Langit cerah perlahan memudar dan berganti semakin gelap. Para pekerja di kebun teh tampak berjalan kaki keluar dari barisan pohon-pohon yang tidak begitu tinggi namun indah di lihat berjajar rapi.
Raut lelah tampak jelas di wajah mereka, tak terkecuali wanita cantik yang usianya terbilang cukup muda itu.
Ia berjalan memegang tali keranjang di bahunya sembari mengusap peluh di bagian kening dan pelipis.
“Gita, sudah mau pulang yah?” Seorang pria paruh baha menyapa, dia adalah mandor kebun teh tempat Gita bekerja.
“Iya, Pak Ramli. Saya mau pulang, Pak.” jawab Gita seperti biasa sangat sopan.
“Yasudah ini upah kamu yah? Saya potong seperti biasa jam siang kamu.” ucapnya tersenyum namun sekali ia menaikkan alisnya sebelah.
Gita tersenyum kikuk melihat ekspresi pria itu. Segera ia mengambil uang dan berjalan cepat meninggalkan Pak Ramli.
“Bapak itu kenapa sih suka sekali main alis begitu? Bikin takut aja.” Gita sepanjang jalan menggerutu. Pasalnya tingkah Pak Ramli bukanlah hal pertama kali ia lihat. Sering kali pria itu berlaku seperti itu pada Gita.
Hingga perjalanannya pun kini berakhir pada rumah sederhana milik orangtua yang ia tumpangi bersama sang suami.
“Buatkan Bapak kopi, Git.” Teriak Pak Haidar saat melihat Gita baru saja meletakkan topi kerja di pintu rumah.
Bahkan duduk pun belum sempat ia lakukan, sungguh tubuh mungil itu sangat kuat menahan rasa lelah.
“Iya, Pak.” jawab Gita tanpa ada niat protes atau meminta waktu sejenak untuk istirahat.
Rumah tampak sunyi, sepertinya sang ibu belum pulang dari jualan jamu. Sedangkan Jupri pasti sedang berada di kamar. Pikir Gita.
Beberapa saat kemudian, tampak Gita keluar teras rumahnya membawa segelas kopi. Ia tahu jika membuatkan sang suami kopi di depan sang bapak pasti akan jadi masalah lagi.
“Ini, Pak kopinya. Gita mau mandi dulu.” tutur wanita itu berjalan meninggalkan sang bapak yang diam saja.
Di kamar, Jupri tampak memijat lengan dan kakinya yang selalu pegal setiap kali pulang bekerja.
“Abang capek?” tanya Gita lembut.
Jupri yang melihat wanita itu hanya diam. Sungguh enam bulan pernikahan, Gita masih merasa seperti sangat asing bersama suaminya sendiri.
“Sini Gita pijat Abang.” ujarnya mulai memijat kaki sang suami.
Tak menolak, Jupri mulai menikmati pijatan sang istri. Lama kelamaan pria itu pun terlelap dengan rambut yang masih basah. Menandakan jika ia sudah mandi.
Gita menatap pahatan wajah yang begitu tampan, wajah yang bisa di katakan wajah kotaan. Sungguh, Gita jatuh cinta pada sang suami.
“Kasihan Bang Jupri, kenapa Bapak tega sekali dengannya? Pasti Bang Jupri tidak biasa kerja seperti ini. Maafkan Gita, Bang.” tuturnya dalam hati begitu sedih melihat keadaan pria yang irit bicara padanya.
Waktu berlalu sangat cepat, tanpa sadar Jupri telah tertidur hingga pukul setengah 8 malam. Perut yang kosong dan berbunyi terus membuatnya membuka mata perlahan.
Belum usai ia mengumpulkan nyawa, manik mata Jupri menangkap sosok yang baru saja menunaikan solatnya. Gita tersenyum padanya dengan alat solat yang masih ia pakai.
Mukenah putih itu sangat cerah di wajah cantik Gita, untuk pertama kalinya Jupri terpesona pada sang istri setelah enam bulan mereka menikah.
“Seperti malaikat.” batin Jupri tak berkedip bahkan melebarkan sedikit lagi kedua matanya.
“Bang. Abang Jupri,” panggil Gita yang kala itu membuyarkan lamunan Jupri.
Jupri terkesiap. “Ada apa?” tanya Jupri gelagapan.
“Mau salim, Bang.” jawab Gita ramah.
Jupri kembali diam dan mengikuti pergerakan tangan sang istri.
“Abang mau makan? Biar Gita siapkan makannya.” Lagi Gita berucap dan Jupri hanya mampu mengangguk.
Rasanya jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan melihat senyuman cantik Gita dengan balutan mukena putih. Tanpa make up, itu sungguh cantik yang natural.
Di dapur Gita tampak menyendokkan nasi dan lauk sederhana. Sayur asam dan juga sambal tomat teri. Segelas air pun ia tuang di gelas lalu menata di meja makan.
Usai memastikan semua siap, ia kembali ke kamar dan hendak memanggil Jupri. Sayangnya langkahnya terhenti kala tubuhnya bertabrakan dengan tubuh tinggi sang suami.
“Astaga!” pekiknya kaget saat bertabrakan dengan sang suami karena terhalang gorden pintu kamar.
“Gita,” Jupri pun reflek memeluknya.
Bukan saling tatap, Gita justru memberontak dalam pelukan Jupri karena terlalu gugup. Tangannya tampak gemetar memperbaiki tatanan rambut di wajahnya.
“E-em i-tu Bang. Ma-kannya s-sudah siap.” ujar Gita tergugup.
Jupri hampir tertawa melihat tingkah istrinya yang seperti melihat hantu.
Ia pun melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan sang istri.
“Abang?” Gita berusaha menegur suaminya agar melepaskan tangannya.
“Temani Abang makan, kamu juga harus makan. Lihat badanmu makin hari makin kurus.” Untuk pertama kalinya Jupri berucap sedikit panjang pada Gita.
Tak mampu menolak, Gita hanya patuh berjalan ke dapur mengikut sang suami. Hatinya tersentuh, Jupri orang kedua yang perduli padanya.
“Bang, makanlah. Gita masih kenyang…” Jupri tanpa bicara sudah menyuapkan nasi pada sang istri.
Bibir Gita yang bicara sampai harus terhenti karena syok.
“Tidak seharusnya aku dingin pada Gita. Dia sudah jadi istriku, meski aku merasa asing pada mereka semua tapi Gita sudah berusaha baik untukku. Sepertinya aku harus belajar menerimanya.” batin Jupri bermonolog.
Entah angin apa yang membawanya sehangat sekarang, yang jelas hatinya terasa begitu tersentuh saat melihat wajah Gita kala ia membuka mata bangun dari tidurnya.
Segala perlakuan lembut Gita selama enam bulan membuat Jupri sangat tersentuh. Sering kali ia kasihan pada Gita yang bertubuh mungil harus sibuk bekerja dan mengurus dirinya dan sang ayah mertua di sawah, namun Jupri sadar itu hanya sebatas prihatin, bukan cinta.
Tetapi malam ini, Cinta itu seperti sebuah hidayah yang tiba-tiba jatuh dan mengetuk pintu hati Jupri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments