka. Dia pura-pura menangis sambil menutup mulut, membuat Arvian tertunduk dan makin merasa bersalah.

"Sayang___"

"Aku tidak menyangka kamu akan setega ini, Mas. Laura adalah adikku dan kamu ... menikahinya tanpa sepengetahuanku. Selama ini kamu anggap aku apa, Mas?" pungkas Athana dengan air mata yang mengalir deras. Dia ingin meyakinkan Arvian bahwa dirinya benar-benar terluka.

"Maafkan aku, Sayang. Aku khilaf karena terlalu menuruti perkataan Ibu. Sekarang ... aku sudah sadar bahwa itu salah. Aku akan memperbaiki keadaan ini. Tolong, Sayang, beri aku kesempatan satu kali lagi," pinta Arvian diiringi tatapan sendu.

Setelah cukup lama terdiam, Athana beranjak dan membelakangi Arvian.

"Aku bisa memaafkan kamu, Mas, tapi nanti jika Laura sudah kamu ceraikan. Selama dia masih menjadi istrimu, aku belum bisa memberimu maaf," ucapnya.

"Aku akan melakukannya, Sayang. Akan kubuktikan padamu bahwa cintaku ini tidak main-main, dan kemarin ... hanyalah kekhilafan sesaat." Arvian turut bangkit sambil bicara serius.

Satu detik setelah Athana menoleh, Arvian langsung memeluknya dengan erat. Usapan lembut serta bisikan hangat membuat Athana makin keheranan. Dia bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Arvian berubah drastis, sangat bertolak belakang dengan alur novel yang dia baca.

"Ah, entahlah. Apa pun alasan yang ada di balik sikapmu, yang jelas aku akan tetap mencari keadilan untuk Melati. Mungkin dengan begitu aku juga bisa kembali ke dunia nyata," batin Athana.

_____________

Esok pun tiba. Seperti biasa, Athana bangun pagi dan memasak menggantikan Mirna. Dia membuat olahan yang cukup mewah, ada rendang, ayam kecap, sup udang, dan capcay. Semuanya dalam porsi yang besar, bahkan cukup untuk makan sepuluh orang.

"Kenapa masak sebanyak ini, Sayang?" tanya Arvian ketika sudah berkumpul di ruang makan.

"Bukan apa-apa, Mas, ya sekali-kali lah kita memanjakan perut. Walau hanya masakan rumahan, tapi ... jika kita nikmati bersama rasanya tidak akan kalah dengan restoran bintang lima," jawab Athana sambil tersenyum lebar.

Arvian tersenyum masam, kalimat yang diucapkan Athana membuatnya merasa bersalah. Selama ini, dia tak pernah mengajak istrinya itu jalan-jalan. Jangankan belanja dan makan enak di restoran mahal, sekadar ke warung pinggir jalan saja tidak pernah.

"Maaf ya, selama ini aku sering sibuk. Jadi, tidak pernah mengajakmu jalan-jalan. Tapi, janji akan kuusahakan dalam waktu dekat," kata Arvian yang lantas ditanggapi dengan anggukan pelan.

Di depan mereka, Anjani mengepal erat. Dia merasa kesal karena hubungan Arvian dan Melati makin membaik. Dia juga kesal karena Melati malah masak banyak, padahal ibunya belum ditemukan dan mereka masih dalam keadaan sedih.

"Setelah ini, aku akan membuat perhitungan denganmu!" batin Anjani dengan mata yang menicing.

Tak lama kemudian, mereka bertiga menyelesaikan makan paginya. Arvian langsung berangkat kerja, sedangkan Anjani masih duduk di tempat semula. Dia menunggu Athana kembali ke sana, yang sekarang masih mengantar Arvian ke teras.

"Kamu jangan melunjak, Melati! Apa maksudmu masak sebanyak ini dan kemudian mengajak Arvian jalan-jalan? Kamu tahu kan Ibu masih menghilang. Kamu sengaja bersenang-senang di atas musibah yang menimpa kami, iya? Jangan mentang-mentang kamu bisa marah dan menindas, jadi bertindak seenaknya. Dengar baik-baik ya, mulai sekarang aku nggak takut lagi sama kamu! Aku nggak akan sudi mendengarkan perintahmu!" bentak Anjani dengan penuh emosi. Dia mencaci Athana yang baru saja menginjakkan kaki di ruang makan.

"Aku juga ingin bersenang-senang, bosan loh kalau di rumah saja. Dan ... Ibu tidak akan kembali. Jadi, tidak mungkin aku menunggunya," jawab Athana dengan santainya.

