Kemarahan Haidar

Tak perduli bagaimana keringat bercucuran di kening, tubuh kecil milik Gita terus bergerak di dalam kamar.

“Kak Gita, jangan lupa bawa kartu identitas kakak. Pasti itu akan di butuhkan.” Shani menyampaikan pesan sang ibu.

Gita hanya mengangguk sembari memasukkan dompet lusuh miliknya.

“Git,” panggil Dewi di ambang pintu.

Gita berhenti bergerak dan menatap wanita paruh baya itu.

“Iya, Bu?” jawab Gita.

“Kamu dan Jupri kan hanya menikah siri. Jika data Jupri di butuhkan di rumah sakit. Katakan saja yang sebenarnya. Dia belum ada data, kita masih proses mengurus di kantor desa.” Dewi menatap sedih sang anak yang tidak pernah tahu apa-apa bahkan untuk sedekar keluar dari desa pun tidak pernah.

Namun, saat ini demi keselamatan sang suami, ia nekat keluar desa bermodalkan kegelisahannya.

“Iya, Bu. Yasudah Gita harus berangkat. Semua sudah beres, Bu.” wanita cantik itu memeluk sang ibu sekali lagi,

Sebagai seorang ibu, Dewi bisa merasakan kerapuhan dan ketakutan sang anak. Bahkan saat memeluknya, jelas terasa getaran di tubuh Gita.

“Kamu jangan takut. Ibu akan mendoakanmu, Nak. Pernikahanmu dan Jupri pasti akan bahagia.” Sang ibu mengusap wajah berkeringat Gita.

“Terimakasih, Bu.” Usai salam perpisahan yang menyedihkan, kini Gita sudah duduk di dalam mobil bersama Jupri yang membaringkan kepala di pangkuan sang istri.

Mobil pun berjalan meninggalkan pelataran rumah sederhana itu. Dewi dan Shani yang sudah menyaksikan kepergian Gita, terpaksa harus mengembalikan semangat mereka untuk bekerja.

“Bu, Shani berangkat dulu yah.” Gadis itu berlalu dengan tas kerjanya. Serta pakaian rapi menuju ke sekolah dasar.

Bukan sebagai guru, ia hanya menjadi honor di sekolah sederhana itu. Meski tak memiliki gaji yang cukup, ia sangat menyukai pekerjaannya.

Berbeda dengan Gita, yang memang sudah bekerja keras tak perduli hujan atau pun panas. Ia akan senang bekerja membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yasudah hati-hati yah? Ibu juga harus berangkat.” Dewi mengunci pintu rumah dan mulai pergi.

Sementara di perjalanan melewati sawah, debaran jantung Gita mendadak tak beraturan. Tangannya sangat terasa dingin, keringat yang sudah kering saat terkena sejuknya udara di jendela mobil tiba-tiba keluar kembali.

“Ya Tuhan, itu Bapak. Lindungilah kami, Tuhan. Biarkan saya membawa Bang Jupri periksa dulu.” Gita memejamkan mata takut saat melihat sang bapak sedang meluruskan pinggangnya usai menanam beberapa pohon padi sawah.

Matanya bergerak mengikuti arah mobil yang melaju. Namun, pantulan matahari sedang tak berpihak padanya. Di dalam mobil tampak gelap meski kaca terbuka. Samar ia melihat seseorang duduk di mobil, tapi tidak terlihat wajahnya dengan jelas.

“Lancar juga bisnis trevelnya Pak Dadang. Coba saja ada modal bisa niru juga saya. Hah nasib dapat menantu malah nambah beban saja.” keluh Pak Haidar.

Hingga akhirnya Gita membuka mata kembali dan ia menoleh ke belakang. Helaan napas keluar dari mulutnya.

“Tenang saja, Gita. Bapak sudah lajukan mobilnya kok, bapak mu pasti tidak curiga. Lagi pula kalau kita tutup kaca pasti jadi perhatian warga. Karena mereka tahu semua yang naik mobil bapak ini pasti minta kacanya di buka. Kita kan nggak terbiasa pakai ac.” celetuk Pak Dadang ketika melihat ekspresi lega di wajah Gita.

Gita tersenyum sembari mengusap keningnya yang basah.

