Pilihan Saguna

“Saya bekerja di desa itu berbulan-bulan menjadi buruh tani untuk bertahan hidup. Hingga saya mendapatkan pekerjaan tambahan menjadi buruh angkut beras ke kota. Malam itu kami kecelakaan. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Saat saya sadar saya ingat semuanya. Dan kebetulan saat itu juga saya sudah melihat asisten saya di ruangan.”

Tanpa terasa wajah orangtua Arumi maupun Arumi nampak sedih. Sungguh tak mereka sangka perjuangan Saguna seberat itu selama menghilang.

“Maafkan saya juga, Dad, Mom. Karena saya Arumi sampai depresi. Saya benar-benar tidak tahu. Untuk itu kami akan segera melangsungkan pernikahan. Itu janji saya pada Arumi.”

Meski sudah selesai menjelaskan pada kedua calon mertuanya, nyatanya Saguna masih merasakan sesuatu yang sesak di dadanya.

Masalahnya dengan Gita belum terpecahkan hingga saat ini.

“Aku berhak mempertahankan cintaku dengan Arumi. Tapi bagaimana dengan Gita?” batinnya sangat bimbang. Beberapa kali Saguna menatap bergantian Arumi dan kedua orangtuanya yang sama-sama tersenyum.

Mereka bahagia mendengar semua pengakuan Saguna.

“Sa, terimakasih yah.” Arumi mengusap punggung tangan sang calon suami. Senyumannya tak ia hilangkan sejak tadi.

Saguna tak berucap sama sekali. Ia hanya mengangguk dan tersenyum hangat. Begitu pun dengan kedua orangtua Arumi yang lega setelah tahu semua kejadian yang sebenarnya.

Tanpa terasa perbincangan mereka kini sudah hampir mendekati waktu makan malam. Sang pelayan pun mulai sibuk terdengar di meja makan.

Sekar melirik sejenak jam di genggamannya lalu berucap, “Dad, waktunya mau makan malam. Bagaimana kalau Saguna biar mandi di kamar tamu dulu? Setelah itu kita makan malam bersama. Sudah lama sekali kita tidak makan bersama.”

Semua mengangguk setuju, terutama Arumi. Ia begitu bahagia, rasanya berpisah dengan Saguna untuk tidur di rumah masing-masing terus membuatnya takut. Takut jika Saguna tak akan kembali seperti sebelumnya lagi.

Fatir pun setuju. “Iya benar. Kita mandi dulu setelah itu makan bersama. Ayo, Saguna.” ajak Tuan Fatir.

Semua beranjak ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Dan hampir setengah jam lamanya, kini mereka sudah berkumpul di meja makan yang besar. Hanya berisi empat orang saja.

“Mau yang mana aja, Sa?” tanya Arumi dengan antusias mengambilkan piring untuk Saguna.

Tanpa ia sadari, perlakuan itu membuat Saguna mengingat wajah wanita cantik di desa sana. “Abang ini makannya, Gita sudah panasi makannya kok. Lauknya mau tambah, Bang?” Suara Gita dan wajah Gita tiba-tiba memenuhi kepala Saguna saat itu.

“Sa,” Beberapa kali suara Arumi membuat tubuh Saguna terguncang pelan.

Akhirnya Saguna mengerjapkan matanya dan kembali sadar, tatapannya beralih pada wajah sang tunangan yang mengernyit heran.

“Astaga mengapa aku terbayang-bayang Gita? Apa dia baik-baik saja di sana? Aku harus secepatnya kesana. Tapi waktuku terlalu padat.” batin Saguna.

“Apa yang sakit, Sa?” pertanyaan Arumi mendapatkan gelengan kepala dari Saguna. Pria itu tampak meraih piring yang masih terisi nasi.

“Biar aku sendiri, Arumi.” Pria itu pun mengambil beberapa lauk di meja makan dengan wajah yang tak bisa di tebak.

Jelas Saguna tengah menyembunyikan sesuatu dari Arumi.

Sedangkan di sini di rumah sederhana. Tampak empat orang juga tengah makan malam bersama.

“Git, bagaimana besok Bapak sudah harus pulang. Kamu benar mau cari Jupri lagi malam ini? Kita sudah keliling tadi tapi tak juga ada hasil.” Usaha Gita mencari sang suami hari ini sia-sia.

Ia pun juga bingung harus mencari kemana lagi. Namun, dalam lubuk hati ia begitu yakin akan menemukan sang suami.

“Gita akan cari Bang Jupri sampai ketemu, Pak. Gita akan menetap di sini dan cari kerja sambil cari Bang Jupri. Bapak bisa pulang besok.” jawabnya mantap tanpa ada keraguan.

“Gita benar, Mas. Sepertinya sehari dua hari tidak akan cukup untuk mencari suaminya. Mas pulang saja. Di sini kami akan bantu Gita. Lagi pula soal kerjaan, jangan khawatir. Asal Gita tekun bekerja, pasti akan banyak lowongan kok.” sahut Pardan sang paman.

