"Atas dasar apa Bapak menuduh saya seperti itu?"
Vino menarik sudut bibirnya tersenyum menyeringai, gadis ini benar-benar pandai berkilah disaat sudah tersudut seperti ini. Namun, ia tidak ingin tertipu lagi semuanya harus diperjelas saat ini juga.
Vino melangkah mendekati Tania dan berhenti tepat dihadapan istrinya itu. Ia menatap Tania dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sinis, kemudian mengitarinya dan kembali berhenti di hadapan Tania.
"Semua yang saya saksikan beberapa bulan ini sudah cukup membuktikan jika kamu dan Bara..." Vino menghentikan ucapannya, lalu memalingkan wajah.
"Akui saja Tania, jika bayi dalam kandunganmu itu memang bukan anakku tapi anak Bara!" sambungnya dengan berteriak.
Tania tersentak, dadanya bergemuruh dan perlahan cairan bening itu menggenang disudut matanya. Tuduhan tak berdasar yang dilontarkan oleh laki-laki yang berstatus suaminya itu begitu merendahkan harga dirinya. Namun, ia tak ingin ambil pusing. Jika Vino memang tak mau mengakui anaknya sendiri tidak masalah, ia masih bisa merawat anaknya itu sendiri dan itu justru malah bagus karena dengan begitu ia tidak akan terpisah dengan bayinya.
Perlahan amarah Tania berubah menjadi senyum simpul memikirkan sisi baik untuk dirinya dari tuduhan itu. Tidak masalah jika Vino tak mau mempercayai jika bayi dalam kandungannya ini adalah darah dagingnya. Yang terpenting nanti dan seterusnya ia bisa terus berasama dengan anaknya. Tania pun mengusap air matanya.
"Baik, jika Pak Vino meragukan anak dalam kandungan saya ini, lebih baik kerja sama kita cukup sampai disini saja. Dan untuk uang yang sudah Bapak berikan akan saya kembalikan dengan cara mencicil nya nanti jika saya sudah punya pekerjaan. Permisi."
Tania membalikkan badannya lalu mengayunkan langkah menuju kamar. Tak ada gunanya lagi ia berada di apartemen itu, Vino buka hanya menuduh dan tidak mempercayainya tetap juga secara terang-terangan merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Padahal selama ini ia sudah berusaha menjaga diri dengan baik, hanya saja karena keterpaksaan yang mengharuskannya mengambil jalan pintas yang membawanya kedalam sebuah hubungan yang berstatus kontrak.
"Tania, mau kemana kamu? Saya belum selesai bicara!"
Tania tak menghiraukan teriakan Vino, ia mempercepat langkahnya hingga kini ia sudah berada didalam kamar. Tak ingin membuang waktu lagi Tania langsung saja mengambil tasnya dan memasukkan semua pakaiannya. Sejenak Tania duduk di tepi ranjang sambil mengingat lagi apa yang terjadi beberapa bulan ini. Kenapa nasibnya menjadi malang seperti ini, diusianya yang masih mudah yang seharusnya ia masih menikmati keindahan hidup justru ia harus terjerat kedalam hubungan dewasa yang tak pernah terbesit dalam pikirannya. Haruskah ia menyalahkan takdir, ataukah menyalahkan sang Kakak yang tidak pernah membantunya dalam prahara keuangan dan malah terus menyulitkan nya hingga pada akhirnya ia sampai pada titik ini.
Air matanya kembali menggenang, perlahan ia menuntun tangannya mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit. Ia tersenyum kecut memikirkan nasib bayinya nanti. Jika sebelumnya ia harus terpisah dengan bayinya setelah kontraknya dengan Vino berakhir, namun sekarang justru bayinya itu tidak akan memiliki seorang ayah.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Tania pun beranjak dari sisi ranjang kemudian mengambil tasnya. Sebelum keluar dari kamar itu ia mengedarkan pandangannya. Kamar ini adalah tempat yang menjadi saksi bisu hubungan bersyarat yang ia jalani bersama Vino. Dan disini pula ia akan mengakhiri semuanya.
Bruuukkk...
Suara pintu kamar yang dibuka dengan paksa mengagetkan Tania dan seketika menoleh dan ia mendapati Vino berdiri diambang pintu kamar dengan sorot mata yang begitu tajam menatapnya.
"Apa kamu pikir dengan semudah itu kamu bisa pergi dari sini setelah apa yang kamu lakukan?" Vino melangkah mendekati Tania lalu menarik tasnya dan melemparkannya ke sembarangan tempat.
"Seorang penipu tidak akan aku biarkan lolos begitu saja!" sentak Vino sembari mencengkeram pergelangan tangan Tania.
"Saya tidak pernah menipu Pak Vino, dan saya juga tidak mengerti kenapa Bapak bisa menuduhkan hal sehina itu pada saya. Meskipun ada pernikahan diantara kita tapi saya tetap merasa sudah menjual diri saya pada Pak Vino, dan sangat tidak mungkin saya melakukan hal yang Bapak tuduhkan itu. Selama berada di disini saya memang dekat dengan Bara tapi kami berdua hanya sebatas teman saling berbagi cerita, dan Pak Vino jangan lupa jika kehadiran Bara disini karena itu perintah dari Bapak sendiri untuk mengawasi saya, yang sebenarnya tidak perlu Bapak lakukan karena saya bisa menjaga diri saya sendiri."
Vino merasa tertampar dengan apa yang baru saja diucapkan Tania, perlahan ia melepaskan cekalannya di pergelangan tangan Tania kemudian membalikkan badan sembari mengusap wajahnya.
Yang dikatakan Tania memang benar, namun ia tidak bisa menerima begitu saja elakkan istrinya itu. Beberapa saat kemudian ia membalikkan badannya lagi menatap Tania, meski tidak setajam sebelumnya namun masih terlihat dengan jelas kemarahan diwajahnya.
"Jangan berharap kamu bisa pergi dari sini, kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya." ucap Vino seraya menunjuk tepat diwajah Tania, kemudian keluar dari kamar itu dan menguncinya dari luar.
Di dalam kamar Tania terus menggedor pintu dan berteriak meminta dikeluarkan, namun Vino sama sekali tak memperdulikan nya. Ini terpaksa ia lakukan, ia tak akan membiarkan Tania pergi begitu saja. Bukan karena soal uang yang sudah ia berikan namun ia harus mencari kebenaran dari ini semua.
Vino sedikit merutuki dirinya, kenapa ia bisa terbawa emosi seperti ini dan terpengaruh dengan ucapan Elzara yang belum tentu kebenarannya. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi, ia sudah menuduh Tania dan membuat istrinya itu ingin pergi.
Setelah tak terdengar lagi suara Tania didalam kamar, Vino pun berlalu dari sana, ada sesuatu yang harus ia lakukan. Sebelum pergi dari apartemen ia berpesan pada ART untuk tidak membukakan pintu kamar untuk Tania.
Setelah ART menutup pintu yang baru saja dilalui Vino, tak lama kemudian terdengar ketukan dan ART itupun bergegas membukanya ia berpikir jika itu Vino yang kembali lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Siti Sopiah
bodoh kau vino.laki tak guna menyampah
2025-03-10
0
Bahrul Ulum
siapa lg yg datang??
2024-02-13
0
💕KyNaRa❣️PUTRI💞
klo gt bikin aja keguguran selesai da ......dngan bgt tania bisa pergi dri situ
2022-11-06
7