Lelah semalaman menempuh jarak yang jauh, akhirnya pagi ini Saguna harus kembali bangun dengan wajah yang terasa berat meninggalkan tempat tidurnya.
“Selamat pagi, Sa.” sapaan hangat serta usapan lembut tangan Arumi di wajah tampan Saguna membuatnya terusik.
Samar-samar matanya menatap wajah cantik wanita di depannya.
Silau rasanya, namun ia bisa melihat betapa cantik kekasihnya ini.
“Kau pagi-pagi kemari?” Suara serak Saguna membuat Arumi mengangguk dan tersenyum.
“Aku memasak sarapan untukmu. Ayo bangun, mandi dan bersiaplah ke kantor.” titahnya penuh semangat.
Senyum di wajah Saguna terukir dan mendorong hatinya untuk meraih tubuh sang kekasih.
“Sa, mandilah!” Arumi berteriak lantaran kaget saat tubuhnya di tarik ke tempat tidur. Selimut yang menutup tubuh pria itu kini juga menutup tubuh Arumi. Saguna memeluknya tanpa berniat melepaskan.
“Diamlah sebentar. Aku ingin seperti ini dulu.” Ceruh leher milik Arumi menjadi sandaran wajah tampan Saguna.
Aroma wangi yang menyegarkan dan manis sungguh Saguna suka itu.
Arumi pun menurut saja. Ia diam ikut menikmati hangatnya pelukan yang sangat ia rindukan selama ini.
“Besok kita sudah seperti ini terus. Aku harap kau tidak akan bosan padaku, Sa.” tutur Arumi menerawang kedepan.
Besok adalah hari bahagia mereka yang sangat di tunggu-tunggu. Namun, tanpa sadar Arumi membuat Saguna terlonjak kaget. Pria itu tersadar jika waktunya hanya hari ini untuk menyelesaikan semuanya.
“Aku mandi dulu.” tuturnya bergegas meninggalkan Arumi yang menatapnya penuh tanya.
Arumi tak mengambil pusing, ia hanya berpikir jika Saguna mungkin banyak urusan kantor. Hingga akhirnya ia pun memilih untuk keluar kamar dan kembali ke dapur menunggu sang calon suami.
“Bagaimana mungkin aku lupa hari ini?” umpat Saguna di dalam kamar mandi. Gerakan cepat ia lakukan saat mandi hingga memakai pakaian.
Setibanya di meja makan, ia pun di sambut dengan senyuman Arumi dan hidangan di meja makan yang menggugah selera. Masakan Arumi memang tak di ragukan lagi. Dan tentu semua menu favorit Saguna.
Meski waktu rasanya sudah terlalu lambat, Saguna tetap memilih untuk memakan masakan Arumi. Ia tak ingin membuat calon istrinya kecewa.
“Habis sarapan pulanglah, Sayang. Biar supir mengantarmu. Aku harus segera ke kantor.” ujar Saguna tanpa menatap wajah Arumi. Ia makan terus dengan lahap dan buru-buru.
Arumi pun hanya menatapnya karena ia memang sudah makan di rumah. Rasanya tak tega melihat Saguna makan seperti di kejar-kejar. Ia tahu jika pernikahan mendadak mereka cukup membuat sang calon suami lelah mengurus perusahaan.
“Sa,” panggil Arumi lirih.
Saguna meneguk segelas air dengan menatap Arumi.
“Maafkan aku, karena pernikahan kita. Kau lelah seperti ini. Apa sebaiknya di undur…”
“Sssst aku tidak mau mendengar itu, Sayang. Aku baik-baik saja. Jangan sampai pernikahan kita batal. Aku tidak mau itu terjadi.” Arumi bungkam mendengar perintah sang suami.
Keduanya pun memutuskan berpisah usai Arumi mengantar kepergian Saguna di depan halaman rumah sang calon suami.
“Aku pergi dulu. Segeralah pulang dan istirahat.” Tangan besar Saguna yang biasa menjadi tempat Gita mencium punggung tangannya kini menjadi tangan yang mengusap penuh cinta kepala Arumi.
“Iya, Sa.”
Mobil melaju menuju sebuah rumah sakit jiwa tempat dimana Saguna akan menyapa kembali sang ibu. Tanpa Arumi tahu jika sepulang dari RSJ, Saguna pun kembali menuju alamat yang di berikan sang mertua.
“Permisi!”
“Selamat pagi,” suara Angga menjadi perhatian seseorang di sebelah rumah itu.
“Tuan, sepertinya sepi di dalam. Apa kita salah alamat?” tanya Angga ragu jika alamat yang mereka tuju adalah rumah tempat Gita tinggal saat ini.
Saguna yang berdiri menatap sekeliling rumah merasa benar dugaan sang sekertaris.
“Kemana kamu, Gita? Kenapa di saat seperti ini sulit sekali kita bertemu? Aku harus menyelesaikan ini semua.” ujar Saguna dalam hati tampak begitu gelisah.
Melihat tak ada respon apa pun dari sang atasan, Angga beralih melirik jam di tangannya. Waktu sudah menunjuk angka 9.
“Tuan, sepertinya klien kita sudah menunggu. Bagaimana kalau kita kembali ke kantor?” tanya Angga pelan dan hati-hati.
Ia takut jika Saguna tiba-tiba emosi karena dari raut wajahnya saja sudah terlihat menahan kesal.
“Tapi ini sangat penting, Angga. Aku harus menyelesaikan urusanku dengannya. Besok hari pernikahan ku dengan Arumi.” Saguna bersikeras ingin bertemu Gita.
“Maafkan saya, Tuan. Klien hari ini sangat penting.” Saguna tahu siapa yang di maksud Angga.
Akhirnya dengan perasaan ragu, Saguna melangkah menjauh dari halaman rumah itu. Ia masuk ke dalam mobil, tampak Saguna memijit keningnya pusing rasanya.
Tanpa ia duga jika hari itu sampai malam jadwal Saguna sangatlah padat. Lelah di tubuhnya tak terasa lantaran janji temu terus bergantian ia lakukan.
Angga yang bersamanya sampai menggeleng tak percaya.
“Kasihan Tuan, besok menikah tapi justru harus lembur sampai malam. Bahkan masalah dengan istri siri pun belum ketemu.” batin Angga tak bisa berkutik.
Ia hanya ikut membantu yang menjadi pekerjaannya.
Tanpa terasa jarum jam di dinding yang terus berputar kini menunjuk angka 11 malam. Keheningan di ruangan Saguna nyatanya menemani pria itu terlelap dengan panjang.
Wajahnya tampak teduh saat menikmati alam mimpi meski tubuh tak berbaring di tempat tidur. Hanya berteman kursi besar yang empuk cukup membuat pria itu nyenyak sekali.
Sedangkan di sini, wanita mungil nan cantik terus gelisah sejak malam kemarin. Bolak balik ia memejamkan mata di tempat tidur merasakan badannya sangat tidak enak.
Mual dan pusing semakin terasa bagi Gita.
“Dimana kamu, Bang? Aku butuh kamu, Bang Jupri.” pelan Gita meneteskan air matanya.
Rasa rindu dan sakit membuat kegigihan Gita untuk menjadi wanita mandiri perlahan runtuh. Ia butuh sosok Saguna, sosok suami yang memanjakannya meski sekedar hanya memeluk dan mengusap rambutnya saat terlelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Hoerotun Nisa
ko ga ketemu yaaaa hiks
2022-10-26
0