Kematian Laura dan Kecurigaan Arvian

Di dalam kamar yang luas dengan dominan warna biru, Laura duduk di sofa dengan perasaan yang berantakan. Sejak pagi-pagi sekali dia sudah dihantui teror. Lagi-lagi bangkai tikus dengan tulisan ancaman.

Laura tak tahu lagi harus bagaimana. Anjani tak ada kabar sejak kemarin, sedangkan Arvian malah mengatakan perpisahan. Entah pesona seperti apa yang digunakan Melati, yang jelas Arvian sekarang benar-benar bertekut lutut padanya.

"Aku nggak bisa kayak gini terus. Aku harus menemui Mas Arvian dan membicarakan hal ini dengan serius. Ya, aku harus bicara dengannya." Laura bangkit dan mengambil tas selempang miliknya.

Kemudian, dia keluar kamar dan dengan langkah cepat menuju garasi. Tak lupa tulisan ancaman yang ada di paket juga ia bawa sebagai bukti.

"Mudah-mudahan dengan ini Mas Arvian nggak lagi membahas perpisahan. Aku nggak rela jika kami cerai dan dia lebih memilih Melati. Dia nggak pantas untuk Mas Arvian," gumam Laura sambil melajukan mobilnya.

Karena rasa takut dan panik, Laura tak sabar untuk segera tiba di kantor Arvian. Akhirnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Awalnya, semua berjalan lancar. Dengan lincah Laura mengemudikan mobilnya dan mendahului pengendara lain yang tidak secepat dirinya. Namun, ketika hampir tiba di kantor Arvian, Laura mengalami nahas. Dia melaju sangat kencang dan hilang kendali, mobilnya menabrak pembatas jalan dan terguling. Laura mengalami luka parah, dan karena posisinya yang terjepit dia terlambat diselamatkan. Laura mengembuskan napas terakhirnya sebelum dibawa ke rumah sakit.

"Kasihan sekali dia, mengalami hal setragis ini di usia muda."

"Luka dan darahnya sangat banyak, aku tidak tega melihatnya."

Komentar orang-orang yang ikut berkerumun menolong Laura.

Jauh di belakang kerumunan itu, seorang wanita tersenyum puas di balik masker hitamnya. Siapa lagi kalau bukan Athana. Sudah berhari-hari dia bekerja sama dengan tetangga samping rumah. Dengan iming-iming uang yang ia dapat dari simpanan Mirna, Athana berhasil menjerat satu lelaki untuk melancarkan aksinya. Setiap hari, lelaki itulah yang mengantar paket teror ke rumah Laura. Hari ini, dia pula yang mencarikan mobil rental untuk Athana. Beruntung sekali Athana membaca secara rinci alur novel yang kini ia perani, sehingga tahu persis di mana letak uang dan perhiasan milik Mirna.

"Selamat tinggal, Adik. Semoga kamu betah di alam baka," batin Athana sambil membalikkan badan dan kembali ke mobil.

Dia tersenyum miring saat menatap tulisan ancaman yang serupa dengan yang ia kirim untuk Laura. Tadi, ketika mereka berada di lampu merah, Athana menurunkan kaca mobil dan menunjukkan tulisan itu. Kebetulan, kaca mobil Laura juga terbuka. Athana mengatur strategi sedemikian rupa untuk menjajarinya saat berhenti. Berhasil. Laura tersentak kaget dan kabur secepat mungkin tanpa memikirkan konsekuensi, akhirnya mobil hilang kendali dan nyawanya melayang.

"Pengkhianat-pengkhianat seperti kalian memang pantas mati," gumam Athana sembari menghidupkan mesin mobil.

____________

Sehari setelah melenyapkan Laura, Athana kembali menyusun rencana untuk melenyapkan Arvian. Dia sudah tak sabar menuntaskan dendam Melati dan kembali ke kehidupan nyata.

