Hari itu, Laura tak kunjung pulang. Dia berdiam diri di rumah Arvian sampai sore hari. Akan tetapi, tidak menunjukkan kehadirannya kepada Melati. Sepanjang hari dia hanya berada di dalam kamar Anjani. Makan dan minum pun, ia lakukan di sana.
Bukan tanpa alasan Laura melakukan itu. Selain untuk menemui Arvian, dia juga takut jika sendirian di rumahnya. Kebetulan hari ini ketiga asistennya sedang bantu-bantu di rumah ibunya yang baru saja direnovasi. Masalah teror memang belum ia ceritakan kepada sang ibunda.
"Makan dulu, sebentar lagi Arvian pasti pulang!" ujar Anjani sambil menyodorkan satu nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Terima kasih ya, Kak." Laura tersenyum. "Mmm, Melati nggak curiga kan kalau aku ada di sini?" sambungnya.
"Nggak. Habis menyiapkan makan malam, dia kembali lagi ke kamar."
"Untunglah." Laura menghela napas lega.
Tak berselang lama, Arvian pulang dan langsung menuju kamar. Anjani dan Laura hanya mengintip dari balik dinding. Sekitar setengah jam kemudian, Arvian dan Melati keluar kamar. Mereka bersama-sama menuju ruang makan. Anjani dan Laura masih setia mengintip gerak-gerik mereka.
"Aku akan bergabung dengan mereka dan nanti kusuruh Arvian menemuimu di kamar," bisik Anjani.
"Iya, Kak."
Setelah Laura kembali ke kamar, Anjani keluar dari persembunyian dan berjalan menuju ruang makan. Dia duduk di depan Melati, si samping Arvian.
"Ibu masih belum ketemu, bahkan pencarian polisi belum ada kemajuan," ujar Anjani sambil mencentong nasi.
Arvian menatap kakaknya sekilas, "Kita sabar dulu, Kak. Aku yakin hasilnya tidak akan mengecewakan."
Anjani memutar bola mata. Tanggapan Arvian sangat santai, seolah-olah yang hilang bukanlah ibu kandungnya.
"Entah kamu masih adikku atau bukan, sikapmu sangat asing dan nyaris nggak kukenali," batinnya.
Di sisi lain, Athana pun memikirkan hal yang serupa. Makin ke sini, sikap Arvian makin abai dengan keluarga dan istri mudanya. Sebuah sikap yang sangat kontras dengan alur novel yang seharusnya.
"Apa sebesar itu pengaruhku dalam hidupnya? Tapi, kenapa bisa? Aku masih Melati, istri yang dia benci. Kalaupun sekarang Melati lebih kuat dan lebih percaya diri, tetapi perubahan yang sedrastis ini, rasanya mustahil," batin Athana.
Alhasil, makan malam kala itu sangat hening, hanya denting sendok dan kecapan lembut yang terdengar samar-samar.
Usai makan malam, Athana membawa peralatan yang kotor ke dapur. Dia sengaja memberikan ruang untuk Arvian dan Anjani bicara empat mata. Athana tahu dengan kehadiran Laura di rumah itu, hanya saja dia pura-pura bodoh demi masuk dalam permainan mereka.
"Setelah ini datang ke kamar Kakak, ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Anjani. Pelan, tetapi terkesan tegas.
"Bicara apa sih, Kak? Memangnya nggak bisa di sini aja?" Arvian menanggapinya dengan asal.
"Aku nggak menerima penolakan, Arvian!" Anjani bangkit sambil melayangkan tatapan tajam.
Arvian mengembuskan napas kasar. Mau tidak mau dia menuruti keinginan kakaknya. Meski dengan terpaksa, dia ikut melangkah menuju kamar Anjani.
Sesampainya di sana, Arvian dibuat kaget dengan kehadiran Laura, yang tiba-tiba memeluknya dengan erat sambil mengadu atas rasa takutnya.
"Aku takut, Mas. Tulisan tangan itu persis seperti punya Melati. Aku khawatir dia sudah mengetahui hubungan kita dan bermaksud mencelakaiku. Aku harus bagaimana, Mas?" rengek Laura tanpa melepaskan pelukan.
Arvian sedikit jengah. Menurutnya, sikap Laura sangat berlebihan, apalagi saat menuduh Melati, konyol sekali. Wanita lemah dan pendiam seperti Melati, mana bisa melakukan hal sekejam itu.
"Jangan mengada-ada, Laura. Nggak mungkin Melati melakukan itu. Dia selalu di rumah, nggak pernah keliaran ke rumah kamu. Tolong ya, aku dan Kak Anjani sudah bingung dengan hilangnya Ibu. Kamu jangan menambah bebanku." Arvian melepaskan pelukan Laura dan kemudian duduk di sofa. Pandangannya menerawang jauh, menyiratkan hal lain tampak asing bagi Anjani dan Laura.
"Mas, kok kamu jadi berubah gini sih? Aku beneran diteror, aku___"
"Hanya bangkai tikus, kan? Pasti itu hanya tetangga iseng, bukan orang yang sengaja nyelakain kamu. Udah dewasa, jangan berlebihan!" pungkas Arvian tanpa menatap Laura.
"Kamu tega ya, Mas! Aku akan pulang aja ke rumah Ibu kalau kamu kayak gini!" gertak Laura.
"Pulang aja," jawab Arvian, sungguh di luar dugaan.
"Arvian!" bentak Anjani.
"Sudah, Kak. Dia memang berubah, bukan Mas Arvian yang dulu lagi." Laura menyambar tas selempangnya sambil mengusap setetes air mata yang mulai merembas keluar.
"Aku pulang," sambung Laura dengan suara yang sedikit serak.
"Laura! Tunggu, Laura!"
"Udah, Kak, biarin aja," kata Arvian yang lantas membuat Anjani berang.
"Kamu benar-benar gila, ya! Laura itu istri kamu. Dia sedang diteror, bisa-bisanya kamu menyepelekan kayak gini. Sekarang, kejar dia!" perintah Anjani dengan tegas.
"Nggak mau. Aku mau ke kamar aja."
Bukan lagi jawaban yang Anjani layangkan, melainkan tamparan keras. Dia sudah muak dengan sikap Arvian yang di luar nalar.
"Sejak Ibu hilang sikapmu makin ngaco, Arvian. Kamu selalu membela Melati, padahal bisa saja dia yang ada di balik semua ini. Dia___"
"Cukup!" bentak Arvian sambil beranjak. "Melati nggak salah, Ibu aja yang bodoh dan nggak ngerti pulang!"
Anjani menganga lebar mendengar bentakan Arvian, yang dilanjut dengan langkah kasar keluar dari kamar. Ada apa dengan adiknya?
Pada saat Anjani masih bergeming dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Arvian berjalan cepat menuju kamarnya. Di sana, dia langsung memeluk Athana yang sedang merapikan ranjang.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Athana dengan suara lembutnya.
"Maafin aku, Sayang. Selama ini aku banyak salah, bahkan kesalahan terfatal pun sudah kulakukan. Tapi, kali ini benar-benar menyesal. Aku sungguh minta maaf dan janji tidak mengulanginya lagi. Aku akan memperbaiki semuanya, Sayang. Tolong kamu jangan marah ya? Tolong jangan tinggalkan aku!" jawab Arvian.
Athana tertegun, lantas berbalik dan menatap sepasang mata Arvian dengan lekat. Ada titik-titik cinta yang bersarang dalam manik legamnya, sebuah titik yang sering Athana lihat dalam bola mata Alex. Rupanya, Arvian benar-benar luluh dengannya.
"Kamu adalah suami terbaik, Mas. Tidak perlu minta maaf seperti ini. Aku cukup bahagia menjadi istrimu," ucap Athana diiringi senyuman manis.
"Aku tidak sebaik itu, Sayang. Aku sudah ... sudah ... sudah mengkhianatimu," ujar Arvian dengan lirih.
Athana terkejut. Pikirannya berhenti sejenak dan hanya terarah pada pengakuan Arvian.
"Selama ini, aku menikah diam-diam dengan Laura, adik tirimu. Aku bahkan membelikan rumah dan mobil untuknya. Aku memperlakukan dia lebih baik darimu. Maafkan aku, Sayang. Aku sangat menyesali ini," sambung Arvian.
Athana kesulitan menelan ludah. Dia tak habis pikir dengan tindakan Arvian yang begitu mudahnya mengungkap rahasia terbesar. Apakah dirinya memang sosok yang istimewa? Entahlah.
"Sayang, aku mohon jangan marah. Aku siap menceraikan Laura. Aku akan menjadikan kamu satu-satunya istriku. Tolong maafkan aku ya, Sayang," pinta Arvian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Cerita ini sudah melenceng jauh dari alur yang pernah kubaca, entah bagaimana penyelesaiannya nanti. Tapi ... apa pun itu, yang jelas dendam Melati harus tuntas," batin Athana.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
nuke
apa mungkin alex ikut transmigrasi wkwkwwk
2023-03-14
0
Rhina sri
arvian udah bucin sm Athana 😂
2022-12-02
1
annin
Ya begitulah kalau udah cinta, jadi rada2 ....🤭
2022-11-11
0