Rumah kecil dan lusuh menjadi kunjungan Gita hari ini. Ia berdiri dari kursi kayu setelah tak mendapat infomasi apa pun. Wajahnya yang penuh harap terlihat menelan kekecewaan mendalam.
“Terimakasih yah, Mas. Kalau begitu saya pulang dulu.” ucap Gita tanpa senyuman manis lagi di wajahnya.
“Iya, Git. Maafyah. Kami tidak tahu apa-apa. Semoga Jupri segera pulang.” Pria yang berprofesi sama dengan Jupri sebagai buruh di gudang tampak berdiri mengantar kepergian Gita.
Jelas terlihat kepalanya menempel perban di sana. Sebab ia masih dalam proses pemulihan.
“Iya, tidak apa-apa, Mas.” Gita pergi menuju pulang ke rumah.
Sepanjang jalan bahkan ia tidak melihat kiri kanan. Tatapannya kalut, suaminya tidak pulang dan tak ada kabar. Entah kemana sang suami saat ini.
Mata indah wanita itu sudah tampak berembun menahan tangis.
“Bang, dimana kamu? Kenapa tidak pulang? Kamu tidak tersesat kan, Bang? Ingatanmu belum pulih kan Bang?” jerit hati Gita sungguh merasa khawatir dan takut.
Setibanya di rumah, Gita sudah di sambut oleh kedua orangtuanya dan sang adik.
“Git, bagaimana?” Dewi bertanya sembari memapah Gita duduk.
Gita tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya. Ia menangis menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.
“Kemana si Jupri ini? Bisanya bikin pusing saja!” Gerutu Haidar kesal dan ikut duduk di samping Gita.
Gita adalah anaknya, bagaimana mungkin ia akan tenang jika sang anak di tinggalkan oleh suaminya?
“Sabar yah, Nak. Berdoa semoga suamimu baik-baik saja.” ujar sang ibu.
Gita melerai pelukannya dan mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Ia menatap kedua orangtuanya bergantian.
“Bu, Pak, Gita harus menyusul Bang Jupri. Gita tidak mau Bang Jupri meninggalkan Gita.” tuturnya penuh permohonan.
Dewi dan Haidar saling bertatapan. Seolah ada kekhawatiran yang besar di mata mereka. Rasanya sangat berat melepaskan Gita pergi.
“Bagaimana, Pak?” Dewi kini bertanya pada sang suami. Ia yakin Haidar kali ini bisa di ajak bertukar pendapat. Karena ini menyangkut masa depan pernikahan anak mereka.
Helaan napas kasar tampak Haidar keluarkan. Ia mengusap wajahnya kasar. “Bapak akan antar kamu, tapi kalau dalam sehari dua hari tidak ketemu. Bapak harus pulang ke desa. Kamu tinggal numpang di rumah tantemu di sana.”
Senyuman Gita akhirnya keluar mendengar sang bapak begitu pengertian padanya. Ia memeluk Haidar dengan perasaan senang sekali. Gita tak menyangka bapaknya akan menurunkan ego demi dirinya.
“Terimakasih, Pak. Terimakasih yah, Pak. Gita janji, di kota nanti Gita juga akan sambil cari kerjaan.”
Sebagai orangtua, perasaan khawatir dan sayang pada anak tentu berbeda-beda cara menerapkannya. Termasuk Haidar, meski ia keras pada sang anak. Melihat Gita ingin pergi ke kota seorang diri rasanya ia takkan tega dan tenang.
***
Satu hari penuh tak membuat Saguna lelah menghabiskan waktu berdua dengan sang tunangan yang lama ia tinggalkan. Depresi yang Arumi alami sirna seketika. Senyuman di wajah kurusnya tampak terus mengembang kala mendapat perhatian penuh dari Saguna.
“Sa, aku sudah kenyang. Kau saja yang memakannya.” tolaknya saat Saguna hendak menyuapkan makan lagi padanya.
Yah. Pasangan yang rindu berat ini sedang menghabiskan waktu makan barbeque di halaman belakang rumah milik Arumi.
Canda tawa terdengar menggema di sana. Rumah yang sunyi seketika kembali ramai oleh suara dua orang itu.
“Arumi, sekarang minum obat. Aku sudah tidak bisa makan juga. Perutku kenyang sekali, Sayang.” Lembutnya Saguna membelai rambut pendek sang tunangan.
Sungguh hatinya miris melihat keadaan Arumi saat ini. Hatinya benar-benar sakit. Wanita yang menjadi calon istrinya ini tak secantik dulu lagi. Itu semua tentu karena dirinya.
Rambut panjang kesayangan Saguna harus di potong karena keadaan jiwa Arumi yang hancur. Tak di sangka kehadiran Saguna benar-benar menyembuhkan luka di hati gadis cantik itu.
“Mana obatnya? Aku mau minum sekarang. Kau tahu kenapa aku ingin sembuh?” Pertanyaan Arumi membuyarkan lamunan Saguna.
“Kenapa, Sayang? Apa karena aku?” tanyanya lembut.
