Kembali Dengan Tangan Kosong

Malam yang larut akhirnya menyadarkan Angga dari fokusnya bekerja. Ia mengusap wajah lelah itu sembari menatap jarum jam di meja kerjanya.

"Tuan yang mau menikah, tetapi aku justru harus lebih kerja keras. Seperti aku saja yang mau menikah." ujarnya menggeleng tak percaya.

Pria itu keluar dari ruangan sembari menenteng tas kerja usai menata kembali semua berkas yang berantakan. Hingga tanpa sengaja matanya tertuju pada ruangan sang bos yang masih menyala lampunya. Itu artinya sang pemilik ruangan masih berada di dalam.

Langkah kakinya berbelok menuju ruangan Saguna, dan benar. Saat ia mengetuk tak ada jawaban lalu membuka pintu tersebut. Matanya di suguhkan pemandangan pria yang terlelap dengan wajah yang sangat tenang.

Hanya gelengan kepala yang ia lakukan sebelum akhirnya Saguna memilih untuk membangunkan sang tuan.

"Tuan! Tuan, bangun. Sudah jam satu malam." ujarnya usai beberapa kali tangan itu bergerak menepuk pundak Saguna.

"Hah? Jam satu?" tanyanya begitu kaget mendengar angka jam yang di sebut Angga, sang sekertaris.

Angga mengangguk. "Iya, Tuan. Saya pikir anda sudah pulang duluan. Maafkan saya, Tuan."

Saguna terlihat begitu gelisah. Waktunya tak ada lagi untuk menyelesaikan semuanya. Sungguh membuatnya sangat pusing. Malam ini semua harus ia selesaikan sebelum besok acara pernikahan mereka.

"Angga, ayo ikut saya." pintahnya segera berlari keluar ruangan dengan ponsel di tangannya.

Tak perduli bagaimana pekerjaannya. Ia benar-benar harus menemui Gita malam ini.

"Bagaimana bisa aku mengabaikan masalah seperti ini, Angga? Masalahku dengan Gita jauh lebih besar tapi aku fokus pada perusahaan." sepanjang jalan Saguna terus merutuki dirinya sendiri.

Wajahnya beberapa kali ia usap kasar lantaran emosi pada dirinya sendiri. Sementara Angga masih tetap diam fokus menatap jalanan di depan. Sedikit rasa bersalah di dalam hatinya. Seharusnya ialah yang mengingatkan sang tuan untuk segera menyelesaikan masalahnya. Sayang, ia larut dalam pekerjaan yang sangat melelahkan.

"Apakah tidak masalah kita pergi selarut ini, Tuan?" tanya Angga khawatir menemui seseorang yang menumpang dengan keluarga di jam yang bahkan hampir pagi.

Saguna tak menjawab sama sekali. Ia masa bodoh, yang terpenting masalahnya dengan Gita harus selesai lebih dulu. Tidak mungkin jika ia menikah di statusnya yang masih menjadi suami orang.

Hingga perjalanan dua puluh menit itu pun berlalu begitu saja. Kini tampak sorot lampu mobil milik Saguna menyinari rumah sederhana yang tidak begitu besar. Namun cukup terawat dengan beberapa bunga yang di rawat di teras rumahnya.

"Sepi sekali, Tuan. Lampu di dalam saja gelap sepertinya." ujar Angga yang melihat dari dalam mobil. Hanya lampu di teras saja yang menyala. Sementara dari celah gorden jendela tampak gelap.

Angga pun menyadari hal itu.

"Ayo coba dulu. Mungkin tidur mereka dengan mematikan lampu seperti ini." ujar Saguna masih berusaha.

Patuh, Angga mengetuk pintu rumah beberapa kali. Saguna yang tak puas akhirnya ikut bersuara.

Tok tok tok

"Permisi!" teriaknya sangat menggema.

Hingga beberapa kali mereka berteriak dan mengetuk, sedangkan Angga beberapa kali mengintip di jendela luar. Sama sekali tidak ada penghuni terlihat, bahkan sendal hanya satu yang sepertinya tak layak pakai.

"Sepertinya memang tidak ada orang, Tuan. Sandalnya tidak ada." ujar Angga di ikuti mata Saguna yang menunduk melihat apa yang sekertarisnya tunjuk.

