Malam yang dingin tak menyurutkan semangat seorang wanita cantik mungil di dalam kamar sederhana itu. Kasur yang hanya di letakkan begitu saja di lantai tanpa ada ranjang yang menyangga. Namun, tetap rapi terlihat.
Satu persatu pakaian ia sudah masukkan ke dalam tas yang tak bermerk itu. Warnanya pun sudah sedikit memudar.
“Git, belum selesai berkemasnya?” Pertanyaan seorang wanita paruh baya membuat Gita menghentikan aktifitas menyimpun baju sejenak. Ia menengadah menatap sang ibu.
“Belum, Bu. Sedikit lagi ini.” ujarnya duduk.
Dewi pun ikut duduk di sisi kasur sang anak. “Kamu hati-hati yah. Maafkan Ibu tidak bisa ikut mengantar. Kalau saja Bapak tidak mengantar, Ibu pasti akan ikut.”
Memikirkan jika semua pergi, bagaimana ekonomi mereka. Biaya tentu tidak akan sedikit yang di keluarkan.
Gita tersenyum mengangguk. “Bu, Gita sudah pernah sekali ke kota. Gita sudah tahu kok meski tidak hapal. Gita sudah berani, Bu. Sekalipun Bapak tidak mengantar Gita juga tidak apa-apa. Yang penting doa dari Bapak dan Ibu itu sudah lebih dari cukup.”
Dewi mengusap lembut kepala sang anak. Sungguh ia sangat sedih. Apa kurangnya Gita, dia anak yang sangat baik, penyayang, penurut bahkan bisa menjadi pekerja keras membantu keluarga. Namun, mengapa hidupnya selalu di beri cobaan tanpa henti?
“Sudah malam. Ibu sebaiknya istirahat saja. Gita sudah mau selesai kok, Bu. Takutnya besok Ibu mengantuk saat jualan. Yah?” Dengan berat Dewi bangun dari duduknya. Ia keluar kamar usai mengusap wajah sang anak lalu masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sementara Gita sudah menyelesaikan lipatan baju dan mengambil beberapa keperluan lain. Seperti handuk dan lainnya.
“Semoga di rumah sakit bisa memberikan petunjuk keberadaan Bang Jupri. Dimana kamu, Bang? Kenapa tidak pulang-pulang?” gumam Gita menatap nanar ke depan.
Jarum jam yang menunjuk angka sembilan malam, membuat Gita segera beranjak untuk membersihkan wajah dan sikat gigi. Setelahnya ia pun baring di kasur dengan menarik selimut menutup tubuhnya. Jauh dalam hati ia masih berharap malam ini sebelum ia pergi ke kota, sang suami akan datang.
Namun, nyatanya sampai ia terlelap pun masih juga tak mendengar kabar baik itu.
Sedangkan di rumah megah di kota, kini tampak dua wanita dan satu pria duduk di sofa ruang keluarga. Suara televisi yang tidak begitu besar membuat mereka berbicara saling serius.
Usai makan malam, Arumi menunggu kepulangan kedua orangtuanya. Yang ternyata baru dari luar kota.
“Arumi, apa yang terjadi denganmu, Nak?” Pertanyaan Fatir, sang ayah mewakili pikiran sang istri.
Fatir Wibowo, ayah dari Arumi yang saat ini sudah menginjak usia 52 tahun.
Mereka baru saja sampai dari luar kota. Dengan wajah lelah mereka sangat terkejut melihat sang anak yang duduk menunggu mereka di ruang tengah malam itu usai menelpon saat di jalan.
Arumi sudah menghubungi mereka sebelumnya. Dan kedua orangtua itu memberi tahu jika mereka akan segera tiba di rumah. Di sinilah mereka sekarang berhadapan.
“Iya, Arumi. Apa yang terjadi? Mommy dan Daddy benar-benar khawatir? Kamu senyum-senyum seperti itu, Sayang.” sahut Sekar, sang ibu.
Seingat mereka sebelum pergi, Arumi masih depresi dan mereka hanya bisa memberi obat penenang jika Arumi mengamuk lagi.
Sudah berbagai cara mereka lakukan, sayang tak membuahkan hasil.
Dan apa ini? Mereka pulang di sambut keadaan Arumi yang jauh lebih baik dan penampilannya pun sudah tidak seberantakan sebelumnya.
Yah, saat Saguna datang. Ia meminta Arumi mandi di bantu oleh Bi Indah.
Rambut yang kusam Saguna tata dengan sisir dan penuh kesabaran.
“Mom, bulan depan Arumi akan menikah dengan Saguna.” Senyuman lebar terbit di wajah cantik Arumi.
Sayang, senyuman itu tak membuat kedua orangtuanya turut senang. Justru mereka saling melempar tatapan sedih. Ini pasti pikiran Arumi yang terganggu, begitu pikir mereka.