"Apa maksudmu? Kamu tahu di mana Ibu?"

"Sangat tahu." Athana mendekati Anjani sambil tersenyum miring. "Dia sudah tertimbun tanah," sambungnya.

Anjani bangkit dan melangkah mundur menjauhi Athana. Dia sangat takut, sampai-sampai tubuhnya gemetaran. Dia melihat aura pembunuh dalam sorot mata Athana. Sebuah hal yang selama ini tidak pernah terlihat dalam diri adik iparnya.

"Jangan mendekat!" teriak Anjani.

"Kenapa? Apa kamu tidak ingin tahu kenapa Ibu bisa tertimbun tanah?" Athana terus mendekati Anjani. Matanya pun masih menatap tajam dan bibir pula tak henti mengulas senyum miring.

"Kamu yang membuat Ibu menghilang?"

"Iya. Aku yang membunuhnya. Sebagai mertua dia terlalu kejam, jadi aku mengantarnya ke alam lain."

"Kau iblis! Aku akan mengadukanmu pada Arvian. Kamu akan dilaporkan pada polisi dan membusuk di penjara!" teriak Anjani setengah frustrasi. Rasanya ia tak punya hati saat tubuhnya merapat di dinding dan tak bisa bergerak lagi.

"Lakukan saja jika kamu bisa. Aku pun akan melakukan apa yang kubisa. Mengantarmu menyusul Ibu misalnya." Meski suara Athana terkesan santai, tetapi gerakan tangannya membuat lawan lemas seketika. Tangan yang sebelumnya tampak lemah, kini dengan tangguh mengambil kapak dari balik baju longgarnya.

"Berhenti, Melati! Kamu jangan gila! Kamu bisa dipenjara!" teriak Anjani.

"Itu kan kalau ketahuan, kalau tidak, ya aman."

"Aku minta maaf, aku___"

"Kamu pikir kata maaf bisa mengembalikan waktu dan keadaan?" Athana mencengkeram baju Anjani. "Setelah sekian lama kalian memperlakukan aku seperti budak, sekarang dengan mudahnya meminta maaf. Kamu kira itu pantas, hah!" sambungnya dengan nada tinggi.

"Aku ... aku___"

Suara Anjani terputus seiring nyawa yang mulai meregang. Dalam satu kali tebasan, leher mulus nan jenjang milik Anjani sudah terluka parah. Darah bersimbah seiring tubuh yang ambruk tak berdaya. Kesakitan yang dialami Anjani dalam detik-detik terakhirnya membuat Athana bernapas lega dan tersenyum puas. Sedikit demi sedikit dendam Melati telah berhasil ia balaskan.

Sama seperti Mirna, mayat Anjani juga dikubur di halaman belakang. Bekas galiannya ditutup rapat dengan tanaman hingga tak ada bekas sama sekali.

Malam harinya, Athana merangkai kebohongan untuk menutupi kepergian Anjani. Kepada Arvian dia mengatakan bahwa Anjani pergi ke rumah temannya. Arvian pun tak mempermasalahkan hal itu. Lelaki itu tetap santai meski kakaknya pergi dari pagi hingga malam.

"Sayang, kamu sangat cantik malam ini," rayu Arvian ketika mereka berada di dalam kamar.

Athana masih diam. Meski tak menepis tangan Arvian yang membelai lembut wajahnya, tetapi bibirnya belum mengucap kata.

"Tadi aku sudah menghubungi Laura dan mengatakan tentang perpisahan. Dia menolak, tapi tak menyurutkan niatku untuk bercerai. Sayang, kupastikan ke depannya hanya kamu satu-satunya istriku," ujar Arvian, memberikan penjelasan atas kesungguhannya.

"Kamu benar-benar memutuskan dia demi aku, tapi sayangnya ... aku tidak tersentuh dengan sikapmu. Sejauh apa pun kamu meminta maaf dan berubah, aku tidak akan luluh. Aku sudah punya kekasih yang jauh lebih sempurna darimu. Jadi, daripada menyerah dan bertahan di sini, aku lebih memilih menghabisimu dan kembali ke duniaku," batin Athana di balik senyum manisnya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

YNa Msa

YNa Msa

Senjata ny pake kapak Ngeri klu Nampol kepala ny tu

2024-01-26

0

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

gimana caranya athana kembali ke dunia nyata, dan hanya othor yg tau😁

2024-01-15

1

Rhina sri

Rhina sri

gimana Athana bisa masuk dunia nyata.. sedangkan dia terjebak dari dunia novel🤣🤣🤣

2022-12-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!