Haidar mengangguk pasrah. Ini menyangkut masa depan rumah tangga sang anak. Ia pun juga tidak akan rela jika sang anak menjanda di usia mudanya.

“Baiklah, bapak akan pulang. Asal kamu harus ingat. Jaga diri baik-baik. Jaga kehormatan seorang istri.” Pesan Haidar mendadak hangat.

Gita mengangguk tersenyum. Inilah yang ia sukai dari sang bapak. Meski kerasnya hati pria itu, tetapi ada beberapa bagian masalah ia akan berlaku sangat bijak pada anak-anaknya.

“Iya, Pak.”

***

Tanpa terasa kini waktu berlalu sangat cepat. Tepat tiga minggu setelah kejadian itu. Perpisahan yang tak di inginkan ternyata berlangsung sampai saat ini.

“Huwek! Huwek! Huwek!” Di dalam kamar mandi pagi-pagi sekali suara Gita terdengar membuat sang tante, Vita begitu panik.

“Gita! Git! Buka pintunya! Kamu kenapa?” Vita berteriak sembari menggedor kamar mandi di dapur.

Teriakan itu membuat suaminya yang baru selesai bersiap akhirnya menyusul ke sumber suara.

“Ada apa, Bu? Gita?” tanyanya sembari menunjuk ke dalam kamar mandi.

“Iya, Pak. Gita sepertinya muntah-muntah dari tadi. Ibu cepat-cepat keluar kamar dengar suaranya.” jelas sang istri membuat keduanya berdiri menunggu pintu di buka.

“Tante, Paman,” Gita membuka pintu kamar mandi dengan wajah pucat serta tubuh yang lemas.

Bahkan Gita berdiri sembari menyandarkan tubuhnya pada daun pintu.

“Gita! Kamu kenapa?” Suami istri di depannya segera memapah tubuh Gita menuju kamar.

“Nggak tau, Tante. Perut Gita mual sekali.” ucapnya tanpa tenaga.

“Badan kamu panas.” Tangan Vita menempel pada kening sang keponakan. “Apa kamu salah makan yah? Atau magg?”

Gita hanya menggeleng tak tahu. Ia sungguh tak bertenaga.

“Bu, bawa ke rumah sakit saja. Bapak juga masih belum buru-buru kok sempat ngantar kan arahnya juga sama. Nanti pulangnya naik taksi saja.” Vita pun segera menyetujui ucapan sang suami.

“Jangan Tante, Paman. Gita harus kerja. Istirahat sebentar pasti baikan kok.” Ia tak mau kehilangan pekerjaan hanya karena sakit yang sepele ini pikirnya.

Di kota sangat sulit mendapatkan pekerjaan untuk Gita yang tak memiliki pengalaman sama sekali.

“Sudah kamu jangan khawatir. Nanti Tante sendiri yang telepon ke tempat kerja kamu. Minta ijin sehari. Nggak papa kok. Namanya sakit masa mau di paksa. Sudah yah, lagian kan kamu sendiri bilang minggu ini catering agak sepi. Beda kalau minggu depan, sudah di booking untuk acara besar.”

Sejenak Gita berpikir hingga ia pun setuju.

Akhirnya pagi itu mereka menuju ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan Gita.

Siapa sangka jika orang yang selama ini Gita cari ternyata pagi ini baru mendarat di bandara dengan sang asisten.

Ketampanan Saguna menjadi penyemangat untuk para petugas bandara wanita. Sungguh rasanya menyegarkan mata kala melihat makhluk Tuhan yang sempurna.

“Sa,” Suara wanita yang begitu lembut menyambut kedatangan Saguna pagi itu.

Arumi berjalan cepat merentangkan kedua tangan memeluk sang calon suami.

“Aku kangen banget. Kamu lama sekali perginya.” Arumi bergelayut manja pada Saguna. Beberapa kali ia mendapatkan ciuman di kening dari Saguna.

“Aku harus turun tangan sendiri untuk meyakinkan calon investor, Arumi. Kepergianku yang lama membuat perkembangan di perusahaan sedikit menurun.” ujarnya membelai kepala Arumi lembut.

“Jangan pergi lama-lama lagi. Kalau pergi lama aku ikut yah.” Saguna mengangguk dan tersenyum.

“Iya, bagaimana persiapan kita? Sudah selesai?” tanya Saguna yang memang meminta pada Arumi untuk menyiapkan semuanya. Karena waktunya tak akan sempat jika harus mengurus persiapan pernikahan dan juga perusahaan di waktu yang sama.

“Seratus persen beres. Aku nggak sabar.” ujar Arumi antusias.

Wajah ceria Arumi tanpa terasa meredup kala melihat tatapan kosong Saguna yang entah memikirkan apa saat ini.

“Gita, siap tidak siap kamu harus dengan kabar ini. Aku mempertahankan hubunganku dengan Arumi.” batin Saguna.

Terpopuler

Comments

Kanza Teodora

Kanza Teodora

pastilah saguna milih arumi... dasar lelaki tak berperasaan apakau lupa telah menanam benih dirahim gita?

2022-10-22

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!