"Argh! kemana Gita? Seharusnya kita bisa menghubungi orang di rumah ini. Kenapa aku bodoh sekali tidak meminta nomor mereka?" rutuk Saguna yang tak habis pikir hal yang sangat penting tak ia ingat.

Angga akhirnya mengusulkan untuk pulang dan kembali esok pagi.

Akhirnya dua pria itu pun pergi ke kediaman Saguna. Dimana segala persiapan sudah berjalan malam itu. Bahkan sang paman sudah tidur di rumah itu atas permintaan Saguna. Tak lupa Arumi juga mengurus kedatangan Oma Rosa. Nenek dari Saguna yang tinggal di Belanda. Sungguh wanita tua itu benar-benar terkejut. Mendengar kabar pernikahan sang cucu sekaligus kemunculan Saguna hampir saja membuatnya jantungan.

Saat mobil terparkir rapi di depan pintu rumah, tampak wanita dengan sanggulan yang masih on berlenggak lenggok menghampiri dua pria yang baru turun dari mobil.

"Saguna," suara heboh yang membuat Saguna sangat kaget.

Sungguh cucu durhaka. Bagaimana mungkin ia sampai lupa jika memiliki orang yang begitu berharga?

"Oma?" ucapnya tak kalah antusias.

Wajah sendu Oma Rosa saat itu juga tampak sedih. Air matanya jatuh saat masuk ke dalam pelukan sang cucu. Ia benar-benar tak menyangka jika cucu kesayangannya masih hidup tanpa kurang satu apa pun.

"Dari mana saja kamu? Kenapa pulang selarut ini? Apa kamu juga lupa jika besok adalah hari pernikahanmu?" wajah lelah Saguna langsung mendapat serangan bertubi-tubi.

"Tidak, Oma. Pekerjaan di kantor harus di selesaikan lebih dulu." ucapnya datar.

"Saguna, apa kamu tidak ingat punya Oma? kenapa tidak mencari Oma atau mengabari Oma? kalau tidak Arumi yang menelpon Oma dan memesan tiket untuk Oma, tidak mungkin Oma tahu cucu Oma masih hidup." Saguna mengusap bahu Oma Rosa tanpa berkomentar.

Pikirannya benar-benar pusing saat ini. Hari bahagia yang sudah sejak lama ia nantikan akhirnya besok terjadi juga. Sayangnya, kebahagiaan itu sampai saat pergantian tanggal pun masih tak membuatnya tersenyum. Ada sesuatu yang jauh mengganggu pikirannya kali ini.

"Oma, ayo istirahatlah. Maaf kalau membuat Oma kecewa. Di perusahaan banyak masalah, sampai kepala Saguna pusing sekali. Ayo sekarang kita istirahat, tidak baik Oma bergadang sampai larut seperti ini."

Tanpa komentar, Oma Rosa hanya menurut melangkah dengan di tuntun sang cucu.

Hingga mereka semua menuju kamar masing-masing dan istirahat. Begitu pun dengan Angga yang merebahkan tubuhnya sembari menghela napas kasar.

"Ahhh akhirnya ketemu kasur juga." matanya terpejam dengan tenang.

Sementara di sini, sebuah catering yang tengah di sibukkan dengan tambahan orderan yang bahkan dua kali lipat mendadak membuat semua pekerja harus ikut lembur malam itu.

"Git, pulang saja. Kan sudah ada Tante dan Paman yang bantu di sini. Ayo pulang istirahatlah. Kamu bisa sakit kalau begini. Ingat kamu lagi hamil muda." Tante Gita dan sang Paman malam itu mendapatkan tawaran dari temannya untuk tambahan uang karena membutuhkan tenaga di usaha catering tempat Gita bekerja.

Dan ketiganya pun tak menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan rejeki mendadak.

"Nggak apa, Tante. Gita baik-baik saja kok. Ini juga sedikit lagi selesai natanya."

Hingga beberapa ratus porsi makanan sudah mereka sediakan tak lupa kue dan lainnya yang akan di tata di tempat yang mewah.

Dalam hati Gita benar-benar lelah. Tetapi bagaimana ia bisa pulang dan istirahat? sementara orang yang rumahnya ia tempati saja rela bekerja lembur seperti ini demi rejeki tambahan.

Terpopuler

Comments

Kanza Teodora

Kanza Teodora

pantesan ga nemuin org dirumah paman gita

2022-10-28

0

R I R I F A

R I R I F A

apa itu catering acaranya saguna..

2022-10-27

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!