“Arumi…” air mata Sekar hampir menetes. Rasanya ia ingin berteriak memaki Saguna. Apa salah anaknya sampai pria itu menghilang.
Kemana pria itu? Kecelakaan yang terjadi membuat keluarga Arumi tak percaya jika Saguna benar-benar tiada. Mereka menyangka jika ada yang Saguna sembunyikan.
Arumi yang melihat kesedihan sang ibu segera mendekat dan memeluk wanita itu. “Arumi bahagia sekali, Mom. Tadi seharian Saguna bersama Arumi. Dia datang, Mom, Dadd. Pokoknya Mommy besok temani Arumi ke dokter gizi yah? Badan Arumi terlalu kurus. Gaunnya nanti kedodoran.” Senyuman tak ia hilangkan dari wajah bahagia itu.
Sungguh, cintanya kini telah kembali. Arumi tak akan menyia-nyiakan waktu lagi.
“Bi Indah?” Sekar memanggil pelayan yang sedang membereskan meja makan saat itu.
Segera wanita paruh baya itu mendekat. “Iya, Nyonya?” tanya Bi Indah.
“Apa saja yang di lakukan Arumi seharian ini? Apa dia tidak kambuh lagi?” Pertanyaan Sekar lontarkan karena merasa aneh pada penampilan dan emosional sang anak yang tiba-tiba stabil tak seperti biasanya.
Terlihat sangat tenang Arumi saat ini. Takut-takut Bi Indah menjawab. Karena ia bahkan lupa mengabari sang majikan dengan kedatangan Saguna seharian ini.
“Maaf, Nyonya. Ta-tadi Tuan Saguna datang dan…” Belum usai Bi Indah menjelaskan suara Fatir sudah menggema.
“Apa? Jadi pria itu benar ada? Kenapa Bibi tidak mengabari kami?” Dua bola mata Fatir membulat sempurna.
Rasanya ia seperti mimpi. Setelah sekian lama pria itu membuat putrinya depresi, kini tiba-tiba saja muncul.
“Dadd, tenanglah. Jangan dengan emosi.” Sekar mengusap punggung sang suami untuk menenangkan.
“Daddy, tolong jangan buat Saguna pergi. Biar kita dengan besok apa yang terjadi selama ini. Saguna sudah berjanji pada Arumi untuk menceritakan besok saat bertemu.” Tatapan penuh permohonan di mata indah milik Arumi membuat emosi Fatir redam seketika.
Arumi adalah anaknya. Arumi adalah cintanya, ia takkan tega membuat Arumi sedih seperti apa yang di lakukan oleh Saguna pada anaknya.
Ia pun mengangguk sembari menghela napas kasar.
“Yasudah. Ayah akan mendengarkan penjelasannya besok. Tidurlah, Sayang. Mom, antar Arumi istirahat. Daddy mau mandi dulu.” Pria paruh baya itu melangkah menuju kamar. Amarah yang memuncak sungguh sulit ia kendalikan saat ini.
Namun, di depan sang anak ia tidak ingin memperlihatkannya.
Di sudut kota yang berbeda, tampak Saguna fokus dengan laptop di depannya. Ruangan yang ia tinggali beberapa saat akhirnya kini menjadi tempatnya menghabiskan malam lagi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar di luar sana. Sejenak Saguna menatap pintu dan membiarkan orang itu membukanya.
“Saguna,” Suara yang familiar membuat Saguna berdiri.
Di depannya ia bisa melihat seorang pria paruh baya menatapnya nanar.
“Paman,” sahut Saguna.
Pria itu berjalan cepat dan memeluk Saguna erat. “Apa yang terjadi? Kemana saja kau? Paman sudah putus asa mencarimu, Saguna.” Pertanyaan pun langsung ia tujukan pada sang keponakan.
“Ceritanya panjang, Paman. Ayo kita duduk dulu.”
Keduanya pun duduk berhadapan.
Sungguh kesedihan jelas terlihat di wajah pria paruh baya yang bernama Dana. Bahkan ia sesekali menatap wajah sang keponakan lalu kemudian menunduk lagi dan menggeleng pelan.
“Ibumu…”
“Iya, saya sudah menjenguknya, Paman.” Saguna segera memotong ucapan sang Paman.
Pagi sebelum ia ke kantor, langsung menuju rumah sakit jiwa dimana sang ibu di rawat. Sungguh hatinya hancur berkeping-keping melihat bagaimana keadaan sang ibu.
Hampir tak jauh berbeda dengan sang kekasih. Kepergian Saguna mengguncang hati dua wanita yang paling ia cintai. Rasa bersalah di hati Saguna semakin menjadi. Kala mengingat dirinya membuat dua wanita spesial dalam hidupnya sampai depresi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments