"Tentu, aku sangat percaya diri. Apa lagi sudah terbukti bahwa aku bisa memiliki keturunan, aku merasa semakin gagah saja." ujar Vino, sungguh ia ingin tertawa. Namun, ia berusaha menahan nya, ia ingin melihat bagaimana reaksi Tania atas ajakannya itu.
Tania terkekeh, namun ia tak ingin terbuai begitu saja. Ia melepas tangan Vino yang melingkar di perut buncitnya lalu berbalik menghadap laki-laki itu.
"Lakukan lah apa yang Pak Vino mau selagi kerja sama ini masih berlangsung. Karena saat aku sudah melahirkan nanti aku tidak berkewajiban lagi melayani Pak Vino, karena saat itu juga Pak Vino harus menalakku. Tetapi Pak Vino harus ingat dengan janji Bapak, yang sudah mengizinkan aku untuk merawat bayi ini hingga dia berusia enam bulan."
Vino mengulum senyum lalu mengangguk, ia pun mengajak Tania untuk berpamitan pada ayah dan ibu nya.
Ayah dan Ibu merasa sedih karena putri nya itu akan pergi lagi. Baru sebentar mereka bertemu setelah beberapa bulan terpisah, dan kini mereka harus berpisah lagi dari putri nya itu sampai waktu yang telah di tentukan Vino benar-benar berakhir.
Namun, kesedihan mereka seketika sirna saat Vino mengatakan akan menjemputnya nanti jika Tania sudah melahirkan, dan memperbolehkan mereka tinggal di apartemen untuk membantu Tania merawat bayi nya.
Setelah menyalami punggung tangan ayah dan ibu, Vino pun mengajak Tania untuk segera pergi.
"Terima kasih, karena Pak Vino juga mengizinkan Ayah dan Ibu ikut merawat bayi ini."
Vino menanggapi nya dengan senyuman, tatapannya terus tertuju pada jalanan di depan. Ia mengemudikan mobil nya dengan pelan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa saat kemudian mobil nya pun sudah terpakir rapi di pelataran bangunan elite dengan puluhan lantai.
Tania tercengang karena ternyata Vino membawa nya ke Hotel bintang lima, ia pikir mereka akan pulang ke apartemen.
"Malam ini kita akan menginap di sini," ujar Vino yang seolah tahu isi pikiran istrinya itu.
"Tapi, Pak...
" Tidak ada tapi-tapian, Tania. Apa kau lupa jika malam ini aku menginginkan mu, hum?" ucap Vino menyela ucapan Tania sambil mengangkat sebelah alis nya.
"Tapi tidak harus di sini juga kan, Pak. Bagaimana nanti kalau ada rekan kerja Pak Vino yang melihat kita, apa nanti tanggapan mereka tentang Pak Vino."
"Kau benar juga, tapi aku sama sekali tidak perduli. Jika memang ada yang melihat kita aku tinggal bilang saja jika kau adalah istri ku, apa susah nya?"
Tania hanya bisa menghela nafas nya, namun ia tetap berharap tidak ada yang mengenali mereka didalam Hotel tersebut. Bukan hanya mengkhawatirkan reputasi Vino, ia juga tak ingin jika ada orang yang mengatai nya yang tidak-tidak nanti nya.
Setelah memesan kamar, Vino merangkul lengan Tania sambil berjalan menuju kamar mereka. Tania terus menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan jika tidak ada orang yang mengenali mereka, ini sangat konyol ia sudah seperti maling yang takut ketahuan. Hingga mereka benar-benar sampai kedalam kamar yang akan menjadi tempat penginapan mereka malam ini, baru lah Tania merasa lega.
Sesampainya di kamar Vino langsung menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur dan tak lama kemudian ia tertidur yang membuat Tania geleng-geleng kepala.
Di saat langit mulai menggelap Vino baru terjaga dari tidur nya, ia langsung mandi dan setelah itu memesan makana untuk makan malam mereka. Setelah makanan datang, Vino langsung mengajak Tania untuk makan.
"Makan lah yang banyak, karena malam ini kau harus mempunyai tenaga yang cukup untuk mengimbangi permainan ku." ucap Vino sambil mengedipkan sebelah mata nya.
