"Kenapa kamu diam saja, Arvian? Kamu tidak percaya dengan Ibu?" tanya Mirna. Dia makin emosi karena anak lelakinya hanya bergeming sambil memandangi Melati.
"Kamu harus kasih pelajaran untuk dia! Kamu nggak rela kan dia menindas kami?" timpal Anjani juga dengan emosi.
Namun, dalam beberapa menit Arvian masih tetap diam. Dia hanya memandangi Melati dari ujung kaki hingga ujung kepala. Istrinya itu sedang menunduk sembari meremas baju tidur kusam yang membungkus tubuhnya.
"Dia ... mana mungkin bisa menindas Ibu dan Kak Anjani," batin Arvian tanpa mengalihkan tatapan.
Saat ini, sikap dan ekspresi Melati memang sangat lemah, seolah-olah dia adalah wanita yang tak bisa melawan sedikit pun. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, sangat galak dan kejam. Selama berprofesi sebagai pembunuh bayaran, Athana memang kerap berakting. Jadi, tak heran jika sekarang pandai berpura-pura.
"Melati___"
"Maafkan aku. Aku memang salah karena sudah lancang duduk di sini dan hendak makan bersama Ibu. Aku hanya lapar, Mas, sejak tadi siang belum makan. Cucian dan setrikaan hari ini cukup banyak, aku capek, jadi cepat lapar," pungkas Athana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Heh, apa katamu! Hari ini kamu tidak melakukan apa pun, masak pun aku dan Anjani yang melakukannya. Jangan pintar mengadu kamu, Melati!" bentak Mirna. Matanya memelotot tajam ke arah Melati. Dia tak habis pikir menantu lemahnya itu akan memutarbalikkan fakta.
"Maaf, Bu, aku tidak bermaksud mengadu. Aku hanya tidak ingin Mas Arvian salah paham." Athana makin menunduk. "Soal masakan ini, aku tidak minta lagi, Bu. Aku ... aku akan memasak ulang. Ibu dan Kak Anjani, tolong tunggu sebentar ya," sambungnya dengan suara yang mengiba.
"Melati, kamu jangan mengada-ada ya! Jangan sok lemah di hadapan Arvian! Jangan___"
"Kak, sudah." Arvian memotong ucapan Anjani.
"Kenapa? Jangan bilang kamu lebih percaya dengan omongannya!" bentak Anjani.
"Kak, tolong sudah ya. Aku akui memang aku yang salah karena sudah lancang mau makan bersama kalian. Tapi, tolong jangan katakan yang tidak-tidak pada Mas Arvian. Dia suamiku, aku tidak ingin berselisih dengannya," ucap Melati.
Mirna sangat murka saat mendengarnya. Dia benci dengan sikap Melati yang pandai berpura-pura, bahkan hampir membuat Arvian percaya. Dengan penuh amarah, Mirna meraih gelas yang masih kosong dan melemparkannya ke arah Melati. Tepat sasaran, gelas itu mendarat di dada Melati karena dia sengaja tidak menghindar.
Bukannya marah apalagi membalas perbuatan Mirna, Melati hanya menangis dan makin menunduk. Dia bersikap lemah seperti biasa untuk mengambil simpati Arvian, sekaligus meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya masih Melati yang lama.
"Sudah, jangan menangis! Aku percaya ini bukan salahmu." Arvian mendekati Melati dan merangkul tubuhnya dengan lembut.
"Arvian, apa-apaan kamu!" teriak Mirna.
"Bu, aku tahu Melati nggak salah. Selama ini kan memang dia yang mengerjakan semua tugas rumah, termasuk memasak. Aku yakin hari ini pun sama. Jadi, Ibu dan Kak Anjani jangan bicara yang aneh-aneh untuk memfitnah Melati. Sudah cukup capek dia melayani kita, tolonglah jangan dipersulit lagi," kata Arvian dengan tenang.
Entah mengapa emosinya menguar dengan sendirinya saat melihat Melati ditindas ibu dan kakaknya. Di sudut hati yang paling dalam, Arvian merasa bersalah karena tidak adil dengan seorang istri yang sebaik Melati.
"Kamu membela dia dan menyalahkan Ibu?" Mirna menunjuk wajah Melati dengan napas yang memburu. Sungguh banyak kejadian tak terduga hari ini, mulai dari sikap Melati yang mendadak kejam dan kini Arvian yang tiba-tiba luluh dengan Melati. Ada apa ini?
"Bukan soal bela membela, Bu. Aku hanya kasihan dengan Melati. Bagaimanapun juga dia adalah istriku. Dia sudah mengabdi di keluarga ini dengan baik, jadi alangkah baiknya kita juga menghargai sikapnya," jawab Arvian masih dengan nada tenang.
"Kamu gila, Arvian! Kamu tega memarahi Ibu hanya demi istrimu yang tidak berguna ini!"
"Bu, sudah, Bu. Mungkin Arvian lagi kecapekan, makanya ngelantur. Jangan emosi lagi ya, Bu," ucap Anjani menenangkan ibunya.
Arvian melihat mereka sambil menggeleng-geleng. Lantas memanggil pelayan dan menyuruhnya membereskan kekacauan di meja makan. Setelah itu, Arvian menggenggam tangan Melati dan mengajaknya ke kamar. Malam itu, untuk pertama kalinya Arvian membela Melati dibandingkan ibu dan kakaknya.
"Mas, apa nggak apa-apa kamu bersikap kayak gitu sama Ibu?" tanya Athana ketika mereka sudah tiba di kamar.
"Jangan bahas itu," jawab Arvian dengan cepat. Kemudian, dia melangkah menuju kursi yang ada di dekat jendela dan merokok di sana.
"Sial, ada apa denganku?" batin Arvian dengan kesal.
Dia merasakan sesuatu yang berbeda dalam sosok sang istri. Melati, wanita lemah dan bodoh yang selama ini tidak memiliki daya tarik, malam ini cukup mencuri perhatian Arvian. Dia yang semula ingin marah dan membuat perhitungan terkait masalah Laura, tiba-tiba mati langkah dan hanya bisa diam. Bahkan jika dituruti, kata hatinya sangat ingin merayu Melati layaknya suami istri pada umumnya. Namun, Arvian masih tahu gengsi untuk melakukan itu.
"Dia seperti memikat, ada apa sebenarnya? Apa karena tadi aku datang pas dia ditindas, jadi aku sangat kasihan? Atau mungkin karena hari ini dia sedang berdandan? Tapi ... wajahnya masih polos seperti biasa. Lalu, kenapa?" Arvian terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Sementara itu, Athana duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Arvian yang tampak gelisah. Sedikit banyak wanita itu tahu apa yang dirasakan Arvian.
"Kamu memang harus percaya padaku, dan lebih baik lagi bisa terpesona. Dengan begitu, lebih mudah bagiku untuk membunuhmu," batin Athana sambil tersenyum licik.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
YNa Msa
baru gitu Aja udah Sedikit Berubah Sampe Lupa tujuannya, Gmn klu udah dandan Cantik
2024-01-26
0
Hamimah Jamal
pandai bersandiwara.👏👏
2024-01-15
1
Rhina sri
ngakak banget sumpah.. athana bisa juga bersandiwara🤣🤣🤣
2022-12-01
1