Kenyataan Kelam

"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Tuan Johan sangat menyukaiku, bahkan sebentar lagi akan memberikan kedudukan penting untukku. Bagaimana mungkin dia mengharap kematianku, heh itu hanya akal-akalanmu saja untuk menggertak, agar aku takut dan melepasmu begitu saja. Benar, kan?" pancing Athana.

Dia paham benar bagaimana sifat Jessy, manja dan sedikit arogan. Dia senang membanggakan apa yang dia punya, juga apa yang bisa ia lakukan. Itu sebabnya Athana melontarkan kalimat yang menjatuhkan, karena jika langsung bertanya, Jessy tidak akan bicara jujur.

"Kamu sangat naif, Athana. Apa yang kau lihat, berbeda jauh dengan kenyataan. Kau terlalu bodoh memahami keadaan!" teriak Jessy sambil memelotot tajam.

Mendengar kata bodoh, Athana langsung tersinggung. Ia tak sabar lagi menggali informasi dengan cara halus. Lantas, tanpa menjawab sepatah kata pun, ia melayangkan tamparan keras hingga sudut bibir Jessy memar dan berdarah. Jessy meringis menahan sakit, seumur-umur dia belum pernah diperlakukan seperti itu.

Sebelum Jessy sempat mengumpat, Athana sudah menarik rambut panjangnya dengan kasar. Tak peduli meski ada beberapa yang rontok dan pasti menimbulkan rasa sakit.

"Lepaskan aku!" bentak Jessy. Dia memberontak, tangannya mencakar-cakar lengan Athana dengan liar, berharap wanita itu mau melepaskan cengkeraman di rambutnya.

Akan tetapi, Athana sama sekali tak peduli. Cakaran Jessy ibarat belaian udara yang tidak menimbulkan rasa apa-apa. Wajar. Dia adalah pembunuh kelas atas, yang biasa dihadapi bukan sekedar cakaran melainkan peluru dan racun.

"Lepas! Kau ... ah!"

Jessy berteriak histeris karena rasa sakit yang luar biasa di lehernya. Tanpa belas kasih Athana menyentak kuat rambutnya, dan seakan-akan lehernya patah ke belakang. Tak hanya itu, kakinya juga diinjak kuat sehingga tak bisa lagi memberontak, malah makin lama tenaganya makin terkuras karena menahan sakit. Sungguh, Athana adalah iblis yang berwujud manusia. Sialnya, Jessy malah mencari gara-gara dengannya.

"Katakan padaku, apa yang kau tahu tentang ayahmu!" ucap Athana dengan tegas.

"Aku tidak mau!" sahut Jessy masih dengan intonasi tinggi.

"Katakan!" bentak Athana. Suaranya menggema memenuhi ruangan, sangat menakutkan.

"Tidak! Aku___"

"Katakan atau peluru ini akan melubangi tenggorokanmu!" pungkas Athana dengan nada tinggi. Dia tak segan-segan menodongkan ujung pistol ke dalam mulut Jessy.

Jessy makin ketakutan, tanpa sadar air matanya berjatuhan membasahi pipi. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya setelah ini.

"Yang kubutuhkan jawaban, bukan air mata!" Athana kembali membentak.

Jessy tak punya pilihan lain. Mau tidak mau dia berterus terang tentang rahasianya, daripada ditembak dan tersiksa dalam rasa sakit. Lebih baik jujur sambil mencari jalan keluar.

"Papa marah karena kamu berhubungan dengan Alex," ujar Jessy di sela-sela ketakutannya.

"Kenapa dia marah? Di dalam Red tidak ada larangan berhubungan dengan sesama anggota. Bahkan, banyak yang sudah menikah dan punya anak."

"Jika lelaki yang kau pilih bukan Alex, mungkin Papa tidak terlalu marah, walaupun selama ini kau sangat angkuh dan tidak pernah memandangnya. Asal kau tahu, Athana, Alex adalah calon menantunya. Dia adalah kekasihku, kami akan segera menikah andai kau tidak membunuhnya."

Pengakuan Jessy sontak membuat Athana tertegun. Bukan tentang Johan yang menganggapnya angkuh, melainkan tentang hubungan Jessy dengan Alex. Lelaki yang amat sangat dia cintai, yang setiap hari memperlakukannya dengan manis dan penuh kasih, ternyata selingkuh di belakangnya. Ingin sekali Athana menyangkal bahwa omongan Jessy adalah bohong, tetapi bagaimana mungkin? Gadis itu tahu jika Alex mati karenanya, jadi tidak mungkin dia mengada-ada.

"Lagi-lagi pengkhianatan," batin Athana dengan perasaan yang tak karuan.

Fakta yang Jessy beberkan, mengingatkannya pada masa silam—masa terburuk yang menjatuhkannya dalam titik terendah. Sebuah awal yang membuatnya masuk dalam lingkaran Red.

Ketika Athana masih larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba Jessy menghantam lengan kirinya. Tidak terlalu keras, tetapi menimbulkan rasa sakit yang cukup parah. Jessy memanfaatkan kesempatan itu untuk melayangkan pukulan kedua. Berhasil. Athana mengerang dan jatuh ke belakang.

"Kau tidak akan bisa membunuhku. Aku sudah tahu apa kelemahanmu, Athana." Jessy menyeringai. Lantas, mengambil alih pistol yang ada di tangan Athana.

Tanpa berpikir panjang, Jessy mengarahkan pistol itu ke arah Athana dan menarik pelatuknya. Dentuman keras terdengar menggema. Namun, hanya mengenai lantai karena Athana berhasil menghindar meski lengannya masih sakit.

Selanjutnya, Jessy terus menyerang dengan brutal. Puluhan tembakan ia lepaskan, tetapi sayang masih gagal. Hanya ada satu peluru yang berhasil menggores lengan Athana.

"Kau sendiri yang menjemput maut, Jessy," batin Athana. Kemarahannya sudah mencapai puncak dan ia tak bisa segan lagi.

Dengan sekuat tenaga, Athana beringsut mendekati ranjang. Lantas, mengambil pistol yang ia simpan di bawah bantal. Satu tembakan ia lepaskan dan langsung mengenai sasaran.

"Ahhh!" teriak Jessy ketika peluru panas bersarang di bahunya. Saking sakitnya luka itu, ia sampai kehilangan tenaga dan ambruk di tempat.

Athana tersenyum licik. Tanpa memedulikan Jessy yang meringis sakit, ia kembali melancarkan serangan. Kini, kedua bahu Jessy terluka dan berdarah. Seharusnya dia memang berpikir dua kali sebelum menghabisi Athana, mengingat dirinya yang masih awam dalam menggunakan senjata. Namun, dendam telah melumpuhkan logika, dan sekarang sudah terlambat untuk menyesalinya.

"Kamu hanya anak kecil yang manja. Seharusnya tidur di bawah ketiak ayahmu, bukan ke sini dan mengusik ketenanganku," ucap Athana sambil mencengkeram baju Jessy.

"Papa tidak akan diam saja! Kamu pasti mendapatkan balasan yang setimpal!"

Athana tersenyum, "Itu kalau dia tahu, kalau tidak?"

"Kamu___"

"Ucapkan terima kasih dong, aku kan sudah memberimu kesempatan untuk melukaiku." Athana memotong ucapan Jessy sembari menujukkan darah yang merembas dari lengannya.

Jessy terdiam. Dia menangkap amarah yang membara dari suara Athana.

"Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Alex?" tanya Athana sambil melayangkan tatapan tajam.

"Kamu tidak perlu tahu," sahut Jessy dengan cepat.

"Begitukah?" Athana menaikkan kedua alisnya. "Jika kamu memilih diam, peluru ini akan melukai semua bagian tubuhmu. Tapi, aku akan menghindari kepala dan jantung. Jadi, kau akan tersiksa dan mati perlahan-lahan," sambungnya.

Jessy bergidik ngeri mendengar penuturan Athana yang cukup gila.

"Cepat katakan!" bentak Athana.

"Tidak!"

Karena terlalu kesal, Athana menampar Jessy berulang kali, hingga gadis itu tersungkur tak berdaya di dekat kaki ranjang.

Selain merasa sakit di sekujur tubuh, Jessy juga merasa terhina. Sebagai anak pemimpin yang sangat dihormati, ia malah diperlakukan dengan buruk. Athana sangat keterlaluan.

"Kau akan merasakan hal yang lebih dari ini, Athana! Kau hanya wanita yang tidak diinginkan. Aku dan Alex sudah menjalin hubungan selama setahun lebih, kami juga sering menghabiskan malam bersama. Yang dicintai Alex itu aku, bukan kamu. Dia mendekatimu hanya untuk memenangkan taruhan dengan temannya. Kamu sama sekali tidak diinginkan, Athana!" teriak Jessy frustrasi.

Athana terdiam. Kebenaran yang sangat menyakitkan. Sangat tulus dia mencintai Alex, tetapi balasannya sekadar pengkhianatan.

"Pergilah dengan tenang, Jessy!" Athana kembali mengarahkan pistolnya, tepat di dada Jessy.

"Bunuh saja! Cepat bunuh! Setelah itu Papa yang akan membunuhmu. Mengirimmu ke dimensi lain saja dia bisa, apalagi hanya mengirim ke neraka. Itu adalah hal mudah!"

Satu detik setelah Jessy menyelesaikan kalimatnya, peluru meluncur dan melubangi jantungnya. Darah mulai bersimbah dan menggenangi tubuh. Dalam sesaat, Jessy pun mengembuskan napas terakhirnya.

Bersambung...

 

Terpopuler

Comments

YNa Msa

YNa Msa

Aduh d bikin Mampus Langung ini mah dendam ny ga pikir" dulu

2024-01-26

0

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

athana 👏👏👏

2024-01-17

1

Stevani febri

Stevani febri

waah.. god tinggal bagaimana athana membunuh johan. bersama pria misterius itu

2022-11-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!