Tania hanya tersenyum lalu memulai makan, begitu pun dengan Vino. Setelah selesai makan, Vino langsung saja menggendong tubuh Tania dan membawa nya ke atas tempat tidur yang membuat wanita hamil itu memekik kaget.
"Pak, apa setidaknya menunggu sebentar lagi, kita baru saja selesai makan."
"Justru sekarang lah waktu nya yang tepat, ini adalah cara efektif untuk membakar lemak." Kekeh Vino, ia pun naik ke atas tempat tidur lalu menarik tubuh Tania kedalam pelukannya. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Pak Vino ingin menanyakan apa?"
Vino semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Tania, "Bagaimana perasaan mu selama berada dengan ku? Dan apa yang akan kau lakukan nanti jika kontrak kita sudah selesai?"
Tania menghela nafas nya kemudian mengulum senyum. "Apa aku boleh jujur?"
"Yah, tentu, justru itu lebih bagus."
Tania menghela nafas nya lagi, dan kali ini sambil memainkan jari-jari tangan Vino yang berada diatas perut nya. "Jujur, selama ini aku tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun ataupun berpikir untuk menjalin kasih. Yang ada dalam fikiran ku selama ini hanya lah bekerja dan berusaha bagaimana cara nya untuk membuat kedua orangtua ku bahagia. Aku tidak tahu bagaimana rasa nya di cintai dan aku pun tidak pernah merasakan jatuh cinta. Namun, setelah Pak Vino menawarkan kerja sama ini, aku pun tahu bagaimana nyaman nya memiliki sandaran, bagaimana rasanya diperlakukan dengan lembut bak permaisuri. Di manja dan selalu di perhatikan, karena Pak Vino aku bisa merasakan itu semua." Tania memejamkan mata lalu melanjutkan kalimat nya.
"Dan setelah kontrak kita sudah selesai, seperti janji Ayah ku kami akan pergi jauh dari kehidupan Pak Vino. Memulai kehidupan baru, dan melupakan semua kenyaman yang telah Pak Vino berikan, dan yang harus aku pun akan berusaha untuk melupakan jika aku pernah mengandung dan melahirkan walau aku tahu itu akan sulit."
Vino menyimak penuturan Tania dengan ekpresi wajah yang sulit diartikan. Benar kah selama ini Tania merasa nyaman bersama nya, padahal ia selalu menekankan jika apa yang di lakukan nya itu semata-mata hanya lah memberi kenyaman untuk wanita yang telah mengandung anak nya agar fikiran nya tetap terjaga agar tidak stress, bukan memberi kenyaman untuk Tania pribadi.
"Lalu, bagaimana dengan Pak Vino sendiri?" Tania memberanikan diri menanyakan hal yang sama, ia sudah mengatakan yang sejujurnya dan ia pun ingin tahu tentang perasaan Vino sendiri selama kerja sama mereka ini.
Vino menarik tangan nya yang berada diatas perut Tania dan menuntunnya membelai wajah wanita itu. "Apa yang tidak pernah aku dapat kan dari Elza, semua nya aku dapat kan dari mu. Kau mengurusku selayaknya suami yang sesungguhnya, meskipun tak seharusnya kau lakukan karena aku tak menulisnya didalam surat perjanjian itu. Tapi kau tetap memasak dan menyajikan makanan untuk ku, menyiapkan pakaianku dan mengurus segala keperluanku, dan itu semua tidak pernah di lakukan Elza dan aku mendapatkan semua nya dari mu." Vino menenggelam kan wajah nya di ceruk leher Tania yang membuat wanita itu merasa geli.
"Dan jika kontrak kita selesai, yang pasti nya yang akan aku lakukan adalah memberi perawatan terbaik untuk anak kita, sehingga kau tidak perlu khawatir dan bisa menitih hidup baru diluar sana dengan tenang."
Malam yang seharus nya menjadi malam panas, mereka habiskan dengan bercerita banyak hal tentang perasaan mereka masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ibu Sulastri
semoga vino jatuh cinta kpda tania, n bahagia selamanya
2025-03-05
1
Wiwik Daryanti
lnjut semangt
2022-12-02
2
sryharty
enteng banget kamu Vin ngomong nya,,,
2022-12-02
2