Saat ini, malam sudah menyapa. Athana dan Arvian duduk bersama di tepi ranjang. Namun, mereka tak berbincang atau bercanda. Arvian lebih banyak merenung, memikirkan kematian Laura yang cukup mendadak. Bahkan, dia tak sempat menghadiri pemakamannya. Arvian sibuk bekerja sampai tak sempat memegang ponsel, alhasil ia mendapat kabar ketika sudah malam, ketika pemakaman sudah berakhir dan yang tertinggal hanyalah tangis kehilangan di rumah duka.

"Kamu masih memikirkan Laura ya, Mas? Kamu belum bisa mengikhlaskan dia?" tanya Melati setelah keduanya terdiam cukup lama.

"Bukannya tidak ikhlas, Sayang, aku hanya belum percaya jika dia pergi secepat ini. Ditambah lagi Ibu dan Kak Anjani yang entah ke mana, pikiranku kacau," jawab Arvian berterus terang.

Setelah melihat kematian Laura yang cukup tragis, Arvian mulai berpikir lain. Dia yang semula abai, mendadak mengkhawatirkan kondisi ibu dan kakaknya. Arvian mulai berpikir bahwa ketiga kejadian itu saling berkaitan dan berhubungan dengan Melati. Dugaan itu diperkuat dengan tindakan Melati saat ini, yang sama sekali tidak ikut berduka di rumah Laura.

"Harusnya aku sadar jika di hatimu hanya ada nama Laura, Mas. Karena jika cinta itu ada untukku, tidak mungkin kamu menikahinya," ratap Athana sambil menunduk, seolah-olah bersedih akan sikap Arvian.

"Sayang, bukan begitu maksudku. Aku hanya ... hanya___"

"Padahal, hari ini aku sudah berdandan. Kukenakan baju tidur terbaik yang cukup terbuka, juga kugerai rambut seperti yang kamu suka. Kupikir ... aku akan menyenangkanmu, tapi sepertinya tidak perlu." Athana memungkas ucapan Arvian sambil beranjak dari duduknya.

Ketika Athana akan melangkah pergi, Arvian menahan lengannya. Lantas memeluknya dengan erat, juga mencium puncak kepala.

"Maafkan aku, Sayang. Aku tadi hanya terbawa suasana setelah melihat banyak saudara yang menangis di sana. Aku ... juga menginginkanmu, kita bersenang-senang malam ini," ucap Arvian dengan sedikit ragu. Sesungguhnya, dia merasa kacau dan tak ingin bercinta. Namun, ucapan Athana barusan cukup menggelitik dan tanpa sadar membangkitkan hasratnya.

Athana tersenyum lebar karena rencananya mulai berjalan sempurna. Lantas, dengan gerakan lembut Athana melepas satu demi satu kancing kemeja Arvian, kemudian mengusap mesra dada bidang yang mulai terpampang.

Arvian memejam, menikmati sentuhan tangan sang istri yang hangat dan nikmat. Untuk sesaat, ia melupakan kejadian-kejadian janggal yang berkaitan dengan orang-orang terdekat.

"Aku sangat mencintaimu, Mas," bisik Athana sambil memutari tubuh Arvian, hingga akhirnya ia berhenti di dekat punggung. Athana memeluk mesra dari belakang sembari tetap membelai dada Arvian.

Tak lama kemudian, Arvian makin terbuai. Hasratnya sudah di ujung dan meronta untuk dilepaskan. Namun, pada detik yang sama Athana malah membungkam hidung dan mulut Arvian. Dia juga mengunci gerakan lelaki itu agar tidak kabur. Alhasil, Arvian hanya meronta sesaat dan kemudian tidak sadarkan diri setelah menghirup aroma yang menyengat.

"Permainan baru dimulai," ucap Athana. Senyumnya terukir licik saat melihat tubuh Arvian tergeletak di lantai.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

YNa Msa

YNa Msa

Athena kaya pembunuh berantai

2024-01-26

0

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

waah tenaga athana kuat juga ya.

2024-01-17

1

Rhina sri

Rhina sri

kereeen athana bisa menyelesaikan semuanya sendiri😅

2022-12-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!