Semburat kemerahan yang berubah menjadi kuning keemasan dengan silau sinar yang perlahan muncul, menjadi momen yang paling banyak di tunggu apalagi bagi mereka para pejuang rupiah.
Pagi yang cerah menyapa ibu kota, lalu lalang kendaraan sudah memenuhi jalanan bahkan sebelum matahari terbit. Di dalam sebuah mobil berwarna silver, laki-laki tampan yang sudah beberapa bulan ini menggantikan direkturnya mengurus perusahaan, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar tak terjebak macet untuk segera sampai ke tempat tujuannya yang sudah beberapa bulan ini hampir setiap hari di datanginya.
Beberapa saat kemudian, setelah memarkirkan mobilnya didepan bangunan berlantai, Bara segera turun dari mobilnya dan segera menuju unit yang ditempati direkturnya dengan membawa sebuah dokumen penting yang harus ditandatangani oleh direkturnya itu pagi ini juga.
Seperti biasa Bara disambut oleh ART dan langsung menuntunnya menuju ruang tamu, dan ART itupun segera memanggil majikannya.
"Tumben pagi-pagi sekali kamu sudah datang, biasanya agak siangan?" ujap Vino dengan suara serak khas bangun tidur, bahkan setelan piyama masih melekat ditubuhnya. Ia mendudukkan tubuhnya disamping asistennya itu.
"Maaf kalau saya mengganggu sepagi ini, ada dokumen penting yang harus Pak Vino tandatangani pagi ini karena nanti pukul 9 saya harus membawa dokumen ini ke pertemuan dengan klien kita yang dari luar Negri." jawab Bara, menjelaskan maksud kedatangannya yang pagi-pagi sekali.
Vino menganggukkan kepalanya, kemudian tanpa berbasa-basi ia langsung saja membubuhkan tanda tangannya pada dokumen itu.
Tak lama kemudian Tania datang dengan membawa dua porsi roti bakar dan dua gelas teh hangat, lalu meletakkannya di meja.
"Ayo sarapan dulu, kamu datang sepagi ini pasti belum sarapan." ucap Tania menatap Bara sambil tersenyum seraya mendudukkan tubuhnya disamping Vino.
Vino memutar bola matanya, ia merasa diabaikan karena Tania hanya menawarkan sarapan kepada Bara saja dan tidak padanya juga.
"Iya, terima kasih, saya memang belum sempat sarapan." Bara langsung saja mengambil secangkir teh hangat itu lalu meminumnya tanpa melihat Vino yang menatapnya dengan mata membulat.
"Oh ya, Pak, kandungan Nona Tania kan sudah 7 bulan apa sudah dilakukan USG, bayinya laki-laki atau perempuan?" tany Bara setelah meletakkan secangkir tehnya.
"Belum, kata Pak Vino tidak perlu USG biar itu menjadi kejutan. Dan juga kata Pak Vino Laki-laki atau Perempuan sama saja." ujar Tania yang menjawab pertanyaan Bara.
"Tidak perlu mengurusi kandungan Tania, sebaiknya kamu juga cari calon dan langsung nikahi setelah saya nanti kembali ke perusahaan." ucap Vino, ia merasa tak suka Tania yang menjawab padahal pertanyaan itu ditujukan padanya.
Bara menanggapinya dengan senyuman, sekali lagi ia menangkap kecemburuan dimata Vino, dan ini sudah yang kesekian kalinya sejak kesalahpahaman beberapa bulan lalu terselesaikan.
Bara pun mengambil dokumen itu lalu berdiri, "Sepertinya saya sudah menemukan calon saya, Pak. Saya hanya perlu menungu beberapa bulan lagi, kan?" Bara menatap Tania sambil melirik Vino yang menatapnya tak suka.
"Kamu itu Laki-laki berpendidikan, kalau mau nikah cari yang masih perawan yang sepadan dengan kamu yang masih perjaka, jangan yang janda." ucap Vino dengan ketus.
"Perawan atau janda sama saja kan, Pak, sama-sama perempuan." kekeh Bara lalu dengan langkah cepat segera pergi dari ruangan itu.
Vino mendengus kesal sementara Tania tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Vino yang sebenarnya masih mengantuk sejenak menyandarkan kepalanya disofa sambil memandangi perut buncit Tania, ia pun memanggil wanita itu dan memintanya untuk duduk di pangkuannya.
