"Kemana, Pak?" tanya Tania.
"Nanti kamu juga akan tahu, " jawab Vino sambil menyendok makanan kedalam piring nya sendiri. "Ayo cepat makan." sambungnya.
Tania pun memulai makan dengan sesekali melirik Vino, rasa kecewa atas tuduhan itu masih terpatri dihatinya, namun laki-laki itu kini malah bersikap yang membuatnya jadi tak enak hati.
Melihat Vino yang fokus pada makanannya, Tania pun sejenak menatap dengan lekat wajah tampan didepannya itu. Wanita mana yang tak terpesona, seorang Vino Erlangga bukan hanya tampan tetapi juga mapan yang merupakan idola para wanita. Lama-kelamaan Tania terbuai menatap Vino yang membuatnya tanpa sadar makan dengan belepotan.
"Saya tidak akan bertanggung jawab kalau kamu sampai jatuh cinta," ucap Vino seraya mengangkat pandangannya menatap Tania, ia tahu jika sedari tadi wanita itu terus menatapnya.
Tania pun tersentak kaget, ia langsung memutus tatapannya dari Vino lalu mengambil air putih dan meminumnya sampai habis. Keterkejutannya bertambah saat tangan Vino yang memegang tisu terulur mengusap bibirnya.
"Apa kamu kalau makan selalu seperti ini, belepotan seperti anak kecil?" kekeh Vino, yang membuat Tania tertegun karena ini adalah pertama kalinya dia melihat laki-laki itu tersenyum.
Melihat tidak ada lagi sisa makanan yang menempel dibibir Tania, Vino pun menarik tangannya lalu mengambil air minum dan meminumnya.
Setelah membayar makanannya Vino segera mengajak Tania keluar dari restoran, dan setelah sampai di mobil ia membukakan pintu mobil untuk Tania bahkan memasangkan sabuk pengaman ditubuh Tania yang membuat wanita itu semakin tak enak hati.
"Saya tahu kamu masih marah, tapi saya tidak suka dengan penolakan jadi biarkan saya melakukan apapun terhadapmu dan jangan sesekali menolak ataupun melarang ku." ujar Vino, ia menatap Tania dengan lekat sambil mengusap perut wanita itu.
Tania mengalihkan tatapannya kearah jalanan didepan kemudian memejamkan mata merasakan usapan diperutnya sambil menelaah lagi perasaannya. Yah, tak seharusnya ia marah ataupun kecewa pada Vino yang sudah menuduhnya, karena dirinya hanyalah sebatas seorang wanita yang menyewakan rahim nya dan tak seharusnya membawa perasaan apapun didalam hubungan kontrak ini.
Merasakan usapan diperutnya sudah tidak ada Tania pun membuka mata lalu menoleh menatap Vino yang ternyata juga masih menatapnya. Dengan segenap keberanian nya Tania meraih tangan Vino menggenggam nya kemudian berkata, "Pak, saya minta maaf. Saya sadar diri saya siapa jadi tidak seharusnya saya marah pada Pak Vino." ucap Tania tulus yang membuat Vino malah terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu permasalahan diantara kita sudah selesai. Dan mulai sekarang mari kita lakukan apapun yang ingin kita lakukan selama hubungan kita masih Suami Istri. Jangan sungkan padaku begitupun dengan aku, mari kita nikmati alur yang sudah aku buat sampai batas waktu yang sudah aku tentukan." ucap Vino sambil tersenyum hangat menatap Tania, bahkan tak ada lagi kata formal seperti biasanya (Saya).
...____________...
Setelah sampai ketempat yang dituju, Tania tercengang karena ternyata Vino mengajaknya ke pusat perbelanjaan elite. Ia menatap Vino dengan penuh tanya, untuk apa mengajaknya ketempat ini.
"Tadi aku lihat di lemari baju-bajumu tidak akan bisa dipakai saat nanti perutmu sudah semakin membesar, jadi sekarang kita harus membeli baju-baju khusus Ibu hamil." ucap Vino yang seolah tahu apa yang ada didalam pikiran Tania.
"Kalau cuma mau beli baju hamil di pasar juga banyak, Pak, aku bisa membelinya sendiri tidak perlu repot-repot datang kesini. Dan juga harga di pasar pasti jauh lebih murah daripada disini." ujar Tania.
Astaga, Vino sampai menepuk keningnya sendiri, apa wanita ini lupa sedang bersama siapa. Seorang Vino Erlangga mampu membeli apapun dengan harga yang fantastis sekalipun bahkan termasuk pasar itu pun mampu ia beli.
Mengingat istri keduanya ini berasal dari keluarga yang sangat sederhana, Vino lebih memilih untuk tidak menanggapi ucapan Tania karena tidak ingin sampai menyinggung perasaan wanita itu. Vino pun mengajak Tania untuk segera masuk kedalam Mall tersebut.