“Terimakasih, Pak Dadang. Saya tidak tahu lagi kalau tidak ada bapak. Saya benar-benar berterimakasih.” tuturnya sangat tulus.

Perjalanan selama tujuh jam Gita habiskan dengan tidur di perjalanan. Makan pun ia sudah di bawakan bekal oleh sang ibu. Pak Dadang juga turut menikmati bekal dari Bu Dewi.

Hingga tanpa terasa perjalanan panjang itu kini berakhir tepat di depan rumah sakit. Pukul setengah 4 sore, mereka tiba di rumah sakit Kota. Gita gugup saat membuka pintu mobil.

“Pak Dadang, sebentar yah? Saya ke sana dulu minta tolong bantu untuk bawa Bang Jupri.” ujarnya sopan dan Pak Dadang mengangguk patuh.

Selang beberapa saat, Gita datang bersama dua orang perawat yang membawa brankar. Jupri yang merasa tubuhnya sakit, tak mampu berkata apa-apa. Kepalanya bahkan sangat pusing saat ia ingin membuka matanya.

“Aaaargh!” Jeritnya sangat kesakitan. Bayangan gelap keadaan di dalam mobil berputar-putar membuatnya memegang kepala semakin erat.

“Bang Jupri, tenang yah. Tenang, Bang.” Gita sudah menangis ketakutan.

Ia pun ikut mendorong brankar sang suami menuju IGD. Semua prosedur harus mereka lewati.

Pemeriksaan akan di langsungkan usai Gita mengurus semua berkas.

Keadaan hening di ruang UGD saat Jupri di beri penenang dan pereda sakit untuk sementara. Ia memejamkan matanya tanpa tahu jika Gita di luar sedang sibuk menjawab pertanyaan dan mengisi beberapa kertas untuk persyaratan.

Sore yang sejuk kini menjadi saksi kemarahan seorang pria paruh baya.

Prangg!!

Suara pecahan piring terdengar di rumah sederhana milik orangtua Gita.

Wajah lelah Haidar mendadak merah mendengar jawaban sang istri.

“Apa-apaan Ibu ini? Dia itu orang asing, Bu. Kita makan saja susah, kenapa Gita malah bawa dia ke kota. Kalau dia sadar dan ingat kembali, apa dia mau berterimakasih sama kita? Sudah cukup kita beri tempat tinggal dan makan. Ibu bukannya mendukung malah menyuruh Gita membawanya. Biarkan dia lupa ingatan selamanya. Sampai pernikahan mereka di sahkan secara hukum. Apa ibu lupa? Mereka masih menikah sirih. Bisa-bisa Gita jadi janda, Bu.”

Dewi menunduk menangis, bukan karena takut. Ia hanya bingung. Sedikit banyak ada benarnya apa yang di takutkan sang suami. Tapi, hati Dewi begitu tulus menyayangi Jupri, sang menantu. Ia juga takut jika sang menantu sampai kenapa-kenapa karena lambat di tangani.

“Pak, Ibu hanya takut. Kalau Jupri sakit keras karena kecelakaan itu bagaimana? Kasihan Gita, Pak. Jupri juga menantu kita. Sudah kewajiban kita membantunya. Lagi pula, Gita tidak meminta uang dari Bapak toh.” Jawaban Dewi membungkam bibir Haidar.

Pria ia mengusap wajahnya kasar lalu pergi keluar rumah.

“Semoga kamu baik-baik saja di sana, Gita. Semoga Jupri segera pulih. Ibu khawatir, Nak.” gumam Dewi menangis bingung ingin menanyakan kabar sang anak bagaimana.

Sedangkan ponsel pun mereka tak ada. Hidup dengan tetangga tanpa ada keluarga, membuat mereka tidak membutuhkan ponsel.

Terpopuler

Comments

Risa Fitri

Risa Fitri

bgtu lah kehidupan di desa ga sesama dikota hrus punya HP

2023-04-30

0

Kanza Teodora

Kanza Teodora

agak aneh siih biarpun di desa apalagi seorang guru pastilah mengenyam pendidikan di kota sebelumnya.. dan guru sekarang pasti seorang sarjan masa ga punya hp... hadeeh othornya kewetan banget

2022-10-17

0

yanah

yanah

semangat slalu q tunggu kelanjutannya

2022-10-17

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!