Tak terasa kini usia kandungan Tania sudah memasuki bulan ketujuh, dan sampai saat ini Vino tinggal bersama Tania di apartemen dan tidak perna kembali lagi ke rumah utama meski Elzara sering kali datang dan memintanya pulang atau setidaknya membagi waktu antara dirinya dan Tania, tetapi tetap saja Vino tidak mau dan lebih memilih tinggal di apartemen dengan alasan tidak ingin melewatkan tumbuh kembang kehamilan Tania yang mengandung anaknya.
Meski sudah terbisa dengan apa yang dilakukan oleh Vino saat ini, mengelus bahkan mengecup perutnya dengan ia yang duduk di pangkuan laki-laki itu, namun tetap saja Tania merasa tidak nyaman karena saat ini mereka berada di ruang tamu dan khawatir akan terlihat oleh ART.
"Tania, di usia kandunganmu yang sudah 7 bulan ini aku berencana mengadakan acara syukuran, bagaimana menurutmu?" tanya Vino dengan suara beratnya karena menahan sesuatu yang bergejolak dibawah sana. Apalagi Tania yang terus bergerak seolah tak nyaman duduk di atas pangkuannya.
"Em, menurutku itu bagus, Pak. Tapi aku rasa itu tidak perlu. Apa kata orang-orang nanti jika tiba-tiba Pak Vino mengadakan acara syukuran seperti itu, mengingat hubungan kita ini sejak awal memang dirahasiakan dan mungkin hanya Bara, Bu Elza dan orangtuaku yang mengetahuinya." jawab Tania dengan sendu.
"Maaf," ucap Vino dengan lirih. Yah seharusnya ia memikirkan hal itu sebelum mengatakan ingin mengadakan acara syukuran tujuh bulanan. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi bertemu dengan orangtuamu, kau juga sudah lama kan tidak pernah bertemu dengan mereka, hum?"
"Aku tidak salah dengar kan, Pak?" Tania sampai menangkup wajah Vino dan menatapnya dengan tersenyum lebar.
Vino menggelengkan kepalanya, "Aku serius, Tania. Karena kita tidak bisa mengadakan acara syukuran tujuh bulanan, yah menurutku lebih baik kita pergi bertemu orangtuamu saja sekalian minta berkat dari mereka." jawab Vino.
Tania sangat senang mendengarnya, ia sampai tidak sadar menghujani wajah Vino dengan kecupan, dan saat sadar dengan apa yang dilakukan nya itu Tania dengan cepat turun dari pangkuan Vino dan segera berlari menuju kamar karena malu sudah begitu lancang mencium laki-laki itu.
Wajah Vino yang tadinya sumringah karena mendapat ciuman tiba-tiba seketika berubah menjadi khawatir melihat Tania berlari dengan perut buncit nya, ia pun juga segera berlari menyusul Tania menuju kamar.
"Ya ampun Tania kenapa kamu lari-lari seperti itu, kalau kamu tadi jatuh gimana coba?" Vino langsung mengangkat tubuh Tania dan membaringkannya ke atas tempat tidur. "Lain kali jangan seperti itu lagi, apa yang kamu lakukan tadi bisa membahayakan kandungan kamu. Jangan membuat aku khawatir, Tania." Vino menatap wajah wanita yang tengah mengandung anaknya itu dengan lekat. Raut wajah nya benar-benar terlihat khawatir.
"Kamu harus menjamin anakku akan lahir dengan selamat, karena mungkin hanya dia nanti nya yang akan menemani hari tuaku. Aku tidak bisa berharap banyak dari Elza, selama ini dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak perna mengurus ku. Sementara kelurgaku lebih memilih untuk menetap diluar Negeri." ucap Vino dengan sendu, ia meletakkan kepalanya di atas perut buncit Tania sambil mengelus nya.
Tania tidak tahu harus menanggapi bagaimana ucapan Vino, sebagai ibu dari bayi itu tentu ia juga ingin terus bersama anaknya hingga hari tua. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak punya kuasa untuk melanggar isi surat perjanjian itu yang menyatakan jika bayi yang di kandungnya ini adalah sepenuhnya milik Vino.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Tiara
bangunan berlantai brp kakak🤭
2023-09-24
2
Sukliang
napa dak cerai aja dg erzara
2022-11-26
2
Wiwik Daryanti
bpk vino ap yg km hrp dr elza,ceraikn sdh btlin itu perjnjian sm tania,tania istri sdh smpurn bgtu mau dbuang pusing vino,dpt elzara ngk virgin
2022-11-25
1