Bukan hanya membeli pakaian khusus untuk ibu hamil, Vino juga membelikan Tania berbagai macam peralatan make up karena katanya ia ingin melihat Tania tampil berbeda dengan berdandan, dan Tania hanya bisa menurut saja walau sebenarnya ia tidak bisa berdandan karena suaminya ini tidak menyukai penolakan.
Hampir dua jam menjelajahi Mall, beberapa buah paper bug tergantung ditangan Vino sementara Tania sendiri tidak dibiarkan membawa apapun. Sebenarnya masih ada beberapa yang ingin Vino belikan untuk Tania, tetapi melihat wanita itu sudah nampak lelah dan tidak ingin beresiko pada kandungannya ia pun memutuskan untuk pulang dan akan membelinya dilain waktu.
"Pak, terima kasih banyak untuk hari ini, aku tidak akan melupakan kebaikan Pak Vino." ucap Tania setelah mobil yang ditumpanginya itu sudah melaju ikut berbaur dengan kendaraan lain nya.
Vino tersenyum mendengarnya, "Tidak perlu berterima kasih, itu semua memang pantas kamu dapatkan karena aku adalah Suamimu, yah walaupun hanya sementara." Vino terkekeh begitupun dengan Tania.
Sepanjang jalan menuju apartemen Tania dan Vino terus bercerita dan sesekali tertawa jika mengenai topik pembicaraan yang humor. Sambil bercerita sesekali Vino mengusap perut Tania yang membuat Tania lama kelamaan merasa geli dan langsung mencubit punggung tangan Vino agar berhenti mengelus perut nya.
"Sampai di apartemen nanti kau harus bertanggung jawab untuk ini." ucap Vino sambil memperlihatkan punggung tangannya yang memerah.
"Kalau perlu aku gigit aja tadi sekalian," kekeh Tania.
"Oh, sudah mulai nakal kamu ya sekarang. Kau tidak tahu saja aku ini paling jago menggigit, lihat saja nanti saat sampai di apartemen." ujar Vino sambil tersenyum menyeringai yang membuat Tania bergidik ngeri.
Beberapa saat kemudian mobil Vino pun telah terparkir di pelataran apartemen, ia menghubungi ART untuk turun mengambil barang belanjaannya, sementara ia akan menggendong Tania sampai ke kamar mereka.
"Pak, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."
"Kenapa, apa kau takut aku gigit, hum?" Vino mengedipkan sebelah matanya.
ART yang melihat kedua majikannya itu kembali akur turut senang, dan berharap mereka tidak akan bertengkar lagi.
Sesampainya dikamar, Vino langsung membaringkan tubuh Tania di atas tempat tidur. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Tania yang membuat wanita itu langsung memejamkan mata merasakan deru nafasnya yang terasa hangat. Ia berbisik ditelinga Tania yang membuat tubuh wanita itu meremang.
"Bagian tubuhmu yang mana yang mau aku gigit, hum?" bisik Vino dengan nada yang sensual. "Ayo buka matamu." bisiknya lagi dan Tania pun membuka matanya.
Tania terhenyak melihat tubuh bagian atas Vino sudah tak mengenakan pakaian, sejak kapan laki-laki itu melepas baju nya.
Setelah Tania sudah membuka matanya, Vino langsung memposisikan tubuhnya naik keatas tubuh Tania namun tidak menindihnya melainkan hanya terus menatap Tania sambil tersenyum. Sementara Tania sudah begitu tegang karena berfikir Vino akan meminta haknya.
"Tidurlah kalau kau ingin tidur, aku mau mandi dulu." ucap Vino seraya mendaratkan satu buah kecupan di kening Tania lalu turun dari atas tubuh wanita itu.
Vino langsung saja masuk kedalam kamar mandi tanpa menoleh lagi kearah Tania yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam kamar mandi Vino mengguyur tubuhnya guna mendinginkan tubuhnya yang memanas akibat apa yang di lakukannya tadi, sebagai pria normal tentu hasratnya akan membara di saat berduaan dengan wanita, namun ia tidak ingin mengambil resiko jika sampai terjadi sesuatu pada kandungan Tania. Sebenarnya bisa saja ia memintanya pada Elzara, namun entah kenapa ia seolah tak memiliki gairah lagi pada istri pertamanya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Wiwik Daryanti
ayo up lg donh
2022-11-25
2
Dinda Ainun
Udah mulai cair nih suasananya.. Gk kaku...
2022-11-20
2
Wiwik Daryanti
lnjut up hubungan vino dgn elzara ksuh cerai aj hidup bhgia dgn tania bang vino
2022-11-20
4