Athana mengerjap pelan sambil mengangkat tangan, guna menghalau cahaya yang cukup menyilaukan. Beberapa saat kemudian, ia membuka mata dengan sempurna. Pada saat itu pula ia mengernyit heran. Bukan kamar sempit lagi tempatnya berpijak saat ini, melainkan kamar mandi yang mewah dan luas.
"Apa yang terjadi?" gumam Athana sembari menatap ke sekeliling. Lantas, ia pun tersadar bahwa tempat itu adalah kamar mandi di kediamannya.
"Aku sudah pulang, artinya___"
Athana langsung beranjak dan mengabaikan rasa nyeri yang mendera di sekujur tubuh. Dia berlari keluar dan menghambur ke ranjang. Satu benda yang ia cari adalah ponsel.
"Semoga Alex baik-baik saja," batin Athana.
Saat ini, jarum jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Tanggal dan hari pun masih sama seperti sebelumnya. Ternyata perjalanan Athana di dunia novel tidak menghabiskan waktu sedetik pun meski rasanya di sana berhari-hari.
Ketika Athana mencari nomor Alex di riwayat panggilan, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Johan. Perasaan Athana mulai tak nyaman, lantas ia menerima panggilan tersebut dengan tergesa-gesa
"Athana ... cepat ke markas!" perintah Johan ketika sambungan telepon sudah terhubung.
"Ada apa, Tuan?" Athana bertanya cepat. Dia menangkap sesuatu yang buruk di balik perintah Johan. Suara lelaki itu tegas, tetapi gemetaran, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menimpa.
"Alex," jawab Johan dengan pelan, nyaris seperti bisikan.
"Ada apa dengan Alex?" Jantung Athana berdetak cepat. Bayang-bayang wajah Arvian kembali melintas dalam ingatan, dan lagi-lagi Athana ketakutan.
"Dia gagal menyelesaikan misi. Sekarang ... sedang terluka dan dirawat di markas." Jawaban Johan membuat Athana mengepal erat. Kekhawatirannya makin memuncak, perasaan dan pikiran hanya dipenuhi prasangka-prasangka buruk.
"Saya akan segera ke sana. Tapi, boleh saya tahu bagaimana kondisinya?" Tanpa menjauhkan ponsel dari telinganya, Athana berjalan menuju meja. Dengan gerakan cepat ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar kamar.
"Kondisinya cukup buruk. Cepatlah ke sini!" jawab Johan.
Tanpa memikirkan sopan santun, Athana mengakhiri sambungan telepon dan mempercepat langkah kakinya menuju garasi. Di sana Athana langsung masuk ke mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.
"Alex, kamu udah janji untuk selalu baik-baik saja. Kamu juga janji untuk merayakan anniversary kedua kita. Jadi, kamu tidak boleh kenapa-napa, atau aku akan marah karena kamu gagal memberiku hadiah," kata Athana sembari menginjak pedal gas. Dia melaju kencang dan nyaris mencapai batas maksimal.
Jarak rumah dan markas yang cukup jauh hanya ditempuh dalam waktu yang singkat. Kabar buruk tentang Alex membuat Athana menggila dalam berkendara.
"Parkirkan dengan benar!" perintah Athana pada penjaga. Kemudian, ia berlari memasuki markas dan menuju ruang medis.
Di sana sudah banyak orang yang berkerumun, termasuk Jesselyn Smith—putri tunggal Johan Smith. Gadis muda itu menangis histeris dan sedang ditenangkan oleh Mike—anggota Red yang sangat ahli dalam bidang teknik mesin. Dia membuat alat-alat canggih untuk membantu para pembunuh dalam menyelesaikan misinya, termasuk alat pelacak yang berguna untuk mengintai lawan.
"Alex baik-baik saja, kan?" Athana mendekati Jessy dan Mike.
"Masuklah, Athana!" Mike menjawab pelan. Lantas menyuruh beberapa anggota yang berkumpul di dekat pintu agar menyingkir sejenak.
Athana tak bertanya lagi. Dia bergegas masuk dan mendekati Alex yang terbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat dengan mata yang menutup rapat. Selain itu, leher Alex juga tampak terluka. Sisa-sisa darahnya masih tampak membekas di sana.
"Luka ini," batin Athana.
Ia tertegun dalam waktu yang cukup lama. Luka di leher Alex, sama persis dengan luka yang ia torehkan di leher Arvian. Apakah semua ini memang berhubungan?
"Alex!" panggil Athana sambil meraih lengan sang kekasih. Dia menggenggam pergelangannya dan mencari denyut nadinya.
"Ini tidak mungkin!" teriak Athana karena tak menemukan denyut nadi Alex.
"Maafkan aku, Athana. Lukanya cukup parah, aku gagal menolongnya," bisik Dove—dokter andal yang bekerja pada Red.
Athana membekap mulutnya sendiri. Ucapan Dove sudah cukup menjelaskan keadaan yang terjadi. Alex sudah meninggal.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Eni Eni
cerita nya sangat seru...👍👍👍
2024-07-10
0
Kendarsih Keken
semakin bingungi
2022-11-09
0
Kiki Sulandari
Apa yg sebenarnya terjadi?
Apakah antara Alvian & Alex saling berhubungan?
2022-11-07
0