Arumi mengangguk kemudian berkata. “Aku ingin secepatnya kita menikah. Kau pasti lupa, seharusnya awal bulan kemarin kita sudah sah menikah.”
Debaran jantung milik Saguna yang normal seakan berhenti sejenak saat mendengar kata menikah.
Ia terdiam seribu bahasa. Dan ekspresi itu tentu tak lepas dari pandangan Arumi.
“Menikah? Astaga bagaimana mungkin dengan semua ini? Gita…” Saguna tiba-tiba saja memikirkan sang istri di desa.
Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Di sini, ia berhadapan dengan wanita yang paling ia cintai dan sudah bertunangan. Sedang di desa, ada istri siri yang sudah menunggunya pulang dan pasti akan sangat khawatir.
Melihat wajah diam sang kekasih, bibir ranum Arumi mengerucut sedih.
“Sa,” panggilnya lirih. Bahkan mata Arumi sudah memerah terasa panas ingin menangis.
Ia takut, sungguh takut jika harus kehilangan Saguna untuk kedua kalinya.
Ia berhambur memeluk pria di depannya. Dan sukses hal itu membuat Saguna sadar kembali.
“Arumi, ada apa?” tanyanya.
“Kau tidak berniat mengagalkan pernikahan kita kan? Aku mohon jangan tinggalkan aku.” Arumi meneteskan air matanya.
Rasa takut sungguh menguasai dirinya saat ini.
Saguna membalas pelukan sang tunangan meski hatinya sedang kalut karena terbagi fokus. “Tidak akan, Sayang. Aku sangat mencintaimu sampai kapan pun. Kau ada wanita yang ku pilih sejak awal. Kita akan menikah bulan depan. Ijinkan aku mempersiapkan semuanya dan mengurus perusahaan dulu. Semuanya sudah kacau saat aku menghilang.” ujarnya mengingat banyak hal yang harus ia urus.
Termasuk mengurus hubungannya dengan Gita.
“Pernikahan itu hanya Siri. Tapi, apa mungkin aku tega menceraikan Gita? Dia wanita yang baik. Tapi aku mencintai Arumi. Apa yang harus ku lakukan?” Batin Saguna bergejolak memikirkan rumitnya hidupnya saat ini.
Jika harus kembali pada Gita, itu artinya Saguna akan melepaskan cintanya dan membiarkan wanita yang paling ia cintai menangis dan tidak menutup kemungkinan Arumi akan lebih depresi dari sebelumnya.
Tapi, jika ia memilih menikahi Arumi dan meninggalkan Gita. Bagaimana mungkin Saguna tega melakukan hal itu pada istrinya yang jelas begitu baik dan berjasa padanya. Jangan lupakan, Gita dan keluarganya lah yang merawat Saguna dari sakitnya kecelakaan saat itu.
Senyuman mengembang di wajah Arumi saat mendengar janji sang tunangan yang akan menikahinya bulan depan.
“Terimakasih, Sayang. Kalau begitu aku harus ke dokter gizi yah?” Kening Saguna mengkerut mendengar ucapan sang istri.
“Heem, aku ingin tubuhku kembali bagus. Jadi di saat kita menikah gaunku akan cantik di tubuhku.” Saguna baru tersenyum mendengar penjelasan Arumi. Memang tubuh kekasihnya sangatlah kurus. Sungguh kasihan Arumi.
“Iya, Sayang. Lakukanlah. Aku mendukungmu. Mulai besok jangan mengurung di kamar lagi yah? Aku tidak suka. Datanglah ke kantor besok siang. Kita akan makan siang bersama. Sekarang aku harus pulang ke rumah. Banyak hal yang harus ku kerjakan.” ujar Saguna.
Arumi sungguh berat melepas pelukannya kali ini. “Sa, berjanjilah tidak akan pergi lagi.” Matanya bahkan berkaca-kaca memohon.
Ketakutan akan Saguna pergi lagi masih jelas terasa di hati dan pikiran Arumi.
“Tidak, Sayang. Aku janji.” Kecupan Saguna berikan di kening Arumi kemudian ia mengusapnya dengan sayang.
“Dan kau berjanji, besok siang harus menjelaskan padaku apa yang terjadi dengan kepergianmu?” Arumi menagih janji sang tunangan karena Saguna belum ingin bicara sedari tadi.
“Iya,”
Sore itu menjadi perpisahan pertama setelah cukup lama kepergian Saguna di hidup Arumi. Gadis itu bahkan tersenyum-senyum di depan rumahnya melambaikan tangan pada Saguna yang sudah di dalam mobil siap meninggalkan pelataran rumah mewah sang tunangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Risa Fitri
bgaimna nasib Gita ke depn ya
2023-04-30
0
Kanza Teodora
sungguh dilema yg rumit utk menentukan pilihan bagi saguna... kasian gita sdhmenjadi istri sesungguhnya krn dia telah menyerahkan diri lahir batin. tp liat arumi... kasian juga sampai depresi...jujurly hatiku lebih condong memilih gita dgn segala kekurangan dan kelebihannya
2022-10-19
0